
Aditya langsung terdiam saat semua keluarganya beranjak meninggalkannya termasuk paman dan bibi yang memang sudah berkemas sejak subuh tadi untuk kembali pulang kedesa, tampak kedua kantung mata mereka berdua menghitam
mungkin akibat tidak tidur semalaman atau juga bisa jadi efek menangis dan juga pikiran
Suara mereka sudah tidak terdengar lagi saat berbicara, bukan karena mereka mengaji untuk mengirimkan doa kepada nenek, tapi lebih tepatnya mereka berdua seperti penyanyi rock yang berteriak meraung - raung malam tadi
" Keponakan paman dan Bibi pamit, terimakasih kalian telah bersedia menampung kami "
Bibi berbicara dengan memegang kerongkongannya karena suara mereka terdengar parau
Aditya yang sedang galau menjadi tambah pusing mendengar suara paman dan bibinya
yang seperti tikus terjepit pintu
" Keponakan kami pulang dulu ya, ke desa kami berdua tidak tau menahu masalah kau tadi, kami tidak mendengar sama sekali "
Paman beralibi tidak mendengar padahal jelas - jelas mereka berdiri di depan pintu kamar
" Ya paman tidak apa - apa " Aditya memaksakan senyuman di wajahnya
" Keponakan terimakasih banyak, maafkan jika paman dan bibi ada salah, dan juga jika nenek banyak merepotkan di rumah ini "
Bibi kembali meneteskan air mata, tetapi suasana duka ini malah tidak ada kesan menyedihkannya sama sekali, karena intonasi yang dihasilkan oleh pita suara mereka berdua seperti suara balon yang telah di isi udara lalu di buka ikatannya yang di tarik kedua ujungnya " Bayangkan saja sendiri "
wkwkwkw
" Jangan khawatir paman dan bibi kalian sangat baik, apa lagi nenek dia tidak memiliki salah apapun ,berhati - hatilah kalian di jalan semoga selamat sampai tujuan "
Aditya tersenyum dan melambaikan tangan padahal mereka masih berdiri di hadapan Aditya, tetapi mereka berdua tidak beranjak sama sekali
" Kau melupakan sesuatu keponakan "
Pamannya berusaha mengingatkan Aditya
" Oh, iya lupa ,,, ini paman bibi semoga kalian berkenan menerimanya "
Memberikan amplop berisi uang tentu saja mereka berdua tidak akan melupakan perihal uang,
Aditya ikut mengantarkan mereka keluar rumah karena travel sudah menunggu di luar rumah
Tersenyum dengan wajah bahagia sekali
Lalu mereka langsung berpamitan pergi meninggalkan rumah
" Ya hati - hati paman dan bibi aku pasti akan sangat merindukan kalian "
Aditya tersenyum dengan terpaksa , Karena memuliakan Tamu adalah sunah, memberikan pelayanan terbaik dan senyuman teramah tak mungkin ia memperlihatkan muka yang masam kasihan paman dan bibi telah kehilangan ibunya tak mungkin pula karena masalah dalam rumah tangganya ia harus memperlihatkan wajah sedihnya kepada semua orang
Aditya masuk kedalam rumah lalu duduk kembali , beberapa pelayan sibuk membersikhan rumah
ia membayangkan wajah Ana, tadi yang pasti sangat marah besar padanya ,ia sengaja tak menyusulnya karena tau Ana pasti sekarang sedang pulang kerumah orang tuanya ,percuma juga ia mengejar Ana di jalan
akan menjadi tontonan orang banyak nantinya, apa lagi masalah rumah tangga sangat lah tidak bagus jika di ketahui orang banyak
" Ana, aku tak mengatakan apapun tentangmu, bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan sebuah pesan yang tak jelas asal usulnya, aku hanya terbawa suasana saja malam tadi , bagaimana aku akan menjelaskan padamu nanti "
Aditya tampak sangat sedih ia terlihat bingung
Aditya menarik nafas panjang
" Aku sangat takut berhadapan denganmu, apa yang harus aku lakukan, aku tak pernah setakut ini bertemu denganmu ,aku takut jika nanti kau tak mau lagi bertemu denganku
kau tidak tau betapa besar rasa cintaku ini padamu, mengertilah Ana posisiku saat ini "
Aditya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya
Berdiri dan masuk kedalam kamar bersiap - siap untuk menemui Ana, sebelumnya ia akan mampir dulu di kantor karena ada beberapa berkas meeting yang harus ia tanda tangani, bukan maksud untuk menganggap enteng masalah rumah tangganya, tetapi ada baiknya ia memberikan Ana waktu beberapa jam untuk menenangkan diri terlebih dahulu
"Baiklah apapun resikonya aku akan menghadapinya "
Menarik nafas panjang
......
