
Arya langsung menghubungi Dimas,
" Aduh kemana sih Dimas di telpon nggak diangkat, sampai telpon ke delapan kali tak juga di angkat , aduh "
Arya pun memutuskan untuk menelpon telpon rumah Dimas,
" Selamat pagi bisa saya berbicara dengan Dimas "
" Oh Tuan Dimasnya lagi tidur, ini siapa ya '
" Katakan pada Dimas tolong segera angkat telponnya ini dari Arya "
Menutup telponnya, wajah pembantu tersebut tampak panik, Siska yang bersiap -siap untuk berangkat kekampus pun melihat aneh kearah pembantu mereka yang menggedor pintu kamar Dimas
Siska melihat ia mengetuk dengan kuat sekali
" Kenapa si Mbok panik banget ya "
Mendekati pembantu tersebut
" Mbok, kenapa "
Siska masih memperhatikan wajah cemas perempuan paruh baya tersebut
" Ini Non, ada yang telpon tadi nyuruh Tuan Dimas angkat hape nya, katanya penting "
" Cowok atau cewek mbok " Siska nampak curiha
" Cowok Non "
" Aduh Mbok itu penipuan kali Mbok, mana ada teman kak Dimas sampe nelpon sepagi ini, udah Mbok kerjain pekerjaan yang lain ya "
Pembantu tersebut pun meninggalkan Siska
" Ada -ada aja modus penipuan zaman sekarang sasarannya pasti orang -orang tak mengerti " Siska menggelengkan kepalanya
Arya yang masih mengemudi pun lelah menunggu lama dan ia kembali menelpon ke telpon rumah keluarga Siska
Bertepatan dengan Siska yang juga sedang menunggu di samping telpon
" Halo selamat pagi " Suara Siska terdengar manis sekali, membuat Arya yang mendengarnya kembali berdesir darah di jantungnya .
" Siska " tentu saja Arya sangat mengenali suara perempuan tersebut, jangan kan suaranya kentut Siska saja masih sangat hafal sekali di ingatan Arya, begitulah kira -kira jika orang yang merasakan cinta
Deg
deg
" Halo ini siapa ...."
Kemudian Siska mulai meyakini jika sang penelpon adalah orang yang sama yang berpura -pura bertanya tentang Dimas
" Oh kau orang yang tadi menelpon ya "
__ADS_1
Arya terkejut mendengar ucapan dari Siska kali ini jantungnya semakin berdetag kencang " Arya apa kau tak salah dengar, bahkan sampai detik ini hanya dengan mendengar nafasku saja Siska bisa tau kalau ini aku "
"Iya halo "
" Kau rupanya ya, benar kau mau mencoba menipu kami ha!! " Suara Siska terdengar marah sekali
" Dia mengatakan aku penipu waduh, ternyata aku hanya bermimpi ia saja sama sekali tak mengenali suaraku "
" Hey kau jawab cepat "
" Siska ini aku Arya " Sambungan telpon tersebut menyambung keseluruh telpon yang berada di dalam rumah itu termasuk semua telpon yang berada di kamar
" Oh Kau kak Arya " Wajah Siska pun tersipu ia tak menyadari jika Arjuna telah tiba dirumah malam tadi, dan sekarang ia sedang mengangkat telpon yang berada tak jauh dari telpon yang berada dekat ruang tamu tersebut
" Ehem.. aku ingin bicara dengan Dimas penting bisa kau sampaikan tidak "
Siska yang sedang tersenyum bahagia mengangkat kepalanya dan melihat Arjuna mengangkat telpon yang di ujung ruangan ia menatap kearah Siska, spontan Siska yang tadinya tersenyum bahagia langsung buru -buru mempercepat ucapannya
" Baiklah aku akan memanggil Dimas "
Tut..
Tut.
