
Ana masih berdiri dengan sangat jutek
la masih berdiri dengan memandangi Aditya
untung saja jurus - jurus yang diberikan Arya
Pada Aditya sudah melekat di otaknya
Aditya pun langsung teringat pesan Arya sebelum ia kerumah mertuanya menjemput Ana tadi
jika kau bertemu denganya langsung saja kau kecup bibirnya, aku yakin dia akan luluh
Ah apa aku bisa, bagaimana jika ia nanti menamparku karena melakukan itu, bagaimana ya, coba atau tidak, tetapi jika tidak di coba bagaimana aku akan tau hasilnya hmmmm.... baiklah kalau begitu
Dengan sekuat tenaga menarik nafas dalam - dalam memejamkam mata selama 5 menit lalu Aditya meyakinkan dirinya untuk segera memulai aksinya
"Apa yang sedang ia lakukan memejamkan mata begitu, apa dia pikir dengan cara begitu akan membuat ia tampak keren, apa lagi yang sedang ia rencanakan "
Ana bergerutu kecil
"Baiklah Aditya ini saatnya " Ia berjalan dengan cepat melangkah mendekati Ana
Lalu dengan cepat ka Langsung memeluk Ana dan memutar kepalanya, menahan kepala Ana dan Mencium bibir Ana dengan sangat liar dan lama, Ana tak berkutik sama sekali perasaannya campur aduk ia terkejut sekaligus senang juga, kangen juga yang jelas ia hanya terdiam dan matanya terbelalak
tanpa melakukan perlawanan sama sekali
permainan tunggal yang di lakukan Aditya tanpa ada perlawanan balik dari Ana
Sekitaran 10 menit Aditya mencium bibir Ana
lama juga ya, hingga akhirnya Ana ikut terhanyut dalam permainan Aditya pada saat detik - detik terakhir
Whahaha ciuman apa itu hahahaa
Eittssss ini untuk yang sudah menikah ya, yang belum halal di larang keras
inga inga ting...
Aditya pun kembali melepaskan bibirnya, tampak nafas mereka berdua terengah - engah tak beraturan
Dengan nafas yang masih tak beraturan itu, sambil memegang dadanya Aditya bertanya pada Ana
"Jadi bagaimana sekarang "
" Ya sekarang mau bagaimana lagi "
Wajah Ana memerah ia tampak sangat malu karena ternyata ia juga akhirnya menikmati Juga permainan Aditya
"Ehem sebaiknya aku pulang saja kerumah kita, lagian di rumah ada kak Bima juga "
Alasan yang tepat Ana padahal kau juga sedang kangen - kangennya dengan Aditya
" Ikut aku pulang atau bagaimana " Aditya pura - pura bertanya pada Ana kembali padahal sudah jelas - jelas ia mendengar sendiri Ana mengatakan ia akan pulang kerumah mereka
" Atau apa. ? " Ana menantang balik
" Atau aku akan melepaskan seluruh pakaianku sekarang "
Aditya sudahlah bertingkah konyol, istrimu sudah memaafkanmu sebaiknya kau hentikan sajalah
Aditya menantang Ana kembali, seperti tak sudah - sudah kebodohan yang di lakukan oleh Aditya, lagi - lagi ini semua adalah Ide Arya
yang jika tak di lakukan akan terasa mubazir menurut Aditya
" Memang masalahnya apa lagi, kan sudah aku bilang aku akan ikut pulang bersamamu, kita batalkan saja untuk tidur di rumah ayah ibu " Ana membentak Aditya dengan wajah manja dan agak cemas, cemas karena ia takut jika Aditya memang melakukan ancamannya ,cuma ia kembali meyakinkan Aditya tak akan mungkin melakukan hal aneh itu
" Aditya ini tak mengerti atau bagaimana sih,
ia terus memaksa akan membuka seluruh pakaiannya "
Ana yang tak mau lagi memperpanjang pertengkaran langsung memutuskan untuk membiarkan saja Aditya melakukan apapun yang ia suka
" Ya sudah buka saja lagian kau juga yang akan malu ,lakukan lah apapun yang kau inginkan aku juga tak mengerti apa yang kau mau "
