
Dimas langsung memotong kata -kata dari Siska " Jangan kau dengarkan Siska Rima ia sama sekali tak serius dengan apa yang ia ucapkan jangan khawatir "
Dimas menatap Siska yang terlihat begitu sinis
" Baiklah pacar kakakku, aku berharap besok pagi kau bisa main kerumahku, karena aku akan mengajakmu untuk bersenang -senang "
Ditengah - tengah obrolan ponsel milik Aditya berbunyi
" Sayang siapa yang menelpon ,cepat angkat " Ana mengintip ia ingin tau siapa yang menelpon suaminya malam begini
" Nih lihat " Aditya menunjukkan ponselnya
Ana tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya
" Oke baiklah "
" Ada apa brow, kau dimana ? "
Aditya langsung menyingkir dari tempat duduk tersebut karena ia takut kedengaran oleh Rima
" Maafkan aku tak bisa datang kesana" Suara Arya terdengar begitu cemas dan panik
"Kau kenapa Arya apa kau baik -baik saja "
Aditya terlihat cemas karena tak seperti biasanya Arya bersikap sepanik itu
" Aku sangat tidak baik, tapi aku sedang memikirkan apa yang kau katakan tadi "
" Apa yang aku katakan, kau ini kenapa sih, tolonglah jangan membuatku panik "
Aditya membentak Arya dengan suara yang pelan
" Aku sedang memikirkan bagaimana caranya bulan depan nanti Alena bisa bertukar posisi dengan ibuku, karena jika ibuku keluar dari rumah sakit perempuan gila itu akan membuat masalah dalam hidupku "
Aditya menarik nafas lega dan langsung tertawa geli " Jadi hanya itu masalahmu"
" Hei brow kau enteng sekali menjawabnya, dia adalah masalah besar dalam hiduku, kau tau "
Arya membentak Aditya kali ini, karena Aditya tak berhenti tertawa
" Ya.. ya masalah yang tak penting
menurutku "
" Terserah kau saja Aditya " Arya langsung mematikan telponnya
Didalam mobil
Arya masih kesal karena ia hanya berputar -putar saja mencari cara bagaimana agar terhindar dari Alena
" Ah siall Aditya, kau pikir ini lucu ini sama sekali tidak lucu, kau tau bukan aku baru kali ini menemukan perempuan segila ini, bahkan ia lebih mengerikan dari Amanda "
Memukul setir mobil miliknya
tak sengaja ia memencet klakson
__ADS_1
Tittttttttttttttttttttttt
Seorang perempuan yang tak asing kaget mendengarkan suara klakson mobil Arya, ia langsung memaki Arya
" Hei kau, apa kau tidak punya mata, kau lihat
aku sedang berdiri disini "
Kebetulan mobilnya juga berhenti di depan tempat minum bandrek didepan mobil Arya
Arya mengucek kedua matanya lalu membenarkan " Iya itu dia ibunya Marisa, benar -benar ia sungguh berbeda dengan sifatnya di depan kamera, seperti memiliki kepribadian ganda, aku semakin tak sabar ingin membuka kedok mereka berdua "
Arya mengeluarkan ponselnya lalu menelpon seseorang " Posisi mu di mana "
Arya mengangguk - nggangguk
" Baik, kau ikuti terus perempuan itu, iya benar aku tepat berada di belakang mu, lakukan sesuai perintahmu "
Arya tersenyum, membuka kamera dan memotret ibu Marisa lalu mengirimkan gambarnya pada Dimas, dan Aditya
"Lakukan tugas mu dengan baik Dimas,. karena aku sudah tak sabar ingin memberinya pelajaran, perempuan yang kita anggap lugu dan tak memiliki taring ternyata lebih hebat menyimpan cerita "
.......
