Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 161


__ADS_3

Aditya heran melihat Kelakuan mertua dan iparnya yang menempelkan wajah nya di


kaca jendela kamarnya membuat Aditya benar - benar merasa sangat aneh


Sedangkan mereka merasa aman - aman saja mengintip dari balik jendela kaca


" Lihat ibu dia mulai mendekat kemari " Anya berbisik


Aditya masih berdiri heran melihat mereka yang masih saja tak menyadari


" Asalammualaikum, ibu, haloo "


Melambaikan kedua tangannya kearah mereka


" Ibu apa yang ia lakukan, apa ia melambaikan tangannya pada kita "


melihat kearah ibunya dan Bima


Bima langsung tersentak menyadari sesuatu jika jendela kaca tersebut kelihatan dari luar ,apa lagi kacanya bening dan tidak memakai hordeng sama sekali, tentu saja mereka lupa akan sesuatu


Untuk menghilangkan rasa malunya, ia berdehem dan membuka pintu


Ibu dan Anya berusaha menarik tangan Bima agar tak keluar rumah


" Bima apa yang kau lakukan "


" Bima mau kemana kau " Ibunya berbisik pelan


Aditya tampak cemas saat Bima keluar dari rumah , wajahnya tampak tegang sekali


bagaimana tidak Bima sudah pernah memperingatkan dirinya agar tak membuat Ana menangis , apa lagi ia yakin Ana pulang dari rumah tadi pasti sedang menangis


" Kak Bima " Berusaha menegur Bima meski lidahnya terasa kaku, dan bulu kuduknya terasa merinding saat berhadapan dengan Dimas, bukan karena melihat hantu, tetapi seseorang yang melakukan kesalahan akan sangat takut berhadapan dengan orang yang di sakitinya,


Dalam posisi ini Aditya lah yang salah karena telah menyakiti hati keluarga Ana secara tidak langsung


Bima bersikap cool saat berhadapan dengan Aditya, ia tau jika adik iparnya itu sangat mencintai Ana , cuma ia harus memberi pelajaran untuk Aditya


ia pun menjawab sapaan Aditya dengan hanya berdehem saja


" Ehemm "


Bima melirik kearah jendela kaca melihat hidung Anya yang menempel di kaca, jelas sekali lubang hidungnya menempel erat sudah seperi hidung ba*i saja


Bima terkejut melihat wajah istrinya yang menempel di kaca jendela itu


" Ya tuhan kenapa mesti menempel seperti itu, lihatlah Anya dirimu " Bima berbicara kecil - kecil


Bima memberikan kode kepada ibu dan istrinya tapi ibunya dan Anya


tak memahami sama sekali " Apa katanya Anya apa kau dengar "


Dengan wajah masih menempel Anya mengatakan " Aku juga tak mengerti ibu "


Kebetulan keluarga Bima sangat menyukai masakan jengkol dan sejenisnya, pokoknya yang berbau - bau sangat di gemari keluarga ini, dan memang hari ini ibunya tadi memasak jengkol di dapur karena Bima meminta di masasakin itu. menu favorit andalan keluarga mereka ,hanya Anya yang tidak suka karena ia memang tak pernah mencicipi makanan rakyat jelata seperti itu


" Apaaaaa, haappaaa " Nafas ibunya Bima tercetak jelas di kaca ibarat embun pagi yang begitu membuat kabut, sudah terbayangkan bagaimana baunya


Untung sajalah Anya menempelkan hidungnya dengan erat jadi ia tak perlu mencium aroma therapy dari mulut ibu mertuanya yang benar - benar semerbak itu


Bima masuk kembali kedalam menarik tangan Ibunya, sedangkan istrinya Anya masih dengan posisi yang sama menempelkan hidungnya


" Ibu cepat kemari lihat ini "


"Awwwwwwwww , " Ibunya kaget bukan karena kaca jendela tersebut tembus pandang tetapi terkejut melihat hidung Anya yang menempel seperti itu


"Astaga menantu apa yang terjadi padamu "


" Cepat ibu ajak Anya masuk kedalam, karena aku tak mau Aditya curiga dengan sikap kita "


