
Nenek tua tersebut kaget saat melihat Arya duduk di kursi rotan yang terletak di belakang jendela ia menguping pembicaraan mereka
" Hei apa yang sedang kau lakukan disana
Arya menggaruk kepalanya sambil berdiri
" Tidak ada nek aku hanya sedang melihat pemandangan dari sini
Nenek tua itu tersenyum sambil berjalan
" Lain kali carilah alasan yang tepat jika kau ingin menguping pembicaraan orang lain
Arya langsung buru - buru masuk kedalam kamar
Aditya masih tertidur Ana masuk kekamar untuk melihat suaminya yang sedang tertidur
pulas
" Sepertinya capek sekali dia
Ana mengelus tangan Aditya rasa cinta yang semakin besar membuat Ana tak bisa jauh dari Aditya
Sedangkan Rima dan Siska asik berpoto - poto di depan teras tersebut
" Aku tak habis pikir bisa berada sedekat ini dengan Siska apa yang mesti aku lakukan saat ini
Arya memasukkan kepalanya kedalam bantal
ia memegang jantungnya yang selalu berdebar - debar jika berada di dekat Siska tapi ia sedang dalam tahap untuk melupakan Siska karena Dimas sudah memberi ultimatum agar tidak mendekati Siska lagian Siska juga sudah di jodohkan dengan lelaki yang kemarin berada satu ruangan dengannya di rumah sakit
Suasana sore hari semakin indah saja suasana di pedesaan memang berbeda jauh dari polusi udara matahari sudah mulai bersembunyi dibalik awan Aditya dan Ana terbangun dari tidur siang mereka dan keluar kamar
Siska dan Rima ternyata tertidur di teras kamar . mereka seperti terlena dengan hembusan angin sepoi - sepoi siang itu
" Hei kalian ayo bangun ,
Siska dan Rima pun mengucek mata mereka
"Apa ini sudah pagi ?
Melihat kearah Ana dan masih dalam keadaan setengah sadar terlihat wajah Ana samar - samar
" Aku hitung dalam hitungan ketiga jika kalian tak bangun juga maka kalian aku tinggalkan saja disini karena aku dan Aditya akan berkeliling desa sore ini
Dengan sigap Siska dan Rima langsung berdiri dengan membelalakkan mata mereka
" Kami sudah siap , Berdiri dengan posisi paskibraka , tangan di kepal lalu bersiap berjalan serentak membawa bendera merah putih begitulah kira - kira posisi Siska dan Rima
Aditya mengelus perut Ana didepan mereka
membuat Siska dan Rima menjadi malu -malu
" Ah kak Aditya sweet sekali
Arya keluar dari kamar dia juga sudah bersiap untuk berkeliling kampung dengan Aditya
" Wah ada sepeda , " Mata Rima tampak berbinar
"Aku tidak bisa naik sepeda " Ucap Siska sedih
"Aku bisa memakai sepeda
__ADS_1
" Sayang kau lagi hamil sebaiknya aku saja yang memboncengmu keliling desa "
Ana tersenyum dan naik keatas sepeda yang dibawa oleh Aditya
" Cepat kau peluk aku , nanti kalo aku ngebut bagaimana
Ana mencubit pinggang Aditya dengan wajah yang memerah karena malu
Sedangkan Rima ia seperti tidak memperdulikan Siska dia asik meluncur dengan sepedanya
Sebelum naik sepeda tersebut dia sudah berteriak " Terakhir kali aku bersepeda waktu aku sekolah Taman kanak - kanak itu pun memakai sepeda tetangga "
Tinggallan Arya dan Siska sepedanya juga hanya tinggal satu saja
Dengan santai Arya meninggalkan Siska sendiri
" Apa aku terlalu kejam meninggalkannya sendiri tapi jika aku mengajaknya bersamaku aku takut perasaan ini semakin susah untuk di hilangkan
Arya memutar sepedanya lalu kembali ketempat Siska berdiri
"Ayo naik
Siska terkejut melihat Arya kembali lagi
" Kau mau naik atau tidak
Arya bersikap sok jual mahal padahal
Cepatlah naik Siska aku sudah tak sabar ingin berduaan denganmu , tidak Arya kau tidak boleh menaruh harapan apapun padanya sebaiknya kau segera pergi