Di restoran
Tit.. titt
Pesan masuk keponsel Aditya dan Dimas serentak mereka berdua membuka pesan, dan apa yang terjadi mereka berdua saling berpandangan,
" Ana aku ingin ketoilet, apa kau mau ikut "
Siska sudah tak sabar ingin bercerita, tapi benar saja yang di ajak siapa yang mau menemani siapa, dengan sigap Rima mengatakan
" Aku ikut "
Siska yang tadi mempunyai maksud dan tujuan pada Ana langsung tak bersemangat, untung saja ia harus bersikap profesional demi rencana ini
" Kau pergi berdua Rima saja Siska, aku lagi malas bergerak coba kau lihat perutku "
Menunjuk perutnya yang bergerak -gerak tanda ada kehidupan di dalamnya yang sudah tak sabar ingin melihat dunia
Rima berdiri dan menggandeng tangan Siska ya itu merupakan kebiasaan Rima jika berjalan berdua dengan Siska, kepala Siska menghadap kebelakang lalu melihat kearah Ana, ia terlihat menaikkan mulutnya
" Daghh " Ana melambaikan tangannya mengejek Siska
Setelah Siska dan Rima berjalan menghilang
Aditya dan Dimas dengan cepat mengeluarkan ponsel milik mereka masing- masing
"Dit, kau lihat ini "
Dimas menunjukkan ponselnya pada Aditya
" Aku juga di kirim oleh Arya, apa maksudnya aku tak mengerti "
__ADS_1
" Kau tau ini kan ibunya Marisa "
Aditya memperhatikan secara seksama
" ia benar ini ibunya Marisa terus masalahnya apa ?"Menaruh tangannya di atas meja
" Masalahnya ibunya Marisa yang kau tau kan, bagaimana kehidupan orang terkenal di negeri ini, dan sekarang ia dengan santainya masuk kedalam warung bandrek di pinggir jalan yang terlihat kumuh ini "
" Aku semakin tak mengerti Dimas, cepat langsung saja kau jelaskan "
" Warung itu milik orang tuanya Rima, ia selalu berjualan di sana malam hari menggantikan kedua orang tuanya, aku tau ayah angkatnya lagi sakit "
Ana dan Aditya terkejut " Apa langsung saja kita membuat ia mengaku, dia benar -benar tak bisa di biarkan seperti ini "
Aditya marah sekali
" Baiklah aku akan membuat ia mengakui semuanya, kita butuh bukti untuk menyeret ular sepertinya, kita tak bisa menangkap orang tanpa bukti kongkrit Dit "
Dimas mulai berpikir
" Tapi dia berbahaya, ntah apa lagi yang akan ia lakukan pada Ana, aku rasa dia sakit hati sekali karena kepergian Marisa "
"Aku tak habis pikir jika ia bisa setega itu padaku, padahal waktu Marisa di kurung di kamar mandi oleh Siska, ia bersikap santai sekali "
" Ia tapi kan Siska tak memberi tau jika mengurung Marisa di kamar mandi pada kalian"
" Ia memberi tahu kami sayang, cuma mungkin saja ia juga lupa " Ana memegang perutnya yang tiba - tiba mengeras
" Jadi selanjutnya apa yang akan kita lakukan Dimas "
Dimas berpikir keras sekali sepertinya tampak beberapa urat di dahinya keluar ia menggigit giginya
lalu " Aku sudah dapatkan ide, mungkin ini agak gila tapi aku akan mencoba, ini semua aku lakukan demi Ana "
Dimas keceplosan membuat Aditya harus menahan amarah
" Ehemmmm, demi Ana
" Mmm maksudku demi kita semua "
Aditya langsung tersenyum terpaksa pada Dimas " Aku tau kau tulus Sob, tenang saja aku akan menahan rasa cemburu ku ini padamu "
Ana tersenyum dan memegang tangan Aditya " Aku hanya milikmu sayang "
Dari kejauhan tampak Rima dan Siska berjalan menuju meja makan
" Kalian lama sekali, lihat makanan sudah datang "
Dimas menunjuk makanan yang berada di meja makan
" Iya kak Dimas sabar ya, aku sedang menunggu Rima yang dari tadi sibuk merapikan lipstiknya itu "Siska tersenyum mengejek
" Rima kau tak perlu seperti itu , bagi Dimas kau tetap menarik " Ana memuji Rima
Dimas hanya tersenyum -senyum saja
__ADS_1