Ana yang sudah berada di luar rumah mereka
menangis tersedu - sedu melihat apa yang barusan terjadi di depannya , matanya terlihat bengkak akibat menangis ,
ia menunggu taksi lama sekali lewat
ia memandangi beberapa buah mobil keluar dari rumahnya,
__ADS_1
dengan cepat Ana bersembunyi di samping pohon besar, lama sekali ia menunggu taksi hingga akhirnya penantiannya berhasil untunglah ada salah satu armada taksi jadul dengan menggunakan mobil tua lewat dengan tulisan di atasnya " Taksi "
Ana melambaikan tangannya lalu mobil tua itu berhenti " Taksi neng , ayo naik "
Tanpa berbicara sepatah katapun Ana membuka pintu taksi dan membanting pintunya dengan keras
" Brakk...
Pintu taksi tersebut terlepas
" Aduh neng pelan - pelan lihat pintunya terlepas "
Wajah bapak sopir taksi tampak kesal
ia turun dan menaruh pintu mobil tersebut di bagasi miliknya, maklum mobil tua jadi apa - apa onderdilnya mudah copot
seperti rongsokan yang berjalan begitulah kira - kira
Ana terkejut melihat pintu itu terlepas " Sudah pak nanti akan saya ganti beserta ongkosnya "
Pak sopir tampak lega, meski sekarang Ana duduk di belakang tanpa pintu mobil di samping kirinya
di dalam mobil Ana mulai tak tahan meluapkan kesedihan hatinya ia kembali menangis tapi kali ini ia meraung sejadi - jadinya
" Oaaaaaaaa huhuhuhu oaaaaaaaa huhuhuhu" sampai sopir taksi tak fokus lagi mengendarai mobil ia memperhartikan Ana melalui kaca spion yang sudah retak dan hampir pacul tersebut
semakin lama ia tampak semakin panik saja karena melihat Ana yang meraung - raung sejadi - jadinya,
" Aduh bagaimana ini "
Pak sopir tampak mulai panik melihat penumpangnya tersebut
" Oaaaaaa tega sekali dia padaku, padahal aku sedang hamil besar begini, kejam sekali ia padaku " Ana mengelap ingus yang keluar dari hidungnya ke sembarang tempat dan menempelkan ingusnya di bangku penumpang
Wajah sopir taksi berubah menjadi kecut ntah apa yang ada di pikirannya saat ini, seketika melihat Ana seperti itu
sayup - sayup terdengar suaranya berbicara kecil " Nangis sih nangis neng, tapi nggak pake acara ngelap ingus di kursi juga tekor banyak saya haduh haduh " Menggeleng - gelengkan kepalanya
Taksi tersebut berjalan sangat lambat sekali maklum saja mobil tua tahun 70an yang ia naiki di tambah lagi macet di jalanan, sedangkan Ana seolah tak perduli dengan pengendara yang melihatnya menangis
Walau demikan ia tak gengsi naik kendaraan jenis apapun , Apa lagi hanya mobil itu yang lewat di jalan depan rumahnya tadi
Ana yang sedang menangis sejadi - jadinya mendadak berhenti menangis dan mendengarkan ucapan yang barusan di ucapkan sopir taksi " Bapak barusan ngomong apa pak " Suara Ana membentak kemudian menangis kembali,
" Tidak ada apa - apa neng "
Ia tampak ketakutan sekali, sesekali tampak ia mengelap keringatnya, yang semakin banyak keluar maklumla mobil itu tak menggunakan AC, hanya ada kipas sate di dalamnya ,pada saat berhenti lampu merah ia kembali mengipas dengan kekuatan kipas sate
Ana yang tak pernah - pernahnya bercerita dengan orang ntah bagaimana atau terbawa emosional karena mood yang sering berubah karena lagi hamil mendadak bercerita
