Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 162


__ADS_3

Ana menangis sejadi - jadinya di dalam kamar miliknya yang sangat minimalis sudah pasti tidak besar dan tidak kecil


ya kalau untuk berdua cukuplah untuk Ana dan Aditya berdesakan di dalam kamar itu


apa lagi kalau baru menikah yang sempit - sempit itu indah, eaaa... eaaaa


Ana masih bergerutu di dalam kamar membayangkan sikap Aditya yang sama sekali tak memberi pembelaan apapun padanya


" Aku tak menyangka ia sama sekali tak membelaku, apa dia pikir aku ini semurah perempuan - perempuan di luaran sana. atau ia mengira aku ini sama seperti Amanda "


Ana berdiri di depan cermin dan berakting seolah - olah Aditya berada di hadapannya lalu Ia memutar musik kali ini musik bergenre mellow, sesuailah dengan apa yang ia rasakan dalam hatinya saat ini


" Aditya kau lihat aku sedang mengandung anakmu, apa kau lupa , bagaimana caranya aku bisa mengandung !


kau pikir aku ini sama sepertimu ha, aku dan Dimas tak pernah melakukan apapun jangankan untuk melakukan bersama pria lain, membayangkan orang lain saja aku tidak pernah sama sekali, meski dari awal menikah kau terus - terusan menyakitiku,


Bukan kah itu salahmu ,kau yang membuat aku untuk menjauh darimu, apa kau lupa ?


atau jangan - jangan kau sedang mencari alasan karena tubuhku sudah mulai gendut dan aku sudah tampak tak menarik lagi "


Ana masih berdiri dengan memegang perutnya


" Tolong hentikanlah kebencianmu pada kak Dimas, ia sama sekali tak pernah mencoba menyentuhku ia sangat menjagaku dan menghormatiku


apa kau pikir kelakuan Dimas sama sepertimu ha? , kasihan kak Dimas ia hanya korban yang terjebak antara kisah kita berdua "


Ana berkacak pinggang


Diluar kamar Ana, Aditya sudah di cerca dengan berbagai pertanyaan ia bahkan tak bisa berkutik sama sekali,


Kedua orang tua Ana menghajarnya habis - habisan dengan pertanyaan yang banyak sekali


kedua orang tua Ana tampak antusias sekali bertanya kepada menantunya itu tentu saja mereka tak mau sampai kejadian seperti ini terulang kembali , kali ini posisi Bima hanya memantau saja , ia berpura - pura menonton televisi dengan volume yang di kecilkan, Tetapi lirikan matanya sesekali memantau


di tambah lagi telinganya sangat tajam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Aditya


ia bak seorang terdakwa yang sedang di cerca dengan ribuan pertanyaan


" Jadi sebenarnya apa kau memang ingin melanjutkan pernikahan ini "


Ayah mertuanya bertanya dengan sangat serius


Aditya mengelap keringat dengan sangat gentle man ia menjawab semua pertanyaan Ayah nya " Apa maksud pertanyaan Ayah begitu "


Aditya tampak naik pitam, namun suara batuk Bima membuat ia merendahkan suaranya kembali


"Maksud ayah aku, ingin berpisah dengan Ana ? Asal ayah tau saja sampai detik ini, menit dan jam, ini tak pernah sekalipun terlintas untuk jauh dari Ana"


Aditya menutup mulutnya seolah tak percaya jika ia mengatakan hal yang demikan dari hatinya


Diam - diam Anya kakak iparnya yang juga istri Bima, menantu ayah dan ibu mertuanya,


juga tak tinggal diam melihat Aditya yang sedang di intograsi ,


jurus cuek tanpa bayangan yang ia miliki sangat berguna saat ini, ia mengeluarkan ponsel dan mulai merekam apa yang di ucapkan dari bibir imut Aditya


" Baiklah adik ipar, kau berbicaralah aku akan merekamnya, agar kau bisa melihat bagaimana reaksimu menonton wajahmu yang lagi berjuang untuk cintamu "


