
Aditya menghela nafas panjang " Maafkan aku Arya tapi aku tidak ada pilihan "
" Minggir " Siska membentak Arjuna yang tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi
memarkirkan motor lalu masuk kedalam kelas. apa kabar kaki Siska ? sebenarnya sakitnya itu tidak terlalu Siska hanya sedang mengerjai seluruh keluarganya saja
flash back
" Sebaiknya keluarga tunggu di luar sebentar dulu ya, karena kita akan memeriksa luka di kaki Siska "
Dokter menutup pintu
" Bagaimana sudah kau katakan pada mereka" Dokter muda tersebut adalah teman Siska
" Sudah tenang saja jangan khawatir, kau ini kenapa sampai terluka begini " Memeriksa luka di kaki Siska
Siska tak menjawab dia hanya diam saja
" Sudah lakukan saja " Mengelap matanya
Dokter tersebut tau jelas sifat Siska ia tak mau bertanya terlalu jauh karena paham Siska sangat keras sekali orangnya
" Baiklah kawan, lukamu tidak apa - apa besok kau sudah bisa berjalan dengan normal "
" Ya tapi tetap saja kau harus mengatakan jika luka ku ini bisa jadi berbahaya jika di diamkan oke " Tersenyum meski air mata masih menetes
" Ah kau ini baiklah kau jangan khawatir aku akan melakukannya untukmu "
Dokter tersebut tersenyum dan langsung memberi tahu keluarga Siska di luar
........
Siska masuk kedalam kelas, tampak Ana dan Rima berusaha tersenyum berpura - pura tidak tau jika sekarang Arya berada di kampus ini
Membanting tas lalu duduk di samping Ana
" Siska kau baik - baik saja " memegang tangan Siska
" Kau tak perlu jawabanku kan Ansastasya "
melihat dengan tatapan jutek kearah Ana
" Oke baiklah aku paham " Ana mengangkat kedua tangannya dan sangat mengerti sekali apa yang dirasakan oleh Siska
.Arya terus berjalan ia tidak menyadari jika sudah sepuluh kali mengelilingi kampus yang besar itu, kakinya seolah tak bisa berhenti berjalan karena efek hatinya yang masih bisa belum netral bayangkan saja dia yang sedang terluka sekarang harus berada tepat di tempat lukanya akan bertambah menganga
Pak kumis yang dari tadi berdiri sampai pusing karena kepalanya berputar - putar melihat Arya yang berkeliling
" Arya stop " Pak kumis langsung menghentikan Arya
" kenapa pak? " Arya terkejut
" Apa yang kau lakukan mengelilingi kampus sebanyak sepuluh kali, apa kau sedang melakukan ritual khusus "
Arya terkejut wajahnya tampak penuh keringat ia benar - benat tak menyadari
" Benarkah pak tapi kenapa aku tak merasa letih sama sekali "
" Cepat hapus keringat di dahimu " Menyerahkan tissue kepada Arya
" Terimakasih banyak pak aku akan naik kekantor dulu " Arya buru - buru naik keatas
" Kamu pengganti pak bambang ya " Pak kumis berucap kuat
Arya berhenti dan membalikkan badan " Iya pak " Berlari keatas karena malu pak kumis melihat dengan jelas tingkahnya
" Hari yang buruk sekali untuk hari ini aku sampai mengelilingi kampus sepuluh kali uh Arya ayo jangan berantakan seperti ini profesionallah dalam bekerja "
Arya memasuki ruang rektor, tentu saja semua staf dosen dan rektor sudah tau jika Arya akan menggantikan tugas pak bambang sementara waktu
" Arya ini ruanganmu, dan itu ada beberapa jadwal pak bambang untuk masuk mengajar kedalam kelas materi untuk menambah semangat para mahasiswa di luar mata kuliah yang di kontrak "
Arya mengangguk " Baik pak terimakasih "
Duduk di ruangan tersebut dan membaca jadwal masuk untuk mengajar " Kenapa harus ada jadwal masuk kedalam kelas "
Arya mengusal rambutnya
....
