Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 122


__ADS_3

Arya pulang kerumah Aditya ia melihat rumah Aditya gelap sekali " Kenapa lampunya mati semua " Arya berjalan masuk


Tiba - tiba


" Surprisee " Aditya dan Ana berdiri menyambut kedatangan Arya dengan deretan pelayan yang memegang bunga di tangan


" Selamat datang saudaraku Arya " Aditya langsung memeluk Arya


" Wah kalian membuatku sangat terharu dengan sambutan ini, Arya menitikkan air mata "


Ana tampak memaksakan senyumannya


Arya kau jangan terharu karena besok pagi air matamu akan mengalir deras, aduh maafkan kami harus mengirimmu bekerja di kampus dulu


Ana melirik kearah Aditya, langsung saja Aditya memberi kode menyuruhnya segera masuk kedalam kamar


" Arya kau jangan terlalu bergerak beristirahat dulu di kamar karena besok pagi kau akan mulai bekerja " Aditya tersenyum sambil merangkul pundak Arya


Maafkan aku Arya kau terpaksa bekerja di jampus dulu


Aditya menarik nafas panjang


" Kau ini aneh sekali tingkahmu , aku ini sudah lelah berbaring masa aku langsung kau suruh tidur lagi, aku hanya ingin menikmati suasana "


Dengan sigap Aditya langsung membawa Arya kekamar dan menutup pintunya " selamat beristirahat kawan"


Berlari keatas menuju kamarnya " Maafkan aku Arya karena mulai besok jalan hidupmu akan panjang sekali " Aditya mengurut dadanya


" Tapi aku tak punya pilihan , hanya kau orang kepercayaanku "


Arya langsung mengganti pakainnya dengan kaos bola favoritnya " Kenapa sikap Aditya aneh sekali, aku juga sangat heran melihatnya, terserahlah "


Memandangi dirinya di cermin " Benar juga sebaiknya aku beristirahat apa lagi besok aku sudah harus bekerja pasti pekerjaanku akan sangat menumpuk di kantor "


Arya menarik selimut dan melihat jam " Pukul delapan ternyata, tak apalah biar aku bisa bangun subuh " Arya menarik selimut lalu berusaha memejamkan matanya


Terlintas bayangan ibunya di benaknya pertanyaan ibunya tadi masih terngiang di telinganya "Aduh bagaimana mungkin ibu bisa berkata seperti itu "


Arya membolak - balikkan kembali tubuhnya memandangi langit - langit kamarnya teringat ibunya dan kembali terlintas senyuman Siska di benaknya


"Astaga cepat pergi kau dari bayanganku


dia sudah istri orang lain "


Bisikan setan mulai merasukinya


Dia memang istri orang Arya tapi apa yang mustahil di dunia ini yang tua - tua saja bisa bercerai berai apa lagi kau tau Siska juga mencintaimu, sampai kapan kau harus berpura - pura membohongi perasaanmu


Bisa saja nanti Siska dan suaminya bercerai iya kan


" Astaga setan cepat kau pergi dari pikiranku, aku pasti bisa melupakan Siska tenang saja aku akan sibuk bekerja fokus merawat ibu dan mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli rumah kecil untuk membawa ibu pulang " Arya langsung menarik selimut dan tertidur kembali


Diatas Ana sudah tak sabar menunggu Aditya kembali ke kamar


" Sayang bagaimana apa Arya sudah tidur "


Ana berdiri menghampiri Arya


Aditya langsung berbaring di kasur dan melebarkan kedua tangannya " Aku kasihan melihat Arya sayang besok pagi ia akan sangat sering bertemu dengan Siska apa lagi oak bambang sesekali akan mengajar kekelas biasanya, dan Arya dengan terpaksa harus melakukan itu dulu sampai menemukan pengganti pak Bambang "


Ana pun ikut berpikir wajahnya juga sangat cemas " Aku juga tak tau bagaimana nanti jika Siska tau setiap hari ia akan berjumpa terus dengan Arya bukankah kita tidak bermaksud menyuruhnya bertemu dengan Arya "


Ana berbaring di samping Aditya yang tampak kelelahan sekali " Sayang apa kau capek mau aku pijat kepalamu "


