Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 156


__ADS_3

Suasana duka mulai terasa menyelimuti ruangan tunggu ruma sakit , banjir air mata kembali tumpah ruah,


terdengar suara teriakan dari kedua anak angkat nenek, bibi hampir saja pingsan untung saja paman dengan cepat Menggendongnya masuk kedalam mobil


Pihak rumah sakit tak mampu berbuat apa - apa lagi tentu saja siapa yang mampu melawan kehendak takdir, janji nenek telah sampai, hari ini ia memang harus pulang ketempat asalnya , meski dengan cara yang tragis,


Walaupun maksud acara syukuran itu baik, tetapi benarlah kita sebagai manusia seharusnya jangan terlalu berlebih - lebihan dalam membuat suatu acara syukuran terlebih ini hanya lah acara tujuh bulanan yang tidak ada di anjurkan dalam syariat agama mereka, sebaiknya keluarga kaya seperti mereka lebih baik membagi - bagikan uang kepada para faqir yang tidak mampu,


mereka adalah salah satu keluarga yang terkenal dermawan


gila - gilaan kalau sedekah, mungkin bagi mereka acara yang mereka buat sangat sederhana, cuma yah mau bagaimana lagi semua sudah terjadi di ambil saja pelajaran untuk kedepannya


" Ambil hikmahnya bu, dari kejadian yang menimpa Ana kita bisa menyimpulkan bahwa sekuat dan sehebat apapun pangkat dan jabatan orang untuk melindungi diri dan keluarganya, hanya dengan secuil besi bisa membuat berantakan " Bima memeluk erat ibunya mereka pun tampak ikut bersedih atas kepergian nenek terlebih nenek lah yang menyelamatkan Ana, jika tak ada nenek ntah bagaimana nasib Ana


Semenjak menikah dengan Anya, Bima banyak sekali berubah, walaupun secara fisik Anya memang tidak menarik tetapi ia memiliki inner beauty yang sempurna sehingga siapapun yang berada di sampingnya akan merasa nyaman,


Anya perempuan yang beruntung terlahir dari keluarga kaya.


mungkin ia bisa saja operasi plastik, untuk merubah parasnya tetapi inner beauty yang ia miliki mampu membuat Bima betah dan nyaman hidup di sampingnya


" Bawa jenazahnya pulang kerumah ,dia akan di makamkan di tempat pemakaman keluarga " Oma Rita nenangis dan suaranya hampi tak terdengar karena menangis terus menerus


" Oma kau jangan menangis lagi " Aditya memeluk Oma nya


" Dia penyelamat anakmu Aditya, dia mengorbankan hidupnya untuk kita "


Oma memeluk Aditya dengan erat


Semua orang bersiap untuk pulang , Papa Aditya telah menyuruh orang - orang untuk mengurus pemakamannya , kerabat sudah mulai berdatangan kerumah sakit untuk mengantarkan nenek malam itu juga kepemakaman terakhir,


" Nak Kau tinggallah di sini temani Ana ia sedang hamil " Mamanya menyuruh Aditya tinggal di rumah sakit


" Jangan nak , sebaiknya kau pulang saja lagian di sini ada suster yang menjaga Ana ia akan baik - baik saja " ucap ibu Ana


Ibu ,Ayah, dan Bima mendekati Aditya


" Kau pulanglah Ana akan baik - baik saja disini " Ayah mertuanya pun menyuruhnya untuk pulang


" Tapi aku tak bisa meninggalkannya seorang diri "


" Pulang lah nak, dia nenekmu yang telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Anak dan istrimu, memang itu adalah takdir nya tetapi tetap saja berikan penghormatan terakhir padanya "


Semua nya ikut pulang untuk membawa nenek untuk segera di makamkan malam ini juga termasuk keluarga Ana,