Bima mengerlingkan matanya dan mengedipkan matanya sesekali memberi kode dengan berbicara perlahan


Ibunya dengan cepat masuk kedalam dan menarik Anya agar segera duduk di dalam karena apa yang sedang mereka lakukan hanya sia - sia saja rupanya


" Ibu mau kemana bukankah kita.... "


"Sudah ayo cepat nanti ibu jelaskan di dalam "


Anya masih melirik kearah luar memperhatikan Bima dan Aditya yang masih berdiri di depan pintu


Bima berdiri dengan gagahnya memakai baju kaos oblong ketat ,Lelaki berpostur tinggi badan 185


ia benar - benar tampan sekali ,ditambah lagi yang membuat ia semakin bernilai plus selain rupawan ia juga cerdas dalam segala hal


" Kak aku ingin menemui Ana istriku "


Aditya berusaha untuk berbicara dengan tegas meski terlihat ia benar - benar sedang gugup


Aduh kenapa aku seperti sedang memulai sebuah hubungan baru sih, ayo lah kak Bima Ana itu istriku tolonglah pahami aku


Bima mendekatkan wajahnya kearah Aditya dan berbicara berbisik


" Dalam rangka apa kau ingin menemuinya


bukankah malam tadi kau sama sekali tak membelanya ,suami macam apa itu yang sama sekali tak membela istrinya saat di permalukan di depan banyak orang "


ambyarrr tulung akuu, mulutnya bau sekali


lebih bau dari kencing tikus,


Aditya berusaha menahan nafasnya ia tak mau Bima marah jika sampai ia memalingkan Wajahnya atau menutup hidungnya


Ya tuhan tolonglah aku, aku tak bisa bernafas sama sekali


" Cepat kau katakan !!! "

__ADS_1


Kali ini Bima berbicara di sertai rintikan hujan batu, ya maksudnya di tambah lah, beberapa bekas makanan yang masih menempel di mulut, di keluarkanlah di wajah Aditya


sekali lagi ini bukan karena unsur kesengajaan ini real karena Bima sedang berada dirumah keluarganya, tentu saja berarti ia harus kembali kerutinitas kehidupan ia pada saat sebelum menikah


Makan jengkol


Cepat kau jauhkan wajahmu kakak ipar aku mohon aku bisa mati, karena menahan nafas


Untunglah Ayah mertuanya keluar rumah jika terlambat satu menit saja mungkin Aditya hanya akan tinggal nama


" Bima apa yang kau lakukan di depan, cepat kau suruh Aditya masuk kedalam ,tak pantas kalian berbicara seperti itu di depan pintu begitu, malu di lihat tetangga "


Ayahnya melihat kekiri dan kekanan


Membetulkan kain sarungnya, lalu menyuruh mereka berdua masuk kedalam rumah


" Uh untung saja tidak ada orang, ayo cepat masuk cepat "


Memukul bahu Bima dan Aditya


Bima yang tak mungkin membantah perkataan Ayahnya dengan kaku, kecut, muka masam. langsung masuk dengan terpaksa


" Uhhhhhhhhhhh "


Aditya mengeluarkan nafasnya dalam - dalam


" Kau tidak apa - apa nak Aditya "


Wajah Aditya kembali memerah


sepertinya aliran darah di Wajahnya kembali normal


Meski Ayahnya juga ikut makan jengkol tetapi baunya tak seperti bau mulut Bima


mungkin karena sudah lama tak makan jengkol jadi Bima melampiaskan makan sepuas - puasnya di sini


"Ayo masuklah nak, Ana ada di dalam kamar "


Aditya duduk di ruang tamu ,ayah mertuanya menyuruh ibu untuk membuatkan minum untuknya " Bu buatkan minum untuk Aditya "


" Iya yah,,tunggu sebentar " ibunya dan Anya yang dari tadi menunggu di dapur sekalian sangat penasaran melihat episode selanjutnya yang terjadi antara Ana dan Aditya


" Aduh yah, tak usah repot - repot tujuan Adit kesini mau menjemput Ana untuk segera pulang kerumah "


Tak lama ibunya datang dengan membawakan secangkir teh,


"Ayo di minum nak, Aditya "


