
" Di rumah ini sungguh mengerikan sekali suamiku, aku pikir jika tidak ada uang itu akan lebih angker, tetapi sepertinya berbeda sekali, rumah ini penunggunya memang sangat besar " Masih dengan nafas yang ngos - ngossan
Arya berusaha menahan mulutnya agar tidak tertawa lepas
Didepan ruang keluarga Ana tampak tersenyum puas iya seperti sedang menang pertandingan
Rasakan dari pertama datang sampai detik ini masih saja menganggu ketenangan orang lain benar - benar tamu yang tidak sopan
Mengibas - ngibas rambutnya dan menukar acara televisi
Seorang penyiar berita membawa acara berita Ana langsung membesarkan suara volume televisi
"Telah di temukan mayat seorang perempuan tanpa identitas di tepi jalan tol Congorjawi sampai sekarang pihak kepolisian masih menyelidiki apa penyebab kematian korban "
Arya dan Aditya yang berjalan dari kamar belakang langsung mendekati Ana
Seketika wajah Arya mendadak pucat saat mendengar berita tersebut
" Gila ya, tega bener yang bunuh perempuan itu "
Ana tampak prihatin
" Jangan suudzon dulu sayang bisa jadi ia korban tabrak lari " Aditya kembali menimpali
Arya berdiri mendekati layar televisi dan kembali mengulangi berita tersebut
" Arya minggir nggak kelihatan, lagian kenapa sih kamu, kamu kenal sama korbannya "
Ana berbicara dengan pensaran
Arya membalikkan tubuhnya keluar keringat bercucuran dari dalam tubuhnya, dahinya sampai keteknya pun ikut basah
" Kau kenapa apa kau tidak enak badan " Aditya menimpali
" Tidak aku baik - baik saja sebaiknya aku istirahat saja di kamar "
Arya berjalan kedalam kamar nya
" Ya istirahatlah sepertinya kau butuh istirahat"
Arya kembali masuk kedalam kamarnya
Ana dan Aditya pun masuk kedalam kamar bersiap untuk tidur sekaligus bertempur .
.Arya memeluk bantal guling dengan erat, ia membayangkan bagaimana kalau perempuan itu adalah Alena karena tempat di temukan mayat tersebut tepat sekali saat ia meninggalkan Alena seorang diri tadi sore
" Ya tuhan bagaimana jika itu adalah perempuan gila tadi, aduh bagaimana ini, masih hidup saja dia selalu mengejarku bagaimana jika ..... "
Arya sudah membayangkan hal yang tidak - tidak
" Tenang saja Arya aku yakin gadis itu akan baik - baik saja, percayalah siapa yang mau membunuhnya "
Mencoba memejamkan mata
Suasana tampak sunyi dan sepi malam ini
tiba - tiba lampu mendadak mati
" Awwwwwwwwwwwwwwwwww"
"Awwwwwwwwwwwwww"
Terdengar sampai kedalam kamar Aditya dan Ana "Sayang kau dengar suara itu " Ana memasatkan telinganya
"Sudah biarkan saja, kalau tidak Arya ya pasti paman atau bibi siapa lagi yang berani berteriak kalau bukan mereka, nenek tak mungkin mampu berteriak seperti itu apa lagi para pelayan dan bodyguard
Menarik kepala Ana dan melanjutkan pertempuran kembali
Didalam kamar Arya ketakutan berlari menabrak pintu kamar
Gubrakkk
"Aduh sakit sekali "
Arya membuka pintu ternyata lampu kamar Arya bolanya putus " Sialan ternyata hanya kamarku saja yang mati lampunya "
memainkan saklar lampu
" Ternyata benar, syukurlah "
Arya menarik nafas lega, lalu mencari air untuk minum kedapur
Memegang gelas dan duduk kembali menghidup televisi membuka botol minuman " Susah sekali membukanya "
Arya tampak kepayahan membukanya
__ADS_1
" Selamat malam berita malam ini, sesosok mayat perempuan kembali di temukan di jalan tol Congorjawi "
Mata Arya terbelalak dengan cepat ia mengambil remot langsung mematikan televisi
" Astagfrullah kenapa mendadak setiap chanel televisi berita tentang itu dari tadi "
Arya mengusap keringat yang kembali muncul di dahinya
" Siapa nama gadia itu astaga aku saja sampai tak tau namanya, karena memang tidak penting mengingatnya "
Berlari mengetuk pintu kamar paman dan bibi Aditya
"Aduh bagaimana ini aku sungguh menyesal membuang benda yang di gantung bibi tadi, semoga saja benda itu masih ada di kamarnya "
Tok
tok
"Suamiku kau dengar ada yang mengetuk pintu kamar ini "
Bibi Aditya tampak cemas
" Kau tidak usah cemas istriku aku sudah mengunyah satu ons bawang putih untuk menangkalnya, jangan khawatir "
Muka paman Aditya tampak sangat tak karuan karena satu butir bawang putih yang di kunyah saja rasanya sungguh pedas sekali, apa lagi satu ons hahahaha
Membuka pintu " Cepat buka suamiku "
" Iya sabarlah " Mengendap di belakang pintu
Arya yang mengetuk pintu semakin kesal saja karena lama sekali membukanya
Tokk
tokk
tokk
" Lama sekali mereka "
" Aku buka ya " Paman Aditya kembali bertanya kepada istrinya
" Iya cepat buka saja, suamiku .
apa kau takut? "
" Suamiku !! " Bibi Aditya berteriak sehingga membuat paman Aditya melompat kearahnya
" Apa kau takut suamiku "
Langsung berdiri kali ini paman Aditya berjalan dengan menempelkan tubuhnya di dinding lalu ia merayap melangkah perlahan
Arya yang sudah tidak sabar lagi lalu memutuskan untuk pergi dari depan kamar tersebut
" Ah sebaiknya aku pergi saja lama sekali ia membuka pintu, atau jangan - jangan "Pikiran Arya sudah melayang kemana - mana
" Dasar orang tua " Arya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar nenek.