" Bapak tau kan bagaimana sakit hatinya jika kita sedang hamil disakiti "
Sopir taksi tersebut kembali berucap pelan
" Bagaimana mungkin saya tau neng, saya sendiri belum pernah hamil "
Ia tampak menaikkan bahunya sambil bergidik ngeri melihat Ana
Sedangkan Ana masih tetap bercerita tanpa titik koma, ibarat rem blong terus saja berkomat - kamit, sopir taksi hanya manggut - manggut saja
" Menurut bapak siapa yang salah pak! " Ana bertanya membentak
" Yang jelas bukan saya neng , silahkan neng mau salahkan siapa saja, bebas pokoknya bebas"
Iya kembali berbicara kecil - kecil
" Apa pak, bagaimana. ? "
Ana berhenti menangis
"Tidak ada neng, apa rumah neng masih jauh" Tampak cemas
Ana berhenti menangis lalu melihat kekiri dan kekanan
" Sebentar lagi sampai pak, itu nanti di depan ada pengkolan belok kanan, terus belok kiri, kanan lagi, lurus ada cabang belok kanan, nanti rumah saya di sebelah kiri "
Bapak sopir taksi tampak sangat pasrah ia tak mau berdebat dengan Ana karena akan menambah masalah baru saja nanti ,
semua pertanyaan dari Ana hanya iya jawab iya dan tidak saja, cuma mau bagaimana lagi
dia sedang berikhtiar mencari nafkah di tengah persaingan taksi - taksi modern dengan fasilitas yang sangat nyaman
__ADS_1
" Terimakasih bapak mau mendengarkan curahan hati saya " Ana tampak lega sangking semangatnya ia tak sadar jika sudah sampai di depan rumahnya
" Berapa pak "
" 100, 000 ribu neng dan sekalian biaya pintu mobil yang neng lepasin tadi "
Ntah lupa atau bagaimana Ana mengelap ingusnya dengan uang yang ada di tangannya lalu memberikan kepada sopir taksi tersebut " Ini pak " Buru - buru turun dan masuk kedalam rumah
" Semakin banyak orang gila jaman sekarang, masih muda, cantik tapi sepertinya memang dia tidak waras lagi "
Membuka gulungan uang yang diberikan oleh Ana tadi ternyata jumlahnya banyak juga
"Dua juta rupiah "
Neng nya walaupun agak tak waras tapi baik ya, alhamdlilah lumayan untuk beli beras "
Bapak sopir taksi tersenyum manis, meski sangking bahagianya Ia tertawa karena mendapatkan uang banyak gigi palsunya sampai terlepas jatuh ke lantai mobilnya
ia mengambilnya dan langsung memakaikan kembali meski tanpa di cuci " Belum 5 menit ini masih bersih kok "
Tiba - tiba sopir taksi tersebut teringat akan sesuatu ia teringat sepertinya dia pernah berjumpa dengan Ana sebelumnya tapi dimana ia masih berpikir keras dan belum menghidupkan mesin mobilnya masih berada di depan rumah Ana
Seperti kena sentrum mata pak sopir tiba - tiba langsung melotot dan lehernya langsung reflek melihat kearah rumah Ana
"Astaga ternyata benar, dia perempuan yang menumpang taksiku malam itu, perempuan bergaun putih yang mengajakku tersesat di kuburan, astaga hampir saja aku dalam masalah besar lagi "
Dengan cepat ia menghidupkan mobilnya lalu melaju dengan kencang terdengar bunyi suara mobil tua itu
Kerontang
kerontang
byarr
byarrr
Seperti suara kaleng yang saling beradu,sepertinya pak sopir memijak pedal gas dengan kekuatan yang sangat kencang sekali
Asap knalpot mobil tua itu, mengepul di sepanjang jalan
