
Marisa semakin ketakutan ketika melihat darah segar yang terus mengalir deras dari tangan Arya, , Ana menutup mulutnya melihat Arya
" Tenanglah Ana kau jangan khawatir aku akan baik - baik saja , kau tidak usah takut perempuan gila ini sebentar lagi akan kalah "
Tertawa keras
" Diamlah, atau aku akan menembakmu lagi "
Amanda mengacungkan pistol dan memegangnya dengan kedua tangan
" Amanda hentikan, kau tau polisi sedang menuju kemari dan sebentar lagi kau akan di tangkap , orang tua mu akan sangat malu jika melihat kau seperti ini "
" Diam kau Aditya kau yang sudah membuatku begini " melihat kesegala arah t etap dengan mengacungkan pistol kearah Ana dan Aditya
" Percuma kau menembak mereka Amanda tak ada guna, kau lihat saja mereka saja masih berpelukan padahal kematian sudah di depan mata, lihatlah rasa cinta mereka begitu besar, kasihanilah dirimu Amanda "
" Aku bilang diam!! "
Wajah Amanda tampak merah karena marah sekali
" Aku akan menembak perut mu Ana haahhahaa " Tertawa keras kemudian berhenti
Aditya langsung berdiri memeluk Ana dan membalikkan punggungya " tembak saja aku, biar saja aku yang tertembak asal anak istriku
selamat
Ana menangis dan mentap Aditya " Kita akan tetap bersama dalam keadaan apapun "
" Hahahahah, kau dengar itu Amanda ha?
mereka berdua saja rela mati bersama ayolah sebaikanya kau berhentilah karena percuma sampai kapanpun Aditya tidak akan lernah memberikan hatinya untukmu "
Amanda maju kedepan lalu
Dorr
Amanda menembakkan pistol ke dadanya
polisi datang tepat waktu " Aku tak bisa melihat kalian hidup bahagia aku tidak siap "
Amanda jatuh tergeletak
Polisi datang bersama orang tua Amanda
karena tadi Aditya sudah menghubungi mereka
" Amanda !" Orang tua Amanda berlari melihat Amanda yang sudah tergeletak
Marisa pun panik ia langsung menyerahkan diri karena merasa ikut terlibat
Tak lama ambulance datang untuk membawa Amanda dan Arya yang sudah terluka parah
" Kau akan baik - baik saja brow " Aditya menepuk Arya yang tampak pucat
" Tenang saja ini tak seberapa " Arya mencoba tersenyum
.Ini tak ada apa - apanya Dit, kau tak tau hatiku lebih hancur dari pada darah yang mengucur ini
Aditya memeluk Ana " Syukurlah ini sudah. erakhir aku takut sekali terjadi sesuatu padamu Ana "
Aditya memeluk erat tubuh Ana
" Perempuan itu sungguh gila "
__ADS_1
Kring
kring
" Bunyi ponsel? " Ana dan Aditya langsung berpandangan
" Ponsel ku tidak berbunyi " Mengeluarkan ponsel miliknya
" Ponsel ku mati " Ana pun menunjukkan ponselnya
Mereka melihat sekeliling dan menemukan ponsel yang terdapat bercak darah .
