Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 158


__ADS_3

Ana masih tak sadarkan diri ia berada seorang diri di rumah sakit , ia tak menyadari jika besok pagi akan ada masalah baru yang harus ia selesaikan


Bima langsung mengajak seluruh keluarganya untuk segera pulang kerumah malam itu juga, karena ia merasa sangat di permalukan oleh sikap Aditya yang sama sekali tak membela Ana , Aditya tak bergeming sama sekali


Video Ana dan Dimas seolah murni kesalahan Ana tampa mempertimbangkan asal mula kenapa Ana bisa bersikap demikian


"Ayah ayo kita sebaiknya pulang kerumah "


Membangunkan ayahnya yang baru saja masuk kedalam kamar untuk beristirahat


" Kenapa nak, mendadak sekali "


Tampak Anya sedang berdiri sambil menggendong salah satu anak kembar mereka, dan bima yang juga menggendong putri kembar yang satunya lagi


" Sudah lah sebaiknya ayah mengikutin kata - kata Bima , nanti ayah akan tau biar kita bicarakan di rumah saja " Bima berusaha meyakinkan ayahnya untuk pulang malam ini juga meski ayahnya sebenarnya belum mau pulang mengingat kondisi ibu Bima yang pingsan tadi


Melirik kearah ibunya yang sedang terbaring


" Loh ibu mu bagaimana nak, "


"Biar Bima yang gendong ayah jangan khawatir, sekarang Ayah dan Anya kembalilah ke mobil dulu ,nanti Bima akan menyusul membawa ibu "


Memberikan putrinya kepada Ayahnya


"Oh cucu kakek yang cantik nyenyak sekali tidurnya, ayo kita kembali kemobil dulu "


Diluar sudah tak tampak keluarga Aditya


Oma Rita pun sudah masuk kedalam kamar


karena kondisinya yang sudah tua, ia tak seharusnya berada di luar jam segini, cuma mau bagaimana lagi keadaan memaksa Musibah dan cobaan tak bisa di hindari


begitu pula dengan keluarga yang lain tak ada satupun di luar, kecuali Arya yang masih duduk di depan dengan segelas kopi hangat di tangannya


Bima keluar dari dalam rumah tampak wajahnya sangat marah ,tentu saja sebagai seorang kakak laki - laki Ana, dia merasa sangat tersinggung dengan sikap Aditya yang seolah meremehkan adiknya, secara tidak langsung ia telah merendahkan keluarganya


bayangkan saja tak ada pembelaan apapun yang keluar dari mulut Aditya, itulah yang membuat Bima semakin geram


Arya melihat Bima menggendong ibunya masuk kedalam Mobil, dengan memberanikan diri Arya berjalan menghampiri Bima dan mencoba menyapanya


"Kak Bima mau kemana tengah malam begini "


"Aku harus pulang membawa keluargaku " Bima berbicara dengan sangat ketus karena ia tahu Arya adalah teman dekat Aditya


Dengan wajah yang sangar dan ucapan yang pedas Bima kembali berbicara


" Tolong beritahu temanmu yang angkuh itu


ucapanku malam ini, cepat keluarkan ponselmu "


Bima memaksa Arya mengeluarkan ponselnya


" Untuk apa kak " Arya mendadak heran


" Sudah kau turuti saja, mana ponselmu "


Menarik paksa ponsel di tangan Arya


"Sudah sini cepat berikan "


Bima menghidupkan ponsel Arya "Berapa kodenya cepat buka "


Arya tampak pasrah karena ia takut sekali dengan pria bertubuh tinggi besar itu apa lagi beberapa waktu lalu ia pernah memergoki


Aditya hampir saja di cekik oleh Bima di kantornya


Memencet tombol rekam dan menyerahkan kembali kepada Arya


" Nanti kau berikan rekaman itu kepada Tuan Aditya yang terhormat itu, kau dengar !"


