
Gubrakkkk
Sepasang suami istri tersebut masuk kedalam kamar dengan wajah ketakutan
langsung mengapit nenek di kiri dan kanan
bibir mereka berdua tampak pucat dan bergetar
" Aduh kenapa sih kalian berdua, mengagetkanku saja " Nenek duduk dan menepuk - nepuk tubuh paman dan bibi yang gemetaran
" Ibu izinkan kami menginap disini " Menarik selimut lalu dengan cepat memejamkan mata
Pintu kamar yang masih terbuka membuat Arya panik apa lagi dia tidur tepat menghadap kearah pintu
" Aduh pintunya masih terbuka bagaimana ini"
Melirik kearah paman dan bibinya yang telah menarik wajahnya masuk di dalam selimut
" Paman pintunya masih terbuka " Arya berbisik
" Sudah biarkan saja terbuka jadi tidak akan ada yang mengetuk pintu tersebut "
Pamannya berbicara singkat
Arya yang cemas pun mengikuti langkah paman dan bibinya menarik selimut dan kembali tertidur
......
Arjuna masuk kedalam kamar kali ini wajahnya kembali seperti biasa kepada Siska melemparkan senyum yang sangat ramah lalu menunaikan solat
" Ayo solat "
Mengingatkan seperti biasa cuma bedanya kali ini Siska tak berbunyi sama sekali ia acuh tak acuh
Situasi di rumah ini sekarang sudah sangat mencekam Maminya dan Dimas tidak saling bertegur sapa , begitu juga Siska dan Dimas
Arjuna berada di pihak penengah ia sama sekali tak ikut campur
"
"Andai saja Arjuna tidak mengiyakan menikah denganku mungkin aku tak segalau ini, harus melihat Arya di kejar - kejar parasit bodoh yang tidak tau malu itu "
Siska menghadapkan wajahnya ke tembok
" Kau sudah makan " Arjuna bertanya kepada Siska
Siska tidak menjawab sama sekali, karena rasa muak yang sangat tinggi membuat ia berkali - kali muak jika mendengar namanya saja meski Arjuna tak terlalu buruk untuk ukuran seorang lelaki dan sosok suami
" Baiklah aku berencana pulang ke jogja beberapa hari ini, apa kau mau ikut "
Jangan mimpi
Siska tampak sangat geram mendengar tawaran dari Arjuna tersebut
Dia pikir ia siapa berani sekali mengajakku
" Jika kau ingin ikut denganku aku berjanji setelah ini aku akan mengabulkan semua keinginanmu " Arjuna tampak serius
Siska yang pertama tak perduli mendadak berdiri " Apa ucapanmu bisa di percaya, kau serius apapun yang ku inginkan akan kau kabulkan "
__ADS_1
Siska tampak bersemangat " Iya aku janji "
Arjuna memperlihatkan kelingkingnya
" Apapun keinginanku " Tersenyum menampakkan gigi
" Iya apapun akan aku berikan "
Siska pun langsung mengaitkan kelingkingnya di tangan Arjuna " Aku setuju"
Siska tak banyak bertanya kenapa ia harus kejogja mengikuti Arjuna " Jadi kapan kita berangkat "
" Besok pagi - pagi " Wajah Arjuna tampak sangat sedih sekali
.Malam pun semakin gelap perasaan Siska malam ini sangat bahagia ntah apa yang sedang ia pikirkan yang jelas ia ingin cepat - cepat sampai ke jogja agar bisa secepatnya
Arjuna mengabulkan keinginannya
Aku sudah tidak sabar lagi menunggu pagi
Tersenyum - senyum sendiri lalu, memejamkan matanya
.......
