Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 164


__ADS_3

" Astaga apa itu tadi "


Aditya bergerak mundur kebelakang ia mulai agak ragu untuk kembali mengintip


Bima dan Anya yang dari tadi memantau dari dalam kamar merasa sangat geram karena melihat kelakuan Aditya yang dari tadi tidak ada kemajuan sama sekali


" Ah payahh sekali dia ! , coba kau lihat kelakuannya benar - benar tak berguna, apa susahnya tinggal mengetuk pintu saja "


Bima langsng membuka pintu kamarnya hendak keluar


Untunglah dengan cepat Anya menarik tangan Bima agar tak keluar kamar


" Apa yang ingin kau lakukan pada mereka ,sudah biarkan saja, kita tunggu saja dulu kan belum seharian "


Anya melipat kedua tangannya


" Aku akan membantu Aditya mengetuk pintu kamar Ana sayang, aku sudah tak sabar ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya "


Bima tertawa menyengir dan menggaut kepalanya


" Sudah biarkan saja suamiku sayang , jangan kau campuri urusan mereka, biarkan saja sudahlah, bukankah awal menikah dulu kita juga sering bertengkar sama seperti mereka "


Tangan Anya masih memegangi lengan Bima


lalu mereka berdua saling bertatapan, Bima pun melirik kearah tempat tidur tampak kedua balita kembar itu sudah tertidur dengan nyenyak dengan kedua botol dot yang hampir habis


" Ehem " Bima memainkan lidahnya, mencoba menggoda istrinya


Anya bergerak mundur karena ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya,perempuan berambut keriting itu langsung mundur teratur kebelakang, selangkah demi selangkah


" Bima apa kau sudah gila ini masih pagi "


Anya berjalan mundur ,akhirnya langkah kakinya terhenti saat ia menabrak tempat tidur


" Bima kau lihat jendela itu terbuka "


" Terus kenapa, apa masalahnya mau atapnya pun terbuka itu bukan masalah iya kan, siapa yang mampu menahan keinginanku " Bima tersenyum nakal


Bima yang memang jago dalam segala hal pun mulai bersajak " Saat zulaikha mengejar cinta yusuf Allah pisahkan mereka


tetapi saat zulaekha mengejar cinta Allah, ia datangkan yusuf kepada zulaekha "


Eaaa eaaaaa " Bima hentikan, aku sudah mandi pagi ini, bagaimana nanti jika aku harus mandi lagi "


" Sudah biarkan saja , apa salahnya jika kau mandi lagi tinggal di siram saja, kau juga tak harus masuk kedalam sumur juga kan "


Karena rumah orang tua Bima menggunakan air sumur yang kadang harus di timba terlebih dahulu, tapi ada mesin air untuk menyedotnya


Cuma maklumlah orang tua mereka terkadang lebih senang menimba air, karena mereka berpikir sekaligus itung - itung untuk olahraga juga


Posisi Bima sekarang sudah berada di atas Anya, lalu detik - detik penanaman rudal pun akan segera terjadi, tetapi sangat di sayangkan saat posisi sudah terkunci, alam sedang tak bersahabat


Prakkk.......


Ranjang kayu milik ibunya terdengar akan rubuh , karena mereka masih mempertahankan tradisi leluluhur tidur di ranjang kayu, konon katanya akan membuat ranjang terasa adem,


" Bimaaa kau dengar suara itu "


" Ah sial ,dasar ranjang tua, sudah aku katakan sebaiknya di ganti, memang susah sekali membujuk ibu untuk menukarnya "


Bima kembali menarik Anya kelantai dan terjadilah pembunuhan 1000 setan di pagi hari tersebut , Mereka pun terlarut dalam ritual pagi itu sejenak melupakan misi awal memantau Aditya dan Ana


ah.. terkadang nafsu memang bisa mengalahkan segalanya


.....


Ana langsung mundur teratur kembali ketempat tidur, kali ini ia memasang kunci pintu itu kembali


Aditya perlahan mulai mendekati kembali lobang kunci tersebut dan ia tak bisa menemukan apapun lagi,ia semakin heran saja


"Tidak bisa di lihat, jadi apa tadi yang aku lihat itu "


Sedangkan Ana didalam kamar sudah sangat resah menunggu dari tadi, tidak ada tanda - tanda Aditya akan memohon dan merayunya untuk membuka pintu


" Apa sih, yang di lakukan Aditya di luar sana, apa dia tak niat untuk segera membuka pintu kamar ini ,apa ia tak rindu ingin melihat wajahku , benar - benar menyebalkan sekali "