" Ba.. ba baik kak " Arya menjawab dengan terbata - bata


" Ehem , Apa suara ku sudah terdengar jelas "


Sekali lagi Arya mengangguk "Jelas kak "


" Oke baiklah, aku akan memulainya


Teruntuk kau Aditya dengar baik - baik ya kenapa kau sama sekali tak membela adikku, seharusnya kau menjelaskan di depan keluargamu tadi kalau adikku tidak akan mungkin berbuat seperti itu jika kau tidak memulainya duluan ,apa kau dengar "


Bima masih tampak meradang


Ia tampak emosi sekali


lelaki bertubuh 185 cm itu tampak begitu marah pada Aditya


Arya kembali mengingat dan takkan mungkin lupa bagaimana ia mencekik leher Aditya di kantor hingga membuat Rada akhirnya melihat sesuatu dari tubuhnya yang tidak pantas di lihat sebenarnya oleh orang lain


Arya pun berusaha berbicara dan menjelaskan secara hati - hati kepada Bima karena ia juga takut kepalan tangan Bima yang besar mendarat di hidungnya


"Kak Bima, kakak tenang dulu mungkin Aditya terkejut kak, apa lagi malam ini ia juga baru kehilangan neneknya, aku mohon kau jangan berpikir buruk dulu tentangnya, aku tau bagaimana cintanya Aditya dan Ana aku yakin ia tak bermaksud seperti itu padamu percayalah kak " Wajah Arya mengiba


" Hentikan pembelaanmu itu, aku tau kau sudah seperti seekor anjin* yang sungguh setia kepada tuannya ,lihatlah kau pun tak jauh berbeda darinya , aku ingin bertanya padamu "


Arya mulai cemas


"Apa kau punya adik perempuan, atau kakak perempuan "


Arya hanya diam saja " Cepat jawab! "


"Tidak ada kak aku anak tunggal "


Bima kembali membentak " Tapi ibumu perempuan kan! "


Arya terkejut dan berbicara kecil


"Tentu saja ibuku perempuan, bagaimana mungkin aku bisa lahir dari seorang laki - laki


apa kau pikir aku aku terlahir dari seekor keong yang memiliki kelamin ganda "


Arya menarik nafas dalam - dalam


" Iya kak ibuku seorang perempuan, dan yang laki - laki itu adalah ayah ku "


Arya tersenyum menampakkan giginya


" Kau lihat adikku ia tinggalkan seorang diri di rumah sakit oleh Aditya, kemana otaknya , seharusnya ia berada di sana tak usah pulang kerumah Istrinya itu sedang hamil besar, kau lihat kan, di mana letak otaknya itu ! "


Yang pasti masih di kepala

__ADS_1


Arya terdiam tak banyak bicara karena memang betul apa yang di katakan Bima


Betul memang kemana otak Aditya


kali ini aku tak menyalahkan Bima


Arya tak setuju memang dengan sikap Aditya yang seperti itu, Aditya tak biasanya melakukan itu pada Ana,


Aditya memang sangat keterlaluan jika diihat dari apa yang terjadi, tetapi sebagai teman dan sahabat yang baik, mengenal Aditya dari kecil ada baiknya azas praduga tak bersalah tetap harus di kedepankan, mengingat kita sebagai manusia yang bijak harus mengambil kesimpulan dari dua sisi, apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar,


Arya tak banyak berkata apapun cuma ia tak mungkin membenarkan Bima


karena ia tau Aditya pasti punya alasan


melakukan itu


" Kau diam uh aku tau apa yang ada di otakmu, yah terus lah,


terus saja kau bela teman terbaikmu itu


jika saja kau memiliki saudara perempuan aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama untuk membela adikmu "


Bima meninggalkan Arya yang masih berdiri mematung di depan pintu mobilnya, dengan wajah yang memucat dan senyum yang kembali ia paksakan meski sambutan dari Bima sama sekali tak bersahabat


Bima membanting pintu mobil dengan kencang


" Brakkkkkk


Lalu mengemudikan mobil dengan kencang tidak lupa sebelum meninggalkan rumah Aditya , Arya memutar buntut mobil dan menghadap ke arah Arya


Dengan kencang ia memijak pedal gas,


Asap hitam knalpot mobil di pagi hari meninggalkan jejak manis di wajah Arya


Sungguh Arya tidak menyadari jika wajahnya sekarang menghitam


" Hati - hati di jalan kak "