Sebelum pulang Aditya berpesan untuk suster menjaga Ana di dalam ruangan


Oma Rita dan seluruh keluarga Aditya tampak tak ada yang bersuara


Tinggallah Ana seorang diri di rumah sakit masih dalam keadaan pingsan


Semua orang yang berada di rumah sakit telah pulang tapi tidak dengan Dimas Ia menyelinap masuk kedalam kamar Ana dan duduk di samping Ana dengan memegang tangan Ana


sejenak ia melupakan Rima yang masih menunggunya di luar,


untung saja Arya melihat Rima berada di luar, Arya yang tau Rima adalah sahabat baik Ana langsung mengajaknya pulang karena sudah larut malam


" Rima kau tidak pulang "


" Aku tadi bersama kak Dimas kak, tapi sepertinya dia sudah pulang duluan " Wajah Rima tampak sedih


" Ya sudahlah ayo "


Arya pun mengantar Rima pulang


kerumah


.....


Dimas yang tinggal sendirian di rumah sakit


langsung masuk kedalam ruangan,


ia membuka pintu dan terkejut melihat dua orang suster duduk berjaga menjaga Ana


" Permisi, "


" Iya pak "


" Saya keluarganya di suruh Aditya untuk menemaninya, bisa anda keluar "


Mereka berdua tampak kebingungan


Bukankah tadi Aditya menyuruh mereka berada di dalam ruangan Ana, cuma melihat dari penampilan Dimas yang begitu meyakinkan mereka berdua tak berani membantahnya apa lagi jika sudah berurusan dengan orang kaya, rakyat kecil minggir

__ADS_1


Kedua orang suster itu pun memutuskan langsung keluar kamar


" Permisi pak "


Dimas tersenyum melihat Ana yang sedang tertidur, ternyata rasa cintanya kepada Ana sampai saat ini belum berubah sama sekali masih sama, sejak pertama kali bertemu


Dimas memegang perut Ana, membelai pipi Ana


" Cepat lah kau bangun Ana, aku sangat khawatir melihat keadaanmu seperti ini


kau benar - benar sungguh cantik sekali, kau istimewa tak ada yang bisa menggantikan kecantikanmu sampai saat ini, meski kau telah menyuruhku melupakan aku tapi tetap aku tak bisa "


Dimas berdiri dan mengelap air matanya. tampak cinta yang tak kalah dalamnya terpancar dari mata Dimas untuk Ana


tapi apa yang mau di kata takdir tak bisa berbuat banyak karena Ana sekarang menjadi milik Aditya seutuhnya di tambah lagi buah cinta Aditya dan Ana sudah menggelembung di depan matanya


Dimas tak menyadari jika sesuatu akan terjadi malam ini ia akan menjadi umpan untuk awal boomerang yang akan terjadi dalam kehidupan ia dan Ana selanjutnya.


.....


Di pemakaman telah berkumpul banyak kerabat dan orang penting meski pemakaman di lakukan dini hari , balik lagi rasa solidaritas orang kaya itu tinggi sekali, apa lagi jika menyebut orang kaya, tetapi kalau orang kaya bakhil juga tidak ada yang mau datang kesana,


Pemakaman nenek sangat ramai sekali yang datang di sana ,


setelah selesai Acara pemakaman malam itu jam 01 : 00 dini hari mereka semua memutuskan untuk pulang kerumah masing - masing


Oma Rita pun ikut berpamitan ' Sepupu aku pulang dulu, aku akan sering datang kemari untuk mengunjungimu, beristirahatlah dengan tenang "


" Ayo Ma kita pulang ,pikirkan kesehatanmu "


Mama Aditya memeluk oma Rita


Setelah semua orang pergi meninggalkan pemakaman, tinggallah beberapa orang saja ternyata dia adalah tuan Chang dan beberapa anak buahnya


Tuan Chang menaruh seikat mawar merah di makam nenek sepupu oma Rita tersebut


" Dahlia terimalah bunga ini untukmu, aku tau sejak lama kau mencintaiku dan masih menungguku, itu lah alasan kenapa sampai saat ini aku tak menikah karena aku tak mau melihat kau berduka , maafkan aku Dahlia aku tak bisa membalas cintamu. aku tau kau begitu menyayangi Rita, tetapi maafkanlah aku sampai saat ini tak bisa membuka hatiku untukmu, jika aku harus menikah dengan Rita dan mengalah padanya bagaimana dengan dirimu Dahlia


