Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 159


__ADS_3

Ana mendengar sayup - sayup obrolan Bima dan keluarganya tetapi ia tak mungkin berdiri keluar untuk mendengarkan apa lagi tadi ia sudah di suruh masuk kedalam kamar untuk beristirahat


Di tambah lagi kakak iparnya masih berada di dalam kamar, meski tingkat kekepoannya telah mencapai klimaks ,tak mungkin ia harus mengusir kakak iparnya dari dalam kamar


Anya keluar dari kamar Ana " Istirahatlah yah kasihan bayimu kau masih terlihat sangat lemah sayang "


Anya mengecup kening adik iparnya itu, iya sungguh sangat baik, lembut dan cantik sekali hatinya


Ana mengangguk paham sambil tersenyum


" Terimakasih kak Anya "


" Sama - sama sayang, sudah sekarang cepat kau istirahat saja dulu pikirkan kesehatan calon bayimu "


" Kak Anya " Ana memanggil Anya kembali, membuat kakak iparnya itu menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar Ana


Ia pun behenti dan menoleh kearah Ana.


" Ada apa lagi Ana " Anya menjawab sangat lembut sekali ini lah salah satu yang menyebabkan kakak Ana, Bima betah berlama - lama mengobrol dengan istrinya selain pintar ia adalah sosok istri sempurna


Tetapi sepertinya Anya sudah tau apa yang ingin ditanyakan Ana, apa lagi ia adalah seorang dokter yang juga sedikit banyak mempelajari ilmu ppsikologi


" Kak apa ada yang kau sembunyikan dariku "


Ana merasa curiga, raut wajah Anya berubah


ia adalah perempuan yang tak bisa berbohong sama sekali


" Sudahlah ayo cepat istirahat " Anya tampak gugup menjawab pertanyaan Ana dan langsung keluar kamar


Anya langsung menutup pintu kamar Ana


Ana tak sebodoh itu, ia yang sedang mencari tau apa sebenarnya yang terjadi langsung berusaha untuk mencari tau apa yang sedang di sembunyikan keluarganya


Ana tak bisa tinggal diam ia pun mencoba bangun dari tempat tidur, Dengan memegang bekas luka di punggungnya yang di balut dengan perban ia berusaha keras untuk


Berdiri dan mencoba menahan rasa sakit di punggungya ,meski lukanya tak dalam tetapi tetap saja luka sedikit itu dapat menganggu punggungnya, walau terasa lumayan agak nyeri


belum lagi anak yang di dalam kandungannya sudah menunjukkan pergerakan yang sangat aktif sekali ia mulai menendang - nendang


di dalam perut Ana


Berdiri di depan pintu dan menempelkan daun telinganya tepat di depan pintu kamar


Terdengar suara teriakan Bima yang besar sekali


" Pokoknya aku tidak mau Ana kembali kerumah itu, apa kalian tak melihat malam tadi apa yang terjadi, mereka semua bungkam tak ada satupun yang merespons poto - poto itu, sedangkan Aditya langsung pergi saja tanpa menjelaskan apapun di depan keluarganya,


aku tidak mau mereka mengira anak yang di kandung Ana bukan anak Aditya,


apa mereka pikir Ana semurah itu , apa karena mereka orang kaya bisa seenaknya menilai Ana yang tidak - tidak !"


Bima marah sekali


" Bima kecilkan suaramu, nanti Ana bisa dengar " Anya berusaha meredam emosi Bima yang tak bisa terkontrol lagi


Ana langsung terkejut sekali bagaikan di sambar petir di pagi hari . ia tak mengerti apa yang terjadi,


Ana memegang dadanya ia terkejut bukan kepalang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Bima


ia sudah tak sabar lagi ingin tau, apa yang di takutkan Anya terjadi, Ana menerobos keluar kamar dan bertanya langsung


" Kak Bima apa sebenarnya yang terjadi "