Ana pun mulai kehilangan kendali ia melempar buku kearah pintu kamarnya, padahal Aditya hendak mengetuk pintu kamar


Baru saja tangan Aditya ingin menyentuh pintu kamar Ana


" Astaga apa yang ia lakukan, apa ia begitu marah padaku , ya tuhan Ana kau semakin membuat aku tak punya nyali saja " Aditya kembali mundur kebelakang perlahan


kali ini ibunya kembali masuk karena Ayah mertuanya meminta di buatkan secangkir kopi


" Aditya ?? " Ibunya merasa heran karena melihat Aditya masih saja berdiri dan pintu kamar Ana masih tertutup saja


"Apa kau sudah menemui Ana nak, "


Aditya menaikkan bahunya " Belum bu, "


"Astaga jadi sudah satu jam apa saja yang kau lakukan di sini "


" Hanya berdiri saja bu, " Aditya menjawab dengan polosnya


" Ya sudah biar ibu saja yang memanggilnya "


Aditya menarik tangan ibu mertuanya


" Bu, tidak usah "


Melepaskan tangan Aditya " Sudahlah nak kau tenang saja, ibu akan membantumu "


Aditya tampak sangat tegang saat ibu mertuanya itu mengetuk pintu kamar Ana


Tokk


tokk


tokk


" Ana buka pintunya nak, ini ibu "

__ADS_1


Ana masih tak menjawab beberapa menit


" Sudah ku duga ia takkan menjawab kan bu, aku rasa sia - sia, apa sebaiknya aku menunggu di luar saja ya bu "


Aditya sekali lagi menyerah padahal belum melakukan apapun


" Sudah,kau tenang saja ibu akan memanggilnya sekali lagi ,kau sabar ya nak "


Ibu mertuanya sangat lembut sekali, ia menenangkan perasaan Aditya yang nampak begitu pasrah sekali


" Ana.. Ana...


Apa kau tak mendengar ibu nak, "


Ana yang mendengar suara ibunya pun


langsung menjawab panggilan ibunya, meski sebenarnya ia masih sangat kesal dan marah dengan semua orang yang berada di dalam rumahnya


" Iya bu, ada apa " Begitulah Ana semarah apapun ia terhadap orang di rumahnya itu


ia sama sekali tak pernah tak menjawab panggilan ibunya, itulah mengapa begitu istimewanya Ana dan Bima orang tua adalah kunci segala macam kesuksesan, bagaimana kamu memperlakukan kedua orang tuamu


maka seperti itu pula rezeki akan datang menghampirimu


" Buka dulu pintunya nak, ibu mau bicara "


Ana langsung menangkap sinyal mencurigakan " Mmm aku rasa ibu pasti sedang bersama Aditya, aku tidak akan membuka pintu ini, payah sekali Aditya kenapa tidak dia saja yang merayuku, kenapa harus menggunakan ibu sebagai senjata, kau lihat saja Aditya aku tak semudah itu kau rayu"


" Ana lagi malas bertemu siapapun bu, Kalau Ibu mau bicara sebaiknya bicara saja Ana pasti mendengarkan "


Aditya tampak kecewa mendengarkan Ana yang tak mau bertemu siapapun


tetapi ibunya tak kehabisan ide ia tau bagaimana caranya agar Aditya bisa bertemu Ana


Ibu mertuanya pun langsung melirik kearah Aditya


" Kau tenang saja , ibu tau apa yang harus di lakukan, Ayo cepat kau ikut ibu "


Menarik tangan Aditya keluar rumah seperti anak kecil yang sedang di tuntun untuk berjalan ia pun mengikuti ibu mertuanya


Apa lagi rencana mu bu, kita mau kemana


aku rasa ia benar - benar sudah membatu karena begitu marah padaku, Oh Aditya aku tak pernah sekecut ini


Ana yang berada di dalam kamar pun merasa penasaran karena tak terdengar lagi suara ibunya memanggil ,


" Kemana ibu tadi, kenapa dia menyuruhku membuka pintu "


Dengan rasa penasaran Ana pun kembali mencabut kunci kamarnya lalu ia duduk dan mengintip kembali


Diluar Aditya berjalan memutar bersama ibu mertuanya ,meski ia tak tau kemana ia akan di bawa oleh ibu mertuanya itu


" Bu kita sebenarnya mau kemana"


Aditya penasaran karena dibawa ibunya melewati jalan belakang rumah


"Tenang saja sebentar lagi kau juga akan tau, ayo cepat kemari "


" Nah cepat kau kesana " Ibu mertuanya tersenyum dan menunjuk jendela kamar yang terbuka itu