Ana menawarkan pijatan istimewanya kepada Aditya tentu saja gayung bersambut " Iya sayang kau tau saja kepalaku memang sakit karena memikirkan apa yang akan terjadi besok pagi dengan Arya, ntah lah aku tak paham "


" Iya sayang aku juga lagi memikirkan perasaan Arya saat bertemu Siska dan Arjuna di kampus pasti perasaannya hancur dan remuk sekali " Ana berbicara lirih


" Apa yang kau katakan sayang " Aditya langsung duduk dan menatap Ana dengan tatapan marah


Aduh kenapa lagi Aditya menatapku seperti itu apa aku sedang melakukan kesalahan


" Apa sayang salahku di mana " Ana merasa jeheranan


" Kau tidak boleh ikut memikirkan Arya cukup aku saja kau paham " Aditya langsung kembali merebahkan tubuhnya di kasur


" Ayo cepat pijat kepalaku lagi "


Ana menarik nafas dan membiarkan Aditya berbicara seorang diri


menyadari tak ada respons dari Ana , Aditya kembali duduk dan dengan wajah yang marah lagi


" Sayang apa kau dengar aku berbicara kenapa kau hanya diam saja tak menjawabku"


Ana kembali menghela nafas " Bagaimana


kau ini Dit nanti kalau aku ikut menjawab kau akan marah lagi kau pikir aku nanti memikirkan Arya " Sekali ini Ana yang marah


Aditya langsung bereaksi ia merasa tidak enak , benar juga apa yang di katakan istrinya " Maksudku bukan begitu , aduh "


" Aku tak mau memijatmu lagi " Ana berdiri dan duduk di depan pintu


" Aduh sayang maafkan aku, maksudku kan baik aku tidak mau kau memikirkan orang lain selain aku " Mengulurkan tangannya


" Tidak mau " Ana masih duduk di depan pintu


" Ayo lah sayang jangan begitu , apa kau mau aku keluar dan tidur diluar saja" Aditya menggoda Ana


" Ya sudah sana kau tidur di luar saja " Mendorong Aditya keluar lalu menutup pintu


" Ini bantalnya kau tidur di depan pintu sana "


Ana langsung mengunci pintu


: Sayang.. sayang.. "

__ADS_1


Aditya mengedor pintu kamarnya


" Aduh apa perasaan orang hamil begitu sensitif seperti itu , Ana cepat kau bukakan aku pintu kalau tidak aku tidur dihotel saja "


Ana masih mengomel di dalam kamar


" Rasakan dia pikir dia terus yang harus menang dan aku terus yang harus mengalah jangan mimpi Aditya "


Tak berapa lama tak terdengar lagi suara Aditya di pintu " Kemana dia tak ada lagi suaranya di pintu " Ana menjadi penasaran lalu kembali membuka pintu untuk mengintip


Dengan mengendap - ngendap Ana mengeluarkan kepalanya lalu


" Mmmuahhhh " Aditya langsung mengecup pipi Ana


" Sayang aku yakin kau tak akan tega menyuruhku tidur bersama Arya kan di bawah " Aditya tersenyum puas melihat Ana mengintipnya


Ana yang tertangkap basah malah semakin menjadi marah " Kau sengaja menjebakku kan !"


Brakk Ana menutup pintu kamar lebih keras lagi


" Pokoknya malam ini kau tidur di luar saja jangan tidur di kamar aku masih marah kalau marahku sudah reda kau baru boleh masuk kekamar "


Aditya terlihat pasrah " Baiklah aku akan tidur di luar sayang berikan aku selimut aku bisa kedinginan nanti , kalau aku sakit siapa yang akan bekerja mencari uang nanti "


Aditya mengiba


Semoga saja rayuan kali ini berhasil


Membuka pintu kembali dan memberikan selimut " Ini "


"Terimakasih istriku " Aditya berjalan kebawah ia menuju kamar Arya


" Aku yakin Arya belum tidur sebaiknya aku tidur di kamarnya saja"


.....


