
Dimas ikut - ikutan tersenyum mendengar nama panjang Alena
"Ehem, ya Alena senang berkenalan denganmu "
" Kak Dimas mau makan apa biar aku yang pesan " Arjuna berdiri siap untuk memesan makanan
" Nggak usah aku udah makan tadi di rumah "
" Sok baik banget sih caper lu " Siska menjulurkan lidahnya kearah Arjuna
" Ngapain duduk di sini , pergi sana " Siska mengusir Dimas
Dimas hanya diam saja saat Siska mengoceh
mengangkat telpon " Iya di kantin sini aja "
Mereka semua berkumpul di kantin karena Ana ,Siska dan yang lainnya masih ada jam kuliah terakhir
Tak lama nampak Arya berlari tergopoh - gopoh kearah kantin
" Sorry brow telat " Arya terkejut ternyata Dimas lagi berkumpul bersama Siska dan yang lainnya tapi yang lebih membuat semua orang terkejut sikap ekstrem Alena terhadap Arya
" Awwwwwww kakak ganteng " Alena langsung salto - salto berjingkrak - jingkrak kegirangan
"Astagfrullah " Arya mengurut dada, Ana, Siska dan lainnya terbelalak memperhatikan sikap Alena
" Apa dia selalu bersikap seperti itu jika menyukai orang lain " Ana berbicara perlahan
Dimas terkekeh melihat tingkah Alena
Siska melempar tissue yang ia pegang
" Norak "
Berlari kedalam kelas meninggalkan mereka semua
Arjuna berlari menyusul Siska
tinggal Arya, Dimas dan Alena disana
Arya masih sangat cemas melihat tingkah Alena yang bar - bar tetapi Alena tidak berani memegang atau menyentuh Arya ia hanya seperti fans fanatik yang mengidolakan artis
" Ayo cepat duduk " Dimas menarik tangan Arya yang masih berdiri di sampingnya sesekali ia menoleh ke arah Siska berlari penasaran kemana Siska pergi
Ana masih menghabisi makanan yang ada di depannya berbeda dengan Alena ia memangku wajahnya dengan kedua tangan sambil tersenyum - senyum melihat wajah Arya yang berada tepat di depannya
Pertama Arya cuek saja tetapi lama kelamaan Arya menjadi salah tingkah, tidak bisa di pungkiri Alena memang menarik
" Dimas bisakah kita segera pergi dari tempat ini kau lihat itu " Berbisik dan melirik ke arah Alena yang dari tadi tak berkedip memandangnya
Dimas menoleh kearah Alena benar saja Alena masih menatap Arya, membuat Dimas kembali tertawa, Ana yang sedang makan pun ikut tertawa melihat ketakutan Arya
"Wew badboy bisa juga ketakutan rupanya "
Sedang asik tertawa dari kejauhan seorang laki - laki tampan dengan memakai jas rapi menghampiri Ana
" Sayang " Ana terkejut bukan kepalang melihat Aditya telah berdiri di sampingnya
" Dit, bukannya tadi kamu ada rapat penting " Arya tak kalah terkejut melihat Aditya telah berdiri di tengah - tengah mereka
Berusaha bersikap seperti biasa meski ia terlihat sangat kesal karena dari kejauhan melihat Dimas dan Ana tertawa terbahak - bahak membuat Aditya semakin jengkel benar sih Dimas sudah bersikap seperti biasa tetapi siapa yang bisa menebak dalamnya hati manusia ya kan wkwkww
" Aku hanya tiba - tiba merindukanmu "
Giliran Arya yang terkekeh ia baru menyadari jika kadar cemburu Aditya masih sangat tinggi "
" Ya ampun senyum kakak ganteng ini manis sekali aku sudah tak sabar ingin sekali menjadi pendampingnya "
Aditya terkejut melihat ada perempuan sefrontal itu di hadapan Arya " Dia siapa, pacar baru kamu Arya "