Anya menutup mulutnya


Bima melirik kearah istrinya " Sttt stttt apa yang sedang kau lakukan "


" Sudah jangan ribut kau lihat saja nanti "


Anya berbicara dengan berbisik bahkan sangat pelan


" Baiklah "


Ayah mertuanya manggut - manggut sambil memegang dagunya, yang tidak ada jenggotnya sama sekali


" Jadi bagaimana ini bu, "


Bertanya kembali kepada istrinya


" Ibu terserah mereka saja, biar bagaimanapun kami hanyalah orang tua peran kami hanya bisa menasehati kalian saja jika di minta pendapat ya kami berikan, jika tidak untuk apa kami berbicara, apa lagi jika anak sudah berumah tangga ada batasan sebagai orang tua terhadap anak, apa lagi Ana bukanlah menjadi tanggung jawab kami lagi, Nak Aditya kau lah yang lebih berhak atas Ana bukan kami


Kami tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga kalian


apa lagi kalian yang lebih tau duduk persoalan rumah tangga kalian masing - masing , sebaiknya kalian berdua jika ada masalah jangan ada yang mementingkan ego, bicarakanlah baik - baik, jika ada yang sedang menjadi api, maka salah satu dari kalian harus mengalah menjadi air,


persoalan rumah tangga itu tidak rumit jika pondasi yang di landasi dengan keimanan dan taqwa kepada sang pencipta telah kalian ciptakan dari awal "

__ADS_1


"Ayah akan menambahkan sedikit, Nak Aditya ayah sangat bersyukur memiliki menantu seperti kau dan juga Anya, keluarga kami memang tak kaya, tapi kami selalu berusaha mengkayakan hati kami, mendidik Ana dan Bima dengan akhlak dan prilaku yang sesuai dengan norma agama, percayalah kedua anak ayah adalah anak - anak yang tidak akan melanggar syareat agama terutama dalam sebuah pernikahan, kalian sebentar lagi akan menjadi calon orang tua, mulailah berubah bersikaplah layaknya orang tua, karena sekarang kau Aditya tanggung jawabmu bukan lagi Ana saja tapi juga Anakmu. kita lelaki ini memang tidak mengandung, dan melahirkan tapi tanggung jawab kita terhadap keluarga sampai kita mati nanti, kau ingatlah baik - baik ucapan ayah ini "


Aditya tampak sangat lega ,bagaimana tidak memiliki mertua yang baik seperti itu


tentu saja siapa yang tak merasa beruntung


"Sudah sekarang cepat panggilkan Ana Bu, tidak baik membiarkan Ana meninggalkan suaminya, bukan kah kita juga sudah tau apa yang sebenarnya terjadi "


Ayah mertuanya tampak sangat bijak


Berbeda dengan Bima ia masih tampak sangat kesal sepertinya, ia masih tak terima ia berdiri lalu menghentikan langkah kaki ibunya


" Tidak bisaaa bu, Aditya tidak boleh dulu bertemu dengan Ana biarkan ia sendiri dulu


meyakinkan hatinya apa benar ia butuh Ana "


Mata Bima sangat merah karena marah


" Bima kau tak boleh seperti itu nak, kasihan Ana dia sedang hamil besar "


Ayahnya berusaha menyabarkan Bima yang terkenal keras sekali, jika ia berkeinginan memang sangat sulit sekali di bantah


Aditya tampak emosi, ia langsung berdiri dan menatap Bima, ia bersikeras ingin menemui Ana dan mengajaknya pulang,


rasa takutnya mendadak hilang saat Bima melarangnya untuk bertemu dengan Ana


" Apa maksud kak Bima melarangku bertemu istriku ,apa kak Bima mau jika tak boleh bertemu kak Anya "


Anya tersentak mendengar ucapan Aditya, Aditya tak tau jika yang tak bisa hidup tanpa Bima adalah dirinya


"Jika saja aku tak di perbolehlan bertemu lagi dengan Bima lebih baik aku mati saja "


Aditya belum tau saja jika perjuangan Anya untuk menjadi istri Bima berliku - liku sekali


Bima langsung berjalan mendekati Aditya


Anya dan ibunya berusaha melerai mereka berdua


" Oh kau berani sekali menantangku "


membusungkan dadanya


"Tentu saja dia itu istriku "


"Istri yang harga dirinya tak bisa kau bela di depan keluargamu, suami macam apa kau?