Ibu mertua nya tersenyuk ramah sekali


Yaa kalee menantu kaya raya, baik, ganteng, royal tentu saja kesayangan mertua hahhaha


Aditya seperti seorang lelaki yang hendak melamar anak orang saja, ia duduk dengan tegap sekali,


sedangkan Bima dari tadi mondar - mandir di depan mereka dengan memasang wajah yang sangat garang, ia memantau perkembangan apa yang akan terjadi selanjutnya


" Bu, duduk di samping Aditya saja "


Aditya langsung bersikap seperti orang linglung karena tak tau apa lagi yang akan terjadi selanjutnya


Aduh apa yang akan mereka lakukan padaku


apa mereka akan mencercaku dengan berbagai pertanyaan, seperti seorang terdakwa, persis seperti yang di lakukan mama, papa, dan oma di rumah tadi


Ayah mertuanya tersenyum " Santai saja nak, Aditya kau tak perlu kaku begitu, kami tidak akan menyakitimu tujuan kami supaya nak Aditya bisa memahami hakekat rumah tangga yang sebenarnya "


Ibunya mengelus pundak Aditya


" Ibu tak mempermasalahkan apapun yang terjadi dengan rumah tangga kalian, ibu hanya ingin Ana dan Aditya bisa berpikir dewasa karena rumah tangga itu bukan hanya sekedar membina hubungan satu atau dua tahun saja ,tetapi selamanya bahkan seumur hidup, itu baru semasa hidup saja jika telah meninggal dunia, maka akan di minta pertanggung jawaban di akherat kelak ,


Bahkan nanti akan lebih banyak lagi rintangan, badai yang akan kalian hadapi kedepannya "


Aditya mengangguk paham kali ini ia menarik nafas lebih panjang lagi, karena bau mulut ibu mertuanya tak kalah dari mulut Bima


Ya ampun tulung, tulung aku sama sekali tak mengerti dan tak bisa mendengar apa yang di katakanmu ibu mertua, aku benar - benar butuh udara segar


" Kau paham Nak Aditya, " Memandangi wajah Aditya


Tiba-tiba ibunya tampak panik karena melihat wajah Aditya kembali pucat


" Nak Aditya kau kenapa, tenang saja jangan khawatir kami tidak bermaksud memarahimu "


Kedua suami istri tersebut tampak begitu panik


Ayah ibu mertua aku hanya meminta untuk ibu duduklah menjauh dariku


aku sudah tidak kuat sekali


Anya langsung keluar dari persembunyiannya , ia melihat Aditya pucat sekali kebetulan seorang dokter tentu saja ia juga tampak panik


Mendekati Aditya dan memeriksa nadinya , lalu Anya seperti paham dengan apa yang terjadi, ia meminta ibu mertuanya untuk pindah tempat duduk dulu,


" Sebaiknya ibu duduk disana saja dulu"


Lalu membisikkan keAditya " Sekarang cepat kau tak usah lagi menahan nafasmu, kau hanya perlu beradaptasi saja ,karena aku sudah duluan mengalaminya, ini belum apa - apa, ada yang lebih dahsyat dari ini "


Anya menahan tawa melihat Aditya seperti itu


" Kakak ipar terimakasih kau telah menyelamatkanku, sepertinya aku butuh oksigen "


Bima, ayah dan ibunya ikut merasa panik ia bertanya " Kenapa Aditya menantu "


Wajah kedua mertuanya tampak cemas


" Tidak apa - apa ayah ia hanya butuh sirkulasi udara saja "

__ADS_1


Bima langsung menangkap kata - kata Anya


lalu ia mengeluarkan nafasnya di tangan


ia sendiri hampir muntah mencium bau mulutnya sendiri apa lagi Aditya


Buru - buru ia kekamar mandi untuk menggosok giginya,


sementara itu di kamar Ana masih sangat kesal ia menangis sejadi - jadinya


dan menyetel musik dengan keras


" Lihat kelakuan Ana bu "


" Tapi tak seperti biasanya ia menyetel musik sekeras itu Yah "


Aditya yang mendengar suara musik begitu keras dari kamar Ana langsung tampak ketakutan, baru kali ini bibirnya bergetar karena ketakutan sekali