" Dia temanku sayang " Ana menjawab pertanyaan Aditya
Dimas tersenyum kearah Ana, Aditya menangkap sinyal - sinyal tatapan Dimas ia langsung menutup wajah Ana dengan tubuhnya dan berbicara menghadap Dimas
" Dit nggak kelihatan aku nya " Ana berada di balik tubuh Aditya yang kekar
" Sudahlah kau mau melihat kelas mu kan Dimas ayok kita pergi dari sini " Arya berdiri
__ADS_1
" Nanti saja kawan lihatlah Aditya baru datang jarang sekali kita tak berkumpul seperti ini lagi "
" Sayang ini sudah jam berapa kau tak masuk kekelas " Aditya menekankan suaranya mengusir Ana secara halus
" Oh iya aku lupa " Ana berdiri dan mengajak Alena
" Ayo Alena dosen yang ini killer apa lagi kamu baru datang hari ini harus menunjukkan kesan yang baik padanya "
" Baiklah, tapi aku nanti bolehkan kak Arya menelponmu " Alena menunduk malu - malu
Arya hanya tersenyum cemas saja
" Sayang " Aditya memanggil Ana
" Apa lagi Dit "Berhenti dan melepaskan tangan Alena
" Kemari " Memaju mundurkan kedua jarinya kode jika Ana harus berbalik mendekat dengannya
Berjalan dengan tertatih mendekati Aditya kembali
" Kau lupa sesuatu "
" Lupa apa? " Ana tampak bingung
" Sun dulu " Aditya mengarahkan pipinya
Arya paham Aditya sengaja melakukannya di depan Dimas , benar - benar kelakuan Aditya
Mau tidak mau Ana mencium Aditya di depan mereka karena jika Ana menolak sama saja ia akan merasakan kemarahan Aditya padanya
:" Mmuahh " Dimas memalingkan wajahnya saat Ana mengecup pipi Aditya
Sakit ? tentu saja sakit tapi mau bagaimana lagi itulah resiko jika mencintai orang yang telah bersuami, benar bukan salah Dimas tapi salah siapa dong? iya salah Aditya, salah waktu yang terlambat mempertemukan Dimas dan Ana .
Aditya tampak puas ia langsung mengelus perut Ana " benihku, bayiku jangan nakal di perut istriku ya "
Arya kembali menggelengkan kepalanya Sedangkan Dimas sama sekali tak menoleh kearah mereka
Dimas sedikitpun aku tidak akan memberi ruang untukmu, enak ya tadi bisa tertawa bahagia duduk di dekat istriku, hah bukankah kau tampan carilah perempuan lain di luar sana , enak saja kau jangan coba - coba kau berpikir ingin merebut Ana dariku
Musim pebinor ya? wew, eleh eleh wkwkkwkw
" Bukan kah itu pak kumis? " Arya menunjuk kearah Pak kumis yang sedang tertawa bersama perempuan itu yang ternyata adalah maminya Dimas
" Iya benar pak kumis hahahaha " Aditya tertawa karena lucu sekali menurutnya wajar saja pak kumis di kenal dengan kesetiaannya
.
" Pak kumis bukan main ya, eh tapi tunggu dulu itukan perempuan yang memang waktu itu aku melihat ia sedang makan berduaan dengan mesra " Arya tertawa geli
Mereka tidak menyadari jika wajah Dimas terlihat sangat murka melihat kelakuan ibunya yang menurutnya sangat tidak pantas karena sudah tua
"Dimas kau kenapa " Arya terkejut melihat wajah Dimas yang memerah
Maminya terlihat sangat cantik dengan jilbab berwarna orange dan gamis yang senada dengan warna jilbab yang ia kenakan
Dimas pergi meninggalkan Arya dan Aditya dengan penuh tanda tanya
" Dia kenapa " Arya bertanya
" Biasalah mungkin ia tak sanggup melihatku bermesraan dengan Ana " Aditya tersenyum sinis
" Kau ini tapi aku tidak yakin karena melihatmu "
" Tapi aku sangat yakin "
.......
