
"Kak Dimas ,apakah hubungan yang di awali dengan kepura-puraan itu baik, aku tak mau kau menyesal nanti, karena bagiku cinta itu sakral Kak, tak bisa di main-mainkan"
Jleb...
Arya dan Dimas menelan air ludah , mendengar kata -kata yang keluar dari mulut Rima, sepolos itukah lagi -lagi Dimas kena skak mat oleh kata -kata Rima
Sebenarnya Arya senang karena ia merasa memang pantas Dimas mendapatkan itu
" Rasakan .. "
"Jadi, sekarang bagaimana maunya kakak "
Rima bertanya dengan datar
Dimas hanya terdiam saja melihat diamnya Dimas Arya tak tinggal diam dengan cepat ia langsung tak menyia-nyiakan kesempatan untuknya berbicara ,
" Rima tolong kau telpon Ana aku mohon sekarang " Arya melipat kedua tangannya
Rima kebingungan " Menelpon Ana emang kenapa "
" Aku mohon jika kau tak menelpon Ana maka aku tidak tau harus menginap di mana malam ini, tak mungkin aku menginap di rumah Dimas kan !"
Melirik kearah Dimas ,sebenarnya didalam hatinya sangat berharap Dimas memberikan penawaran agar ia bisa menginap di rumahnya , walaupun itu mustahil baginya
Dimas langsung melotot kearahnya
Rima yang baik dan polos pun meski sedang berduka tetap saja mengiyakan permintaan dari Arya
Berbeda dengan Dimas ia langsung memarahi Arya
" Arya kau ini keterlaluan sekali kau tidak sopan sekali menyuruh dia, Rima itu lagi berduka "
Jleb Arya langsung menunduk
" Tidak apa-apa kak Arya , aku akan menelpon Ana, Kak Dimas kau jangan khawatir yang pergi biarlah pergi lagian apa yang mesti di tangisi dari sebuah kematian , pesan ayah ia hanya minta jangan tangisi kepergiannya , itu saja "
Rima mengambil ponselnya lalu memencet nomor telpon Ana
Kebetulan sekali Siska juga berada di sana
kring
kring...
"Suara ponsel berbunyi,"
Siska pun memeriksa ponsel miliknya
" Bukan ponselku, atau ponsel milikmu tidak "
Ana menyuruh Siska berdiri dan mengambil ponsel miliknya yang di taruh di atas meja
__ADS_1
Siska berdiri dan mengambikannya ia melihat nama yang tertera di telpon
"Rima ? Siska lihatlah Rima menelponmu"
Ana langsung dengan cepat menyambutnya
" Cepat berikan padaku "
Siska memberikannya langsung " Tolong kau loud speaker saja aku ingin mendengar suaranya "
Tangisan Ana dan Siska langsung pecah saat mendengar Rima menyebutkan " Hallo Ana.. "
"Rima.. kau di mana ,aku mohon maafkanlah aku " Ana berbicara panjang lebar tanpa titik koma, diikuti oleh Siska yang juga berbicara sambil menagis ,tanpa memberikan kesempatan untuk Rima berbicara untung saja Bian sudah kebal dengan suara dan jeritan mamanya jadi ia seolah tak perduli dengan tangisan kedua perempuan itu termasuk Oma Rita yang sudah tertidur di samping Bian,
" Ana... Ana.. tolong kau diam dulu "
Ana masih saja berbicara hingga akhirnya Rima membentak mereka berdua
" Ana, Siska ! tolong berhenti dulu , tenanglah aku sangat mengerti berikan aku kesempatan untuk berbicara dulu, bagaimana mungkin aku bisa memberi kalian maaf kalau kalian terus berbicara "
Ana dan Siska langsung terdiam mendengar ultimatum dari Rima
mereka langsung menatap satu sama lain
" Oke baiklah berbicara lah Rima "
" Kenapa kau harus menangis seperti itu ha, kalian berdua bodoh sekali , kenapa kalian harus meminta maaf padaku,memangnya kita kenapa , apa kita bertengkar apa kita punya masalah ha.."