Didalam kelas
" Mana sih pak bambang lama amat masuknya " Rima bergerutu
" Kalian belum tau kalau pak bambang lagi sakit " Ana langsung menutup mulutnya ia tak mau jika Siska akan menjadi bertambah galau
jika tau kalau Arya lah yang akan menggantikan pak bambang
Siska membaringkan kepalanya di meja ia terlihat sangat kacau Arjuna yang duduk di belakang sibuk membuat tugas yang banyak sekali ia sama sekali tak memperdulikan perasaan Siska yang menderita karena menikah dengannya
" Permisi "Seseorang tampak gugup saat mengetuk pintu kelas tersebut
Siska masih membaringkan kepalanya di meja
Ana dan Rima saling memandang satu sama ainnya
Seorang mahasiswa perempuan di belakang berteriak memanggil nama Arya karena Arya adalah mantan senior mereka dan termasuk jajaran kakak senior paling hitz di kampus
" Kak Arya "
__ADS_1
Siska belum menyadari jika Arya berada di depan kelas mereka
Arya tampak gugup karena melihat Siska berada teapat di hadapannya
Arya yang terbiasa berbicara di depan banyak orang dengan santai mendadak gugup tak mampu mengeluarkan kata - kata di tambah lagi ia melihat Arjuna berada juga dalam kelas tersebut
" Maaf sebelumnya karena pak bambang berhalangan hadir jadi saya untuk sementara menggantikan beliau "
Siska langsung menegakkan kepalanya karena merasa tidak asing dengan suara Arya
Rasa sesak di dada Siska sangat tampak terutama dari mata nya Ana yang duduk di samping Siska memahami betul bagaimana perasaan Siska
Arya yang gugup tak berani menatap kearah Siska karena ia adalah istri orang lain
sebelum masuk kekelas Arya belum tau jika materi yang akan di bahas adalah tentang hubungan sesama antar makhluk hidup
karena ia berpikir sama seperti berbicara di depan banyak orang Arya tak perlu membacanya berulang kali tetapi salah karena yang di hadapannya adalah sumber luka yang masih basah
" Baiklah keluarkan buku kalian sesuai notes yang di tulis pak bambang kita akan membahas hubungab antar makhluk hidup"
Arya yang cerdas berbicara di depan kelas ia memang good looking cuma sayang saja playboy sejati
" Dari materi yang di jelaskan ada pertanyaan"
Siska mengangkat tangannya siap untuk bertanya " Saya ingin bertanya "
Ana dan Rima melihat Siska mengangkat tangannya terkejut setengah mati
mereka saling berpandangan dan jantung yang sudah berdetak kencang
Apa yang sedang dia lakukan dia mau bertanya tentang apa
.
Arya mendadak pucat " Baik silahkan "
Arya berpura - pura sedang sibuk ia seoalah sedang mencari sesuatu
" Baiklah pak Arya sebelumnya terimakasih sudah memberikan saya kesempatan untuk bertanya, ada baiknya anda sebagai asisten dosen pengganti seharusnya menatap lawan bicara " Siska menekankan suaranya membuat Arya semakin gugup
Ana dan Rima tau jika Arya sangat mencintai Siska tampak keringat dingin keluar bercucuran dari dahi Arya wajah nya mendadak pucat , dengan berat hati mata yang terlihat jelas masih terluka ia menegakkan kepalanya dan menatap Siska
Ana dan Rima saling berpegangan tangan
" Ya tuhan apa yang akan terjadi " Ucap Rima berbisik
Tidak ada yang tau apa yang terjadi antara Arya dan Siska kecuali Ana dan Rima tidak juga Arjuna
" Baiklah silahkan " Arya tidak menyebut nama Siska
" Saya akan mengajukan dua pertanyaan pertama apa yang harus kita lakukan untuk menjaga hubungan sesama makhluk hidup
Siska menurunkan tangannya
" Pertanyaan apa itu " Ana menepuk keningnya ia tau jika Siska memang agak kurang dalam belajar jadi mereka menilai pertanyaan yang di berikan Siska terkesan agak bodoh
Hati Arya bergetar dan menancap tepat di jantungnya
" Baiklah saya akan menjawab pertanyaan yang terkesan sangat bodoh menurut saya dan anak TK pun bisa tau jawabannya tetapi karena ia sudah bertanya maka saya akan menjawab jawaban pertama adalah kita harus menjaga dan melindungi sesama makhluk hidup dengan sesama manusia kita harus saling menjaga perasaan , dengan tumbuhan menjaga dan merawatnya sesama hewan pun demikian
.
