
Semua terdiam saat mendengar ucapan Siska yang terkesan begitu ketus,
karena cuma Arya yang tau semuanya maka mau tidak mau ia harus menjelaskan semuanya pada Siska,
sedangkan ia dan Siska malam tadi baru mengalami kejadian yang tidak mengenakkan
" Tolong cepat kau jelaskan Arya "
Dimas menyuruh Arya menjelaskannya
Wajah Arya kembali menjadi berubah kaku, ia mulutnya seolah terkunci tak bisa di gerakkan sama sekali
" Siapa yang mau menjelaskan dia ! "
Siska menaikkan bibirnya sebelah, ciri khas Siska jika ia tidak senang dengan orang lain
Siska bersikap terkesan sangat kasar sekali pada Arya
"Siska jaga sikapmu "
Dimas memarahi Siska
" Apa kak Dimas, cerewet sekali hidupmu ya,
kau tidak berhak memarahi ku lagi sekarang
karena aku bukanlah tanggung jawabmu lagi "
Dimas terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Siska, sebenarnya ia ingin sekali memarahinya tapi ini tempat umum jika ia membuka suara membalasnya, sudah di pastikan Siska akan memakinya dengan segala apa yang ada kepalanya
Arya masih menunduk berpura -pura memegang laptop yang berada di atas meja
Oh Siska aku tau kau begitu marah padaku, tapi tolong mengertilah aku terpaksa melakukan itu, tak apa kau membenciku
itu lebih baik
"Ehem " Aditya berdehem gantian karena tatapan mata Arya begitu tajam melihat Siska
karena takut jika nanti Dimas akan marah padanya
" Baiklah " Arya tersadar dari lamunannya dan langsung memberikan laptop kepada Siska
" Ini coba kau lihatlah "
"Laptop, kenapa dengan laptopnya "
Masih menjawab dengan sangat jutek sekali
" Siska coba kau lihat dulu, please berhentilah bersikap seperti itu, kita semua lelah atas kejadian yang terjadi malam tadi, please "
Ana memohon, tentu saja Siska sama sekali tak bisa menolak keinginan sahabtnya Ana , baginya Ana bukan sekedar sahabat bahkan sudah seperti saudara kandung baginya
__ADS_1
" Iya " Siska merendahkan suaranya
" Sini laptopnya mana, "
Arya mendorong laptopnya dan memberikan pada Siska
Siska melihat laptop dan melihat Ana yang sedang berada dalam ruangan rumah sakit
" Ini kapan kejadiannya, kok aku nggak tau kamu masuk rumah sakit Ana "
Siska merasa heran
" Itu malam tadi sudah kamu pulang, acara pestanya jadi kacau balau karena sesuatu hal terjadi dan aku tidak sadar tau - tau bangun pagi aku udah di rumah sakit "
" Kejadian apa sih aku semakin tak mengerti "
" Udah coba lihat aja dulu rekaman di laptop itu "
Dimas bersuara kembali
Siska melihat Rima yang mengendap masuk dan menaruh sesuatu didalam kamar rumah sakit tempat Ana di rawat
" Rima, ngapain masuk kamar Ana, dan itu apa yang ia taruh di sana, apa sih yang terjadi ini apa maksudnya "
Siska semakin bingung di buatnya terlebih Siska kan masih menggunakan pentium satu, jadi jaringannya agak lambat nyambung wkwkwkw
" Jadi begini malam tadi"
Dimas menjelaskan apa yang terjadi tadi malam, kepergian nenek, panggung rubuh dan perkelahiannya dan Aditya malam tadi
" Astaga gilaaaaa, aku tak. percaya mana mungkin ia bisa melakukan itu"
Siska mengusap wajahnya
" Kalian dapat informasi ini dari siapa, nggak.. aku nggak percaya Rima itu kayak gini, ini pasti salah "
Siska sama seperti Ana ia tak terima dengan apa yang baru saja di lihatnya
"Iya Siska aku juga awalnya tak percaya aku juga tak menyangka jika ia bisa melakukan itu "
