
Air mata kesakitan masih mengalir dipipi Siska dengan sangat deras
di dalam mobil , Siska sengaja masih memegang kakinya , iya kakinya yang sakit tapi hatinya yang terkoyak dan tercabik - cabik
sakit di kakinya tidak seberapa di banding sakit di hatinya yang hancur berantakan
" Apa kita kembali kerumah sakit saja ?"
Arjuna bertanya dengan rasa khawatir melihat Siska yang tak berhenti meneteskan air mata
air mata terus mengalir deras di pipi Siska
" Tidak usah " berbicara amat sangat datar
Air mata terus menetes dari sudut mata Siska
" Nak jika masih sakit sebaiknya kau di rawat saja nak, " Dengan wajah sangat panik melihat Siska yang tak berhenti menangis
Apa yang perlu di rawat mi, sakit kaki ini tak seberapa, yang perlu di rawat hatiku, apa kalian tau bagaimana merawat hati yang sakit
apa kalian tau bagaimana sakitnya hati
ha, kalian tidak mengerti, begitu sulit menjalani takdir ini
Tidak menjawab apapun yang di ucapkan maminya, Tak ada yang mengerti bagaimana perasaan Siska, atau sebebarnya mengerti tetapi mereka lebih memilih Berpura - pura tidak mengerti
"
*"Perduli apa kalian dengan perasaanku
kalian hanya menganggapku boneka
peduli apa kalian dengan hatiku
yang kalian tau sekarang aku sudah menjadi istri orang ,ya kalian bahagia, selamat ! "
Siska menangis di dalam batinnya
benar sekali mengikuti semua perintah orang tua adalah kewajiban, benar kalian semua benar
tak usah khawatirkan aku kakiku tidak begitu sakit tetapi hati ? jangan di tanya soal hati
hancur, remuk menjadi berkeping - keping
apa ada yang perduli ? Tidak ada kan* "
Siska memejamkan matanya dan membiarkan kaca jendela mobil terbuka
Angin bertiup sangat kencang
" Mami tolong tutup kaca jendelanya sepertinya hari mau hujan "
Arjuna menyuruh maminya menutup pintu jendela Siska
Siska langsung menahan tangan maminya
"Tidak usah mi, biarkan saja aku ingin menikmatinya " Siska membiarkan rintikan hujan membasahi wajahnya mengenai mukanya, air mata dan air hujan bertempur menjadi satu
Biarkan saja.. biarkan semua ini, sakit ini.
semua akan aku hadapi atas nama berbakti kepada keluarga aku korbankan segalanya
masa bodoh soal hati, masa bodoh soal perasaan aku sudah mati rasa, dahsyatnya cinta pertama memang benar biarlah akan menjadi kenangan munafik sekali engkau duhai hati ini teramat sakit sekali
Menghapus air matanya lalu turun dari mobil
" Arjuna bantu Siska "
Maminya menyuruh Arjuna membantu Siska
Ada yang berubah dari penampilan Arjuna ia sudah tak memakai lagi baju corak batiknya ntah lah tetapi Siska tidak menyadarinya jika Arjuna berubah amat tampan sekali
__ADS_1
mungkin bermaksud untuk mengambil hati Siska atau memang sebenarnya ada sisi lain dari Arjuna yang tak di ketahui oleh Siska
" Tidak usah aku bisa sendiri " Berusaha menyeret kakinya dan akhirnya terjatuh
Brukkk
"Siska terlihat kesakitan saat terjatuh
" Siska, aku sudah bilang biar aku yang membantumu " Mengangkat Siska kedalam kamar
Siska tak memperdulikan Arjuna " Jangan berharap lebih dariku ,karena aku tak akan pernah bisa memberikanmu apa - apa, kau tau bukan masalah hati tak segampang itu "
" Jangan khwatir aku tau " Arjuna mengucapkan dengan tegas tanpa ada lagi aksen jawanya ia terlihat lebih cool dan idaman sekali
Siska belum juga menyadari " Berbaringlah aku akan membawakan air minum kekamamu" memperlakukan Siska seperti ratu
