
" Hidungnya kelihatan mancung sekali , apa kau lihat ia persis sekali dengan wajahku mirip sekali " tertawa terkekeh
Nenek dan tuan Chang tersenyum melihat ringkah oma Rita,
" Kau lihat chang dia tidak berubah "
" Ya sama seperti cinta diantara kita yang tak pernah bisa bersatu "
Tuan Chang menatap dalam - dalam wajah oma Rita,
" Ah sudahlah kita memutuskan untuk menjalani kehidupan masing - masing "
Oma Rita menenangkan tuan Chang yang masih menyimpan cinta untuknya
" kau lihat kita semua tinggal menunggu giliran saja, kau juga sepupu sama seperti Chang kalian memilih hidup sendiri "
Terkekeh geli
Oma Rita tampak senang sekali saat melihat wajah cicitnya di layar besar tersebut
karena memang tidak pernah ada lagi suara tangisan bayi di rumah ini semenjak Aditya lahir
karena menantunya tersebut mama Aditya sangat sulit untuk hamil
Mama dan papa Aditya tak kalah heboh melihat gambar bayi di layar besar tersebut
" Ya ampun pa cucu kita, lihat itu dia mirip sekali dengan mama " Mama Aditya tersenyum dan menangis terharu
Oapa Aditya memeluk istrinya tersebut
" Sebentar lagi kita akan menjadi seorang nenek Pa, " Mengelap air mata yang menetes di sudut matanya
" Pasti dia akan setampan papa " Papa Aditya tampak begitu percaya diri sekali
" Kita belum mengetahui jenis kelaminnya pa, aku yakin ia akan secantik neneknya "
oma Rita yang mendengar pembicaraan mereka berdua langsung berbicara keras
" Tidak bisa dia akan mirip aku eyang nya, karena dia cicit pertama ku "
Mereka semua menunduk karena tak mau berdebat dengan oma Rita karena sama saja oma Rita tak mau mengalah
" Ya terserah mama saja "
.....
Didalam ruangan kecil tersebut Dokter masih mencari - cari, jenis kelamin anak mereka karena bayinya masih lari - lari bersembunyi didalam perut Ana
Dokter kembali memeriksa perut Ana untuk mencari jenis kelaminnya
" Ah apa kau lihat itu nyonya Ana , lihat lah bayimu ini sangat aktif, ia bergerak kesana - kemari, sepertinya ia sangat tidak rela kalian tau jenis kelaminnya "
Dokter laki - laki nan tampan tersebut tersenyum bahagia, dokter yang sengaja di datangkan orang tua Aditya dari dubai, dengan alat - alat USG yang begitu canggih untuk mengetahui jenis kelamin cucu mereka
Wajah Ana tampak bahagia , ia fasih berbahasa indonesia
Ana tersenyum senang sekali melihat bayinya yang bergerak di layar, tampak hidungnya mancung sekali " Wah dia tampan sekali "
Aditya tak fokus melihat gambar bayi yang berada di dalam layar tersebut, ia lebih fokus dengan Ana yang berada di dalam kamar pemeriksaan tersebut ,
memikirkan apa saja yang sedang di lakukan Ana di dalam ruangan tersebut dan dengan siapa dia didalam
Aku penasaran seperti apa dokter lelaki tersebut, apa dia menyentuh istriku, ahhh tidak bisa aku harus melihatnya
Aditya berdiri lalu melangkah masuk kedalam kamar tersebut tanpa permisi ia langsung saja menerobos masuk kedalam
ia melihat Ana sedang berada di dalam kamar bersama dokter dan seorang suster,
untung saja suster tersebut perempuan
jika suster dan dokter tersebut laki - laki maka habislah mereka berdua oleh Aditya
"Aditya terkejut saat melihat perut Ana di pegang - pegang oleh dokter laki - laki tersebut
" Hei apa yang kau lakukan dengan perut istriku " Aditya tampak berkacak pinggang