Ana langsung menangis, dan mereka berdua saling berpelukan
"Jadi ini semua benar "
Siska melihat kearah Arya dan Dimas
" Ya ampun Ana, untung saja kamu dan calon keponakanku tidak apa - apa
kau jangan khawatir . Tenang saja Ana ,aku akan menghajarnya nanti, untung saja kau tidak kenapa - kenapa benar - benar kita tertipu dengan sikapnya yang begitu polos"
Siska menggebrak meja
__ADS_1
Arya, Aditya dan Dimas menutup mulut mereka
" Awwwww"
"Ternyata mereka berdua sama saja "
Aditya menutup wajahnya
"Tunggu dulu Siska kita punya cara lain untuk menghadapinya, ingat dia ini bukan gadis bodoh sepertimu, ia hanya
berpura -pura lugu "
Siska melirik kearah Dimas " Ya sebodoh -bodohnya aku kau tak lebih baik dari aku "
" Sudah - sudah hentikan, kenapa kalian jadi ikut - ikutan bertengkar seperti ini sih,aku setuju dengan ide Dimas "
" Ehh.. jangan, aku tak mau kalian menyakitinya tugas kalian hanya satu berpura - pura lah tidak mengetahui hal. ini bersikaplah seperti biasanya, aku mohon "
Arya memohon
Siska yang terpancing emosi karena Arya yang bberbicara menambah ia semakin kesal saja
" Apa kau bilang aku dan Ana harus berpura - pura, kau pikir idemu bagus, idemu itu sangat bodoh, itu justru membahayakan kami, apa kau lupa kejadian yang menimpa bokongmu itu "
Siska mengingatkan kejadian bokong Arya yang menempel di kursi kantin kala itu
Aditya tersenyum menahan tawa, termasuk Ana yang sedih jadi ikut tertawa mereka berdua menutup mulutnya dan saling berpandangan
"Bukan begitu maksudku..."
Siska langsung saja ngegas sama sekali tak memberikan kesempatan untuk Arya menjelaskan maksudnya
"Atau jangan - jangan kau memang hobi memperlihatkan bentuk bokongmu itu kan yang memiliki tahi lalat besar berwarna hitam ada sedikit bulu di ujungnya,
berada di sebelah kiri, terletak mengarah ke utara dan bersebelahan dengan timur laut itu kau sangat bangga di lihat banyak orang iya kan? "
Siska tak sadar dengan apa yang ia ucapkan karena terpancing emosi oleh kelakuan Arya malam tadi
Ana dan Aditya yang tadinya tertawa terdiam. langsung tak bersuara karena tak menyangka Siska mengingat begitu detail bokong Arya
Sialan dia benar - benar tau letak. tahi lalat di bokongku,benar - benar memalukan sekali
Ana menyenggol Siska " Siska kontrol emosimu "
Wajah Dimas memerah ia tak menyangka jika Siska memperhatikan dengan sangat detail, bokong Arya ia hanya diam tak bisa berbuat apapun karena ia tau jika Arya dan Siska saling mencintai
Dimas tampak. cemas ia takut jika Siska dan Arya bertengkar dan ia akan menjadi merasa amat bersalah karena ia lah Siska dan Arya tak bersatu
Dimas langsung memotong obrolannya
" Malam tadi aku langsung menelpon Arjuna karena aku tidak yakin bisa membawa motor sendirian karena kepalaku pusing sekali, ditambah lagi pukulan Aditya sangat keras sekali, untunglah ada Arjuna ia aku suruh membawa motorku, dan aku membawa mobilnya meski aku tau ia tak terlalu lancar membawa motor, akhirnya aku sampai di rumah tapi aku tak tau apa. Arjuna sampai jam berapa "
__ADS_1
Suasana menjadi tegang, wajah Arya tampak sedih, sedih karena ia sadar Arjuna adalah suami Siska, senang karena ternyata Siska sangat hapal. letak titik kordinat tahi lalatnya itu
Aditya dan Ana hanya menjadi penonton atas dua hati yang sama - sama sakit atas nama cinta yang tak bisa memiliki