Ana memang tak pernah marah, tetapi ia pernah Membaca artikel marahnya orang kecewa itu sadis browh sadis...


bahkan konon katanya mampu membelah gunung ,dan membelah lautan,


nggak. kebayang betapa mengerikannya


hahahaha


" Apa Ana tidak mau bertemu Adit ya bu "


Adit tampak tak yakin dengan dirinya sendiri


Kedua orang tua tersebut saling berpandangan karena mereka juga tak bisa mencari solusi


jika sudah berurusan dengan hati sepertinya mereka berdua akan angkat tangan


Lagi - lagi Aditya mengepalkan kedua tangannya ia sedang membayangkan menghajar pengirim pesan yang membuat ia harus bertengkar dengan Ana seperti itu


Jika bertemu dengan pengirim pesan tersebut aku pastikan ia akan mencicipi tanganku ini


Aditya menahan amarahnya


Ayah, ibu mertuanya tampak heran melihat Aditya yang menatap tajam kearah dinding dengan mengepal kedua tangannya


" Anya coba kau lihat kenapa dia apa dia baik - baik saja "


" Sudah ibu tenang saja jangan khawatir dia hanya sedang berusaha menjernihkan pikirannya saja "


Anya memegang tangan ibu mertuanya


Dari dalam. kamar kedua putri kembar Bima keluar dengan membawa bantal kapuk \= bantal yang isinya seperti kapas, tapi ia lebih berwarna kuning dan ada bijinya


Mereka berlari - larian dan tak sengaja melempar tepat di wajah Aditya


" Awww" Aditya langsung tersadar dari lamunannya


" Sayang apa yang kalian lakukan, coba lihat itu kena wajah Om Aditya "


" Tidak apa - apa sayang sini duduk sama Om"


Aditya menggendong kedua anak kembar tersebut diatas pahanya


" Ah kenapa kalian berdua lucu sekali "


Mencium pipi mereka, Aditya sangat suka sekali dengan anak kecil apa lagi mereka berdua benar - benar menggemaskan


" Sudah Dit, cepat turunkan saja mereka berdua, lihat mereka tidak memakai pempers


nanti bisa ngompol "


" Tidak apa - apa kak, biarkan saja "


Setidaknya dengan kehadiran mereka berdua dapat membuat suasana hatiku menjadi tidak terlalu kaku


Tak sampai satu menit ,Aditya merasakan aliran panas merembes masuk hingga kedalam celananya


Ah sial


" Pi pi is, pi pis "


Mereka berdua memberontak untuk segera turun kebawah dan langsung mendekati ibunya untuk segera mengganti celananya


" Eh kan sudah kakak bilang mereka ngompol, lihat itu Aditya celanamu "


Aditya hanya tersenyum saja menahan sesuatu benda yang sudah pastinya sudah kecut di dalam, hahahaha


" Nak. Aditya ganti saja celanamu ,pakai saja celana ayah, atau kau pinjamkan Bima celanamu untuk adik iparmu ini "


Mendengar nama Bima , Aditya langsung menolak secara halus


" Tidak usah Ayah, tak apa aku sudah biasa "


"Sudah biasa ? maksudnya, Nak Aditya sudah biasa kencing di celana atau bagaimana "


Ayahnya bertanya serius


"Bukan begitu Ayah maksudnya, namanya juga anak. kecil "


" Oh begitu ayah pikir tadi apa "


Ayah mertuanya terkekeh geli


"Jangan di anggap serius nak, ayah hanya bercanda saja, kau jangan terlalu tegang begitu, tenang saja perempuan kalau marah biarkan saja dulu, sampai ia tenang, nanti setelah marahnya telah usai ia sendiri nanti yang akan mencari kita "


Ibu mertuanya menyeletuk " Sok tau ayah mu ini nak Adit, jangan kau dengarkan


dia saja dulu bertengkar dengan ibu 10 hari 10 malam membujuk ibu agar bisa berbaikan dengannya "

__ADS_1


Ayah dan ibunya tertawa, membuat nyali Aditya semakin ciut saja, bagaimana tidak mertuanya saja 10 hari 10 malam baru bisa berbaikan, lalu bagaimana dengannya.


__ADS_2