
Masuk kedalam mobil jemputan
" Wah yang pulang dari liburan wajahnya tampak berseri - seri " Dimas menggoda Siska, Ia berusaha kembali mencairkan hubungan kakak adik yang semakin panas saja akhir - akhir ini di keluarga mereka
Rupanya Dimas sengaja menjemput Arjuna dan Siska di bandara. tentu saja Siska yang tadi tersenyum karena sudah tidak sabar ingin bertemu Ana langsung marah karena Dimas bercanda tidak pada tempatnya di tambah lagi rasa kesal yang masih memuncak membuat Siska ingin sekali meremas mulut Dimas yang menggodanya itu
" Bisa diam nggak " Siska membentak Dimas
Arjuna berusaha menenangkan " Siska nggak boleh berbicara begitu ketus dia itu kakakmu "
" Ah berisik, nggak usah sok asik "
Siska kembali berbicara ketus
membuat Dimas dan Arjuna langsung saling pandang dan terdiam seketika
Dengan cepat Dimas mengalihkan pembicaraan
" Nanti malam kamu dan Arjuna pergi kerumah Ana dan Aditya nggak "
Dimas kembali membuka obrolan dengan adik perempuan semata wayang nya itu, adik perempuan yang benar - benar keras kepala sekali
Siska tak menjawab, membuang muka dan langsung memasang headseat di telinganya
"Kau lihat Arjuna kelakuannya, apa kau yakin masih bisa bertahan padanya " Dimas menelan air ludahnya, ia tampak iba melihat Arjuna di perlakukan tak selayaknya suami oleh Siska, Dimas sedang membayangkan bagaimana perasaan Arjuna semenjak menjadi suami adiknya itu, ia tau kepergian Siska dan Arjuna ke jogja tak ada perubahan sama sekali, ia mengenal siapa Siska lahir dari rahim dan benih yang sama mereka satu ayah dan ibu tentu saja Dimas sangat tau watak keras kepala adiknya
Siska amatlah keras dan sangat susah untuk di kendalikan apa lagi semenjak menikah dengan Arjuna ia benar - benar membenci Dimas
Arjuna tersenyum " Kak Dimas " Arjuna berbicara lambat
" Jika aku sudah mengiyakan sesuatu hal maka aku sudah sanggup menjalankan segalanya dan aku sudah memikirkan segala resikonya " Arjuna tampak percaya diri sekali dengan ucapannya
Dimas menepuk pundak Arjuna " Meski aku tak yakin tapi apa yang tidak mungkin jika tuhan mengatakan kau pemenangnya "
Dimas dan Arjuna tampak saling berjabat tangan
Brengse* Kau dan Dimas memang manusia tak tau diri, kau pikir aku menghidupkan musik ha, headseat ini hanya aku pasang saja di telinga, ya aku sengaja ingin mendengarkan obrolan recehan kalian berdua
Dimas kau sudah mulai ragu bukan, apa dia masih sanggup bertahan untukku kan,haha kakakku apa kau lupa aku ini tidak semurah oerempuan di luaran sana, aku sama dengan wanita yang kau cintai itu
sayang sekali adik ipar kesayanganmu itu akan aku buat lebih menderita lagi
dia memang sangat sempurna, bahkan tidak ada celah untuk aku mencari kesalahannya
ia benar - benar sempurna aku mengakuinya ,hanya saja aku belum bisa mencintainya
__ADS_1
Sesampai di rumah, Arjuna cepat - cepat membuka pintu mobil untuk Siska
seperti biasa ia memperlakukan Siska seperti ratu
Awalnya Siska merasa sangat risih, tetapi memang dasar Siska selalu saja memiliki ide - ide gila untuk mengetes kesabaran Arjuna
Hmm aku ada ide baiklah, kesempatan emas kapan lagi aku bisa merasakan menjadi ratu dan memiliki pelayan gratis, dia akan aku jadikan doraemon yang bisa mengabulkan apa saja yang aku inginkan
Siska menjatuhkan jepitan rambutnya
" Aduh jatuh "
Dengan cepat Arjuna mengambilkan jepitan rambut tersebut dari bawah dan memberikannya untuk Siska
" Ini "
Siska mengambilnya lalu masuk kedalam rumah
Maminya langsung menyambut kedatangan Siska dan Arjuna ia memeluk Siska dan Arjuna, tetapi sepertinya ada yang aneh dengan maminya, matanya terlihat sangat sembab, ia seperti habis menangis
Siska memegang wajah maminya yang mulai tampak garis keriput di sudut matanya, ntah lah semenjak bertemu kembali dengan pak kumis, mami seperti kembali menjadi wanita yang bersikap layaknya wanita paruh baya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk pergi ke pengajian, dan melupakan teman - teman arisan sosialitanya , biasanya mami Siska akan selalu menghambur - hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting
" Mami habis menangis " memandang wajah maminya
Siska tau pasti ini ada hubungannya dengan Dimas, ia melihat Dimas masuk kedalam kamar lalu menyuruh maminya untuk beristirahat tetapi maminya menolak
" Mami mau pergi keluar sebentar nak , kebetulan kalian sudah pulang sebaiknya
Arjuna saja yang menemani mami ya, "
Tanpa menolak tentu saja sang Arjuna selalu menjunjung tinggi orang tua, ia langsung bergegas mengambil mobil bersiap untuk mengantar mami mertuanya kemanapun ia mau
Siska yang melihat maminya dan Arjuna telah keluar kamar langsung membuka pintu kamar Dimas yang memang tidak di kunci rupanya
" Eh kalau mau masuk ketuk dulu " Dimas menggoda Siska
" Hentikan candaan bodoh mu itu, aku ingin bertanya padamu, kau apakan mami ha ?"