Bima, ayah ibunya dan Anya tampak sangat tegang sekali


ketika melihat Ana sudah berdiri di depan pintu kamarnya


Ibunya langsung berdiri wajahnya langsung pucat karena takut akan membuat Ana menjadi stress


" Sayang kau kenapa di situ ayo cepat kembali istirahat "


"Singkirkan tangan ibu, Ana ingin tau apa yang sebenarnya terjadi "


Ana menangis terisak


" Aku harus pulang, aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi "


Ana berjalan dengan cepat


" Ana hentikan kau tak boleh kembali kesana "


Bima berteriak kencang


" Dia suamiku dan aku sedang mengandung anaknya tak semudah itu kalian menghalangiku "


" Kau tak mengerti apa yang terjadi, lebih baik kau tak usah kesana karena akan sia - sia


aku tak mau kau akan semakin terhina berada di sana nanti "


Bima berusaha keras agar Ana tak jadi pergi


Tetapi mereka lupa Ana bukanlah orang yang bisa di pengaruhi, jika suatu hal itu belum ia lihat kebenarannya di depan mata, ia tak akan mungkin percaya ia lebih memilih mencari tau terlebih dahulu sebelum berkata apa - apa

__ADS_1


Ayahnya menahan Bima yang hendak mengejar Ana " Hentikan Bima benar kata Ana, ini masalah rumah tangga mereka kita tak berhak ikut campur biarkan saja Ana pulang kerumahnya dulu "


" Tapi Ayah... "


" Stop nak, kapasitas kita hanya keluarga, salah besar kita memisahkan istri dari suaminya biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, ayah tau kau sangat sayang pada adikmu


tapi ingat satu hal nak, jangan pernah mencampuri urusan rumah tangga orang lain meski itu saudara kandungmu sendiri, kecuali ia meminta pendapat padamu "


Bima terdiam dan langsung kembali duduk


" Baiklah Ayah "


Anya langsung datang mendekat membawakan minuman dingin di tangannya


untuk menyejukkan hati Bima yang sedang kepanasan


" Ini minumlah, aku tau kau juga sangat lelah semalaman "


Benarlah kata pepatah sebaik - baiknya perhiasan di dunia adalah istri soleha, Anya adalah embun yang menyejukkan tak pernah sekalipun bermuka masam menghadapi suaminya


Bima melemparkan senyum dan mengelus kepala istrinya " Terimakasih sayang "


Dua orang anak kembar yang di anugrahi oleh tuhan menambah kelengkapan kebahagiaan mereka berdua


Meski Bima masih memikirkan Ana yang pergi seorang diri kerumah Aditya ,


" Aku tak bisa berhenti mengkhawatirkan Ana"


Bima kembali bersandar di kursi tampak ibunya menangis terisak di dapur


" Sebaiknya aku menemani ibu dulu "


Anya meminta izin untuk melihat mertuanya itu yang benar - benar tampak sangat terpukul bagaimana tidak, putri yang selama ini ia jaga dengan sebaik - baiknya ia besarkan dengan seluruh curahan kasih sayang, harus menghadapi cobaan sebesar itu,


" Sudahlah, ibu ayo sebaiknya ibu istirahat juga "


Dua orang anak kembar itu berteriak memanggil neneknya " Nenek mamam, mamam "


" Hey sayang, nggak boleh gitu lihat nenek lagi tidak enak badan kalian jangan nakal, sama mama aja ya mamamnya "


mereka berdua nampak merajuk " Mau nya sama nenek aja, kan ****** - ****** ketemu nenek di cini "


Mereka berbicara sudah lancar hanya saja ada beberapa kata yang belum tembus


Kasih ibu memang sepanjang masa, tapi kasih nenek pada cucu juga tak kalah luar biasanya, dengan mengelap air matanya ibu mertua Anya tersebut langsung mencium kedua cucu kembarnya itu yang begitu lucu dan menggemaskan


" Ya udah ayo sini sama nenek sayang mamamnya "


" Horeee acikkkk nenek baik, nenek baik "


.......


