
Terdengar suara tangisan di ruangan IGD, para suster dan dokter bergerak sangat cepat untuk segera memberikan pertolongan kepada pasien, tangisan air mata semakin terdengar kencang saar orang - orang yang mengangar ikut - ikutan berteriak siapa lagi kalau bukan tangisan keluarga besar Bratawijaya grup, keluarga tersohor dan konglomerat ternama di republik ini
" Dok, cepat " Terdengar suara teriakan Aditya yang begitu cemas, melihat istri dan neneknya yang terbaring begitu lemah
Beberapa orang suster tampak dengan sigap berlari memanggil dokter jaga
Mereka pun segera menyiapkan segala perlengkapan dan menghampiri nenek dan Ana , nenek tampak sanga lemah darah sudah tergenang di lantai berceceran, dengan besi yang masih menyacak di punggung,
ia tak banyak berkata apa - apa hingga darah segar keluar dari mulutnya, membuat ia tersenyum dan berusaha melambaikan tangannya saat di dorong masuk kedalam ruangan operasi
" Sepupu, kau harus bertahan " Suara oma Rita menangis berteriak kencang terdengar sangat sedih, tentu saja nenek dan Oma mereka seumuran mulai dari kecil hingga remaja, hanya saja mereka memilih jalan berbeda, nenek memutuskan menikah di usia muda meski akhirnya ia harus kehilangan cinta sejatinya, dengan bersusah payah ia membangun kerajaan bratawijaya grup ada beberap perusahaan yang di tinggalkan suaminya tapi di tangan oma Rita perusahaan itu tumbuh menjadi besar dan menjadi adidaya
Berbeda dengan nenek ia sangat ambisius mencapai puncak karier saat oma Rita memutuskan untuk menikah ,ia menolak ia beranggapan menikah akan menjadi penghalang kariernya ia tergila - gila dengan gelar akademik, tapi perjuangan nenek tak sia sia ia bahkan menyandang 20 gelar sarjana dan gelar profesor dalam segala bidang pun dapat ia raih, ya nenek sangat lah cerdas
berapa kali oma Rita mengingatkan ia untuk menikah, karena memikirkan usianya yang tidak lagi muda, tetapi itulah latar belakang keluarga mereka yang keras membuat nenek sangat sulit untuk di nasehati,
Begitulah jika seorang perempuan merasa dirinya cerdas jadi ia merasa tak butuh lelaki sama sekali ,pelajaran untuk serial perempuan Jangan terlalu mengejar karier hakekatnya kita adalah seorang perempuan banyak generasi yang akan lahir dari perempuan cerdas, sayang sekali nenek melewatkannya bagaimana tidak menikah, memiliki keturunan setidaknya ada anak yang akan mendoakan kita setelah kematiannya
" Sudah Ma, hentikan jangan menangis lagi pikirkan kesehatanmu ma, "
Oma Rita duduk bersandar dengan tongkat di tangannya
Tak lama Dokter keluar dari kamar operasi
" Keluarga pasien harap tenang semuanya ya, kita akan melakukan semua yang terbaik, sebaiknya berdoa saja jangan bergaduh, karena ini rumah sakit "
Memberikan keyakinan agar keluarga bisa lebih tenang
" Ada kerabat dari ibu ini "
Seorang Suster kembali keluar ia memberi tau keluarga jika Nenek membutuhkan banyak darah tentu saja, besi besar yang menancap di punggungnya , membayangkannya saja sangat ngilu ,sedangkan ia masih bisa tersenyum dan berbicara di dalam ambulance, mengisyaratkan jika ia baik - baik saja
" Darahnya banyak keluar, kita butuh pendonor Karena stok darah kita tidak Cukup"
" Oh sepupu, aku masih ingin bercerita banyak tentang hidup kita, aku ingin mendengar kisah cintamu yang belum tuntas aku ingin mendengar keluh kesahmu, bukankah kau berjanji akan pulang bersamaku, kita akan menikmati hari tua menunggu sisa umur kita dengan meminum teh di pinggir sawah, dan menunggu giliran siapa yang duluan akan di panggil oleh tuhan "
Para keluarga saling berpandangan satu sama lain karena memang golongan darah nenek sangatlah langka ,ditambah lagi ia tak memiliki keturunan yang bisa menyumbangkan darah untuknya hanya oma Rita sepupu kandungnya,
Oma Rita dan kedua orang tua Aditya saling memandangi satu sama lain " Darahku A bagaimana ini " papa dan mama Aditya bergolongan sama dengan suami oma Rita alias mertua mama Xena jelas saja kakeknya Aditya
Nenek yang memutuskan tidak menikah membuat ia sama sekali tak memiliki penerus keturunannya .