Rita menikah dengan suaminya karena ia tak mungkin memilihku karena tau kau begitu mencintaiku, sedangkan kau adalah sepupu yang amat di sayangi,


Beristirahatlah dengan tenang Dahlia, kau akan tetap aku kenang di hati, aku tak menyangka malam ini adalah malam terakhir


kita mengobrol bersama, kau hebat ,kau adalah pahlawan keluarga ini "


Ia yang juga sudah tua renta berjalan dengan tertatih dengan di dampingi beberapa anak buahnya masuk kedalam mobil


" Rita aku pamit aku tau kau butuh banyak waktu untuk menenangkan dirimu, bersabarlah Rita karena cepat atau lambat kita akan menyusul ia di sana "


Tuan Chang mengirimkan pesan ke ponsel Oma Rita


Tuan Chang bersalaman dengan beberapa orang yang masih berada di pemakaman , lalu pergi meninggalkan mereka dengan mobilnya


Aditya tidak langsung pulang kerumah ia memutuskan untuk kembali kerumah sakit , melihat Ana yang sendirian


Ia sendirian menyetir mobil menuju rumah sakit


Sebuah pesan masuk di ponselnya , membuat


semua akan berubah segalanya semenjak malam ini


" Astaga aku melupakan sesuatu "


Aditya mencari kunci lemari kamarnya yang sengaja ia bawa dan kunci tersebut terjatuh


" Siapa lagi yang mengirimkan pesan tengah malam begini "


Membuka pesan masuk dari ponselnya


Mata Aditya yang lelah mendadak menyala membaca pesan masuk di ponselnya


" Selamat malam boss besar Aditya bratawijaya, kau adalah manusia paling beruntung di dunia ini, sempurna memiliki


segalanya hahaha"


Tapi kau lupakan satu hal , apa kabar istrimu ?


apa dia masih terbaring lemah


di rumah sakit ?


tentu saja dia masih di sana dan kau meninggalkannya sendirian bukan ,


apa kau sengaja membiarkannya sendirian di sana ha?

__ADS_1


sebagai suami tentu saja kau tak akan membiarkan ia sendirian bukan,


tenang saja jangan khawatir seseorang sangat perhatian sekali pada istrimu dan bayinya "


Aditya mulai merasa naik pitam, pancaran matanya tak kuasa menahan amarah benar -benar mengerikan sekali kemarahan Aditya bagaikan harimau yang siap menerkam mangsanya, tangannya sudah mengepal


" Jangan emosi Aditya sudah kau jangan seprti itu, " Seolah ia paham betul dengan sikap Aditya


" Apa kau sungguh yakin anak yang di kandung istrimu adalah anakmu, hehe


bukankah ia sempat beberapa kali pergi bersama Dimas "


Mengirim beberapa buah poto kebersamaan


Ana dan Dimas , Semakin membuat Aditya sudah tak sabar lagi ingin mencari tau siapa sang pengirim pesan


Selanjutnya ia pun mengirimkan


poto Dimas di rumah sakit beserta videonya mulai dari Dimas mencium kening Ana dan mengelus perut Ana


Aditya langsung terkejut sekali , ia memukul jendela mobil hingga pecah, tak terasa lagi tetesan darah di tangannya,


Lalu tampak terdiam dengan wajah yang tak bersahabat kembali


semua yang di kirim kan si nomor misterius masuk jelas kedalam otaknya , di tambah suasana keluarganya yang masih sangat berduka karena kehilangan nenek, Pengirim pesan hebat sekali masuk kedalam moment yang sangat tepat sengaja ingin mengacaukan pikiran Aditya yang sedang kalut itu


Tak lama selang beberapa menit kemudian pesan kembali masuk kedalam ponsel milik Aditya


" Aku akan membuktikan sesuatu padamu, jika kau ingin tau lebih banyak maka kau harus merahasiakan ini dari siapapun "


