
Dimas menarik kursi untuk Rima
" Nah kau lihatkan Rima bagaimana kak Dimas menganggapmu spesial "
Ana kembali menggoda Rima agar rencana ini berjalan mulus, demi mendapatkan bukti pengakuan dari Rima agar dapat menyeret pelaku utamanya ke pengadilan
Rima masih berdiri malu -malu dengan wajah yang menunduk, dari wajahnya yang lugu tak akan ada seorang pun yang percaya jika ia bisa melakukan perencanaan sedemikan rupa itu, tapi tidak mustahil jika ia memiliki otak secerdas Rima, ia bisa dengan terstruktur melakukan segalanya
" Cepatlah duduk, apa kau tak capek berdiri "
Siska berusaha bersikap baik pada Rima meski nada suara nya kelihatan jutek sekali
Rima berjalan dan dengan bersemangat duduk di samping Dimas, sangking semangatnya baju Rima tersandung kursi Ana hingga membuat wajahnya jatuh tersungkur kedalam mangkuk sop ayam di atas meja, tapi untung saja sup di atas meja tersebut tidak terlalu panas
" Awwwwwww" Rima berdiri dengan wajah dan rambut yang penuh wortel, dan ceker ayam di kepalanya
Siska berbisik kecil sambil menahan tawa
" ****** "
Ia sudah tak tahan ingin tertawa, begitu juga Ana dan yang lainnya
Dimas berusaha bersikap super hero agar Rima semakin yakin jika ia benar -benar mencintai Rima,
__ADS_1
Rima mungkin memang pintar dalam segi pelajaran ia sama seperti Ana cerdas
tapi ia tak memiliki pengalaman soal cinta sama sekali, maka ia tak tau mana lelaki yang tulus atau tidak, jika pun ia mencari referensi di internet tentang ciri -ciri lelaki yang serius mencintainya, maka Dimas la ahlinya ia sudah tau apa yang harus di lakukannya untuk meyakinkan Rima semua ini demi rencana besar mereka, sekali lagi Dimas melakukan ini karena rasa cintanya yang besar pada Ana, meski ia tau cinta tak harus memiliki
Dimas berdiri " Rima, apa kau baik -baik saja "
Dimas membuka jaketnya dan memberikan pada Rima
" Cepat bersihkan rambutmu di toilet, ini dan pakailah jaketku sebagai lapnya "
Wajah Rima tampak malu sekali bagaimana tidak ini kencan pertama baginya dengan lelaki yang ia suka tapi harus berakhir memalukan seperti ini,
Siska menahan tawa sampai -sampai matanya mengeluarkan air mata, sedangkan Ana memilih menutup wajahnya dengan buku menu, agar Rima tak melihat jika ia sedang tertawa geli
untungnya restoran tersebut sudah di booking oleh Aditya semalaman jadi hanya mereka saja yang berada di sana, lebih ke private dinner
" Whatt kak Dimas " Siska menutup mulutnya seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya
Aditya menunduk lalu berbicara berbisik
pada Ana " Aku tak percaya dia bisa melakukan itu, Dimas semoga saja ini tak sia-sia "
Aditya menutup wajahnya
__ADS_1
Dimas melepaskan ciumannya dengan Rima yang mematung tanpa perlawanan ,Mereka yang melihat tau jika itu adalah first kiss Rima Dengan cepat Rima memegang bibirnya seakan tak percaya dengan apa yang terjadi
" A.. aaa aku ke toilet dulu " Rima berbicara gugup dan berpamitan ketoilet
Dimas duduk dengan santai lalu mengambil sebotol air mineral dan menghabiskannya dalam sekejap
" Uhhhhh " Menghela nafas
Siska langsung berbisik ketelinga kakaknya
" Kak Dimas apa kau sudah gila,ha dia itu bisa-bisa tak bisa tidur karena kau cium "
Aditya menggeleng kan kepalanya
" Dimas aku tak mau ikut campur, aku sudah memperingatkan mu dari awal soal rencana ini , Jangan coba -coba bermain api Dimas, kau tau resikonya kan , aku takut kau akan terbakar sendiri " Aditya mengusap wajahnya
" Tenang saja aku sudah tau resikonya "
" Kak Dimas apa tidak ada cara lain selain membuat orang jatuh hati, dia itu adik Marisa kau tau kan,
Marisa saja mencintai Adit bagaimana, apa lagi dia nanti, ingat ya Kak Dimas aku tidak mau ikut campur urusan kalian"
Siska menghempaskan tubuhnya di kursi
__ADS_1