Aditya langsung mengambil ponsel tersebut ia melihat ponsel tersebut bergambar walpaper potonya dan Amanda semasa pacaran dulu " Ini milik Amanda "
panggilan masuk tersebut mati dan berbunyi kembali " Dimas? "
Aditya terkejut dan melihat kearah Ana
Aditya menjawab panggilan masuk tersebut dan mendloudspeaker suaranya
" Halo Amanda? kau sudah di mana
Aku tak mau jika kau sampai menyakiti Ana
dia sedang hamil, Halo Amanda apa kau mendengarku "
Aditya mematikan panggilan masuk tersebut
" Dimas terlibat ? "
Ana memeluk tubuh Aditya dengan erat
" Tenanglah sayang jangan khawatir ini semua sudah berakhir tidak akan ada lagi yang berani menganggu hubungan kita percayalah "
" Selama hidup semua manusia akan terus mendapatkan ujian dan cobaan , masalah akan terus datang silih berganti tergantung kita lagi sebagai manusia apakah sanggup menjalaninya dengan ikhlas atau tidak "
Aditya terlihat begitu bijak menurut Ana
Dia semakin membuatku tergila - gila saja
kenapa semakin kesini dia terlihat begitu istimewa aku tak menyangka Aditya kau semanis dan sedewasa ini
Tersenyum - senyum dan kembali masuk kemobil untuk melihat keadaan Arya yang terluka di lengannya " Bagaimana nasib Amanda "
"Aku harap dia masih hidup agar bisa dihukum ini pelajaran untuknya mau sekaya dan secantik apapun fisik wajah tapi tak menjamin kita bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan "
" Tapi aku heran apa hubungannya Dimas dengan Amanda? " Ana masih terheran - heran
mendengar nama Dimas di sebut oleh Ana langsung Aditya mendadak diam seribu bahasa
" Kenapa Dimas tadi menyebut namaku "
Aditya masuk kedalam mobil di ikuti Ana yang masih penasaran
" Dit bagaimana menurutmu "
"Tidak tau " Menjawab datar
" Kenapa Dimas begitu mengkhawatirkan aku"
Ana masih berbicara sendiri
Wajah Aditya tampak kesal sekali ia sangat tidak terima jika Ana menyebut nama lelaki lain dihadapannya terlebih lagi laki - laki itu Dimas , bukan hanya dia saja semua orang juga tau jika Dimas mencintai Ana
__ADS_1
" Kau masih memikirkan Dimas "
Dengan polos Ana mengangguk " Iya "
" Apa yang kau pikirkan , apa Dimas begitu penting bagimu sehingga aku kau abaikan "
Aditya menyetir dengan wajah di tekuk
Ana heran melihat sikap Aditya yang berubah menjadi kaku tersebut " Aditya kau kenapa "
Apa dia cemburu padaku
" Tidak apa - apa aku baik - baik saja "
Aditya memaksakan senyumannya
" Aku hanya tidak suka kau menyebut nama Dimas di depanku " masih menyetir dengan model zig zag untunglah jalanan sepi sehingga Aditya bebas bereksperesi
"Adit kau kenapa? " Ana memegang kursi tempat duduknya
" Tidak ada aku hanya mengetes apa ban mobil ini masih tebal atau tipis he "
Menatap kearah depan kaca dengan wajah kesal
Ana juga tak peka jika Aditya itu sedang cemburu berat
" Kita langsung kerumah sakit melihat Arya pasang sabuk pengamanmu "
Kurang lebih setengah jam mereka sampai di rumah sakit tempat Arya di rawat kata dokter Arya harus segera di operasi untuk pengangkatan peluru yang bersarang di tangannya
" Lakukan yang terbaik untuk Arya Dok "
Arya di bawa kerumah sakit terdekat bukan di rumah sakit milik keluarga Aditya tapi rumah sakit ini juga masih terdapat saham keluarga Aditya
Ternyata ada Dimas juga disana menunggu Arya
" Aditya kau baru datang , aku mendapatkan kabar jika kalian dan Amanda
Aditya langsung mengangkat tangannya menyuruh Dimas berhenti berbicara
:" Sudah lah kau tak perlu perduli dengan Arya"
Kesempatan emas untuk Aditya memarahi Dimas karena dia juga sangat kesal dari tadi Ana terus - terusan menyebut nama Dimas
" Kebetulan ada kak Dimas "
Ana berjalan sambil memegang perutnya
" Ana pelan - pelan saja berjalan kau sedang hamil "
Dimas mendekatai Ana yang berjalan tergopoh - gopoh
Dengan sigap Aditya langsung memeluk Ana dan menggendongnya
" Kau mau berjalan kemana istriku, kau tak perlu berjalan biar aku saja yang menggendongmu "
Aditya lagi - lagi melakukan hal gila
"Aditya cepat turunkan aku, aku mau bertanya dengan kak Dimas "
Dimas masih berdiri di hadapan mereka sepertinya Dimas sudah bisa melupakan sedikit perasaan kecewanya tapi tidak tau juga karena isi hati manusia tidak bisa di tebak
" Ya sudah berbicara saja, biarkan aku tetap menggendongmu, aku kan sangat menjamin kesehatanmu, keselamatan engkau dan calon anakku.
__ADS_1