lertanyaan kedua hanya orang bodoh yang tidak punya semangat hidup seperti rumput yang selalu tumbuh maka kita pun harus menanamkan prinsip mati satu tumbuh seribu , saya rasa cukup karena saya bukan ahlinya itu hanya menurut pandangan saya simpan dulu pertanyaan kalian untuk minggu besok , tugas kalian bikinlah kelompok diskusi dan minggu depan bisa langsung di oresentasikan kedepan terimakasih "
Arya langsung keluar tanpa menatap Siska
Ana dan Rima yang mendengar jawaban dari Arya langsung menghampiri Siska
tampak mata Siska berkaca - kaca ia sudah tak tahan ingin menangis
" Ayo kita keperpustakaan saja " Siska menarik tangan Ana dan Rima
Duduk di sudut perpustakaan untung saja perpustakaan tak terlalu ramai
langsung saja Siska menangis " Kalian dengar Arya brengse* itu menjawab apa dia sama sekali tak mengerti jika aku sedang hancur "
Siska menangis sejadi - jadinya membuat Ana merasa sangat iba melihat Siska
" Siska bersabarlah aku yakin kau akan lebih bahagia bersama Arjuna "
" Enak saja kau berbicara Ana, kau beruntung karena tak sempat jatuh cinta dengan pria lain kau tak tau bagaimana jadi aku, setelah Arya berjuang mendekati aku dia tak melakukan apapun saat aku ingin membatalkan pernikahanku dan jawabannya tadi sangat menyakitkan ternyata benar yang di katakan Dimas dia memang tak baik "
Siska menangis tersedu - sedu
Rima memberikan tissue, tampak tissue sudah berserakan di atas meja
Arya berjalan keluar kelas lalu memutuskan untuk pergi ke perpustakaan karena ia tau Ana dan Siska pasti akan kekantin
Arya berada di sudut rak ia duduk di bawah air mata kembali menetes ia menarik rambutnya
" Maafkan aku Siska aku terpaksa melakukan ini agar kau membenciku, kau tau melawan suami dan membantah keinginan orang tua adalah hal yang tidak baik apa lagi aku ini tidak pantas untukmu " Menarik rambutnya
lalu berhenti menangis saat mendengar suara Siska yang duduk di sebelah rak buku perpustakaan
"Sebaiknya kau coba saja dulu membuka hati untuk Arjuna aku yakin jika keluargamu berani mengambil resiko untuk menikahkanmu tanpa persetujuanmu mereka tau Siska mana yang terbaik untukmu "
Siska menangis " Tak segampang itu aku membuka hatiku "
" Ehem " Penjaga perpustakaan berdehem ia memberikan tanda jika jangan ribut di perpustakaan
__ADS_1
." Sudah kau jangan menangis lagi , lihat penjaga perpustakaan itu menegur kita "
Rima memberikan tissue lagi
"Ayo hapus air matamu , sekarang belajarlah jntuk melupakan Arya perlahan "
" Apa kau sudah gila bagaimana mungkin aku bisa melupakannya kalau dia akan setiap hari berjumpa denganku , atau lebih baik aku pindah rumah dan kuliah saja "
" Jangan! jangan pindah kemanapun Siska aku mohon " Arya mendengar semua pembicaraan Siska , Ana dan Rima
ia berbicara perlahan menahan gerak bibirnya
" Bagaimana kalau kau dan Arjuna pindah rumah saja aku yakin nanti kau bisa perlahan menyukai Arjuna bagaimana " Ana memberi ide
" Nantilah aku pikirkan " Mata Siska masih merah
Rima berdiri dan memegang perutnya
" Aku lapar apa kalian tak ingin makan "
Terdengar suara cacing dari dalam perut Rima
" Baiklah ayo kita kekantin sebelumnya kita ke toilet dulu mencuci muka Siska yang merah sekali itu "
Ana berdiri di ikuti Siska
.......
