
Aditya pun kaget melihat Oma yang sudah berbaring di sebelah tempat tidur milik Bian
Ia tampak sok sekali, terlebih ia akan berpuasa selama empat puluh hari lamanya
" Oma tidak bisa jauh-jauh dari Bian " Oma memeluk tempat tidur Bian
" Dit kamu tidur di bawah saja
sana ,Oma tadi sudah menyuruh pelayan membentangkan kasur kecil di bawah untukmu berjaga "
Menunjuk kebawah ternyata telah tersedia tempat tidur dibawah ,lagi -lagi Aditya bergerutu
" Sial sekali nasibku, ya ampun selama empat puluh hari, itu waktu yang lama sekali " Memeluk bantal guling sambil memegang jagoan kecilnya
" Yang sabar jagoanku " Aditya pun mulai memejamkan matanya
Beberapa jam kemudian,
teng
teng
Terdengar tangisan bayi kecil Bian
Eaa... eakk..... oekkk.. owekkkk
Aditya yang tertidur pulas langsung terjaga seketika, seperti robot yang langsung terbuka matanya,
Oma dan Ana pun juga ikutan bangun karena kaget
" Aduh bagaimana ini " Ana tampak panik ia ingin berdiri tapi bekas lukanya pasca melahirkan masih terasa sakit sekali "
Bian kecil semakin menjadi -jadi menangis
Kegaduhan terjadi di kamar itu, suster yang tadi mengantar Bian izin pulang malam ini karena ada keperluan mendadak ,sedangkan Ana memang sengaja berpesan ia tak mau bergantung pada Suster karena ia akan mengurus Bian dengan kedua tangannya sendiri, tentu saja di bantu oleh Aditya
" Astaga, Bian suara mu besar sekali persis seperti papamu, oh tuhan sudah lama sekali aku tak mengalami bangun karena teriakan suara bayi , mana papamu " Oma Rita melihat Aditya yang telah duduk mengumpul nyawa agar tersadar
" Adit cepat kau lihat kenapa Bian ini "
Oma pun duduk ,sedangkan Ana ia memang tak boleh terlalu capek apa lagi ia harus istirahat yang cukup untuk memulihkan kesehatannya
Aditya langsung bangun dan memeriksa Bian, " Aduh sayang ssstt....sstt anak papa diamlah apa kau mau minum susu "
__ADS_1
Aditya langsung membuat susu melihat petunjuk di belakang kotak
" Aduh Oma aku tidak tau bagaimana cara membuat susu ,apa aku kebawah saja memanggil pelayan "
" Kau lihat itu baca di belakang kotaknya Dit, Bian bisa kehausan jika kau harus turun kebawah lama sekali " Oma memarahi Aditya
rasa sayang oma kepada Bian tampak begitu besar sekali mengalahkan rasa sayangnya kepada Aditya
" Cup cup sayang kau sabar lah ya, lihat papa mu lagi membuatkan susu untukmu "
Aditya pun langsung Memberikan susu pada Bian " Anak papa ini susunya sayang, cup cup cilukba.... "
Bukannya diam tapi justru malah membuatnya semakin menangis kencang sekali, " Oma kenapa Bian semakin menangis "
Aditya pun tampak kewalahan ia pun memilih untuk segera turun membangunkan semua orang di bawah
Oma Rita yang sudah tua dan rabun pun langsung menyuruh Aditya memanggil kedua orang tuanya " Cepat kau panggilkan mamamu Dit "
" Iya Oma aku akan turun dulu "
Sembari Aditya memanggil kedua orang tuanya, Ana yang iba mendengar tangisan Bian pun berusaha untuk berdiri untuk menghampiri Bian
" Oma, biar Ana menggendongnya " Ana yang hendak berdiri langsung di tahan oma Rita
" Ayo cicitku Bian yang tampan kau Oma gendong dulu "
Meski lututnya sakit ia tetap berusaha menggendong Bian ,maksud hati ingin menggendong Bian, Oma yang tua dan rabun malah menggendong bantal guling yang berada tepat di samping Bian
