
Aditya heran melihat Kelakuan mertua dan iparnya yang menempelkan wajah nya di
kaca jendela kamarnya membuat Aditya benar - benar merasa sangat aneh
Sedangkan mereka merasa aman - aman saja mengintip dari balik jendela kaca
" Lihat ibu dia mulai mendekat kemari " Anya berbisik
Aditya masih berdiri heran melihat mereka yang masih saja tak menyadari
" Asalammualaikum, ibu, haloo "
Melambaikan kedua tangannya kearah mereka
" Ibu apa yang ia lakukan, apa ia melambaikan tangannya pada kita "
melihat kearah ibunya dan Bima
Bima langsung tersentak menyadari sesuatu jika jendela kaca tersebut kelihatan dari luar ,apa lagi kacanya bening dan tidak memakai hordeng sama sekali, tentu saja mereka lupa akan sesuatu
Untuk menghilangkan rasa malunya, ia berdehem dan membuka pintu
Ibu dan Anya berusaha menarik tangan Bima agar tak keluar rumah
" Bima apa yang kau lakukan "
" Bima mau kemana kau " Ibunya berbisik pelan
Aditya tampak cemas saat Bima keluar dari rumah , wajahnya tampak tegang sekali
bagaimana tidak Bima sudah pernah memperingatkan dirinya agar tak membuat Ana menangis , apa lagi ia yakin Ana pulang dari rumah tadi pasti sedang menangis
" Kak Bima " Berusaha menegur Bima meski lidahnya terasa kaku, dan bulu kuduknya terasa merinding saat berhadapan dengan Dimas, bukan karena melihat hantu, tetapi seseorang yang melakukan kesalahan akan sangat takut berhadapan dengan orang yang di sakitinya,
Dalam posisi ini Aditya lah yang salah karena telah menyakiti hati keluarga Ana secara tidak langsung
Bima bersikap cool saat berhadapan dengan Aditya, ia tau jika adik iparnya itu sangat mencintai Ana , cuma ia harus memberi pelajaran untuk Aditya
ia pun menjawab sapaan Aditya dengan hanya berdehem saja
" Ehemm "
Bima melirik kearah jendela kaca melihat hidung Anya yang menempel di kaca, jelas sekali lubang hidungnya menempel erat sudah seperi hidung ba*i saja
Bima terkejut melihat wajah istrinya yang menempel di kaca jendela itu
" Ya tuhan kenapa mesti menempel seperti itu, lihatlah Anya dirimu " Bima berbicara kecil - kecil
Bima memberikan kode kepada ibu dan istrinya tapi ibunya dan Anya
tak memahami sama sekali " Apa katanya Anya apa kau dengar "
Dengan wajah masih menempel Anya mengatakan " Aku juga tak mengerti ibu "
Kebetulan keluarga Bima sangat menyukai masakan jengkol dan sejenisnya, pokoknya yang berbau - bau sangat di gemari keluarga ini, dan memang hari ini ibunya tadi memasak jengkol di dapur karena Bima meminta di masasakin itu. menu favorit andalan keluarga mereka ,hanya Anya yang tidak suka karena ia memang tak pernah mencicipi makanan rakyat jelata seperti itu
" Apaaaaa, haappaaa " Nafas ibunya Bima tercetak jelas di kaca ibarat embun pagi yang begitu membuat kabut, sudah terbayangkan bagaimana baunya
Untung sajalah Anya menempelkan hidungnya dengan erat jadi ia tak perlu mencium aroma therapy dari mulut ibu mertuanya yang benar - benar semerbak itu
Bima masuk kembali kedalam menarik tangan Ibunya, sedangkan istrinya Anya masih dengan posisi yang sama menempelkan hidungnya
" Ibu cepat kemari lihat ini "
"Awwwwwwwww , " Ibunya kaget bukan karena kaca jendela tersebut tembus pandang tetapi terkejut melihat hidung Anya yang menempel seperti itu
"Astaga menantu apa yang terjadi padamu "
" Cepat ibu ajak Anya masuk kedalam, karena aku tak mau Aditya curiga dengan sikap kita "
Bima mengerlingkan matanya dan mengedipkan matanya sesekali memberi kode dengan berbicara perlahan