Arya melambaikan tangannya meski mobil telah berlalu pergi


" Hmm Aditya tamatlah riwayatmu ,aku sudah sangat mengantuk sebaiknya aku juga harus beristirahat, ntah apa yang terjadi besok, maka biarlah tetap terjadi "


Arya berjalan beranjak masuk kedalam rumah


bersamaan itu pula ia nampak paman dan bibi juga berjalan masuk, Arya sengaja menunggu di depan pintu agar dapat menyapa paman dan bibinya yang tampak acak - acakan sekali, rambut mereka sudah tak seperti rambut manusia lagi, ntah bagaimana mereka menangis hingga model rambut mereka sudah seperti rambut bintang rock legendaris ahmad albar saja


Mereka berjalan dengan bergandeng tangan dan menunduk kebawah


Arya yang sengaja menunggu di buat kaget saat paman dan bibi mendekatinya


" Paman dan bibi ayo kita tidur "


Mereka berdua yang berjalan menunduk langsung mengangkat kepalanya lalu berteriak sekuat - kuatnya


" Hantuuuu....


hantuuuuuu ! " Suara teriakan mereka berdua membangunkan seisi rumah termasuk Aditya yang sedang tertidur lelap


" Aaaaaa dimana hantu " Arya pun ikut - ikutan bersembunyi dibelakang paman dan bibi


Aditya terpaksa turun kebawah dan melihat apa yang terjadi " Ada apa ini ribut - ribut "


" Mana hantunya " Aditya melihat kekiri dan kekanan


" Kalian semua hanya berhalusinasi saja, makanya istirahat sudah jam berapa ini "


" Baiklah " Arya membuka wajahnya


" aaaaaaaaaaa "Aditya ikut - ikutan kaget


lalu berusaha bersikap cool kembali


jangan sampai ia ketahuan kalau nyalinya juga ciut, dia bisa malu jika pikirannya


sekarang sudah teracuni gara - gara kata


" Hantu "


Maafkan aku nenek aku tak bermaksud seperti itu


Arya kembali melompat kearah Aditya, kali ini


Aditya langsung memarahi Arya. " Arya kenapa wajahmu begitu "


" Wajahku ? kenapa emangnya " Memegang wajahnya


Lalu Aditya Menarik Arya kedepan cermin besar yang tergantung di dinding


" Aaaaaaaa" Arya sendiri kaget melihat wajahnya yang menghitam


ia baru sadar tadi asap mobil Bima tepat mengenainya


Belum sempat ia memberikan penjelasan


Aditya langsung naik keataas " Kau ini hanya bisa menganggu tidurku saja ,cepat cuci muka mu !"


Paman dan bibi pun langsung menuju kamarnya


Mama papa Aditya membuka pintu melihat sebentar lalu kembali tidur " Tidak ada apa - apa ,ayo kembali tidur ma "


Menutup kembali


" Aditya.... " Arya hendak memanggil Aditya perihal rekaman suara Bima yang tadi sengaja di rekam untuk di berikan kepada Aditya


" Aku mau tidur, besok saja "


Bruggggg


Terdengar suara pintu kamar Aditya tertutup


"Baiklah Arya sepertinya besok pagi saja, kasian dia sepertinya kelelahan sekali "


Arya berjalan kekamar mandi untuk mencuci muka lalu berjalan kekamar dan merebahkan tubuhnya


.......


Keesokan pagi


Ana sudah bangun dan memegang punggungnya yang masih terasa sangat sakit

__ADS_1


" Awwww sakit sekali "


Melihat sekeliling dan tampak seorang lelaki berdiri


tetapi lelaki yang berdiri di sampingnya bukanlah lelaki yang ia harapkan


" Kak Bima ? ,mana Aditya "


Ana melihat tak nampak mana suaminya


Bima melipat kedua tangannya di dada


" Kau sudah sadar kan ayo ikut aku pulang"


Bima berbicara datar menyuruh Anya menyiapkan beberapa baju Ana yang sengaja ia bawa


" Nanti akan aku ceritakan semuanya di rumah" Bima bersiap untuk keluar kamar


Kakak ipar Ana yang juga seorang dokter pun masuk kedalam ia segera menyuruh Ana untuk mengganti baju yang sudah ia bawa