Seperti biasa Dimas kembali lagi ketempat bandrek tempo hari
" Bandreknya dua ya " Seorang lelaki menghampirinya
" Iya mas tunggu sebentar "
Dimas mencari - cari kemana sosok yang ia kenal tersebut
"Sudah ada pembeli dek " Melihat sangat sepi sekali
" Hanya ada satu orang kak " menunjuk kearah tenda yang terletak di ujung
" Baiklah biar kakak yang antar aja kamu tunggulah disini "Membawa bandrek tersebut
" Ini bandreknya mas " Karena tempat duduknya samar - samar gelap ia tak mengenali siapa yang sedang duduk di sana
" Duduklah dulu, aku butuh teman cerita "
Dari suaranya perempuan tersebut mengenali siapa yang ada di hadapannya
"Kak Dimas "
Dimas menyinari wajahnya dengan ponsel miliknya " Iya aku duduklah dulu disini "
Wajahnya tampak sangat kacau seperti memiliki masalah yang sangat besar
Ia ragu - ragu untuk menemaninya duduk di situ karena gelap, tetapi Dimas mengerti
" Sekarang kau duduklah " Dimas menghidupkan ponselnya dan meletakkannnya di meja
" Dek kakak duduk disini dulu ya, ini teman kakak rupanya "
lelaki kecil itu mengangguk setuju
Merasa canggung berhadapan dengan lelaki yang ia sukai "Terimakasih bersedia duduk disini ,bagaimana kuliahmu lancar "
__ADS_1
Tampak malu - malu menjawab ini untuk pertama kalinya ia duduk berdua saja dengan lelaki yang ia sukai " Masih kak "
Dimas mencoba tersenyum " Apa kau masih suka membuang gas sembarangan " Mencoba mencairkan suasana
Wajah Rima tampak langsung berubah memerah tak tau harus berbicara apa
" Kak Dimas masih mengingat itu" Menggaruk kepalanya
Untung saja malam hari jika siang hari wajahku akan nampak merah sekali
Sepertinya Dimas sedang berusaha membuka hatinya, Rima tau jika Dimas sangat menyukai Ana maka ia tak terlalu berharap dan bermimpi terlalu jauh tentang Dimas lagian dia harus sadar diri siapa dirinya, Siska saja di jodohkan dengan bangsawan oleh Dimas sedangkan ia hanyalah butiran debu tak ada apa - apanya
" Hahaha bagaimana kau bisa membuang lemakmu yang banyak itu " Dimas bertanya menggelitik
"Aku hanya perlu mengurangi porsi makanku " Ucap Rima malu - malu
Rima memang berbeda dengan Siska dan Ana jika Siska dan Ana garis keras ia hanyalah perempuan bergenre melow, penakut dan tak berani berbicara terlalu banyak, mungkin faktor ekonomi dan fisik itulah yang menyebab Rima menjadi seperti itu
" Bagaimana keadaan Siska dikampus apa dia tampak tertekan "
Rima diam tak berani berbicara apapun ia takut salah bicara " Siska aku tak terlalu memperhatikannya " Rima tampak ragu - ragu
" Memang persahabatan antar perempuan itu erat sekali ya, sampai kau menutupi tentang Siska padaku " Dimas tersenyum
" Bukan begitu kak Dimas , tapi semenjak menikah Siska jarang tersenyum " Rima berdiri
" Permisi kak Dimas ada pembeli aku kesana dulu "
" Aku memesan bandrek ini dua" Menyerahkan uang seratus ribu kembali
"Aku juga akan pulang, ambil. ini sisanya untuk mu "Dimas menarik tangan Rima
"Kak Dimas ini banyak sekali " Rima merasa deg deggan bukan karena uangnya tapi karena Dimas menarik tangannya
" Sudah ambil saja " Memasang helmnya lalu berlalu pergi
Rima merasa tak percaya cuma ia tipe manusia sadar diri tak pernah berharap sesuatu yang lebih karena ia sadar siapa dirinya
" Dia menarik tanganku, aa bisakah aku berteriak " Melirik kanan dan kiri lalu meletakkan tangannya di hidung
"Bau parfumnya saja masih melekat di tangannya ,mm kak Dimasku "
Mendadak sadar " Hampir saja tadi aku menceritakan tentang Siska, aku sebenarnya tak setuju dengan sikapnya cuma ia yang lebih tau yang terbaik untuk keluarganya "
Rima pun kembali bekerja melayani beberapa orang yang datang membeli.
....
Note " Terimakasih untuk komentar dan like nya untuk para reader setiaku
Maaf aku nggak sempat balas satu - satu, karena author punya tiga anak yang masih kecil - kecil, dan jaraknya hanya dua tahun saja
Mengertilah ya, kerempongannya gimana heheh
Semoga kalian tetap betah mampir di novel ini, semoga kalian semua sehat selalu dan murah rezeki yaa Aaaminnnn
"
"
__ADS_1