Terkadang rasa iba amat sangat jelas padanya, contohnya saja dalam posisi darurat seperti ini, apa lagi terhadap mereka paman dan bibi anak angkat nenek sama sekali tak bisa berbuat apa - apa
mereka berdua tampak menangis karena tak tau harus bagaimana, apa lagi di situasi sangat panik di tengah malam begini
" Darah aku saja Dok " Oma Rita menyodorkan tangannya dengan suara yang sangat lemah dan serak
" Jangan mama ,mama tak perlu melakukan itu ingat mama sedang sakit" Papa Aditya mendekat
" Maaf ibu kondisi ibu juga sudah sangat tidak memungkinkan untuk di ambil darahnya, darah bapak apakah AB "
Dokter menjelaskan dengan baik karena melihat kondisi oma yang sudah sangat tua lagian oma Rita juga sudah mulai sakit - sakitan ,
Papa Aditya mundur " Maaf Dok saya B "
Terlihat keluarga semakin panik " Bagaimana kalau anak - anaknya saja yang mendonorkan, apa ada anaknya di sini"
Dokter kembali mendesak karena situasi di ruang operasi terlihat sangat urgent
Paman dan bibi saling berpelukan " Kami adalah kedua anaknya memang darah kami tak sama, tapi jika kau butuh organ yang lain dok sebaiknya kalian jangan sungkan mengambilnya dari kami " mereka berdua tampak sangat sedih meski mereka tak lahir dari rahim nenek, justru karena nenek lah mereka berdua bisa hidup enak
Mereka berdua meneteskan air mata mengingat mereka berdua tak bisa melakukan apapun karena posisi mereka bukanlah anak kandung
Seorang suster kembali berlari " Dok, darahnya sudah cukup " Tampak Arya keluar dari ruangan dengan wajah yang putih pucat
ia terlihat mengeluarkan keringat dingin, berjalan sangat kaku seperti zombie yang tak bernyawa, berjalan lurus tak melihat kekiri dan kekanan, bibirnya masig bergetas
__ADS_1
bisa di bayangkan betapa mengerikannya
proses pengambilan darah Arya di dalam
Tetapi pengorbanan Arya patut di acungkan jempol, ia telah menjelma menjadi super hero, di situasi yang tepat dan urgent malam ini, ia yang sangat takut dengan jarum rela mengorbankan diri kali ini ,
Oma Rita tampak bangga melihat Arya
"Arya kau cucuku yang hebat ,kemarilah nak"
Arya berjalan dengan kaku memegang tangannya bekas jarum yang menusuk kulitnya,
Langsung saja Oma Rita memeluk Arya ia tampak sangat bahagia karena Arya mendonorkan darahnya untuk sepupunya
" Aku berhutang nyawa padamu, kau persis sekali seperti ayahmu rela melakukan apalun untuk keluarga ini "
Arya sama sekali tak terpengaruh dengan segala pujian dari oma Rita dan keluarga karena rasa trauma di dalam masih sangat jelas terasa
jika saja mereka tau bagaimana perjuangan Arya untuk bisa mendonorkan darahnya benar - benar seperti orang yang siap berperang ia sampai harus melakukan beberapa adegan agar berani di ambil darahnya, dokter dan suster harus menutup matanya , memberikannya headshet untuk mendengarkan musik
Arya yang sangat takut sekali dengan jarum harus menahan rasa takutnya ,meski ia harus sambil menjerit dan menangis saat jarum menusuk jari - jarinya rasa malu nya mendadak hilang saat ia melihat nenek yang terbaring lemah dengan semua peralatan medis lengkap
flashback Arya di dalam ruangan
" Suster apa ini sakit "
" Tidak usah khawatir Mas, ini hanya seperti di gigit semut "