" Bagaimana keadaanmu Ana apa masih pusing "


Anya sangatlah ramah bertanya pada Ana


Ana mencoba berdiri


" Aku rasa aku sudah baik - baik saja kak "


" Ayo sini biar kakak bantu " Bima menahan air matanya kelur dari kelopak matanya


ia merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Ana tak sepantasnya adiknya yang sangat ia sayangi itu mendapatkan perlakuan memalukan seperti itu


Anya dan Bima menggandeng tangan Ana


naik kedalam mobil dan melaju


Ana merasa heran saat di dalam mobil Bima malah membawa mobil kerumah orang tua Ana


" Kak Bima, kenapa Ana pulang kesini nanti Aditya bingung kenapa Ana nggak pulang "


Anya dan Bima saling berpandangan


satu sama lain mereka sepakat untuk tidak menceritakan apa yang terjadi semalam


mereka takut akan menyebabkan psikis Ana terganggu, akan berpengaruh kepada janinnya jika ia stress


" Turunlah dulu " Bima berbicara lembut sambil membuka pintu mobil


tampak wajah ibu Ana begitu sembab kedua matanya tampak bengkak akibat menangis semalaman ,ia sampai tak bisa tidur memikirkan nasib Ana kedepannya


Mereka sempat berpikir jika anak yang di kandung Ana memang bukan anak Aditya bagaimana,


untunglah Bima sangat meyakini jika Ana tak serendah itu


" Beristirahatlah dulu di kamar " Menyuruh Anya membawanya kekamar


"Kak nanti bagaimana jika Aditya mencariku "


Bima memberi kode agar segera membawa Ana kekamar


Bima merebahkan tubuhnya di kursi, ia menarik rambut dan kedua tangannya


Ayah dan ibunya tampak sedih sekali memikirkan nasib Ana


" Jangan biarkan Ana keluar dari rumah ini jika Aditya tak menjemputnya dan meminta maaf pada keluarga kita "


Bima nampak sangat emosi " Sudah nak, kita tak perlu emosi menghadapi masalah ini, kita harus mendengar apa yang sebenarnya terjadi antara mereka, tenang sajalah ayah yakin nak. Aditya hanya emosi sesaat


apa lagi malam tadi kejadiannya begitu cepat "


"Ini semua salah Bima bu, salah Bima "


......


Di rumah Aditya


Aditya bangun kesiangan begitu juga Arya


" Hah jam berapa ini "


Aditya turun kebawah mandi dan segera bergegas untuk berangkat kerja


ia memanggil Ana


" Ana..... Ana "


Sejenak ia langsung teringat kejadian yang terjadi malam tadi


mengambil ponselnya dan membuka satu pesan yang masuk


" Selamat pagi tuan Aditya apa kabar istri cantik dan calon bayimu itu "


Dengan seketika Aditya membanting gelas kedinding


hingga pecah berserakan


tampak paman dan bibi yang hendak berpamitan pulang kedesa terkejut melihat Aditya melempar gelas


Arya, oma Rita dan kedua orang tua Aditya langsung mendekat


"Dit, coba kau jelaskan dengan papa apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahanmu dengan Ana,


cepat kau jelaskan, karena poto kau bersama Amanda berpelukan juga di kirim ke ponsel papa dan mama "


Papa Aditya tampak sangat marah


"Kenapa kau diam, ha poto ini di ambil ketika kalian sudah menikah ,papa dan mama tidak sembarangan memilihkan calon istri uuntukmu dan bahkan mama tidak mempercayai apa yang sudah mama lihat antara Ana dan Dimas, mama tau siapa yang harus di percaya "


Arya hanya menunduk tak tau harus menjawab apa ia terjebak di antara pertikaian anak dan orang tua


"Arya !!! " Papa Aditya berteriak memanggilnya


" Iya Om "


" Cepat kau cari tau siapa pengirim pesan tersebut "


Bergegas Arya mengganti pakaian dan pergi untuk mencari tau siapa pengirimnya


" Baik Om " Arya langsung meluncur dan meninggalkan Aditya yang siap di sidang seorang diri di tengah - tengah keluarganya

__ADS_1


__ADS_2