Ana menganggap remeh Aditya karena ia tau Aditya tak mungkin akan melakukan itu apa lagi di rumah Ana sangat ramai orang,tetapi dia melupakan sesuatu Aditya bisa melakukan hal nekad karena cintanya terhadap Ana
Didalam kamar pasangan Anya dan Dimas yang tak. kalah serunya, tampak sangat kelelahan, tujuan pertama untuk memantau Ana dan Aditya terpaksa di tunda sementara karena panggilan alam akibat tatapan mata yang beradu pandang, hingga membuat sesuatu bergetar dan bertegangan tinggi
" Akhirnya ,ahhh.... "
Bima langsung terkapar tampak ia sangat lega sekali melepas sesuatu yang di tahan dan mengganjal di dalam
" Sebaiknya aku melihat situasi diluar apa masih aman atau justru masih tidak ada perkembangan sama sekali "
"Ya terserah kau saja " Anya masih terkapar di lantai karena kelelahan
Bima pun kembali berdiri dan segera mengintip kembali
Woyy cuci woyy, jorok banget
__ADS_1
" Sayang bangunlah kau lihat cepat semakin seru saja, " Suara Bima terdengar bersemangat sekali,
Bima menyuruh Anya agar segera bangun dengan cepat
" Iya sayang sabar ,apa yang terjadi selanjutnya "
Anya langsung bergegas memakai bajunya dan merapikan rambutnya yang sudah acak - acakan dan terlihat begitu kribo itu
" Mana, coba aku lihat ,cepatlah kau minggir dulu sayang "
Masih dengan rasa penasaran yang sangat besar Anya menggeser tubuh Bima
Tetapi apa yang di lihat Anya tak seperti yang di katakan Bima , Malah membuatn Anya terkejut sekali
" Awwwwwwwwww" Anya berteriak
Aditya yang sudah melepas bajunya ,hendak melepas celana panjangnya, baru sebatas bokong langsung tersentak kaget mendengar suara teriakan perempuan yang dekat sekali tetapi tak ada wujudnya itu
Dengan cepat ja langsung buru - buru memasang celananya dan melihat kekiri dan kekanan
" Haa suara siapa itu "
Ana langsung tertawa melihat kelakuan Aditya yang ketakutan,
" Sudah kuduga pasti mereka berdua "
" Maksudmu apa Ana " Aditya masih memegang bokongnya, padahal jelas - jelas celananya sudah terpasang
"Suamiku kenapa kau masih memegang celanamu "
Ana menggona Aditya yang tampak sangat cemas itu
" Bukankah aku sudah sering melihatmu bahkan tanpa apapun "
Ana mengedipkan matanya
" Tentu saja itu beda, kau pikir aku apa, ini sungguh memalukan " Aditya menutup kedua wajahnya dengan tangan
"Bukan kah tadi aku sudah memperingatkan di rumah ini sedang banyak orang, jadi siapa yang harus di salahkan atas kebodohanmu itu lagian kau punya ide dari mana, melucuti pakaian "
Tidak mungkin aku mengatakan belajar dari Arya, bisa - bisa ia meremehkan usaha ku untuk mendapatkan maaf darinya
" Tentu saja itu ideku sendiri "
" Ya baiklah tapi apa kau tau dari tasi aku sudah curiga jika ada orang yang mengintip dari kamar ibu " Menunjuk kearah pintu kamar dengan memajukan mulutnya
" sepertinya aku harus memberikan mereka pelajaran juga "
" Hoammm,... " Ana menguap dan bersandar di pintu
Aditya berbisik " Jadi sekarang apa ide selanjutnya ha "
Di dalam kamar
Bima tampak cemas karena mendengar teriakan dari mulut istrinya itu ia sangat cemas bagaimana jika Aditya dan Ana mengetahui jika ia dari tadi mengintip
" Anyaaaa apa yang kau lakukan , bagaimana jika kita ketahuan , Aduh bagaimana ini "
Bima langsung menutup mulut Anya dan menarik nya menjauh dari pintu kamar
" Kau tak perlu berteriak begitu, bagaimana jika mereka tau kita mengintip dari tadi ,Ana akan sangat marah padaku "