Arjuna duduk menunggu di tempat duduk pavorit mereka bertiga wajahnya tampak tersenyum manis sekali saat melihat Siska menuju tempat duduk
" Kalian dari mana saja " Arjuna berdiri dan menarik kursi untuk Siska duduk
" Bukan urusanmu " Siska menjawab ketus
" Sabar Siska jangan terpancing emosi " Ana berbisik
" Tak apa Ana biarkan saja dia seperti itu karena ini emang salahku "
Arjuna duduk kembali
" Apa kau tidak ada teman sehingga harus duduk bergabung bersama kami di sini "
Siska menghardik Arjuna
" Siska sudah biarkan saja " melihat kearah Arjuna
" Tidak apa -apa duduklah di sini "
" Terimakasih Ana jangan khawatir aku akan baik - baik saja " Arjuna masih duduk diantara mereka
......
Arya berdiri dan mengelap air matanya ia tak mau jika ada orang yang melihat ia sedang menangis terlebih di kampus ini ia sangat hitz
" Bagus aku akan membuat Siska membenciku aku tidak mau menambah daftar dosaku merebut istri orang lain , tenanglah Arya ini akan segera berlalu tak apa sakit ini tahan saja sebentar ibu juga akan sembuh sebentar lagi.
........
" Mi, Dimas memutuskan untuk mengambil S2 di kampus lama aja mi, karena repot kalau harus ke luar negeri, apa lagi nanti jika Siska harus pindah kerumah yang sudah di siapkan orang tua Arjuna dekat kampus, Dimas tak mau mami sendirian di rumah "
Maminya memeluk Dimas " Kau memang anak laki - lakiku yang sangat baik, aku tau aku sangat beruntung memilikimu "
.....
" Hallo sayang " Aditya menelpon Ana
"iya sayang ada apa? "
" Bagaimana hari ini apa terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan " Aditya sangat penasaran sepertinya
Ana menjauh "Tunggu sebentar ya ,aku mau mengangkat telpon dulu "
" Aku sudah menjauh " Ana menceritakan semuanya yang terjadi di kampus hari ini
Aditya menarik nafas panjang - panjang lalu hembusan nafasnya terdengar di telpon
" Kau jangan khawatir sayang sebaiknya di rumah nanti kita berpura - pura tidak terjadi apapun apa kau paham " Ana menenangkan Aditya yang merasa bersalah karena telah membuat Arya kembali terluka
" Baiklah sayang aku mengerti apa setelah ia mengajar kau melihat ia kemana , Aku tak berani menelponnya aku sangat khawatir mengenai perasaanya "
" Tenang saja jangan khawatir aku yakin Arya sangat kuat mengahadapi masalah ini "
Ana menutup telpon dan kembali bergabung bersama teman - temannya
" Ah Ana kau tidak mengerti karena masalah hati bisa membuat runtuh sebuah negeri aku tau Arya sangat kuat tapi kali ini ia benar - benar sedang bermain hati "
Merebahkan tubunya di kursi dan mencoba menghubungi Arya
" Aduh nanti saja lah "
kring
kring
Panggilan masuk Arya "Dia menelpon balik, huh santai Aditya semua ini akan baik - baik saja "
"Iya Arya ada apa? "
"Aku hanya ingin mendengar suaramu Dit, apa kau baik - baik saja di kantor tanpa aku "
__ADS_1