
Sebelum pulang kerumah kejadian di rumah sakit
Aditya kembali meradang melihat pesan masuk dalam ponselnya , ia mencoba beberapa kali menghubungi nomor telpon tersebut tetapi tetap saja tak bisa di hubungi
" Apa yang ia inginkan dari ku, apa ini memang benar adanya argghh "
Tampak ia mulai terpancing emosi, di tambah lagi suasana berduka atas kematian nenek sepupu oma benar - benar momen yang sangat bagus untuk seseorang yang sedang kalut hatinya,
Aditya meremas erat genggaman tangannya,
wajahnya merah menahan Amarah
Dimas yang masih berdiri di samping Aditya memutuskan untuk pergi membiarkan Aditya yang masih sangat emosi " Aku pulang dulu kau tenangkan saja dirimu dulu, sekarang kau tidak bisa berpikiran jernih "
" Diam kauu !!! " Aditya menendang tempat sampah yang tepat berada di depannya
tangannya masih berdarah - darah " Kau obati saja tanganmu dulu ,lihat darahnya menetes di lantai "
Dimas melajukan motornya dengan cepat meninggalkan Aditya
Ia seolah tak sadar jika tangannya terluka
Aditya tampak sangat marah ia mengirimkan pesan kembali " Apa maumu "
" Kau lihat saja nanti " Pesan di terima
Aditya masuk kembali kedalam ruangan IGD dan meminta suster untuk membalut tangannya dengan perban
Lalu setelah itu Aditya pulang kerumah karena pihak rumah sakit melarang ia untuk menunggu Ana malam ini, karena ia telah menganggu ketenangan para pasien di dalam rumah sakit
" Maafkan kami pak, anda malam ini sebaiknya pulang saja "
Aditya melengos pergi dengan pikiran yang amat kacau
...
Dari pemakaman mereka semua memutuskan untuk segera kembali pulang kerumah milik Ana dan Aditya
karena jarak rumah mereka lebih dekat lagian jam sudah menunjukkan pukul setengah dua
semua orang tampak sangat lelah melewati malam yang panjang ini
Sebelum masuk untuk tidur mereka semua berkumpul di taman belakang yang luas
Oma Rita tak kuasa menahan air matanya jatuh kembali menetes, tentu saja karena ia yang sangat dekat dengan nenek
Bukan hanya sekedar sepupu tapi, juga lebih seperti sahabat dan teman sepermainan
" Sudahlah sebaiknya Oma di bawa kekamar saja tante " Arya berucap
Kedua orang tua Aditya mendekati oma Rita
" Ayo ma, kita masuk kedalam saja, mama jangan menangis lagi, pasti bibi sudah tenang disana "
Masih terlihat bekas darah tercecer di tempat itu ,beberapa orang polisi masih berada di sana, selain untuk mengawal rumah tersebut mereka juga memberikan garis polisi untuk menyelidiki kasus kelalaian EO acara akibatnya telah menyebabkan kehilangan nyawa seseorang
" Sepupu " Oma Rita menangis tersedu - sedu
melihat tempat yang dalam sekejap mata menjadi tempat paling menyedihkan malam ini
Orang tua Ana pun masih berada di sana
" Oma sabarlah semua yang bernyawa pasti akan pulang, itu pasti oma " Arya memeluk oma Rita karena memang ia begitu dekat dengan keluarga Aditya termasuk oma Rita
bahkan Arya pun sangat terpukul dengan kepergian nenek, bayangkan saja ia rela mendonorkan darahnya untuk nenek,
walaupun akhirnya nenek harus pergi untuk selama - lamanya
Tampak oma begitu terpukul maklum saja ia tak menyangka kejadiannya begitu cepat sekali di depan mata
" Baru tadi dia duduk minum di sana bersamaku "
Oma Rita masih menangis tersedu - sedu
Ayah ibu Ana menyuruh Bima membawa Anya dan kedua putri kembar mereka untuk tidur di kamar
"Ayo sayang kau istirahatlah dulu, lihat si kembar sudah tertidur "
Menggendong kedua anak mereka dan membawa kedalam kamar
Para pelayan di rumah tersebut masih membereskan semua sisa - sisa pesta
Tak butuh waktu lama Aditya pulang dengan wajah yang sangat marah, capek karena hati suasana berduka, dan acara yang tak berjalan mulus, belum lagi ia harus kehilangan nenek di acara syukuran kehamilan Ana
"Aditya kau sudah pulang , bagaimana Ana ?"