Sambungan telpon terputus, Siska langsung berjalan kedepan kamar Dimas, baru mau mengetuk pintu Dimas langsung membuka pintu kamarnya Siska pun kaget
" Kak Dimas, " Terlihat Dimas sudah sangat rapi sekali ia seperti akan bersiap -siap untuk pergi
" Apa ? ,Arya menelponku kan, aku sudah tau"
Arjuna duduk di kursi, Siska yang merasa tak enak pun langsung menutupi kesalahannya malah dengan memarahi Arjuna
" Eh asal kau tau menguping pembicaraan orang lain di telpon itu bukanlah sesuatu yang baik, apa kau mengerti "
Sikap nyolot Siska tak di hiraukan sama sekali dengan Arjuna justru ia membalas dengan senyuman " Tidak ada yang bisa melarangku untuk mengangkat telpon di rumah ini bukan, lagian setiap orang menelpon maka semua telpon di rumah ini akan berbunyi dengan bersamaan "
Dimas yang hendak keluar rumah menyadari jika terjadi ketegangan antara Arjuna dengan Siska cuma ia berpura -pura untuk tidak tau
" Hey kalian apa tak berangkat kuliah jam berapa ini "Siska mengambil tasnya lalu membuntuti Dimas dari belakang sedangkan ia melotot kearah Arjuna, untung saja Arjuna suami yang sabar, jika saja itu Aditya maka Siska sudah hancur lebur tak bersisa
Sesampainya di kampus ,
Dimas dan Arya pun datang berbarengan
walau Arya tidak sanggup melihat Siska dan Arjuna tapi ia berusaha terlihat cool, bahkan ia sengaja berpura -pura menggoda para gadis yang melewatinya, Siska yang merasa kesal pun memutuskan untuk meninggalkan mereka di parkiran
Dimas mendekat " Kenapa kau menelponku banyak sekali pagi tadi ha "
" Kita dalam masalah besar, Dim "
" Masalah apa cepat kau ceritakan "
Arya pun bercerita panjang lebar dengan Dimas ia tak menyadari jika di belakang mereka Rima telah berdiri dengan beruraian air mata
__ADS_1
" Jadi begitu Dim, aku dan Aditya sangat cemas, harapan kami hanya kau satu -satunya "
Mereka membalikkan badan dan..
" Rima. !!" Berbicara serentak
" Kenapa kalian kaget Kak melihatku berada disini "
Mata Rima sudah merah ia pun mengelap air mata di pipinya
Arya tampak cemas sekali karena ia sangat anti jika melihat perempuan menangis
" Dimas aku akan pergi, kau uruslah dia dulu, aku percaya padamu " Arya pergi berlari meninggalkan mereka ,Meski Dimas berusaha menarik baju Arya tetap saja Arya lebih licin dari belut ia pun berhasil kabur
Rima berjalan mendekat Dimas tak pernah merasakan perasaan deg -deggan seperti ini sebelumnya ia tampak cemas padahal ia sama sekali tak memiliki perasaan apapun dengan Rimas
" Seharusnya dari awal aku harus tau diri kan kak, hmm mana mungkin seorang Dimas yang kaya dan tampan bisa jatuh hati dengan gadis biasa sepertiku,
Terlebih orang miskin itu selalu di pandang buruk, aku tau kak jika kakak sampai detik ini masih mencintai Ana, dan itu sah -sah saja, Ana memang pantas di cintai siapa saja
Aku rasa cukup ya kak main pacar -pacarannya " Rima mencoba tersenyum meski ia memaksakan senyuman keluar dari bibirnya
Rima berjalan meninggalkan Dimas, tapi Dimas menahan Rima
" Apa lagi Kak yang ingin kau tanyakan padaku "
Dimas memegang lengan Rima dengan kuat
" Jawab jujur apa hubunganmu dengan Marisa ?!"
Dimas yang tak main -main dengan cintanya kepada Ana langsung saja menanyakan itu pada Rima
" Tolong kau lepaskan tanganku kak Dimas, kau memegangnya terlalu kuat "
Rima membalikkan tubuhnya dan sekarang posisi mereka saling berhadapan.
" Hanya itu saja, yang ingin kau tanyakan padaku Kak ... "
Dimas tak menjawab sama sekali, ia menatap Rima tajam sekali
" Baiklah jika kau ingin tau " Rima menahan air matanya yang hendak jatuh
" Aku adalah adik kandung Marisa "
..............
Jrengg...
jreng...
Whahaahha penasarankah....
hiyaa... hiyaaa....
__ADS_1
sabar ya.....