" Susah sekali memejamkan mata ini "


Arya menutup wajahya dengan bantal


" 202 domba, 203 domba " Arya mulai mengantuk


Tok


tok


"Arya cepat buka pintunya, aku tau kau belum tidur" Aditya berdiri di pintu kamar Arya


" Sialan menganggu saja, aku hampir saja tertidur " Arya tampak kesal mendengar oanggilan Aditya di depan pintu kamarnya


" Untung saja ini rumahnya jika ini rumahku aku akan menendangnya dari sini karena menganggu tidurku " Arya berdiri dengan wajah kesal lalu membuka pintu


Aditya langsung menerobos masuk " Malam ini aku tidur di sini ya " Aditya tersenyum menampakkan barisan giginya yang rapi


Aditya langsung berbaring dan tertidur lelap


" Krokk krokk


Dalam 10 menit Aditya sudah bisa terlelap tidur berbeda sekali dengan Arya


kali ini ia yang tak bisa tidur karena sangat terganggu dengan suara alunan musik rock yang tercipta dari perpaduan suara mulut dan hidung


Arya berdiri dan mengacungkan tangannya kearah Aditya seperti ingin meremas wajah Aditya


" Aku ingin sekali memukul wajahnya dan mengguyurnya dengan air , bukankah tadi dia yang menyuruhku untuk beristirahat. bagaimana mungkin aku bisa beristirahat kalau dia mendengkur seperti itu "


Arya mengambil bantal dan selimut ia memutuskan untuk tidur di depan televisi saja " Aku lebih baik keluar dari kamar ini sangat berisik sekali , aku tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin Ana bisa tertidur nyenyak disampingmu"


Arya menutup pintu kamar lalu berbaring di depan televisi ruang tengah kebetulan ada sofa besar di sana


" Nyaman sekali semoga aku bisa tidur nyenyak "


Arya mencoba memejamkan matanya tetapi lagi - lagi ada saja yang mengusik tidurnya kali ini ia mendengar suara dentingan sendok dan piring seperti orang sedang makan di dapur padahal jelas - jelas semua orang di rumah sedang tidur


" Semakin jelas saja suaranya " Keringat dingin kembali barcucuran membuat Arya semakin ketakutan dengan langkah seribu ia cepat - cepat berlari kekamar kembali


" Ah baiklah aku tidur di sini saja, lebih baik aku mendengar suara dengkuran Aditya " Mengambil kapas dan menyumpalnya ke telinga


" Lumayan tak terdengar begitu keras, lebih terdengar seperti genre musik melayu "


Arya tersenyum lalu mencoba memejamkan mata kembali


" 302 domba, 309 domba "dan tak terdengar lagi suara Arya


" Sudah kenyang , urghhh arggh " Ana bersendawa dengan keras


" Kenapa perutku selalu lapar tengah malam begini , untung saja semua orang sudah tidur"


Ana berjalan dan melewati kamar Arya yang tak terkunci rapat ia mengintip


" Sudah kuduga dia tidur disini , baiklah rasakan saja itu akibat selalu menyalahkan istri "


Meski Ana sebenarnya tak tega tapi kali ini ia harus memberikan efek jera kepada Aditya


Ceile efek jera macam narapidana aja kale wkwkkwwk


......


Keesokan pagi


.


Aditya seperti biasa sudah bersiap melakukan olahraga setiap pagi


isemenjak menikah Aditya selalu bangun pagi hari , berbeda sekali dengan Ana semenjak hamil ia lebih sering bangun kesiangan mungkin karena kebiasaannya yang bangun tengah malam untuk makan hingga membuatnya tidur lebih lama

__ADS_1


" Sayang bangunlah Aditya mengecup pipi istrinya "


Ana langsung bangun dan segera mandi


" Aku menunggumu di bawah, cepatlah "


Arya sudah menunggu di meja makan ia tampak sangat rapi pagi ini Aditya menyusul turun tak lama Ana turun dan ikut bergabung untuk sarapan di meja makan


" Pasti kerjaan sudah sangat menumpuk di kantor " Aditya dan Ana saling berpandangan


" Dit apa dia tidak tau kalau akan bekerja di kampus " Ana berbisik ditelinga suaminya


" Aku sudah memberitahunya kemarin , aku juga heran melihatnya apa dia lupa "