Mamanya tampak khawatir karena melihat Aditya pulang kerumah
Belum sempat Aditya menjawab layar besar yang berada di tengah ruangan tiba - tiba menyala dengan sendirinya
Semua yang berada di sana terkejut saat mendengar sebuah percakapan di dalam video tersebut
"Ia menyuruhku menandatangani kontrak perjanjian pernikahan, ia tak mencintaiku tapi mencintai Amanda
Aku tak tau bagaimana lagi kedepannya nanti "
Terdengar suara Ana berbicara di dalam video tersebut, tak lama muncul video dan poto - poto
Dimas dan Ana mulai dari di pesta kampus, naek motor dan berjalan di pantai
hingga video terakhir di rumah sakit
Semua yang masih berduka terkejut ketika melihat apa yang ada di depan matanya tersebut
__ADS_1
Seakan tak percaya dengan apa yang di lihat
Terakhir sebuah pesan menunjukkan
" Apa kau yakin itu adalah anakmu "
Seluruh keluarga melihat kearah Aditya, ibu Ana sampai jatuh pingsan karena merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya
anak yang selama ini ia didik dan nikahkah secara baik - baik bisa melakukan hal yang serendah itu, benar - benar mencoreng nama keluarga
Firasat ibunya benar ini lah ternyata mimpi buruk yang ia takutkan, Ayah Ana langsung terduduk lemas
Untunglah Bima berlari keluar ia melihat semua yang ada di layar " Ibu " Menggotong ibunya dan membawa masuk kedalam kamar
Ia kembali keluar dan menghardik Aditya
tentu saja ia selaku kakak laki - laki Ana
pasti bertanggung jawab saat harga diri adiknya di permalukan di depan orang banyak lebih tepatnya di depan keluarga Aditya
Ia menunjuk muka Aditya
" Aditya kau yang mengetahui semuanya, aku adalah kakak laki - lakinya
aku tau bagaimana adikku, aku tau dia juga salah tapi Anastasya bukan perempuan serendah itu ia bukan segampang itu melakukan sesuatu tanpa pertimbangan yang dalam ,jangan karena video ini kalian bisa berpikir buruk tentang adikku , Aditya kau adalah suaminya kau ingat Ana sedang hamil besar saat ini "
Oma Rita tampak sempoyongan tak lama ia ikut terkapar Arya dengan sigap Membawa kedalam
Aditya berdiri mematung, lalu berlari masuk kedalam kamar
Arya tak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi, ia juga tak menyangka jika Dimas dan Ana sempat bepergian beberapa kali,
"Tapi tunggu dulu, bukankah Aditya juga sering pergi berduaan dengan Amanda "
Arya mencium bau - bau tidak beres, dengan cepat ia kembali mencari Aditya
Plakkkkkkk
Suara pintu kamar terdengar sepertinya Aditya membanting pintu kamarnya dengan keras
Papa dan mama Aditya memegang kepalanya mereka terlihat begitu pusing memikirkan Aditya
" Sebaiknya kita istirahat saja dulu pa, ini sudah larut bisa - bisa kita jatuh sakit jika seperti ini terus "
Mereka berdua berjalan masuk,
paman. dan bibi tak terlalu memperdulika. apa yang terjadi karena mereka dari tadi hanya meraung sejadi - jadinya di samping garis polisi
" Pa, apa mereka tak sebaiknya kita ajak masuk saja untuk beristirahat "
Menoleh kearah paman dan bibi
" Ah sudah biarkan saja, mereka seperti tidak punya iman saja, bukan kah lebih baik mereka berdua berdoa untuk ketenangan ibunya "
" Aku berharap jika kita sudah tidak ada di dunia ini Aditya tidak akan bersikap seperti itu, karena hanya akan menambah hisabku, di ratapi seperti itu "
" Berdoa saja ma ,meminta yang baik - baik saja kepada tuhan "
Masih berdiri dan melihat kearah mereka berdua
"Sudah lah pa, ayo masuk "