"Arjuna! " Siska berteriak dengan keras
Arjuna berhenti dan membalikkan badannya
" Kau jangan bermimpi untuk mengharapkan lebih apapun dari ku sejak awal kau sudah tau kan apa yang terjadi , status ku sekarang memang istrimu tapi harus kau ingat hatiku masih tetap sama " suara Siska terlihat bergetar, suara kesakitan seorang perempuan yang terlihat begitu jelas dari tatapan matanya
Dimas yang baru datang mendengar jelas apa yang baru saja di ucapkan oleh Siska
Maafkan aku Arjuna ini salahku kau terjebak
dalam permasalahan hati ini akan sangat sulit sekali apa kau mampu untuk bertahan dalam pernikahan ini "
Menarik nafas dan memejamkan matanya
Dimas tak tau lagi harus berbuat apa, hanya berharap suatu saat keajaiban datang hingga bisa meluluhkan hati Siska
Arjuna menganggukkan kepalanya " Tentu saja jangan khawatir , aku yang mengiyakan pernikahanmu sedangkan kau tak mencintaiku tenang saja Siska hatimu tak akan pernah aku usik "
Meninggalkan Siska di kamarnya ntah apa sebenarnya di hati Arjuna apa memang iya mencintai Siska dengan tulus atau sebenarnya ia juga sedang terjebak dengan permainan hati nya sendiri
Dimas langsung bersembunyi di balik pintu membiarkan Arjuna keluar
" Tak ada mami " Bersikap seperti tidak terjadi apa - apa karena dia tidak mau maminya ikut merasa bersalah atas pernikahan Siska dan Arjuna karena Dimas lah yang merencanakan semuanya
" Baiklah mami mau keluar sebentar "
Tampak rapi dengan jilbab berwarna hijau tosca penampilan sederhana tapi dengan harga ratusan juta,
" Baiklah mi, hati - hati "
Menjatuhkan poto di lantai
Mami nya buru - buru berjalan kedepan
Dimas langsung mengambil poto tersebut dan melihat poto seorang lelaki dan maminya yang duduk berdekatan saling menatap satu sama lain
" Wijaya ?Siapa dia " Dimas mengambil poto tersebut dan menyimpannya
.....
Didalan kamar Siska menatap kosong kearah jendela nampak jelas jika hatinya sedang kacau kejadian seperti kilat yang terjadi semalam seperti mimpi yang tak pernah ia bayangkan , pakaian nya masih berada dalam tas masih berserakan di atas tempat tidur bahkan ia pun belum sempat membersihkannya jaket Arya masih tergeletak di dalam sana
dengan tangannya Siska mencoba meraihnya
lalu membuka isi tasnya satu persatu
Kembali menangis saat ia memegang sebuah lotret di dalam rumah nenek saat mereka berlibur di desa didalam poto yang terdiri dari Ana , Aditya , ia dan Arya berpoto berdampingan bak sepasang kekasih
memeluk jaket Arya dan mengenang saat bersama, memang mereka tak saling mengucapkan rasa cinta, tapi hati mereka saling mencintai dan tak perlu di jelaskan satu sama lainnya
" Kenangan" Air mata kembali menetes dari pipi Siska ia memeluk jaket Arya dengan sekencang - kencangnya " Dia tidak mencintaiku , aku tidak percaya kau berbohong padaku Arya, kau berbohong "
Arjuna langsung masuk dan meletakkan minuman di samping tempat tidur Siska
" Ini minunlah aku tak mau kau sakit nantinya "
__ADS_1
Sakit kau bilang? , terimakasih untuk rasa sakit yang amat dalam yang telah kau beri aku bahagia, sungguh sangat bahagia
kau sama sekali tak mengerti bagaimana rasa sakit itu berada di hati
" Kau bisa masuk kekamar orang lain dengan mengetuk pintu terlebuh dahulu! "
Siska berhenti menangis dan menatap berang lelaki yang berdiri di hadapannya
sangat marah karena sekalipun tak pernah bermimpi ataupun terlintas jika ia akan menjadi suami Siska