Ibunya dengan cepat masuk kedalam dan menarik Anya agar segera duduk di dalam karena apa yang sedang mereka lakukan hanya sia - sia saja rupanya
" Ibu mau kemana bukankah kita.... "
"Sudah ayo cepat nanti ibu jelaskan di dalam "
Anya masih melirik kearah luar memperhatikan Bima dan Aditya yang masih berdiri di depan pintu
Bima berdiri dengan gagahnya memakai baju kaos oblong ketat ,Lelaki berpostur tinggi badan 185
ia benar - benar tampan sekali ,ditambah lagi yang membuat ia semakin bernilai plus selain rupawan ia juga cerdas dalam segala hal
" Kak aku ingin menemui Ana istriku "
Aditya berusaha untuk berbicara dengan tegas meski terlihat ia benar - benar sedang gugup
Aduh kenapa aku seperti sedang memulai sebuah hubungan baru sih, ayo lah kak Bima Ana itu istriku tolonglah pahami aku
Bima mendekatkan wajahnya kearah Aditya dan berbicara berbisik
" Dalam rangka apa kau ingin menemuinya
bukankah malam tadi kau sama sekali tak membelanya ,suami macam apa itu yang sama sekali tak membela istrinya saat di permalukan di depan banyak orang "
ambyarrr tulung akuu, mulutnya bau sekali
lebih bau dari kencing tikus,
Aditya berusaha menahan nafasnya ia tak mau Bima marah jika sampai ia memalingkan Wajahnya atau menutup hidungnya
Ya tuhan tolonglah aku, aku tak bisa bernafas sama sekali
" Cepat kau katakan !!! "
__ADS_1
Kali ini Bima berbicara di sertai rintikan hujan batu, ya maksudnya di tambah lah, beberapa bekas makanan yang masih menempel di mulut, di keluarkanlah di wajah Aditya
sekali lagi ini bukan karena unsur kesengajaan ini real karena Bima sedang berada dirumah keluarganya, tentu saja berarti ia harus kembali kerutinitas kehidupan ia pada saat sebelum menikah
Makan jengkol
Cepat kau jauhkan wajahmu kakak ipar aku mohon aku bisa mati, karena menahan nafas
Untunglah Ayah mertuanya keluar rumah jika terlambat satu menit saja mungkin Aditya hanya akan tinggal nama
" Bima apa yang kau lakukan di depan, cepat kau suruh Aditya masuk kedalam ,tak pantas kalian berbicara seperti itu di depan pintu begitu, malu di lihat tetangga "
Ayahnya melihat kekiri dan kekanan
Membetulkan kain sarungnya, lalu menyuruh mereka berdua masuk kedalam rumah
" Uh untung saja tidak ada orang, ayo cepat masuk cepat "
Memukul bahu Bima dan Aditya
Bima yang tak mungkin membantah perkataan Ayahnya dengan kaku, kecut, muka masam. langsung masuk dengan terpaksa
" Uhhhhhhhhhhh "
Aditya mengeluarkan nafasnya dalam - dalam
" Kau tidak apa - apa nak Aditya "
Wajah Aditya kembali memerah
sepertinya aliran darah di Wajahnya kembali normal
Meski Ayahnya juga ikut makan jengkol tetapi baunya tak seperti bau mulut Bima
mungkin karena sudah lama tak makan jengkol jadi Bima melampiaskan makan sepuas - puasnya di sini
"Ayo masuklah nak, Ana ada di dalam kamar "
Aditya duduk di ruang tamu ,ayah mertuanya menyuruh ibu untuk membuatkan minum untuknya " Bu buatkan minum untuk Aditya "
" Iya yah,,tunggu sebentar " ibunya dan Anya yang dari tadi menunggu di dapur sekalian sangat penasaran melihat episode selanjutnya yang terjadi antara Ana dan Aditya
" Aduh yah, tak usah repot - repot tujuan Adit kesini mau menjemput Ana untuk segera pulang kerumah "
Tak lama ibunya datang dengan membawakan secangkir teh,
"Ayo di minum nak, Aditya "
Ibu mertua nya tersenyuk ramah sekali
Yaa kalee menantu kaya raya, baik, ganteng, royal tentu saja kesayangan mertua hahhaha