Ana langsung paham dengan sikap Aditya yang seperti itu ia langsung memberi kode kepada dokter dan suster yang berada disana, untunglah mereka sangat paham
dengan sikap Aditya
"Suster menjelaskan dengan lembut, karena mereka bukan sedang berhadapan dengan orang bodoh tetapi berhadapan dengan orang
yanh sedang cemburuan, kau tau bukan bagaimana gilanya orang yang sedang di mabuk asmara itu
Baru seperti ini saja kau cemburuan Aditya, bagaimana jika kau melihat seorang ibu melahirkan proses anaknya, tanpa busana dan dokter kandungan itu rata - rata banyak pria hahaha
" Tuan Aditya silahkan keluar , karena sebentar lagi saya akan menunjukkan hasil rekaman jenis kelamin anak anda "
Wajah Aditya gusar, ia sangat tidak suka sebenarnya di perintah oleh orang lain, tetapi karena Ana menggandeng tangannya emosinya tampak bisa terkontrol
Dokter tersebur tersenyum, tapi tidak dengan Aditya yang masih bermuka masam, ia sangat tak terima dengan proses USG
: Sudah ayo kita keluar sayang "
Ana menarik tangan suamianya ,Aditya masih tak tersenyum sama sekali, ia masih menunjukkan mukanya yang masam karena membanyangkan saat tangan dokter tersebut menyentuh perut Ana
" Sudah ayo sayang kita keluar, terimakasih dokter " Ana menunjukkan senyuman yang sangat ramah
__ADS_1
Buru - buru mengajak Aditya untuk segera keluar dari ruangan tersebut
" Sudah ayo " Ana memalingkan wajah Aditya kedepan
Ana pun berdiri bersama Aditya dan berjalan keluar
Pembawa acara yang melihat Ana dan Aditya yang telah keluar dari dalam ruangan tersebut pun menyuruh semua hadirin untuk berdiri karena pengumuman jenis kelamin anak mereka akan segera di umumkan
" Kepada seluruh hadirin dan tamu undangan acara puncak akan segera di mulai, sebentar lagi kita akan mengetahui jenis kelamin pewaris bratawaijaya grup "
Semuanya berdiri dan melihat kelayar besar yang berada tepat di tengah - tengah para undangan, di iringin bunyi kembang api
"Ana berbisik " Apa mereka tak membaca doa sama sekali sayang "
Aditya langsung menoleh kearah Ana " Benar eekali sayang, mereka akan berdoa, kau lihat itu adalah uztad kondang ternama setelah ini kita akan berdoa "
Ana tersenyum sambil mengelus dada
untunglah mereka semua masih mengingat tuhan, aku takut sekali jika dalam acara besar ini tak ada kata - kata doa sama sekali, bisa - bisa acara ini tidak di berkahi.
Ana sebenarnya tak ingin membuat acara sebesar ini tapi ya. mau bagaimana lagi suaminya adalah konglomerat ternama, hal seperti ini merupakah tradisi biasa di keluarga besar mereka
sebenarnya ini tak terlalu penting
hal yang sangat membosankan yang selalu di lakukan oleh orang - orang kaya
Terdengar pembawa acara sudah mulai berbicara kembali
" Baiklah marilah bersama - sama kita hitung mundur " Para hadirin tampak berdiri dan menghadap ke layar, papa, mama Aditya adalah orang yang paling tidak sabar,
sedangkan ibu dan Ayah Ana ini merupakan cucu ke tiga mereka, karena anak Bima kembar jadi tak terlalu berlebihan seperti kedua besannya tersebut,
"
" Marilah kita menghitung mundur bersama - sama "
tiga
dua
satu
Ana dan Aditya berteriak histeris saat melihat dengan jelas jenis kelamin anak mereka
" Aaaaaaa sayang " Ana nampak terharu saar melihat dengan jelas ada kehidupan di dalam rahimnya, matanya berkaca - kaca ia memeluk Aditya
Aditya pun memeluk balik Ana tapi kali ini saat ia memeluk Ana terasa sesuatu menendangnya Aditya langsung tampak emosi " Hei kenapa dia menendangku, apa dia tak suka aku memelukmu sayang "