Mereka seperti tak terlalu menghiraukan video tersebut, ntahlah apa yang ada di dalam pikiran kedua orang tua Aditya
mereka berdua hanya fokus ingin cepat - cepat masuk kedalam kamar untuk istirahat
Arya yang masih berdiri melihat paman dan Bibi meraung - raung, berdiri keheranan. beberapa petugas kepolisian nampak masih mondar - mandir menyelidiki TKP (Tempat kejadian perkara )
" Apa aku hampiri saja mereka " Arya sangat iba melihat keadaan paman dan bibi
Arya berjalan menghampiri mereka berdua
" Paman, bibi " Wajah Arya tampak sangat sedih juga
" Aku tau kalian bahkan kita semua sangat terpukul dengan kejadian ini, terlebih kita kehilangan nenek, sebaiknya paman dan bibi jangan terlalu meratapi dan larut dalam kesedihan ini, sebaiknya kita lebih banyak berdoa untuknya "
Arya merasa sebagai seorang tokoh agama yang sedang menceramahi kedua orang ini
*Gila Arya, kata - kata loe keren banget
aku sangat bangga padamu
Terimakasih...
terimakasih*
" Ehem,, " Arya seperti seseorang yang sedang di elu - elukan
Paman menoleh kearah Arya " Apa kau yakin ia bahagia di alam sana nak "
Suara paman nampak berat
" Mudah - mudahan paman, nenek sudah bahagia disana, kalau paman tidak percaya paman susul saja nenek kesana "
Arya tersenyum lalu menutup mulutnya
ia mendadak merinding dan melihat kekiri dan kekanan
Astaga Arya apa yang kau ucapkan, bagaimana jika....
tidak.. tidak jangan berpikiran macam - macam
" Oaaaaaaaaaa
__ADS_1
owaaaaaaaaaaaa
ibu, aku tau kami sudah kau angkat dari kecil dan engkau memperlakukan kami begitu baik "
" Sudah bibi, paman cepat kau tenangkan bibi lihat ia begitu terpukul "
Masih dalam keadaan menangis terisak " Bagaimana aku bisa menghentikan tangisannya, jika semua harta di desa akan segera di bangun pondok pesantren, itu lah wasiat ibu ia akan menghibahkan seluruh hartanya untuk kepentingan agama, ia hanya meninggalkan kami satu buah rumah, dan lima petak sawah saja, ia juga berpesan agar kami berdua bekerja membantu mengurus pesantren ,itulah mengapa waktu kalian datang kedesa kesempatan emas untuk kami mengumpulkan pundi - pundi rezeki sebagai tabungan kami "
Arya terdiam dan tak berkutik lagi
" Ya ampun nenek mulia sekali, semoga kelak menjadi amal jariyah yang akan terus mengalir sebagai penolong nenek di alam kubur aaamiinn "
"Kau masuk lah duluan, kami masih ingin disini "
mengusir Arya secara halus, mungkin mereka berdua benar - benar terganggu dengan kehadiran Arya di sini "
" Mmm baiklah kalau begitu "
Arya pergi kedepan karena matanya tidak mengantuk sama sekali,
ia menarik kursi dan duduk seorang diri
menatap langit meski masih banyak orang yang lalu lalang di sana ia memilih duduk menyendiri menatap sekeliling
Memegang secangkir kopi yang di bawakan oleh salah seorang pelayan tadi " Aku tak menyangka kematian itu sangat dekat,
lihatlah baru tadi aku melihat engkau tertawa nenek, baru kemarin aku mengungsi tidur dikamarmu "
Arya menggelengkan kepala lalu tersenyum
" Nenek semoga kau tenang di sana, pesanmu akan selalu ku ingat,
masih ingat waktu di desa kau menasehati kami tentang rasa cinta yang harus di utarakan agar tak menjadi beban,
kau lucu nek, sangat lucu sekali bahkan kisah cinta kita, pun sama - sama tragis
kau dan tuan Chang ternyata..... "
Arya tertawa sendirian, sehingga membuat beberapa orang pelayan tampak menggelengkan kepalanya
*Coba kau lihat tuan Arya
di mana ?