Bima memarahi istrinya itu ia terlihat sangat jengkel sekali
" Bagaimana mungkin aku tak berteriak, itu reflek aku lakukan, lagian apa kau tau apa yang membuatku berteriak "
Anya balik memarahi Bima
" Ya aku tidak tau, emangnya apa "
Bima kembali menggaruk kepalanya ,dengan kondisi mereka berdua yang masih duduk
" Adik iparmu itu hampir saja melucuti semua pakaiannya "
" Terus masalahnya apa jika ia melucuti pakaiannya "
" Sudah jangan cerewet cepat kau lihat saja dulu " Anya menarik kepala Bima dan memaksanya melihat ke lubang kunci
Bima terkejut dan kembali mengintip
" Pelan - pelan sayang, bisa patah leherku nanti "
" Tapi aku tak melihat apapun di sana "
" Ah masa " Coba aku lihat
Anya bergantian mengintip ia menggeser posisi Bima " Awas cepatlah minggir "
Mereka berdua sibuk mengintip Ana dan Aditya
__ADS_1
Sebelumnya
Ana masih tertawa geli melihat tingkah Aditya
yang merupakan suaminya sekarang, ia tak lupa bagaimana dulu Aditya mengerjainya di kampus, dan sekarang dunia seolah terbalik
Ana lah yang mengerjainya kembali,
dengan cepat Aditya kembali memakai seluruh pakaiannya
Ana yang tak bisa berlama - lama marah kepada suaminya pun langsung tertawa geli
Disinilah letak kedewasaan Ana ia berbesar hati memaafkan Aditya, ia tak perlu lagi meragukan seberapa besar cinta Aditya padanya
Karena semua sudah terbukti dari apa yang ia lakukan,
Ia memegang lengan Aditya "Sudahlah sayang kau tak perlu melakukan apapun lagi aku tau kau akan selalu melindungi ku kan "
Ana tersenyum
"Sebaiknya kau Ikut aku dulu, aku ingin mengerjai seseorang "
Ana mengedipkan matanya
Aditya masih tak bergerak, ia tampak kaku
Dengan susah payah Ana kembali menarik tangan Aditya dan sekarang mereka berdiri di kanan kiri pintu kamar Bima yang tak ada kuncinya itu
Ana melirik ke lubang kunci tersebut
"Kau tau tadi teriakan itu berasal dari mana "
Ana berbicara berbisik yang hanya di dengar oleh Aditya saja
"Tidak tau kan tidak ada orangnya "
Suara Aditya agak membesar
"Kecilkan suaramu " Ana melotot kearah Aditya
" Iya baiklah "Aditya mengangkat kedua tangannya
" Sekarang bagaimana lagi "
"Kau tau Mereka dari tadi mengintip kita "
Berbisik kearah Aditya
" Mereka siapa? "
" Kak Bima dan kak Anya "
Aditya terkejut ia seperti tak mau mencari masalah dengan kak Bima
" Sekarang bagaimana "
" Dalam hitungan ketiga kita dobrak saja pintunya "
Aditya pun setuju tapi ia juga takut bagaimana jika Bima marah
" Kalau kak Bima marah bagaimana sayang "
Masih berbisik
" Jangan khawatir aku akan mengadukannya pada ayah dan ibu karena ia sudah mengintip kita, tenang saja jangan khawatir "
" Siappp., 3,2 ,1 "
Brakkkkkkkkk
Bima dan Anya terkejut karena ketahuan oleh Ana dan Aditya
" Kalian apa yang kalian lakukan di kamar ini "
Bima terkejut sekaligus pura - pura marah pada Ana
" Ah akting yang bagus, seharusnya aku yang bertanya pada kalian apa yang kalian berdua lakukan di balik pintu, "
" Kami tak melakukan apapun hei jaga ucapanmu aku ini kakakmu " Bima yang tadinya duduk langsung berdiri dengan muka tegang
" Ya kakak laki - laki yang barusan mengintipku, ini buktinya "
Mengambil kain penutup lubang kunci yang tak terpasang sama sekali
" Oh itu hanya lepas saja "
Bima menggaruk kepalanya lalu keluar kamar
"Aku haus , sayang cepat keluar buatkan aku minuman "
__ADS_1
Anya yang sama sekali tak bisa berbohong
hanya