Ana yang sudah tak puas hatinya langsung saja memanggil taksi di pinggir jalan lalu naik kedalam taksi dan langsung menuju rumahnya


didalam mobil ia tampak emosional sekali mungkin karena ia merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan kakaknya


" Aku tak menyangka Kak Bima tega sekali melakukan ini padaku, aku tak percaya dengan apa yang ia katakan, padahal dulu ia yang menjodohkan aku pada Aditya, aku sungguh heran melihat sifat manusia yang bisa berubah dalam sekejap "


Ana menghapus air matanya yang jatuh di pipi, meski sesekali masih berlinang tak berhenti


......


Aditya yang masih berada di posisi terdakwa benar - benar tak bisa berkutik, bayangkan saja ia sudah berada di kelilingi, papa, mamanya dan tentu saja oma Rita,


Tidak lupa Arya yang duduk di meja makan berpura - pura sedang makan , tapi dari tadi tak selesai - selesai, hanya karena ingin melihat Aditya kena marah keluarganya


Disisi lain ia sangat setuju dengan cara itu, tapi ia juga tak mampu berbuat apapun untuk menolong Aditya


" Kenapa kau lama sekali makan, kau sengaja kan ? "


Aditya berbicara berbisik kearah Arya yang masih berada di sampingnya


" Kau tak lihat aku sedang makan "


Arya tersenyum menampakkan giginya


" Bagaimana mungkin kau bisa menghabiskan nasi di piringmu, jika kau hanya memasukkan satu persatu butir nasi kedalam mulutmu "


Aditya tampak geram karena ia tau Arya sengaja seperti itu


" Adityaaa!!!! "


Terdengar suara papanya memanggil Aditya


"Apa kau tak sadar sudah melakukan kesalahan besar ha , apa kau lupa sekarang kau itu bukan bujangan lagi, kau itu kepala keluarga dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah "


Karena seluruh keluarganya tau bagaimana Aditya apalagi mereka juga tau sebelumnya Amanda adalah kekasih Aditya


" Aditya!!! papa tidak mau tau, kau sekarang tinggal pilih mempercayai pesan aneh itu atau papa sendiri yang turun tangan langsung untuk menghujun mu kau tidak boleh sama sekali bertemu dengan Ana sampai ia melahirkan "


Papanya membuka kembali video rekaman di layar tersebut


Semuanya memperhatikan gambar Ana dan Dimas di poto itu ternyata dari tadi Ana melihat apa saja yang terjadi di rumah itu

__ADS_1


" Sudah kau lihat Ana , sekarang kau lihat videomu dengan Amanda "


Memutar ulang dan seluruh keluarganya sangat jijik melihat kelakuan Aditya termasuk oma Rita,


Nyali Aditya lansgung ciut,apa lagi ia sangat takut di marahi kedua orang tuanya, dan kali ini mereka berdua sudah seperti sepasang singa yang siap menerkam mangsanya


" Kau menjijikkan sekali Aditya kali ini oma benar - benar kecewa padamu "


Oma Rita pun ikut berkomentar


Oma Rita berjalan tertatih hendak keluar dari dalam rumah


"Meskipun kau putraku satu satunya, kau berani sekali mencurigai Ana "


Mamanya tak kalah emosi


" Biarkan saja dia Ma, aku sendiri yang memastikan kalau ia tak boleh bertemu dengan Ana dan bayinya nanti "


Aditya merasa sangat bingung, bisa -bisa nya seluruh keluarganya menuduh ia tak mempercayai Ana padahal ia sama sekali belum mengatakan apapun


" Tapi dengarkan dulu Aditya berbicara papa, mama ,oma '


Aditya merendahkan suaranya karena ia tau sekalipun ia berbicara saat ini, dia juga akan tetap menjadi terdakwa


" Apa lagi yang harus kami dengarkan, mama benar - benar kecewa padamu, mama tak menyangka kau serendah itu, bisa - bisanya kau yang sudah berstatus menikah pergi dengan perempuan lain,. apa kau pikir pernikahan itu bisa di buat main - main "


