
" Udah ayo dihabisin makananya
Selesai makan mereka semua menemani Ana untuk memilih pakaian , Siska pun ikut membeli tidak lupa mereka memberikan Rima
meski Rima sempat menolak karena melihat harganya yang selangit tetapi balik lagi dia harus menyadari jika kedua temannya adalah sultan anggap aja itu rezeki nomplok
Matahari sudah merangkak tepat di atas kepala itu artinya sudah masuk tengah hari, .Suasana di mall sudah mulai ramai membuat Ana semakin mual karena mencium bau - bau aroma yang aneh ,
"Uwekkk
" Uwekkk
" Ana kau kenapa ?
" Kepalaku agak pusing ,
Siska dan Rima saling berpandangan mereka sangat paham jika Ana sedang hamil muda
" Ayo sekarang kita pulang , Ana mengangguk
Siska melajukan mobilnya ingin cepat sampai di rumah apa lagi dia sudah memastikan jika mami dan Dimas tak ada di rumahnya
Siska melihat situasi di rumahnya aman tidaj ada orang dia menyelinap masuk kedalam maminya
"Aku pasti menemukan sesuatu di sini
Siska mengobrak - ngabrik isi kamar maminya , membuka lemari dan melihat laci
" Tidak ada apa - apa dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan
Siska melihat ada satu laci yang terkunci , dengan sigap ia membukanya
" Untung aku tau di mana mami sering menyimpan kunci
Siska membuka dan ia menemukan beberapa buah poto dan selembar surat
Siska melihat poto seorang lelaki tampan poto yang terkesan jadul
" Ini siapa ?
Siska memperhatikan secara seksama ,ia lalu membuka kertas yang masih terlipat rapi di dalam sebuah amplop berwarna biru muda
Belum sempat dia membuka seseorang menegurnya di pintu kamar
" Apa yang sedang kau lakukan
Siska terkejut sekali saat mendengar suara seseorang menegurnya
" Awwwwwwwwwwwwwwwwwww
Siska terkejut melihat Dimas yang berdiri sambil melipat kedua tangannya seperti sedang melihat hantu saja
" Kak Dimas , kau mengagetkan ku saja kak
bukankah kakak tidak ada di rumah
Flash back
Dimas melihat Siska membawa mobil dengan tergesa - gesa memarkirkan mobil secara sembarangan lalu masuk kedalam rumah seperti pencuri dengan tergesa - gesa menyelinap ia pun bersembunyi di dalam kamar sengaja dengan membuka pintu kamar miliknya , karena sikap Siska tidak seperti biasanya ia mengikuti Siska yang menyelinap masuk kekamar maminya
" Tidak ada aku hanya mencari ini , menunjukkan kunci
perlahan Siska memasukkan kembali poto yang ia pegang kedalam laci maminya ia membalik poto itu dan melihat nama seseorang di balik tulisan itu " Wijaya "
__ADS_1
Siska menerobos Dimas dengan wajah yang panik
" Aku mau kekamar dulu kak
Dimas menepuk pundak Siska
" Berbalik
****** kak Dimas ini , selalu saja ingin tahu apa yang sedang aku lakukan huh
Mengambil nafas dalam - dalam lalu membalikkan badan
" Iya kak , ada apa ?
Berusaha tersenyum dan menampakkan giginya
" Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku kan
" Tentu saja tidak
Siska lalu berjalan kekamarnya sesekali ia menoleh kebelakang apakah Dimas masih berdiri di belakangnya
" Ia masih berdiri saja , Menampakkan gigi sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepada Dimas " Dagh kak Dimas
Dimas tau Siska menyembunyikan sesuatu dia bukan orang bodoh yang bisa di tipu begitu saja
" Apa yang dia lakukan di kamar mami kali ini kau boleh berhasil menipuku , dasar Siska kau tak pernah berubah
Dimas menggelengkan kepala, meski Dimas terkesan tak perduli dengan keadaan sebenarnya ia sedang menyimpan luka di hatinya yang sedang remuk dan patah , ia berusaha terlihat tegar di depan Siska dan maminya tentu saja , karena di rumah besar itu ialah yang menjadi imam dan penanggung jawab kedua perempuan itu .
