
Suasana menjadi hening tak ada satupun yang bersuara termasuk Siska ,mereka semua tampak salah tingkah
Siska apa yang sudah kau katakan, apa kau lupa jika kau sedang mengorek luka lama, apa kau lupa ada hati yang sedang kau gali kembali rasa sakitnya.
ada tembok pemisah yang akan runtuh jika saja kau terus mengingat itu
apa kau lupa siapa dirimu sekarang!
Siska langsung mengalihkan pembicaraan meski ia terkesan jutek tapi rona di wajahnya tak bisa berbohong
" Jadi sekarang bagaimana? apa Rima nya kita maki - maki atau lapor ke polisi aja "
Ana menatap wajah Siska yang sedang berbicara ia tau jika Siska sedang menyembunyikan perasaannya ,ia tau jika Siska sedang sakit menahan hati. begitu pula Aditya ia juga tau bagaimana perasaan Arya,
Tentu saja Dimas juga menyadarinya
apa lagi dia sampai sekarang pun masih menyimpan rasa bersalah yang luar biasa karena memisahkan Arya dan Siska, Rasa bersalah Dimas yang amat dalam tersebut tidak di ketahui siapapun sampai saat ini
Ana tak bisa berkata apa - apa lagi saat Siska berusaha kembali membahas tentang Rima,
di satu sisi ia tau Rima salah, di sisi lain Ana sama sekali tak bisa terima jika Rima itu bersalah
" Aku tak tau apa lagi yang harus aku lakukan, jika pun ia meminta maaf padaku, pasti akan aku maafkan "
Ana berbicara datar karena itulah sifat Ana ia seorang yang pemaaf tak perduli berapa banyak ia disakiti dan dikecawakan ia selalu memberikan maaf pada siapapun
__ADS_1
Aditya menatap kearah Ana benar saja ia merasa sangat beruntung bisa menikah dengan perempuan istimewa seperti Ana
" Apa kau mau memaafkannya apa. kau sudah gila, sebenarnya aku tidak tega Padanya dan bahkan aku sempat berpikir akan menjodohkan ia pada kak Dimas, tapi aku juga tertipu "
"Sudah sekarang begini saja, sebaiknya kita pulang kerumah saja dulu, kau Dit tenangkan dirimu juga, kita sama - sama lelah, malam tadi terlebih nenek telah menjadi korban dalam tragedi ini ".
"Nenek maksudnya apa? "
Siska merasa heran
"Ha, nenek? bagaimana, aku lupa apa yang terjadi malam tadi dengan nenek "
" Aku semakin bingung apa sebenarnya yang terjadi dengan nenek, sih "
Siska menggaruk. kepalanya, berbeda dengan Ana yang nampak begitu panik
Ana menjelaskan dengan suara agak serak
"ya bagaimana tidak baju ku basah, untung saja Arjuna menjemputku "
Siska melirik Arya
Makjleb Arya bersikap sungguh santai padahal hatinya hancur berkeping - keping
Sakit tapi tak berdarah, sakit banget
__ADS_1
bisa izin buat pergi berteriak sebentar
kurasa jangan Arya itu akan kelihatan sekali
jika kau masih berharap padanya
jangan,.. jangan tampakkan
ingat menganggu istri orang itu dosanya lebih besar
" Nenek kenapa sayang " Ana bertanya pada Aditya
Dengan santai Arya menjawab " Apa Aditya tidak bercerita jika nenek tak tertolong lagi, hingga ia harus meninggalkan kita, apa kau yakin jika Rima tak terlibat dengan semua ini"
Aditya lupa memberi tahu Arya agar tak bercerita pada Ana dulu, karena bisa membuat Ana sedih takutnya nanti ia malah depresk terlebih nenek pergi karena ingin melindungi Ana dan bayinya
"Apa, nenek sudah tiada, dan itu karena menyelamatkan aku "
Air mata mengalir deras kembali
Siska terkejut ia tak gampang menangis karena Hatiny begitu keras, mulut Siska komat kamit membaca doa , ternyata tanpa di sadari diam - diam Arjuna membawa pengaruh bagus pada Siska, lambat laun Siska menjadi hapal doa - doa yang sering di bacakan oleh Arjuna sebelum tidur
meski ia sangat membenci Arjuna tapi ada beberapa pengaruh bagus yang melekat di jiwa Siska, ia tak terlalu sebar - bar dulu lagi
emosinya sudah mulai agak terkontrol
__ADS_1
"Jujur Aku masih bingung apa yang terjadi malam tadi, kak Dimas ayo ceritakan "
Ia tak mungkin bertanya pada Ana yang sedang menangis itu