Mamanya marah sekali


" Tapi itu kan dulu Ma, se.... "


Aditya masih berusaha untuk menjelaskan tapi tampaknya semua akan sia - sia saja


Tiba - tiba terdengar suara


Plakk..


bunyi pas bunga terjatuh kelantai


Semuanya terkejut seketika melihat Ana berdiri dengan air mata yang berurai dipipinya


Arya pun ikut - ikutan terkejut membuat ia ikut - ikutan berdiri " Oooowwww kawan sepertinya kau akan mendapatkan masalah besar "


Arya melirik kearah Aditya


" Ana sayang " Oma Rita berusaha mengejar wanita yang sedang hamil besar itu dengan tongkat di tangannya


Aditya tampak sangat panik " Oh siall, ini akan lebih sulit lagi , bagaimana lagi aku harus membujuknya ,ia sangat keras kepala "


Aditya menarik rambutnya


" Cepat kau kejar dia bodoh " Arya memarahi Aditya yang Hanya berdiri saja


Mama dan papa langsung pergi menyusul Ana, yang berlari keluar dengan perutnya yang besar itu


" Dengar Aditya Itu masalah mu, mama dan papa tidak bisa membantumu, siapa yang memulai berarti dia yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya " Mama dan papa Aditya sesungguhnya sedang memberi pelajaran pada Aditya karena mereka tau Aditya memang harus di beri pelajaran ,masalah poto - poto Ana bersama Dimas itu bukanlah masalah besar bagi mereka karena mereka


sangat tau siapa menantu mereka,


tidak mungkin keluarga bratawijaya membiarkan orang yang tak jelas latar belakangnya menjadi menantu keluarga ini


Mama nya tiba - tiba berhenti berjalan dan berbicara menatap mata Aditya, sebagai seorang wanita yang lebih dulu menjalani kehidupan berumah tangga tentu saja ia tau apa yang terjadi, terlebih ia dan papa Aditya juga dulu di jodohkan


" Dit, apa kau pernah menyatakan cinta pada istrimu seperti yang di lakukan papa kepada mama setiap hari ? "


Pertanyaan yang keluar dari mulut mamanya membuat Aditya tersentak, itu memang benar bahkan sampai hari ini ia tak pernah mengucapkannya secara langsung. bukan karena ia tak cinta tapi karena rasa cintanya yang terlalu besar membuat bibirnya kaku tak berani berkata apapun di hadapan Ana


" Kenapa diam ha, mmm Mama rasa kau tak pernah bukan "


" Bukan begitu ma "


Aditya masih berusaha membela tetapi ia kembali kena bentak oleh papanya


" Lihat saja kelakuanmu itu bukannya mengejar Ana, kau hanya berdiri mematung papa sungguh kecewa dengan sikapmu "


Arya yang terpancing emosinya melihat sikap Aditya yang menurutnya payah langsung lepas kendali " Aduh Aditya kau potong saja burun* mu, lemah sekali paayah !"


Aditya langsung melotot ke arah Arya " Bukannya membantuku meredam emosi mereka kau malah ikut - ikutan membully ku,


teman seperti apa itu " Aditya berbicara berbisik dengan memajukan bibirnya


Arya langsung terdiam dan melipat kedua tangannya memberi kode minta maaf dan menaruh tangannya di mulut pertanda bahwa ia akan mengunci mulutnya


Aditya berdiri dengan wajah yang sangat masam


" Kenapa jadi rumit sekali sih masalah ini, aku tidak sedang melakukan apapun wooy ! "


" Apa nya yang tidak melakukan apapun, bagaimana caranya kau bisa bersama Amanda, apa Ana yang melakukannya, sedangkan mama yakin ia sangat terluka dengan sikapmu itu "


Mamanya melipat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya


" Kelakuan anakmu pa "


" itu kelakuan anak mama "

__ADS_1


Kedua orang tuanya tampak saling menyalahkan sementara itu Ana sudah tak tampak lagi di hadapan mereka


__ADS_2