Aditya langsung naik darah " ia dengan Cepat mbawakan mobil tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi "


Untung saja Aditya tak menabrak orang, hanya saja ia sempat menabrak pembatas jalan, untunglah ia tak kenapa - napa


Mengemudikan mobil dengan cepat di jalan raya sungguh cara yang tidak tepat apalagi kita sedang tersulut emosi, sangat tidak di anjurkan


Sesampai di rumah sakit Aditya sudah tidak sabar ingin menjumpai Ana dan Dimas, ia berjalan memasuki rumah sakit dengan tangannya yang terluka darahnya berceceran di lantai , sepertinya rasa sakit akibat luka tidak terasa lagi , terkalahkan dengan rasa sakit di hatinya ia langsung menerobos masuk kedalam kamar Ana ,


benar saja Dimas masih berada di sana


ia memegang tangan Ana


Aditya tak tinggal diam ia langsung memberikan satu pukulan yang mendarat tepat di hidung dan ujung bibir Dimas


Dimas tampak terkejut


"Aditya aku bisa... "


Satu buah pukulan tinju kembali mendarat kali ini tepat di pipi Dimas


" Apa yang kau lakukan di kamar ini "


Aditya berteriak sangat keras hingga membuat beberpa penghuni rumah sakit yang berada di dalam kamar lain ikut terbangun


Seorang pasien dari kamar sebelah berlari menuju ruangan perawat jaga untuk melaporkan ada kegaduhan di kamar sebelah membuat anaknya yang sedang di rawat menjadi terbangun dan tidak bisa tidur lagi


Suster kepala pun segera berlari menuju kamar Ana


Dimas yang jatuh tersungkur berdiri dan mencoba menjelaskan kepada Aditya


" Tunggu dulu Dit, jangan salah paham dulu aku bisa jelaskan, ini tak seperti yang kau bayangkan "


Dimas mencoba menjelaskan tetapi tenaga Aditya sangat kuat sekali hingga Dimas tak mampu menangkisnya, tentu saja Tenaga orang terbakar cemburu lebih berkobar dari api kecil lainnya ,


memang benar Dimas yang salah tak seharusnya ia masih berada di kamar ini, yang jelas - jelas Ana adalah istri Aditya sedangkan semua keluarga Ana tak satupun yang menunggu di rumah sakit


Suster jaga yang kebetulan dipanggil untuk mengecek kegaduhan tersebut langsung mendengar keributan dari kamar Ana ia dengan cepat langsung masuk dan mencoba melerai Aditya dan Dimas yang membuat keributan tengah malam begini ,


Suster bertubuh tinggi besar itu tampak lebih menyeramkan dari pada kemarahan Aditya


Ia membentak Aditya dan Dimas


" Tuan tau ini rumah sakit, kalian berdua cepat tinggalkan ruangan ini, pasien lain juga akan terganggu karena keributan yang kalian lakukan, tuan Aditya saya tau anda siapa, saya tidak perduli dengan wewenang yang anda punya, tapi saya tegaskan saya adalah seorang tenaga kesehatan yang bekerja bukan hanya di bayar dengan uang tapi benar - benar memikirkan nasib pasien yang di rawat di rumah sakit ini "


Aditya di usir oleh suster dari rumah sakit milik keluarga bratawijaya ,Aditya tak bisa marah dengan suster tersebut karena ia sama sama sedang hamil besar seperti Ana lagian postur tubuhnya dua kali lipat lebih besar dan tinggi dari Aditya dan Dimas


Ia menurut saja dan berjalan keluar ruangan lalu meninggalkan Ana di kamar, tanpa perlawanan sama sekali


Dimas memegang ujung bibirnya yang berdarah


Sebuah pesan kembali masuk kedalam ponsel Aditya


" Haha hebat sekali jangan kau pukul Dimas terlalu keras , kasihan dia tak bisa nanti melihat anaknya lahir "

__ADS_1


Aditya kembali meradang ia melihat Dimas dengan sangat murkanya, tangannya yang berdarah tak di hiraukannya lagi


__ADS_2