Aditya seperti seorang lelaki yang hendak melamar anak orang saja, ia duduk dengan tegap sekali,
sedangkan Bima dari tadi mondar - mandir di depan mereka dengan memasang wajah yang sangat garang, ia memantau perkembangan apa yang akan terjadi selanjutnya
" Bu, duduk di samping Aditya saja "
Aditya langsung bersikap seperti orang linglung karena tak tau apa lagi yang akan terjadi selanjutnya
Aduh apa yang akan mereka lakukan padaku
apa mereka akan mencercaku dengan berbagai pertanyaan, seperti seorang terdakwa, persis seperti yang di lakukan mama, papa, dan oma di rumah tadi
Ayah mertuanya tersenyum " Santai saja nak, Aditya kau tak perlu kaku begitu, kami tidak akan menyakitimu tujuan kami supaya nak Aditya bisa memahami hakekat rumah tangga yang sebenarnya "
Ibunya mengelus pundak Aditya
" Ibu tak mempermasalahkan apapun yang terjadi dengan rumah tangga kalian, ibu hanya ingin Ana dan Aditya bisa berpikir dewasa karena rumah tangga itu bukan hanya sekedar membina hubungan satu atau dua tahun saja ,tetapi selamanya bahkan seumur hidup, itu baru semasa hidup saja jika telah meninggal dunia, maka akan di minta pertanggung jawaban di akherat kelak ,
Bahkan nanti akan lebih banyak lagi rintangan, badai yang akan kalian hadapi kedepannya "
Aditya mengangguk paham kali ini ia menarik nafas lebih panjang lagi, karena bau mulut ibu mertuanya tak kalah dari mulut Bima
Ya ampun tulung, tulung aku sama sekali tak mengerti dan tak bisa mendengar apa yang di katakanmu ibu mertua, aku benar - benar butuh udara segar
" Kau paham Nak Aditya, " Memandangi wajah Aditya
Tiba-tiba ibunya tampak panik karena melihat wajah Aditya kembali pucat
" Nak Aditya kau kenapa, tenang saja jangan khawatir kami tidak bermaksud memarahimu "
Kedua suami istri tersebut tampak begitu panik
Ayah ibu mertua aku hanya meminta untuk ibu duduklah menjauh dariku
aku sudah tidak kuat sekali
Anya langsung keluar dari persembunyiannya , ia melihat Aditya pucat sekali kebetulan seorang dokter tentu saja ia juga tampak panik
Mendekati Aditya dan memeriksa nadinya , lalu Anya seperti paham dengan apa yang terjadi, ia meminta ibu mertuanya untuk pindah tempat duduk dulu,
" Sebaiknya ibu duduk disana saja dulu"
Lalu membisikkan keAditya " Sekarang cepat kau tak usah lagi menahan nafasmu, kau hanya perlu beradaptasi saja ,karena aku sudah duluan mengalaminya, ini belum apa - apa, ada yang lebih dahsyat dari ini "
Anya menahan tawa melihat Aditya seperti itu
" Kakak ipar terimakasih kau telah menyelamatkanku, sepertinya aku butuh oksigen "
Bima, ayah dan ibunya ikut merasa panik ia bertanya " Kenapa Aditya menantu "
Wajah kedua mertuanya tampak cemas
" Tidak apa - apa ayah ia hanya butuh sirkulasi udara saja "
__ADS_1
Bima langsung menangkap kata - kata Anya
lalu ia mengeluarkan nafasnya di tangan
ia sendiri hampir muntah mencium bau mulutnya sendiri apa lagi Aditya
Buru - buru ia kekamar mandi untuk menggosok giginya,
sementara itu di kamar Ana masih sangat kesal ia menangis sejadi - jadinya
dan menyetel musik dengan keras
" Lihat kelakuan Ana bu "
" Tapi tak seperti biasanya ia menyetel musik sekeras itu Yah "
Aditya yang mendengar suara musik begitu keras dari kamar Ana langsung tampak ketakutan, baru kali ini bibirnya bergetar karena ketakutan sekali
Ana memang tak pernah marah, tetapi ia pernah Membaca artikel marahnya orang kecewa itu sadis browh sadis...