Dimas mengambil ponselnya,ia berusaha menelpon ponsel milik ibunya tapi lama sekali di angkat
" Lama sekali, apa yang sebenarnya di inginkan mami , benar - benar memalukan untung saja dia memakai jilbab jika ia masih memakai pakaian mini mau ditaruh di mana muka ku melihat kelakuannya yang semakin tua tidak tau tempat "
Dimas memang sangat marah jika maminya berhubungan dengan lelaki manapun apa lagi semenjak kejadian perceraian kedua orang tuanya ia sangat menentang keras jika maminya menjalin hubungan dengan lelaki lain, apa lagi tadi yang ia lihat pak kumis sempat memegang tangannya di tambah pula Arya mengatakan jika maminya dengan pak kumis pernah makan berdua
" Keterlaluan mami, aku tidak menyangka selama ini ia pergi dengan laki - laki lain terlebih ia pak kumis " Memukul setir kemudi
......
__ADS_1
" Wijaya anakku menelpon "
" Ya sudah angkat saja "
" Tunggu sebentar ya "
Mengangkat telpon " Iya Dimas ada apa "
" Mami dimana " Dimas berusaha menekan suaranya
" Oh mami lagi ada urusan di luar bersama teman - teman mami nak, ada apa "
" Mami bisa pulang sekarang, Dimas mau bicara penting " Mematikan telpon
" Wijaya sebaiknya aku pulang dulu anakku sepertinya ingin berbicara penting "
" Baiklah apa kau perlu aku temani pulang kerumah "
" Tidak usah jangan sekarang waktunya belum tepat "
Perempuan itu bergegas pulang kerumah ia tak tau jika Dimas sudah siap melemparkan beberapa pertanyaan untuk dirinya di rumah
.......
" Kau masih di sini " Arya bertanya mengejek kepada Aditya
" Memangnya kenapa ini kampusku kenapa kau tidak suka melihatku berada disini "
" Ya elah brow jangan ngegas, aku kan cuma bertanya kasian jaz yang loe pake nanti kotor"
Arya tau Aditya masih sangat sensitif
" Lagian pertanyaan pak Arya barusan memancing emosi jiwa saya yang terdalam "
Membalas Arya dengan candaan
" Yaelah maaf pak bos kan anak buah cuma lagi bertanya aja "
" Kita pulang barengan istri gue keluar dari kelas puas " Aditya menyilangkan kakinya
" Boss mau minum apa biar aku memesankan "
." Berhentilah menggodaku atau aku akan membuatkau menikah dengan perempuan tadi " Aditya tertawa cekikikan
"Hentikan Aditya aku sangat tidak tertarik padanya, kau lihat saja tingkahnya menjijikkan tidak mencerminkan seorang perempuan "
"Tapi dia lumayan brow " Aditya mengedipkan matanya
" Lumayan bokongmu " Arya tampak sangat marah
" Hei aku bercanda kau jangan marah " Aditya mencolek dagu Arya
" Dit hentikan tingkah menjijikkanmu itu "
Arya berpindah kursi
" Sampai detik ini aku belum bisa membuka hati untuk siapapun dan aku belum berencana membukanya untuk siapapun kau dengar " Menunjuk kearah Aditya
" Jadi kau masih berharap dengan Siska, ah sudah lah Arya itu sungguh memalukan aku tak rela jika kau menjadi penggoda "
" Hei tuan Aditya jaga ucapanmu aku tidak serendah itu aku tidak mungkin menggoda istri orang lain itu sangat tidak pantas "
Arya tampak serius
" Baguslah itu baru temanku "
" Ya tapi aku juga tak bisa menjamin jika jauh didalam hatiku masih tersimpan nama ....."
"Hei hujan brow ayo. kita menunggu di depan saja "
Aditya dan Arya berlari menunggu di gedung depan sembari menunggu Ana keluar dari kelasnya
......
" Siska apa menurutmu aku pantas dengan kak Arya " Alena berbisik dari belakang
Ana pura - pura tidak mendengar
__ADS_1
Ya ampun Alena ini mencari masalah sekali apa dia tidak tau jika Siska masih sangat mencintai Arya.
" Kau bisa diam tidak aku tidak mau kita di hukum " Siska menjawab ketus wajah Siska tampak menyesal, karena telah mengajak Alena bergabung duduk di dekatnya