Suster menenangkan Arya
Arya menangis karena teringat bercanda dengan nenek di dalam kamar ,bagaimana nenek memberi nasehat untuknya, bagaimana tidak nenek adalah bagian dari keluarga brtawijaya Arya kecil dan Aditya kecil adalah teman sepermainan hingga nenek akhrnya memutuskan untuk melanjutkan hidup dan menetap di desa
Dengan beberapa tekhnik pejuangan akhirnya
Suster berhasil mendapatkan sekantong darah milik Arya , karena darah Arya lah yang cocok dengan darah nenek
Suster yang berada di luar ruangan berusaha kembali menenangkan keluarga Aditya, tentu saja keluarga kaya akan selalu di hormati jangan mimpi jika kita dari kalangan biasa
untuk masuk saja di tanya dulu, bayarnya mandiri atau ikut asuransi pemerintah , syukur - syukur di layani dengan baik
hahaha
"Keluarga pasien bersabarlah berikan doa yang terbaik , karena kita akan sama - sama berjuang "
Dokter dan suster jaga kembali pergi meninggalkan mereka lalu menyuruh mereka semua menunggu di ruangan tunggu yang telah di sediakan pihak rumah sakit
" Ada baiknya bapak dan ibu sekalian menunggu di ruangan tunggu saja, mengingat kondisi sudah larut malam, kasian nenek yang sudah tua itu tampak begitu lemah karena menangis "
Mama papa Aditya langsung memegang oma Rita " Tidak usah aku masih kuat untuk berjalan sendiri "
Ia berjalan dengan tertatih
Sejenak oma Rita tampak tenang ia terlihat sedang berzikir, benar saja akhir - akhir ini oma Rita terlihat lebih religius ia sudah banyak bersabar dan menahan emosinya
ia melihat sekeliling dari tadi ia tak melihat Aditya
Bagaimana kondisi Ana sampai detik ini
" Mana Aditya ? bagaimana kondisi cucu menantuku Ana, apa calon cicitku baik - baik saja? "
" Mama tenang saja, Aditya bersama Ana sekarang ia baik - baik saja hanya syok hingga membuat ia pingsan "
Ana hanya terluka sedikit karena goresan besi pada saat jatuh kebawah ia pingsan karena kaget untunglah kondisinya dan bayinya baik - baik saja
Oma Rita tampak lega mendengar kondisi Ana
tetapi tiba - tiba ia meneteskan air mata kembali rupanya ia teringat percakapan antara dirinya dan nenek di dalam. ambulance tadi
__ADS_1
" Sepupu " Oma Rita tampak menangis tersedu-sedu,mengelus kepala nenek lalu mengengg tangannya, kedua tangan yang sudah keriput itu menggenggam satu sama lainnya
" Rita aku sangat bersyukur jika harus pergi dengan cara seperti ini " bersuara pelan
" Apa yang kau katakan sudah jangan banyak berbicara lagi "
Terus berbicara tanpa memperdulikan larangan oma Rita
"Kalian semua akan memajang potoku nanti di ruangan besar rumah kalian , dengan sangat besar potoku akan mengisi setiap rumah kalian, dan aku akan menjadi bagian dari cerita, sebuah pengorbanan dalam keluarga, Aditya akan bercerita tentangku pada cicitku nanti dan ia akan bercerita sampai ke anak cicit nya lagi. aku sangat bangga akan menjadi legenda di dalam keluarga bratawijaya , jika aku telah menyelamatkan cicit keturunan keluarga kita "
Menarik nafas panjang, darah masih mengalir deras oma Rita tak hentinya menangis mengeluarkan air mata,