Ana yang tau sikap Aditya berusaha menjelaskan
Tetapi jika aku jelaskan juga tidak akan bisa masuk keotaknya, percuma juga
" Begitukah, ya jangan sampai dia membuatmu marah, atau aku akan memukulnya nanti jika ia keluar " Aditya mengecup kening Ana
Ana hanya tersenyum ia bahkan tak tau kapan Aditya bercanda, dan kapan cemburu buta tapi kelihatannya ia sedang bercanda, ah semoga saja
" Selamat anak kalian laki - laki "
Semua bertepuk tangan begitu kencang
anak lelaki adalah garis keturunan paling kuat
Oma Rita tampak kecewa " Ah padahal aku menginginkan cucu perempuan "
" Sudahlah Rita nanti juga kau akan mendapatkan cucu perempuan, suruh saja Ana dan Aditya melahirkan setiap tahun "
Tuan Chang menggoda oma Rita ,membuat ia tertawa terkekeh karena mendengar ocehan tuang Chang " Haha kau ini chang, apa kau pikir kedua cucu ku itu kucing , mereka tak semudah itu akan melahirkan terus, apa lagi aku tau Aditya tak akan sanggup melihat istrinya kelelahan "
" Bagaimana kalau kau menikah lagi, nanti akan aku berikan anak perempuan yang lucu "
" Ah Chang apa kau masih memikirkan anak, kau saja menikah dengan sepupuku itu, aku rasa ia masih sangat mencintaimu "
Oma Rita tertawa terkekeh kembali
" Semua undangan pun di persilahkan untuk mencicipi berbagai jenis makanan di pesta mereka tersebut
.......
Siska berjalan menyusuri tepi kolam berenang, tiba - tiba gaunnya tak sengaja terinjak oleh Rima
tubuh Siska hampir jatuh kedalam kolam berenang, untunglah Arya berlari dari kejauhan untuk menangkap tubuh Siska yang hampir jatuh, ia memegang tangan Siska
lagi - lagi mereka berdua menjadi pusat perhatian
Dimas datang melihat Arya dan Siska yang sedang bergandengan tangan karena ketakutan Dimas berpikiran macam - macam padanya ia melepaskan genggaman pada tangan Siska hingga membuat Siska terjatuh di dalam kolam renang
Byurrrr
byurr
Rima menutup mulutnya tidak menyangka jika Arya bisa berbuat setega itu padanya
itermasuk Dimas , Arya langsung berlari mencicipi makanan,
Maafkan aku Siska aku tak bermaksud membuatmu malu sungguh, tapi aku tak mau hubungan baikku dengan kakakmu Dimas kembali hancur, karena menggoda kau yang sekarang telah menjadi istri orang
Siska tercebur dan bajunya basah semua
__ADS_1
" Siaal, tega sekali Arya padamu Siska " Rima buru - buru menarik tangan Siska
Dimas hanya melihat saja dari kejauhan tanpa membantu sama sekali, Ana memberi kode agar Siska memakai bajunya saja
Arya yang sedang makan masih kepikiran Siska ia melihat Dimas asik mengobrol dengan beberapa orang
Ini kesempatan emas ,aku akan kebelakang menyusulnya
Alena menghalangi Arya yang sedang terburu - buru, dengan kesal
Arya langsung mendorong Alena kedalam. kolam berenang, tentu saja membuat tamu undangan menjadi sangat terhibur dengan atraksi itu mereka pikir badut tersebut sengaja menceburkan diri, tampak Alena sedang terapung dengan kostumnya
" Rasakan aku jijik sekali melihat perempuan seperti itu "
Arya berlari masuk kedalam kamar dan mengambil handuk berwarna pink yang waktu itu di pinjamkan oleh Siska saat ia tercebur kedalam sungai
Siska terlihat basah kuyup, rambutnya basah
" Aku tak menyangka jika Arya akan melakukan hal sekejam itu padamu "
Rima merasa sangat heran