" Sst... kau masih saja menangis anak tampan "
Oma Rita curiga suara Bian malah justru terdengar jauh
" Tapi suaranya tak berasal dari sini , siapa yang menangis itu " Bulu kuduk oma Rita mulai berdiri, apa lagi konon katanya mitos yang beredar di kalangan para nenek moyang, bau wanita yang habis melahirkan itu wangi sekali, padahal semuanya tergantung tingkat keimanan dan ketakwaan masing -masing individu, maklumlah orang tua zaman dahulu kebanyakan makan mitos
Untung saja Mama dan papa Aditya beserta ibu Ana langsung masuk kedalam, kalau tidak kasihan Bian yang terus menangis
" Untung kalian segera datang, lihatlah cucu kalian ini menangis terus "
Memperlihatkan apa yang ia gendong
Mama dan papa Aditya merasa heran karena yang di gendong Oma Rita itu guling, sedangkan di dalam keranjang bayi terdengar tangisan Bian
" Mama kenapa kau menggendong bantal guling "
__ADS_1
Ibu Ana pun langsung menghampiri Bian kecil " Ya ampun cucuku, kau pipis ya sayang, ayo nenek ganti popokmu dulu " Seolah mengerti bayi yang baru berusia sepuluh hari tersebut memberikan senyuman kecil lalu diam saat di berikan botol susu oleh neneknya itu
kenapa tidak menyusui dengan Ana saja ?
karena pengaruh koma yang lama tersebut air susu Ana tidak mau keluar,
Oma pun terkejut " Astaga aku benar -benar sudah tua " Mama dan Papa Aditya tertawa geli
" Ya mama pikir mama itu masih tujuh belas tahun kah " Papa Aditya menggoda Oma
Oma yang kesal pun langsung menyuruh agar malam ini semuanya tidur di kamar Ana karena ia tak mau jika Bian sampai menangis kembali "Kalian semua harus tidur di sini, aku tidak mau jika sampai Cicitku menangis lagi ,dan kau Aditya kau harus menjadi papa siaga, dulu almarhum Opa mu sampai tidak tidur menjaga papa mu, kau pun harus seperti itu "
Papa Aditya seketika ingat waktu Aditya lahir dulu, sampai kantung matanya menghitam karena setiap malam berjaga terlebih Aditya setiap mau subuh baru bisa tidur
Aditya pun manggut -manggut saja, ia pun menyuruh para pelayan untuk segera membuatkan kopi
Meski ia sangat mengantuk sekali, ia tetap berjaga,
sesekali ia melihat Bian yang masih terjaga meski ia tak menangis sama sekali,
" Bian kau belum bobog Nak, apa kau tidak mengantuk " Bian kecil matanya masih menyala terang benderang, sedangkan semua orang di dalam kamar itu telah tertidur lelap di bawah
" Demi kau dan si buah hati aku pun rela begini "
Aditya tertidur menjelang subuh tepat di samping keranjang Bian
.....
Keesokan pagi,
Semua orang bangun dengan segar sekali ,kecuali Aditya yang kelelahan tampak jelas dari lingkar matanya yang menghitam
" Wah selamat pagi semuanya,pagi ini benar -benar indah untuk kita semua " Arya bangung dengan bersemangat sekali
Sedangkan Aditya bermuka masam sekali
" Wah papa baru kau kelihatan lelah sekali, ada apa gerangan " Arya tersenyum mengejek karena ia tau jika Aditya semalam tidak tidur dari Bima kakak iparnya
Belum sempat Aditya menjawab, seorang perempuan tak asing berdiri di ruangan depan dengan membawa sebuah kado,
seorang pelayanpun segera menghampiri mereka untuk memberi tau perihal kedatangan tamu di pagi hari tersebut
" Maaf tuan ada Nona Rima ingin menjenguk Nona Ana dan Bayinya "
__ADS_1