" Lihat itu jendela kamar Ana terbuka, nanti jika dia tak mau membuka pintu kamarnya kau langsung saja melompat kedalam ya , ibu rasa kau tau apa yang harus di lakukan "


Ibu mertuanya menepuk pundak Aditya


Sepertinya Ibu Ana tampak sangat hapal betul teori menjinakkan hati yang terluka


Aditya pun mengacungkan kedua jempolnya ia tak menyangka ide mertunya sungguh brilian sekali ,sedangkan ia sama sekali tak berpikir sejauh itu, benar - benar ibu mertuanya ini luar biasa sekali,Aditya tertawa geli


" Ibu apa ibu yakin ia akan memaafkanku "


Aditya tampak tak percaya diri


" Sudah kau ikuti saja perkataan ibu Aditya, tenang saja ibu sudah melalui ini juga sama sepertimu , bagaimana kau akan tau apa yang akan terjadi jika kau belum mencobanya "


Ibunya mendorong Aditya


" Cepatlah kau kesana "


Aditya terdorong kedepan, lagi - lagi ia menggelengkan kepalanya tak menyangka tenaga ibu mertuanya sekuat itu


Gilaaa ia bisa mendorongku , apa resep tenaga supernya, wah memang orang tua zaman dahulu tidak ada tandingannya


Dari luar toko terdengar suara ayah mertuanya memanggil " Bu, mana kopinya "


" Bu Ayah memanggilmu " Aditya berbisik pelan


"Iya ibu tau kau dengar ayah mu itu memanggil ibu , iya benar - benar tak bisa lepas dari kopinya" berlalu pergi dan tidak lupa memberi semangat pada Aditya


" Semangat berjuang menantuku, aku yakin kau bisa "


Berjalan dengan cepat " Iya yah, tunggu sebentar "


Aditya langsung menarik nafas dalam. - dalam dan sekarang hanya tinggal ia sendirian


ia sudah menyiapkan beberapa jurus untuk menangkis jika nanti Ana akan menyambutnya dengan lemparan benda - benda keras dan sebagainya


Jurus kedua ia telah menyiapkan kapas lebih tepatnya kapuk, yang tadi tak sengaja di lemparkan si kembar ke wajahnya,


" Ternyata benda ini ada manfaatnya juga "


Aditya berjalan dan mengintip kejendela


ia melihat Ana sedang duduk dan mengintip melalui lubang kunci


" Hmm ternyata dia juga penasaran melihat apa yang terjadi diluar sana, memang benar ternyata ia hanya terlihat keras di luar "


Aditya berdiri sambil tersenyum - senyum melihat kelakuan istrinya itu


" Kemana ibu, tak ada orang sama sekali di luar kamarku, aku juga tak melihat Aditya "


Ana semakin kesal

__ADS_1


" Benar - benar dia tak ada niat sama sekali untuk mengajakku pulang bersamanya ternyata "Ana mulai meneteskan air mata karena sedih


Ana pun membalikkan badannya dan bersender di pintu kamar


" Dasar pecundang kau sama sekali ya, tak ada niat meminta maaf padaku, atau jangan - jangan kau sengajarncari kesempatan agar bisa lepas dariku, memang dasar kau buaya, buaya, buaya "


Aditya masih berdiri di jendela kamar menahan mulutnya agar tak bersuara, karena Ana belum menyadari jika ia sudah berdiri disana memperhatikan dirinya


Ana pun tak sengaja menoleh keluar jendela karena melihat bayangan, benar saja ternyata ia langsung melihat Aditya berdiri disana


" Kau, apa yang kau lakukan di sana, ha!


Ana melempar apa saja yang ada di dekatnya kearah Aditya, untung saja Aditya telah menyiapkan jurus pertama


Dengan sigap ia menghindar


" Apa yang kau lakukan di sini ha, di jendela kamarku , sudah berapa lama kau berdiri di sana, kau sengaja ya ! "


Ana tampak sangat emosional melihat Aditya berdiri dengan tertawa geli


" Dengar dulu sayang, aku mohon tolong dengarkan aku " Aditya mengangkat kedua tangannya


"Cepat pergi aku tak mau melihatmu lagi "


Ana menarik jendela kamarnya dan berusaha menutupnya, tetapi Aditya menariknya


"Nanti dulu sayang, aku mohon jangan di tutup dulu aku ingin kau mendengarkan penjelasanku, tolong berikan aku kesempatan berbicara dulu"


Ana sangat senang mendengar Aditya memohon mohon padanya, apa lagi yang namanya wanita, sangat suka sekali di perlakukan seperti itu oleh lelaki