Belum sempat Arya mengayuh sepedanya Siska sudah duduk di belakangnya
mereka melaju dengan deras
Paman dan bibi Aditya berteriak memanggil Siska dan Arya
" Kenapa paman dan bibi memanggil kita
" Sudah tak usah kau dengar biarkan saja lah mereka
Sepeda meluncur dengan deras di tengah sawah dari kejauhan tampak Ana dan Aditya melambai - lambaikan tangannya menyuruh mendekati mereka , sedangkan Rima ia asik bolak - balik memutar mengayuh sepeda tampa memperdulikan mereka
"Kak Arya bisakah kau melambatkan laju sepeda ini
Siska khawatir karena jalanan yang menurun membuat sepeda itu berjalan sangat cepat
" Iya sabar , Arya berusaha mengerem
"Sial apa yang terjadi dengan sepeda ini remnya blong , bagaimana ini
" Kenapa kak Arya , apa yang terjadi
Ana dan Aditya yang berhenti melihat Arya dan Siska melaju dengan cepat di depan mereka tampak jelas bibir Arya dan Siska bergetar karena laju sepeda yang begitu deras
" Aaaaaaaaaaaaa
" Mereka sepertinya sangat menikmati naik sepeda itu
Aditya dan Ana saling berpelukan untungnya tidak ada orang yang melintas kalau tidak mereka berdua bisa dikira anak muda yang lagi mesum di pinggir sawah
Dari belakang paman dan bibi Aditya berlari seperti mengejar sesuatu
__ADS_1
" Paman bibi kalian mau kemana ?
Mereka menunjuk kearah Arya dan Siska
"Rem sepeda itu blong bisa bahaya nanti
Ana dan Aditya terkejut dan langsung buru - buru menyusul Arya yang melaju sangat deras
" Pantas saja tadi Siska melambaikan tangan tanda minta tolong
" Sudah tenang sajalah
" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Teriakan mereka berhenti saat sepeda tersebut masuk ketengah sawah
" Bluppp
Dengan posisi Siska yang berada di atas Arya
untunglah ada bekicot penyelamat ciuman pertama Siska , jika bekicot tidak menempel dibibirnya maka selamat Arya kau berhasil mendapatkan ciuman pertama milIk Siska
Wajah mereka berdua di penuhi lumpur
Aditya dan Ana yang melihat mereka yang tadinya khawatir langsung tertawa geli
" Kalian sudah seperti orang - orangan sawah saja "
Siska mengoceh " Kau bisa mengayuh sepeda tidak
Paman dan bibi pun datang menghampiri mereka " Aduh tadi kan bibi udah manggil neng, supaya jangan di pake sepeda itu remnya nggak ada , eh si nengnya malah dada sama bibi"
Siska menggaruk kepalanya dengan tangannya tak berapa lama terdengar pula suara
Plukkkkk
Mereka pun langsung menoleh kearah suara tampak sepeda yang di bawa oleh Rima masuk kedalam sawah dengan posisi kepala Rima menyacak kebawah
Dengan serentak mereka semua tertawa terbahak - bahak
Paman Aditya mengeluarkan catatan seperti biasanya " Jangan khawatir kalian tidak perlu repot aku akan menulis berapa kerugian ku
-Kerusakan dua buah sepeda
-Kerusakan tanaman padiku
- Biaya pencucian sepeda dari lumpur
-Biaya pengangkatan sepeda yang terbenam
Lalu menyerahkan kepada Aditya
"Ini keponakan rinciannya
Mereka berdua tampak tersenyum bahagia mungkin di benak mereka sudah membayangkan untung berkali - kali lipat
Ana memaksa ingin melihat rinciannya tetapi Aditya menolak memberikannya "Sudah biarkan saja anggap saja ini sedekah untuk mereka "
" Sedekah dengan orang kaya ?"
Ana bertanya penuh keheranan
__ADS_1
" Sedekah itu bukan tentang orang kaya atau miskin tetapi tentang hati yang ikhlas memberi kepada siapapun , tergantung setiap manusianya apa mereka selalu merasa kurang atau bersyukur tugas kita cukup memberi tanpa mengharap imbalan kembali
Ana tersenyum bangga mendengar kata - kata yang terucap dari mulut suaminya itu ia tak menyangka Aditya memiliki sisi lain yang bijaksana.