Bertanya dengan memaksa
" Maksud pertanyaan mu apa aku tidak mengerti " Dimas masih terlihat santai berbaring dengan memainkan ponselnya
" Aku tak habis pikir denganmu kak Dimas,
kau sudah seperti manusia tak punya hati
__ADS_1
sampai kau tak punya celah untuk melihat cinta di setiap hati orang lain,
Apa kau ini manusia ha, kau lihat mami sekarang, apa kau buta, atau sengaja membutakan hatimu sendiri, terlalu munafik jika kau tak melihat mami berubah 180 derajat menjadi wanita sederhana yang bersifat keibuan,
aku tau kau pasti melakukan sesuatu beberapa hari ini padanya , menagkulah
aku tak menyangka aku memiliki kakak yang berhati iblis, egois " Siska menggelengkan kepalanya
Dimas berdiri dan melemparkan gelas kaca yang berada di sampingnya ke dinding .
emosinya terpancing mendengar ucapannya yang keluar dari mulut Siska seolah hilang kendali ia langsung mengambil gelas den melemparnya tepat di samping Siska
Brakkkkkkkkkk
Siska tak terkejut sama sekali ia berdiri dengan tegap " Sekalian saja kau bunuh aku " melihat Dimas melempar gelas
" Lempar saja semuanya, sekalin kau lempar gelas itu kewajahku, agar kau puas ,
Cukup aku saja yang berkorban atas perasaanku, tapi jangan kau bawa - bawa mami, jika kau marah padaku karena Ana tak dapat kau miliki, maka tak apa aku akan menerima ini sebagai tebusan atas sikapku padamu.
Siska menunjuk wajah Dimas
" Kau lihat saja kak Dimas jika kau masih saja menghalangi mami untuk menikah lagi, maka aku pastikan Arjuna akan aku siksa lebih sakit agi, aku akan membuat Arjuna menceraikanku dan kawin lari dengan Arya kau dengar itu Dimas prasetyo " Siska berteriak
" Kau itu sudah kehilangan hati, sebaiknya kau segera cari pengganti saja, atau aku memastikan kau tidak akan pernah menikah sama sekali , gadis mana yang bisa hidup dengan lelaki tak punya hati sepertimu, aku merasa bersyukur sekali pantas saja Amanda, Ana lebih mencintai Aditya darimu padahal kau jauh lebih baik dari Aditya. ternyata kau memiliki hati yang tidak sama seperti hati manusia "
Siska pergi meninggalkan Dimas yang tampak sangat geram melihat ocehan Siska
Siska membanting pintu kamar Dimas dengan kencang hingga tertutup
Ia menangis tersedu - sedu
" Tak apa - apa di nilai seperti itu, aku tak butuh penilaian sesama manusia
aku hanya melakukan hal yang terbaik untuk adik dan mamiku, aku hanya tak ingin mereka terkena fitnah, Siska tak mengerti tidak ada cinta yang suci kecuali pernikahan, tak ada jaitannya dengan Ana, benar aku tak bisa melupakannya tapi aku tak pernah berharap lagi padanya sejak aku tau Aditya mencintai Ana melebihi aku.
Kau boleh saja menilaiku salah, tetapi aku punya pandangan sendiri untuk kalian berdua, aku bukannya marah jika mami menikah lagi.
tapi apa benar lelaki itu sungguh - sungguh menginginkan mami. bagaimana jika ia hanya akan membuat mami semakin sengsara masa tuanya, karena modal cinta saja tak bisa menjamin sebuah kebahagiaan apa lagi ia tau mami memiliki banyak uang "
Dimas menarik rambutnya sambil menangis
dan berbicara di depan cermin
" Kalian salah menilaiku, kalian tak mengerti tanggung jawab anak lelaki itu seperti apa ".
__ADS_1