" Aku hanya ingin menyuruhmu untuk minum obat " Arjuna mengambil obat
Plakkk
Gelas tersebut terjatuh dan pecah di lantai,berserakan ,dan hancur berkeping - keping
:Kau tau kan status kita itu hanya di atas buku, aku sudah bilang kau jangan berusaha mengambil hatiku percuma!!! kau dengar percuma saja kau berusaha baik padaku karena itu tak akan merubah apapun, kau mengerti ! "
Siska terlihat marah sekali
Dimas yang mendengar pertengkaran Siska dan Arjuna langsung masuk kedalam kamar untuk menengahi pertengkaran mereka
" Siska apa yang kau lakukan " Dimas tak tega mendengar Siska dari tadi sibuk memaki Arjuna, karena ia tau bagaimana baiknya Arjuna, lelaki yang telah menjadi iparnya itu bukan lelaki sembarangan Dimas yakin ia akan membimbing Siska menjadi lebih baik lagi
Dimas melihat pecahan beling yang berserakan di lantai
" Apa kau mau marah padaku, atau sekalian saja aku pijakkan kakiku di antara beling ini agar kau bisa melihatku mati sekalian "
Meletakkan kakinya di lantai dan siap untuk berjalan
" Jangan Siska " Arjuna menahan tubuh Siska
" Aku sudah bilang padamu Arjuna, jangan sekali - kali kau coba menyentuhku, cepat kau singkirkan tanganmu dari tubuhku "
Berteriak dengan sangat keras
"Diamlah kau ini sangat bodoh apa kau tidak punya iman? " Dimas membentak Siska
" Apa yang kau katakan kakakku, iman ?
hahahaha apa pantas orang seperti mu menyebut soal keimanan di hadapanku
apa kau lupa bercermin ? kau sendiri apa sudah beriman, ha! "
Siska membentak Dimas
" Sudah kak Dimas, ayo kita keluar biarkan
Siska sendiri dulu " Arjuna menarik tangan Dimas dan mengajaknya keluar kamar
Dimas nampak kacau berbeda sekali dengan Arjuna yang tampak sangat tenang
mungkin itulah alasan keluarga memilih Arjuna untuk menjadi suami Siska ia terlihat tenang tanpa ada sedikit beban
llelaki itu agamanya sangat kuat ia percaya sekali dengan kekuatan doa
" Minum dulu kak Dimas "Arjuna memberikan minuman kepada Dimas
Dimas menarik nafas panjang lalu
" Jika kau tak sanggup menjadi suaminya kau ceraikan saja dia Arjuna "
Dimas berdiri dan hendak meninggalkan Arjuna , ia merasa iba dan memikirkan Arjuna kedepannya pasti akan lebih tersiksa lagi di buat Siska
" Kak Dimas, tidak ada alasan untukku menceraikan Siska ,jika aku menyanggupi untuk menikah dengannya berarti aku sudah siap dengan segala konskwensi yang harus di hadapi, aku belum mencoba menyelami isi hatinya beri aku waktu untuk mendapatkan hatinya "Arjuna masih sangat optimis
" Terserah kau saja " Dimas menahan air matanya yang akan tumpah ia keluar dan mengambil kunci mobil
Arjuna tersenyum meski ia juga merasakan hal yang sama, rasa sakit hatinya karena ia juga manusia biasa, ya resiko yang harus ia tanggung menyanggupi menikahi Siska .
tetapi Arjuna bebas karena ia jatuh cinta dengan kekasih halalnya ia menempuh jalur aman dengan cara menikahi perempuan yang ia suka, meski nanti perjalanan cintanya ini akan terasa berat sekali ia akan banyak melewati jalan berliku hasil evaluasi akhir Arjuna sudah siap jika nanti harus kalah atau menang
__ADS_1
" " Jangan khawatir kak Dimas saat aku mengucapkan ijab qabul di depan penghulu maka tak kan ada kata perceraian dalam hidupku kecuali, tuhan sang pemberi takdir yang menggariskan aku dan Siska harus berpisah, aku akan tetap bertahan kecuali kematian memisahkan aku dan Siska "