bahkan konon katanya mampu membelah gunung ,dan membelah lautan,
nggak. kebayang betapa mengerikannya
hahahaha
" Apa Ana tidak mau bertemu Adit ya bu "
Adit tampak tak yakin dengan dirinya sendiri
Kedua orang tua tersebut saling berpandangan karena mereka juga tak bisa mencari solusi
jika sudah berurusan dengan hati sepertinya mereka berdua akan angkat tangan
Lagi - lagi Aditya mengepalkan kedua tangannya ia sedang membayangkan menghajar pengirim pesan yang membuat ia harus bertengkar dengan Ana seperti itu
Jika bertemu dengan pengirim pesan tersebut aku pastikan ia akan mencicipi tanganku ini
Aditya menahan amarahnya
Ayah, ibu mertuanya tampak heran melihat Aditya yang menatap tajam kearah dinding dengan mengepal kedua tangannya
" Anya coba kau lihat kenapa dia apa dia baik - baik saja "
" Sudah ibu tenang saja jangan khawatir dia hanya sedang berusaha menjernihkan pikirannya saja "
Anya memegang tangan ibu mertuanya
Dari dalam. kamar kedua putri kembar Bima keluar dengan membawa bantal kapuk \= bantal yang isinya seperti kapas, tapi ia lebih berwarna kuning dan ada bijinya
Mereka berlari - larian dan tak sengaja melempar tepat di wajah Aditya
" Awww" Aditya langsung tersadar dari lamunannya
" Sayang apa yang kalian lakukan, coba lihat itu kena wajah Om Aditya "
" Tidak apa - apa sayang sini duduk sama Om"
Aditya menggendong kedua anak kembar tersebut diatas pahanya
" Ah kenapa kalian berdua lucu sekali "
Mencium pipi mereka, Aditya sangat suka sekali dengan anak kecil apa lagi mereka berdua benar - benar menggemaskan
" Sudah Dit, cepat turunkan saja mereka berdua, lihat mereka tidak memakai pempers
nanti bisa ngompol "
" Tidak apa - apa kak, biarkan saja "
Setidaknya dengan kehadiran mereka berdua dapat membuat suasana hatiku menjadi tidak terlalu kaku
Tak sampai satu menit ,Aditya merasakan aliran panas merembes masuk hingga kedalam celananya
Ah sial
" Pi pi is, pi pis "
Mereka berdua memberontak untuk segera turun kebawah dan langsung mendekati ibunya untuk segera mengganti celananya
" Eh kan sudah kakak bilang mereka ngompol, lihat itu Aditya celanamu "
Aditya hanya tersenyum saja menahan sesuatu benda yang sudah pastinya sudah kecut di dalam, hahahaha
" Nak. Aditya ganti saja celanamu ,pakai saja celana ayah, atau kau pinjamkan Bima celanamu untuk adik iparmu ini "
Mendengar nama Bima , Aditya langsung menolak secara halus
" Tidak usah Ayah, tak apa aku sudah biasa "
"Sudah biasa ? maksudnya, Nak Aditya sudah biasa kencing di celana atau bagaimana "
Ayahnya bertanya serius
"Bukan begitu Ayah maksudnya, namanya juga anak. kecil "
" Oh begitu ayah pikir tadi apa "
Ayah mertuanya terkekeh geli
"Jangan di anggap serius nak, ayah hanya bercanda saja, kau jangan terlalu tegang begitu, tenang saja perempuan kalau marah biarkan saja dulu, sampai ia tenang, nanti setelah marahnya telah usai ia sendiri nanti yang akan mencari kita "
Ibu mertuanya menyeletuk " Sok tau ayah mu ini nak Adit, jangan kau dengarkan
dia saja dulu bertengkar dengan ibu 10 hari 10 malam membujuk ibu agar bisa berbaikan dengannya "
__ADS_1
Ayah dan ibunya tertawa, membuat nyali Aditya semakin ciut saja, bagaimana tidak mertuanya saja 10 hari 10 malam baru bisa berbaikan, lalu bagaimana dengannya.