Aditya kembali berbisik


" Oh ya kalian sudah baikan ternyata " Arya tersenyum melihat Aditya dan Ana yang saling berbisik satu sama lainnya


Begitulah Ana dan Aditya mereka tak bisa berlama - lama bertengkar


wajah Aditya dan Ana tampak memerah


" Sebenarnya kalian bertengkar gara - gara apa tadi malam ha, Ana sebaiknya kau jangan sering - sering mengusirnya karena aku tidak sanggup mendengar suara dengkurannya "


Ana menutup mulut menahan tawa " Kau baru tau ya, itu yang aku alami selama ini dan telingaku sudah sangat kebal " Ana tertawa cekikaan


Aditya tak menjawab pertanyaan Arya tentang penyebab pertengkaran mereka karena ia sangat malu jika penyebab pertengkaran mereka karena rasa cemburunya yang berlebihan


" Ayo sayang aku akan mengantarmu sekalian kekampus " Aditya buru - buru mengalihkan pembicaraan


Mereka semua masuk kedalam mobil dengan wajah Arya yang tampak sangat gagah dan rapi


" Yeee kita sudah sampai " Ana tampak sumringah


" Baiklah ayo kita turun Aditya pun turun tapi tidak dengan Arya dia masih berada di dalam mobil " sehingga membuat Aditya harus memanggil Arya kembali


" Arya cepatlah kau turun "


"Tidak aku di mobil saja kau saja yang turun "


.


Aditya terpaksa menarik tangan Arya turun


" Cepatlah papaku menyuruhmu untuk menggantikan tugas pak bambang sementara di kampus beliau lagi sakit keras, ya dengan terpaksa kau harus menggantikannya di sini dengan jangka waktu yang tidak bisa di tentukan sampai kapan "


Aditya berusaha tersenyum ia sengaja merangkul Ana meminta bantuan


" Betul itu kak Arya kau akan bekerja di sini untuk sementara waktu tenang saja, Aditya akan memberikan bonus rumah untukmu dua bulan lagi agar kau betah bekerja di sini "


Arya yang pertama bercucuran keringat dingin langsung mendadak bersemangat mendengar Ana menyebutkan Aditya akan memberikan bonus rumah untuknya dua bulan lagi itu sangat pas sekali dengan kesembuhan ibunya


" Baiklah aku akan bersifat profesional pak Aditya " Arya menjabat tangan Aditya


"Uh, syukurlah dia bisa menerimanya sayang" Aditya mengecup kening Ana dan berpamitan pergi kekantor


.......


Ujian pertama di mulai


Tak lama setelah Aditya pergi meninggalkan mereka


"Kak Arya aku langsung kekelas dulu ya "


Ana berpamitan meski dengan wajah yang tidak enak


:Arya mulai berkeliling kampus seperti tugas oak bambang memperhatikan setiap sudut kampus, tak lama sebuah sepeda motor mengerem mendadak tepat di hadapannya


membuat Arya jatuh tersungkur


" Aduh bisa hati - hati tidak membawa motor "


seseorang di belakang turun dan membuka helm miliknya " Maaf mas ayo berdiri "


Sang pengendara motor membuka helmnya ia pun tak kalah terkejut saat melihat Arya berada tepat di hadapannya


" Kak Arya? "


" Siska "


Membuat Arjuna yang berdiri di tengah - tengah seperti orang kebingungan


Ya tuhan masalah hidupku semakin berat saja kenapa aku harus bertemu Siska setiap hari di sini aku bisa gila


Siska langsung turun dari motornya dan menyuruh Arjuna memegang helm miliknya


" Pegang ini "


menghampiri Arya


" Kau tidak apa - apa kak Arya "


.


Arya berusaha berdiri tegap padahal sebenarnya ia ibarat kapas yang jika ditiup angin akan segera melayang terbang


Apa kau bertanya aku baik - baik saja Siska kau tidak melihat aku sedang hancur, rapuh dan berusaha untuk bangkit tapi kenapa kau masih saja bertanya


" Aku baik - baik saja jangan khawatir kan aku"


Arya berjalan dengan tegap dan terkesan cuek lalu meninggalkan Siska.


"


.

__ADS_1


__ADS_2