Lihat ia tertawa sendirian
Wah coba kau perhatikan jangan - jangan ia sedang kesurupan*
Salah seorang bodyguard berjalan tetapi kembali mundur kebelakang
Sebaiknya kau saja yang melihatnya, aku takut
Arya melihat beberapa bodyguard berdorong - dorongan di depannya, bukan Arya jika tak usil, ide gila akan selalu muncul di otaknya
" Mereka rupanya, baiklah aku akan mengerjai mereka "
Arya berdiam lalu berpura - pura tertidur, seorang bodyguard berpostur tubuh paling besar mendekat, ia salah satu bodyguard yang di kirim langsunv dari Ambon, badannya gempal dan berotot besar Dan Berbadan Kota - Kotak
Sudah biar aku saja yang membangunkan, kalian semua payah
Ia berjalan mendekat lalu " Tuan Arya.. tuan Arya "
Lihatlah dia hanya tertidur kalian semua benar - benar payah
Ia berbicara dengan sombongnya
tiba - tiba
" Duarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr " Arya berteriak kuat hingga mereka kaget dan berlarian tunggang langgang
Arya tertawa terbahak - bahak
" Payah kalian semua dasar tak punya iman, woyy badan aja yang besar
Didalam kamar Aditya mengintip kebawah melihat kelakuan Arya yang dari tadi ia perhatikan dari atas, kebetulan kamar Aditya dan Ana berada di atas dengan di kelilingi jendela kaca
Aditya di dalam kamar sedang sangat kacau nya ia melihat Arya yang masih bisa tertawa lepas padahal beban hidupnya lebih berat dari dirinya
" Ujian apa lagi ini , apa semua manusia akan terus kau uji seperti ini "
Aditya tampak sangat kusut, ia mengusal rambutnya ,meski tangannya yang kanan di perban,
Aditya begitu resah, mencoba memejamkan matanya, lalu berdiri kembali, ia sedang di selimuti sakit hati karena terbakar cemburu, karena ulahnya sendiri, ia lah yang menyebabkan semua ini terjadi, jika saja sejak awal menikah dengan Ana ia mengumumkan pada dunia,
" Aku percaya pada Ana, hanya saja "
Membuka kembali ponselnya dan memperhatikan satu persatu huruf yang di kirimkan sang peneror
" Siapa sebenarnya yang mengirimkannya,
apa yang ia katakan tentang Ana dan Dimas benar, tapi mana mungkin terjadi aku sangat tau ia sangat suci pada saat pertama kali aku menyentuhnya , bahkan ia sendiri tak memiliki mantan pacar sama sekali "
Aditya memandang poto Ana di kamarnya
" Kau telah membuatku gila Anastsya "
Aditya kembali mencoba memejamkan matanya, ia teringat apa yang di katakan Ana " Jika kau tak bisa tidur kau ingat saja aku akan selalu ada memelukmu di sampingku "
Aditya langsung menutup wajahnya dengan bantal ia sedang berimajinasi membayangkan senyuman di wajah cantik Ana,
Hangatnya kasur empuk di kamarnya mulai terasa kembali, wajar saja Aditya sungguh lelah sekali hari ini, bayangkan saja dari kantor ia langsung pulang kerumah, bersiap - siap menyambut acara lalu kejadian malam ini membuat ia begitu tak bisa berpikir jernih lagi,
berharap besok pagi Aditya bisa dapat berpikir jernih kembali
__ADS_1
Tak lama ia pun terlelap tidur dengan sangat nyenyak sekali