" Rita kau jangan lupa ,katakan pada Chang jika ia mencintaimu maka ia harus rela berkorban untuk mengalah mengikuti mu , jika tidak sampai kapan pun cintanya padamu hanya menjadi kisah saja yang akan di ceritakan turun temurun dia dan aku akan melengkapi legenda untuk di ceritakan nanti
" Tertawa terkekeh meski tampak ia sedang menahan sakit
Suster menyuruhnya untuk diam karena nenek terlalu banyak bicara, membuat darahnya terus - terusan mengalir
" Nenek sebaiknya nenek jangan banyak bicara dulu, lihatlah darahnya akan semakin banyak mengalir "
Oma Rita masih menangis tubuh rentanya seakan tak menerima jika melihat sepupunya harus pergi dengan cara setragis itu
" Sepupu kau pasti bisa bertahan, lihatlah bukankah kita berjanji untuk menua bersama"
ia tertawa terkekeh kembali seolah tak perduli dengan apa yang akan terjadi nanti
" Tentu saja Rita, kau lihat kita telah bersama kembali aku melihat sepertinya janji ku telah sampai,aku akan segera pulang duluan Rita " Terbatuk - batuk menahan sakit di dadanya karena besi yang tercacak di punggungnya tembus ke dada sungguh mustahil untuk di selamatkan
Oma Rita mengelap air matanya,sebelum turun dari mobil nenek berpesan agar ia di kubur, di pemakaman keluarga dekat dengan ayah ibunya ,karena ia tak mau sendirian, sampaikan pada Ana dan Aditya bahwa ia sangat menyayangi mereka,
" Katakan pada Ana bahwa aku sangat menyayangi mereka ,aku ingin nanti cicitku dapat mendoakan aku nanti "
Mata nenek terpejam, semua keluarga menunggu di luar
Paman dan Bibi tak henti meneteskan air mata " Suamiku apakah ibu akan segera pergi "
" Kau ingat dia sangat marah pada kita, dia mengatakan kita untuk tidak terlalu kikir, dan kita tak harus tergila - gila pada dunia "
mereka berdua saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain
Ana masih pingsan ia masih tak sadarkan diri, Aditya berdiri di sampingnya tampak mengenggam erat kedua tangan Ana yang masih sangat lemah " Bangunlah sayang, jangan berbaring terus kau lihat aku di sini "
Wajah Aditya terlihat begitu panik
Dokter pun masuk untuk memeriksa keaadan Ana
" Pak Aditya tenanglah istri anda hanya terkejut saja ,tak usah khawatir biarkan saja dia istirahat dulu, biarkan ia tenang dulu ,beri waktu ia sendiri dulu ,alhamdulilah bayi nya tidak apa - apa hanya luka kecil saja di bahunya
Sebaiknya anda biarkan saja istri anda di dalam "
Aditya berdiri dan keluar dari dalam kamar mengecup kening Ana
Tak lama Dokter keluar dari ruangan operasi dengan wajah yang amat sedih, oma Rita dan keluarga besar Aditya termasuk kedua orang tua Ana, ikut berdiri dan tidak lupa juga dengan Rima yang ikut pergi kerumah sakit berdua Dimas dengan mengendarai motor besarnya
Keluarga besar tampak tegang melihat dokter yang keluar dari ruangan operasi
" Bagaimana Dok keadaan ibu saya "
Bibi dan paman matanya terlihat begitu bengkak akibat tak berhenti menangis
" Dengan berat hati, saya mengatakan maaf sekali beliau tidak bisa di selamatkan ,darahnya terlalu banyak mengalir dan hati nya robek "
Seketika tangis pun pecah
" Ya tuhan sepupu " Oma Rita menangis sambil berjalan tergopoh - gopoh menggunakan tongkatnya
" Sabar Ma " mama Aditya meneteskan air mata mencoba menenangkan oma Rita yang tampak begitu terpukul
__ADS_1