"Tidak bisa " Ana berhasil menutup jendela kamarnya


Aditya pun tau jika ini tak akan berhasil, seharusnya ia tak usah tertawa dulu


Ana tampak senang melihat Aditya yang melakukan ini padanya " Ayo Aditya sekarang memohonlah, katakan kau tak bisa hidup tanpa aku " Ana terlihat begitu berharap


Tetapi ia tak mendengar lagi suara Aditya Di depan jendela


" Kemana Aditya, kenapa ia tak bersuara lagi atau jangan - jangan ia sudah pergi "


Ana menghentakkan kakinya


"Aditya kau sungguh keterlaluan sekali, jadi cuma sebatas ini perjuanganmu "


Ana kembali mendekati jendela dan membukanya


Aditya yang sudah menyiapkan sesuatu yang akan ia berikan untuk Ana langsung pergi mengambilnya di mobil


Benar saja Aditya sudah tak ada di sana, Ana merasa sangat kecewa ia lalu memutuskan untuk membuka pintu kamarnya ia takut jika Aditya akan pergi, dan harapannya sia - sia saja


Ana tak sadar jika Aditya sedang menyiapkan


sesuatu yang manis di depan pintu kamarnya


Aditya berdiri di depan kamarnya dengan memegang seikat bunga berwarna kuning


dan memberikannya pada Ana


Ana terkejut saat membuka pintu kamarnya


seorang lelaki yang amat ia cintai sedang duduk berlutut di hadapannya, ah seperti yang ada di dalam televisi saja


" Ini untukmu aku serahkan padamu, bunga ini "


Ana yang sebenarnya sudah susah payah menahan hatinya yang sedang berbunga - bunga berusaha untuk terlihat cool


" Bunga ? Apa yang kau lakukan "


Masih berdiri dan belum mengambil bunga pemberian Aditya tersebut, biasalah Ana ia masih sok jual mahal, wajar saja sih, memang Aditya yang salah


Ana pun menjawab jutek seolah tak senang dengan bunga yang di berikan oleh Aditya padanya " Bunga matahari apa maksudnya !"


Dengan lantang dan datar Aditya berbicara apa yang ada di hatinya


" Bunga matahari iya, Bunga ini melambangkan Matahari kau tau kan matahari adalah penerang dunia, jenis bintang yang paling bersinar, di tambah lagi ia mampu memanaskan sekitarnya


aku ingin kau seperti matahari., dimana cahayanya sangat di nanti oleh semua orang, tanpa ada matahari maka tak kan ada gairahnya bumi, aku ingin kau selalu ada menemaniku, dan menyinari hatiku, selalu dan sampai kapanpun, jika Matahari menyinari dunia maka kau juga akan menyinari seluruh kehidupanku, kau adalag matahari dan juga mata hati bagiku,


jika bisa meminta pada sang pencipta bahkan sampai nyawaku terlepas dari raga ini aku hanya ingin hidup bersamamu, selalu, bahkan jika nanti ada kehidupan selanjutnya aku pun akan meminta hal yang sama. selalu dan selalu ingin bersamamu, maukah kau selalu menjadi matahari dalah hidupku, maafkan aku nona Anastasya "


Aditya duduk sambil memegang bunga


Wah hebat sekali Aditya berpuisi


Semoga saja puisi yang di kirimkan Arya ini bisa meluluhkan hati Ana, aduh aku sangat susah payah sekali menghapalnya, semoga saja rayuan maut playboy itu bisa berguna kali ini untukku, aduh


Flash back


Aditya menyetir mobil dan hendak menuju rumah Orang tua Ana


tak lama Arya menelpon


" Halo bosss "


"Apaan sih, hentikan suara tawamu itu aku sudah tak tau harus berbuat apa, kau tak melihat Ana tadi menangis "


" Eitzzz jangan ngegas, kau tenang saja aku sedang mencari tau siapa yang mengirimkan pesan itu,


Sudah lah santai saja, kau rayu saja dia nanti "


"Rayu? bagaimana aku tak mengerti, kau kan tau aku sama sekali tak pernah merayu wanita,


Biasanya para wanitalah yang merayu ku "


" Ya... ya... tuan Aditya yang tampan sekali, kau benar, hmmmm baiklah aku akan mengirimkan pesan ke ponselmu,


aku rasa daya ingatmu masih sangat tajam "


" Apa yang ingin kau kirimkan "


"Sudah kau ikuti saja perintahku, semoga saja berhasil ".

__ADS_1


__ADS_2