............
.
." Sayang aku akan membuka pintu kamar ini bersiaplah "
Memberi kode jari tangannya untuk menghitung mundur " 3,2,1" Membuka pintu dengan cepat lalu
"Ternyata tidak ada orang " Paman Aditya melihat kekiri dan kekanan
" Istriku tidak ada orang " berdiri mengahadap kepintu dengan senyum yang di buat -buat
" Kau lihat tidak ada siapapun kan "Melebarkan kedua tangannya
Wajah bibi tampak pucat ia langsung berteriak
" Cepat kau tutup pintunya suamiku "
Mereka berdua pun tampak sangat cemas
" Suamiku kau lihat tidak ada orang kan di luar sana, jadi siapa yang mengetuk lintu kamar kita barusan " mendadak hening
" Bagaimana kalau kita tidur dikamar ibu saja" BiBi Aditya memberikan penawaran
Mereka masih duduk di sudut sofa dengan posisi berjongkok serta bibir yang bergetar
" Istriku itu ide yang bagus , sepertinya penghuni rumah ini tidak menyukai kedatangan kita disini"
__ADS_1
Dengan cepat mereka membuka pintu dan menuju kamar nenek
.Arya mengetuk pintu kamar nenek
Tok
tok
." Nek ini aku Arya bolehkah aku masuk "
Tampak nenek habis mengaji dan membuka pintu kembali " Ya tunggu sebentar "
Berdiri dan berjalan tergopoh dengan sangat lambat
" Arya masuklah cucuku ada apa "
Nenek sangat menyayangi Arya karena sejak kecil sering sekali bermain dengan Arya dan Aditya
" Kenapa kau membawa bantal seperti itu "
menunjuk bantal yang di pegang oleh Arya
.
" Aku ingin tidur di sini boleh kan nek "
Langsung berbaring di karpet bawah yang sangat lembut sekali
" Ya tidurlah di sana " Nenek melipat mukenahnya dan mulai berbaring
" Apa kau sedang ada masalah " berusaha memecahkan suasana karena Arya tidak berbicara sama sekali
" Tidak ada nek " Mencoba membohongi nenek
" hehehe kau selalu begitu Arya , bagaimana dengan ibumu apa dia sudah bisa pulang "
Tentu saja nenek sangat mengenal keluarga Arya karena dari keluarga Aditya lah kesuksesan keluarga Arya berasal
" Alhamdlilah ibu baik - baik saja nek, "
Suasana hati Arya menjadi tenang saat mengobrol dengan nenek
" Bagaimana dengan gadis tempo hari yang sangat tajam kau tatap itu" Nenek tersenyum sambil menggoda Arya yang tampak menutup wajahnya karena dua hal ketakutan menjawab pertanyaan nenek dan ketakutan membayangi Alena yang akan menjadi hantu gila .
" Dia sudah menikah nek "
Nada suara Arya tampak melemah
"Oh ya " Nenek tampal terkejut
" Kenapa bisa begitu padahal aku mengira kalian akan berjodoh, aku melihat ketertarikan yang sangat jelas antara kalian berdua "
oaaa nenek kenapa kau membuka luka hatiku kembali, padahal aku sudah susah payah untuk tidak mengingatnya hari ini
Ehem
Arya berdehem " Dia di jodohkan nek, sepulang dari liburan dari tempat nenek "
Suara Arya masih bergetar dengan wajah masih tertutup dengan bantal
" Baiklah kalau begitu lupakanlah dia untuk apa kita memikirkan seseorang yang tak berhak untuk kita pikirkan, kau juga masih muda dan tampan nenek yakin di luaran sana banyak gadis cantik yang menunggumu "
Arya hanya mengangguk " Iya nek "
Dan bahkan aku sekarang di hantui oleh rasa penasaranku tentang orang yang mengejarku ek, apa kau tau!
"Sudahlah ayo kita tidur nenek sudah capek sekali terapi hari ini " nenek mematikan lampu kamarnya
Tiba - tiba
" Nek !!! jangan " Arya berteriak
Membuat nenek terkejut sehingga untaian rambut panjang putihnya terlihat jelas tentu saja membuat suasana di dalam kamar tersebut semakin horor
" Kenapa Arya mengagetkan aku saja "
" Tolong hidupkan lampunya nek, aku sangat phobia dengan kegelapan " Arya beralibi haha
" Baiklah aku akan menghidupkan lampunya , kau mengagetkan ku saja Arya, suaramu ternyata kuat sekali "
Nenek menghidupkan lampu kamar kembali yang terletak di sudut kepalanya
tampak Arya sedikit tenang meski matanya masih berkeliaran di balik bantal melirik kesepanjang arah seperti sedang mengintai sesuatu
"Tidurlah Arya "
__ADS_1
"Iya nek "
Belum sempat lima menit memejamkan mata dua orang manusia menerobos masuk kedalam kamar