Ana berlari masuk kedalam rumah dengan wajahnya yang masih merah karena sangking sedihnya ia menangis, tapi herannya ,orang - orang di rumah Ana malah bersikap seperti biasanya seperti tidak terjadi apapun berbeda sekali saat ia hendak pergi tadi, dan tak ada satu orang pun yang menyambut atau menanyakan kedatangannya
Ana berdiri ia tampak kesal sepertinya memandangi orang - orang di rumahnya yang sama sekali tak. meresponnya
ayah dan ibunya bersikap sangat tenang berbeda sekali pada saat ia hendak pergi .dari rumah tadi,
Kak Bima juga sudah terlihat baik - baik saja
dan bahkan mereka di rumah sudah bisa bercengkrama dengan santai
Ana semakin kesal melihat orang - orang di rumahnya yang sama sekali tak memperdulikan perasaannya
Mereka benar - benar keterlaluan secepat itu
berubah, kalian tak tau jika Aditya sudah tak percaya lagi padaku kalian hanya tau enaknya saja
Ana berlari masuk kekamar meski perutnya sudah membesar cuma tetap saja ia masih lincah berjalan kesana kemari seperti seekor tupai, ia membanting pintu dengan sangat keras
Membuat Bima dan anak - anaknya, terkejut dan mendongakkan kepalanya kearah pintu kamar Ana
"Sudah biarkan saja " Tampak ibu dan Ayahnya memberi kode kepada Bima
Tak butuh waktu lama untuk mereka semua menantikan kedatangan terdakwa utama "Aditya "
Tak lama terdengar suara mobil Aditya , ia sudah datang dan sudah sampai di depan rumah Ana,
tampak wajahnya sangat takut bertemu dengan Ana dan keluarganya tetapi ia harus bersikap gentle man agar bisa dengan cepat meluruskan masalah ini
Satuhal yang tidak di ketahui Aditya dan Ana t jika ternyata kedua orang tuanya dan Oma Rita sudah datang lebih awal dan menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi sehingga membuat keluarga Ana menjadi tenang, kedua keluarga sepakat untuk memberi pelajaran kepada Ana dan Aditya agar lebih dewasa dan tidak main - main membuat pernikahan,
jangan menjadikan alasan pernikahan karena di jodohkan untuk membuat Aditya dan ana merasa ini hanya main - main saja, walau sebenarnya mereka sekarang sudah saling mencintai , tetapi keluarga baru tau apa yang terjadi di belakang mereka karena si pengirim pesan membongkarnya,
Kedua keluarga besar sepakat memberikan efek jera ini memang terkesan agak kejam, terlebih Ana sedang hamil besar, cuma kalau tidak sekarang kapan lagi mereka akan dewasa, apa lagi tinggal dua bulan lagi mereka akan menjadi orang tua , kalau baru begini saja mereka sudah goyah bagaimana mereka akan bertahan untuk kedepannya karena ujian pernikahan semakin lama semakin banyak saja lika likunya,
ini di lakukan agar jangan mudah terpengaruh dengan segala macam gangguan dari luar, apa lagi ini adalah rumah tangga, yang akan di bina seumur hidup bahkan sampai akherat nantinya
" Aditya datang " Anya berbisik dengan pelan
" Mana dia " Ibu dan Bima mengintip melalui jendela
" Dia berjalan menuju kemari cepat coba lihat " Mereka masih berbisik dan berdiri berderet di jendela
__ADS_1
ntah karena lupa atau bagaimana mereka mengintip di jendela yang jelas - jelas dari luar kelihatan jelas wajah mereka bertiga
" Ibu, kak Bima dan kak Anya kalian sedang apa? " Aditya merasa heran melihat mereka yang berdiri di belakang kaca jendela