Membela saja kau tidak bisa, bagaimana mungkin aku yakin kau akan menjaga keselamatan adikku "


Bima tampak emosi kali ini curahan hujan kewajah Aditya tampak terkontrol karena ia juga tadi sudah menggosok giginya, jika tidak sudah di pastikan Aditya akan kalah telak


Ternyata dari dalam kamar Ana mendengar suara ribut - ribut " Suara ribut - ribut apa sih di luar, menganggu saja, apa mereka tak tau aku butuh istirahat menyebalkan sekali "


Ana memutuskan menguping untuk mendengar apa yang terjadi di luar sana ,ia menempelkan telinganya di pintu kamar


" Apa sih yang mereka bicarakan ribut sekali, tapi suara itu seperti... "


Aditya langsung terdiam karena apa yang dikatakan Bima itu benar adanya


" Ha kau diam kan apa lagi pembelaanmu sekarang ,apa lagi yang ingin kau katakan ayo"


Ayah Ana langsung membentak Bima


Yang sudah sangat keterlaluan sekali


" Bima sudah hentikan , pikirkan nasib adikmu"


" Nasib apa Ayah ha , Apa yang ayah takutkan jika tak ada yang bisa menerima keadaan Ana begitukah ?


aku yakin masih banyak di luaran sana yang bisa mencintai Ana dengan tulus dan pasti akan siap membela dan melindunginya dalam situasi apapun "


Bima tampak sangat emosional sekali


berbeda dengan Bima justru Ana yang menguping didalam kamar merasa deg - deggan sekali


" Kak Bima apa yang kau katakan, Aditya memang salah sekali, tapi aku mencintainya"


Aditya langsung bersuara , kali ini suaranya terdengar tak berdaya ia sangat lemah sekali


Karena posisinya ia memang salah jadi mau bagaimana lagi, dari pada ia tak bisa menemui Ana sama sekali lebih baik ia, mengalah saja kepada Bima apa lagi Bima adalah kakak iparnya


"Maafkan aku kak Bima aku tau aku sangat salah, tapi bagaimana mungkin aku bisa berpikir jernih dengan situasi sekalut itu,

__ADS_1


aku terlalu mencintai Ana sampai - sampai aku tak bisa membedakan hal baik dan buruk ,aku terlalu terbakar cemburu "


Aditya berbicara dengan sangat jujur kelihatan dari kedua bola matanya yang begitu tulus mewakilkan hatinya


" Cinta kau bilang, Cuihhhh...


omong kosong ,cinta seperti apa yang kau berikan untuk Ana , Sekedar ucapan saja tidak ada tindakan sama sekali ,itu bukan cinta namanya, bangunlah Aditya agar kau sadar dengan apa yang kau lakukan "


Didalam kamar Ana tersenyum bahagia


" Ternyata tak sia - sia aku menguping, kapan lagi aku bisa mendengar ucapan manis dari bibir Aditya, Oh aku meleleh sekali "


Ana menyandarkan tubuhnya kedinding


bagaimana tidak setelah sekian purnama ia menikah, baru kali ini ia dapat mendengar langsung ucapan dari bibir Aditya jika ia benar - benar mencintai Ana


Itulah yang terkadang di lupakan oleh lelaki perempuan itu sangat haus akan sebuah pengakuan dan pujian, sesekali tidak ada salahnya memuji pasangan agar benih - benih cinta akan selalu tumbuh mekar di hati


itu juga termasuk resep dalam rumah tangga bahagia


" Ah akhirnya dia menyadari jika dia mencintaiku "


Ana pun Kembali menempelkan telinganya kali ini terdengar kak Bima memukul mejaa


Bukkkkkk


" Kau dengar baik - baik tuan Aditya yang kaya raya, aku yang menjodohkan Ana dan kau, aku pikir kau benar - benar bisa membuat ia bahagia tapi apa !!!