"Kau Rima... " Ana kembali menangis
" Maafkan kami Rima kau memang baik sekali, apa kau tak mau kemari untuk melihat Bian, Siska juga sangat ingin memelukmu sekarang "
Rima terdiam sejenak ia menahan air matanya agar tidak tumpah " A..aku tak bisa kesana hari ini Ana , ayahku baru saja meninggal dunia "
Tangisan Ana dan Siska kembali pecah mereka sangat menyesali tingkah mereka yang telah tega menuduh sahabat nya sendiri bahkan sampai mereka tak tau jika ayah Rima meninggal dunia
" Sudah lah kalian tak perlu menangis ,aku baik-baik saja ,jika kalian terus menangis maka aku akan benar -benar marah "
Rima menekankan Suaranya
Ana dan Siska kembali cemas mereka pun langsung mengikuti permintaan Rima
" Baiklah aku akan mengunjungi Bian nanti setelah aku sudah baik -baik saja,
satu lagi Ana kau telponlah kak Arya suruh ia pulang kerumah karena dia sekarang berada di rumahku bersama kak Dimas, jika kau tidak menyuruhnya pulang ,maka ia akan menginap di rumah Dimas "
Jleb..
Siska langsung syok mendengar kata -kata itu
Ana pun langsung mengiyakan dan telponpun berakhir
__ADS_1
Siska melotot kearah Ana " Ana cepatlah kau telpon Arya, aku tidak mau jika ia harus menginap di rumahku "
" Iya.. iya sabar...uh "
Ana menelpon Arya ,ia dan Siska tampak tenang karena Rima sudah memaafkan mereka .
Arya merasa lega sekali mendengarnya
" Sekarang sudah aman kak Arya , karena sebentar lagi Ana akan menelponmu"
benar saja tak sampai lima menit Ana menelponnya dan menyuruhny untuk pulang kerumah
Setelah menjawab telpon dari Ana mereka pun berpamitan, dan lagi -lagi Dimas menunjukan sikap berbeda ,ia mencari ibu Rima untuk sekedar berpamitan
pulang
Rima tak mengerti maksud Dimas apa ,dan dia juga tau posisi dirinya Rima memang manusia yang tau diri
Arya hanya senyum -senyum saja melihat kelakuan Dimas
" Ehemmm... "
Mereka berdua pun pulang kerumah ,
tak terasa sudah satu Minggu berlalu setelah kematian ayah Rima ,dan kondisi Ana semakin membaik saja ia sudah bisa menggendong Bian dan juga sudah bisa berjalan dengan lancar
Acara syukuran dan aqiqahan Bian pun tiba
tak seperti biasanya keluarga besar Bratawijaya hanya mengundang keluarga inti dan beberapa kerabat dekat, tapi taulah ya sederhana menurut mereka maka untuk kita yang rakyat jelata itu sudah termasuk megah sekali, hahah
hanya saja mereka lebih banyak membagikan sembako dan nasi kotak ke panti -panti asuhan
Rima ,Ana dan Siska tampak semakin akrab saja mereka berpelukan satu sama lainnya
seolah tak ada masalah yang pernah terjadi, itulah sebenarnya hakekat sahabat sejati tak ada dendam tak ada egois dan saling memaafkan satu sama lainnya
Sedang asyik tertawa dan berkumpul , mereka semua di kejutkan dengan munculnya video di layar televisi besar tersebut
Semua orang terkejut dan terdiam tak bersuara , tetapi lima menit kemudian tawa kembali pecah semua ,karena di dalam.video tersebut melihat bagaimana seorang Aditya menagis sejadi -jadinya
Hanya Ana saja yang tak tertawa ia langsung memeluk Aditya yang wajahnya memerah ,
" Kenapa kau tak tertawa sama seperti mereka "
"Apa yang lucu dari video itu tidak ada, justru aku melihat betapa beruntungnya aku di cintai dengan begitu dalam.oleh Aditya Bratawijaya "
Ana memeluk Aditya dan semua orang bertepuk tangan bahagia
...Tamat...
............
__ADS_1