" Untunglah aku bisa cepat pergi dari kak Dimas, kalau tidak dia akan bertanya dengan detail
Siska mengelus dadanya
" Apa sikap mami akhir - akhir ini berpengaruh dengan poto itu , siapa sebenarnya Wijaya ?
Siska masih berpikir keras , akhir - akhir ini maminya kembali menjadi seorang perempuan bukan berarti selama ini maminya menjadi Pria , maksudnya sikap maminya lebih keibuan di rumah saja tidak keluyuran sampai malam bahkan malam kemarin ia mendengar maminya mengaji untuk pertama kalinya Siska sangat heran sekali
" Aku harus mencari tau ,lihat saja jika mami beraninya menyuruhku dekat dengan Arjuna aku akan mengancam untuk menyebarkan rahasianya , aku akan menyelidikinya nanti
........
Arya dan Aditya sampai di kantor kebetulan ruangan Arya bersebelahan dengan ruangan milik Aditya
" Pagi pak
Sapa seluruh karyawan yang berjumpa dengannya
Arya tersenyum dengan wajah yang membengkak akibat menangis semalaman
itu adalah hal yang sangat memalukan untuk playboy seperti dirinya jika sampai orang lain tau dia sedang patah hati , hancur lebur ,remuk redam
Rada sekretaris Aditya menyapanya dengan menunduk malu - malu
"Sudah sehat pak Arya
Arya hanya mengangguk saja karena Rada tidak masuk sama sekali dengan kriterianya apa lagi dia memang sudah tobat untuk tidak lagi mempermainkan hati gadis manapun
Arya melihat tumpukan file dan map di atas meja kerjanya
"Ohh banyak sekali kerjaanku
Dia membuka laptop miliknya ia terkejut melihat wajah Siska yang sedang tersenyum di laptopnya
__ADS_1
"Astaga
Arya mengucek matanya " Oh tuhan kenapa bayangannya ada di mana - mana
Arya bergerutu
"Fokus Arya, kau harus fokus
Arya menarik nafas panjang tetapi masih tetap saja konsentrasinya terbuyar
"Aku tak bisa terus - terusan begini ,
obat hati yang sakit adalah mencari hati yang baru , tidak.. tidakk jangan Arya kau sama saja dengan mencari pelarian itu akan membuat lebih sakit lagi ,
Arya bersandar di kursinya lalu membuka tutup tirai jendela
" Malam minggu nanti ada acara di rumah Aditya dan aku akan datang sendirian saja Siska ia akan datang bersama pria itu
hmm bagaimana ini
Tokk
tok
" Masuk
" Pak Arya , pak Aditya menyuruhmu untuk bertemu klien di hotel arsta
karena beliau akan mengikuti rapat siang ini
"Baiklah ,
Rada menutup pintunya lalu Arya memanggilnya
" Rada ?
" Iya pak,
" Malam minggu ini kau ada acara
"Tidak ada pak , ada apa
" Tidak ada aku hanya. bertanya saja, kau diundang keacara Aditya kan
Rada mengangguk dengan wajah memerah , ntah apa yang sedang di pikirkan Rada didalam hatinya tetapi semenjak kejadian sarung melorot waktu itu dan kejadian di rumah sakit Rada seperti malu - malu bertemu dengan Arya
" Hmm baiklah aku akan segera pergi rapat
Sebelum bertemu klien masih ada waktu satu jam lagi untuk Arya berkeliling ia menyempatkan mampir sebentar kerumah sakit jiwa melihat ibunya yang sedang di rawat karena stress tidak sanggup hidup miskin
Hati Arya cukup tenang dan lega karena ibunya sudah bisa menyebut namanya
" Arya , kau datang juga nak
" Ibu kau mengenaliku
lalu ibunya tertawa kembali sekeras - kerasnya membuat Arya kembali bersedih
ia memegang tangan ibunya
"Tidak apa - apa bu , setidaknya kau masih mengingat namaku
Arya menghapus air matanya setelah mencium tangan ibunya lalu kembali pergi
__ADS_1