Bukan kah tempo hari aku sudah pernah mengingatkanmu jangan sekali - kali kau membuat air mata menetes dari matanya "


"Ya ampun kak Bima sadis sekali memarahi Aditya " Ana hampir saja membuka pintu karena ia tak sanggup mendengar kak Bima memarahi suaminya itu, meski sebenarnya ia sangat marah sekali pada Aditya,


" Sebenarnya aku tak tega mendengarnya di bentak - bentak kak Bima


tetapi kapan lagi aku bisa mendengar pengakuan langsung dari mulutnya ,lagian tak apa lah dia diperlakukan seperti itu, dia yang memancing kekesalan keluarga ku "


Kali ini terdengar suara Aditya kembali lemah


dan agak berat


" Sudah aku katakan aku salah kak, jadi apa lagi yang harus aku lakukan agar bisa menemui Ana aku akan melakukan apapun agar ia mau menemuiku "


Ana semakin merasa berbunga - bunga, mendengar pengakuan dari mulut Aditya, padahal selama ini Aditya sudah memberikan segalanya dan melakukan apapun padanya, emang dasar perempuan ya hehehe


semuanya harus di ucapkan baru percaya


Terkadang ntah lah


Tampak ibu dan Ayahnya memberi kode Ayahnya mengedipkan matanya kepada Bima agar segera berhenti memarahi


Aditya karena mereka melihat Ana menguping di pintu karena bayangannya terlihat jelas dari bawah pintu


, apa lagi pintu kamar Ana tak sampai tertutup bagian bawahnya


karena kayunya suda lapuk di makan rayap


" Jadi Bagaimana sekarang bu, apa perlu kita panggilkan Ana "Bima memberi kode kembali


Ana yang masih menguping langsung tersentak " Apa mereka ingin memanggilku, aduh bagaimana ini " Ana memegang wajahnya yang tampak merona bahagia


" Sudahlah biarkan dia sendiri yang membujuk istrinya ,bukan kah dia yang membuat Ana marah, apa kau setuju menantu "


Ayahnya tampak bijak padahal ia dengan susah payah menahan tawa karena melihat wajah menantunya itu yang sangat cemas sekali, Sebenarnya Aditya tak perlu meyakinkan keluarga Ana, karena secara tidak langsung ia telah mebuktikan jika Aditya benar - benar mencintai Ana


" Bagaimana Aditya apa kau setuju jika kau yang membujuknya " Kali ini ucapan tegas keluar dari mulut Bima


Aditya tampak ragu menjawab, bukan karena ia tak mau bertemu Ana, karena ia tak yakin Ana akan bisa ia rayu apa lagi tadi ia berdiri langsung menyaksikan pembicaraan terbuka antara Aditya dan keluarganya


Bagaimana ini, apa aku bisa meyakinkannya, aku sangat tau sekali ia sangat memegang teguh prinsipnya, aduh


" Bagaimana Aditya, kenapa kau diam saja apa kau sedang berpikir untuk mundur dari hidup Ana " Bima mulai memancing kembali


karena ia tau Ana masih berada di belakang pintu.


"Tidakkk, " Suara Aditya membentak Bima


Membuat keluarga kaget tetapi Aditya kembali mengecilkan nada suaranya


" Maksud ku, aku yakin tapi bagaimana kalau ia tak memaafkan ku"


Bima tampak menutup mulutnya karena tak tahan ingin tertawa " Ah kau ini sungguh payah sekali, dia kan istrimu jika tak mau memaafkanmu kau seret saja dia pulang bersamamu "

__ADS_1


Ana yang mendengar ucapan Bima nampak sangat emosi sekali pada Bima " Kak Bima awas saja kau ".


__ADS_2