" Sudah biarkan saja dia itu playboy manusia tak berperasaan ternyata benar, dengan menikah dengan Arjuna merupakan solusi terbaik "
Siska meneteskan air matanya
" Sudahlah ayo kita ganti baju dulu di kamar Ana "
Rima berusaha membujuk Siska yang tampak benar - benar terpukul
" Aku mau pulang saja, kau lihat tadi semua orang tertawa melihatku , aku benar - benar membencinya " Siska berbicara kesal
Arya berlari dan menghampiri Siska memberikannya handuk, dengan nafas terengah - engah
" Ini handuk, cepat keringkan rambutmu nanti kau bisa masuk angin "
Memberikan handuk berwarna pink tersebut
Sisma tak perduli, karena Rima merasa tidak enak akhirnya ia yang mengambilnya
" Terimakasih kak Arya "
" Tidak usah berterimakasih itu handuk milik Siska aku lupa mengembalikannya "
Siska menatap Arya dengan sangat kesal
terlebih ia memang ingin mengungkapkan rasa marahnya karna tadi melihat ia dan Alena sedang berduaan di kamar
" kau tak usah sok baik ya, tidak cukup kau membuatku basah kuyup seperti ini. jika tak niat untuk menolongku, seharuanya jangan biarkan aku terjatuh, apa kau paham "
Arya tertunduk " Aku tau aku salah, tapi aku tak mau jika Dimas berpikir yang tidak - tidak lagi tentangku , kau istri orang tak sebaiknya aku berlama - lama memegang tanganmu "
"" Alasan yang sangat bagus, kau itu banci tidak berani mengambil resiko apapun, kau payah, memang kau itu murahan dan tidak akan berubah "
Rima yang terjebak dalam pertengkaran mereka berdua merasa tidak enak
diam - diam Dimas mengintip di dekat pintu keluar ia, mendengar semua obrolan antara Arya dan Siska
" Jaga ucapanmu Siska kau bilang aku murahan, iya dulu !, sebelum aku mengenalmu aku sangat brengse* dan bahkan tak ada satupun perempuan yang tak bisa aku dapatkan, kau tak tau betapa menderitanya aku, harus memendam semua ini, kau tau jika Dimas tau aku masih mencintaimu maka ia tak akan pernah memaafkan aku , aku juga tak bermaksud menganggu mu, aku tau kau istri orang sekarang, dan aku menjaga batasan agar tak terlalu sakit jika suatu saat nanti melihat kau dan suamimu bahagia "
Arya meninggalkan Siska dan Rima
Siska terduduk dan memegang handuk pink miliknya " Aku tak habis pikir kenapa takdir begitu kejam padaku " Menangis terisak
" Sudah kau jangan menangis lagi , cepat hapus air matamu banyak orang di sini "
"" Ah biarkan saja aku sudah tak perduli " para tamu tampak melirik kearah Siska
" Aku mau pulang saja "
" Siapa yang akan menjemputmu " Rima bertanya
" Aku akan menyuruh Arjuna untuk menjemputku "
" Kau yakin Siska " Rima meyakinkan Siska
" Tentu saja dari pada aku harus pulang berdua Dimas lebih baik aku minta jemput Arjuna saja "
Siska berdiri dan mengambil ponsel didalam tasnya, untung saja tasnya tidak ikut jatuh ke air kalau tidak semuanya akan basah tak tersisa
" Bagaimana kalau Ana marah nanti kita pulang secepat ini "Rima merasa tidak enak
" Kau tetaplah disini sampai acara selelsai, aku nanti akan memberi tahu Ana, tenang saja dia mengerti posisiku "
Siska menenangkan Rima
" Kau tunggu lah disini "
Siska memencet nomor telpon lalu menelpon
Arjuna " Halo, dimana " Dengan sangat jutek
" iya halo, ini baru sampai rumah abis ngantar mami berobat " Suara Arjuna tampak sangat lelah
" Jemput aku sekarang di rumah Ana "
Siska memaksa
__ADS_1
Arjuna pun langsung mengiyakan " Iya tunggulah di sana aku akan datang menjemputmu "