
" Kau yakin sekali , dia itu perempuan lugu Arya "
Dimas bertanya dengan agak menekan
" Yah itu lah yang kalian tidak tau , kita tertipu dengan penampilannya, aku juga tak percaya awalnya tetapi semua bukti memang menunjukkan dia pelakunya, mau bagaimana lagi, jika dengan keluguannya saja kita bisa tertipu , dan satu hal lagi yang harus kalian ketahui ia sungguh membencimu Ana "
Arya duduk kembali , tadi posisinya berdiri dan ia menyuruh Ana untuk melihat laptop sekali lagi
" Ini kau lihatlah, perhatikan dengan jelas setiap gerak - geriknya aku tidak mau kau salahkan Ana, jika aku menuduh tanpa bukti itu berarti aku memfitnah Rima, bukannya aku ini tidak tau jika fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan '
Arya tampak puas karena melihat reaksi Ana yang tadinya menyalahkan dirinya sekarang tampak berbalik memberi dukungan kembali kepadanya
" Tapi kenapa ia melakukan itu padaku " Ana menangis tak menyangka jika Rima setega itu padanya
" Sudahlah sayang kau tak pantas menangisi teman seperti dia, "
Aditya memeluk erat Ana ya, dengan catatan ia sesekali melirik Dimas yang terus saja memandang Ana diam - diam
Apa? kau iri kan, lihat aku bisa dengan sangat mudah memeluknya , ia dong dia ini istriku, apa kau tak juga sadar dia adalah istriku
Dimas memandang Ana dengan tatapan iba, tak usah di pungkiri ia masih mencintai Ana memang kalau sudah berurusan dengan hati tak segampang itu kita bisa mengubah perasaan dengan cepat, apa lagi intens pertemuan mereka sangat sering terjadi di kampus, ya kata orang obat mujarab dalam mengobati luka di hati, dengan mencari cinta yang baru, ya itu bisa di sebut pelarian hati, meski akan sangat sakit terasa jika pasangan selanjutnya tidak kita beri tahu, jika kita pernah sakit karena cinta di masalalu
tipsnya jujur dengan pasangan yang baru, dan yakin kan ia bisa menjadi pengobat hati selanjutnya ,seribu satu jika ada orang yang bisa tulus membantu kita sembuh dari luka,
kalau tidak bisa dengan cinta lain kunci yang lebih baik lagi dekatkan diri dengan sang khalik, meminta petunjuk agar di berikan obat dengan mengirimkan sosok terbaik
eaaa... eaa....
" Dimas " Arya menyenggol Dimas jangan sampai ia kembali memancing emosi Aditya dengan menatap Ana seperti itu, apa lagi Aditya sangatlah sensitif dengan Dimas
" Berhentilah menatap Ana, jangan memperkeruh keadaan"
Arya berbisik
Aditya yang sedang memeluk dan mengusap kepala Ana pun langsung melirik sinis kearah Dimas dengan menaikkan bibir atasnya, ia melihat bibir Dimas lebam bekas pukulannya malam tadi
kau masih juga berani menatap Ana ku ya, apa kau belum puas ha, aku hantam malam tadi, karena sudah beraninya menyentuh istriku, lama - lama muka Dimas ini menyebalkan sekali ya,.
Dengan cepat Arya kembali mengalihkan pembicaraan ia sudah melihat gelagat Aditya yang sudah mulai nampak emosi
" Aku tak menyangka Marisa pergi secepat itu" Arya berbicara sedih
" Biar bagaimana pun dia adalah teman kita di kampus "
" Tumben kau " Aditya tampak tak percaya dengan apa yang di katakan Arya, padahal Arya sengaja mengalihkan perhatian Aditya
" Ia Dit, apa kau lupa dia dulu sangat suka mengandengmu,"
Aditya langsung marah pada Arya
__ADS_1
" Arya jaga ucapanmu, Ana bisa marag padaku "
Berbicara kecil sambil menggigit giginya, karena Ana masih menangis di pelukan Aditya
" Iya... Padahal kan Marisa hanya korban dari cinta buta Amanda ia hanya alat untuk Amanda menganggu mu, dan ingin merebutmu dari Ana, sebenarnya itu semua juga karena kesalahanmu Dit, jika kau jujur dari awal sudah menikah ini tak akan terjadi, termasuk Dimas ehh keceplosan "
Arya menutup mulutnya
Aditya menggenggam tangannya " Awas kau nanti ya "
" Tunggu dulu, Yang belum aku dapatkan informasi selanjutnya apa motif Rima berusaha mengambil kesempatan mengadu domba Aditya, Dimas dan Ana ,atau hanya karena Marisa atau ada motif yang lain itu yang harus kita selidiki, dan cuma Rima yang tau alasannya "
" Begini saja " Dimas mulai menemukan ide baru
" Aku yang akan mencari tau langsung apa yang ia inginkan dari kita, hingga hampir saja membuat kita terpecah belah , bagaimana? "
" Dia itu sangat cerdas Dimas, kau kan tau Marisa juga cerdas tentu saja dia sama ,hanya saja sangking kelewatan cerdas mereka menyalahgunakan otak mereka itu masalahnya "
" Aku tak menyangka jika Rima setega itu padaku, sebaiknya jangan beritahu Siska dulu aku mohon, kalian tidak tahu bagaimana Siska akan menghajar Rima,
ia akan menghabisi Rima nanti, aku sangat tau bagaimana Siska "Ana berbicara dengan air mata yang masih mengalir
" Siska harus tau, jika ia tak di beritahu maka kita tidak tau apa lagi yang akan dia lakukan
selanjutnya, jika tau kita semua baik - baik saja "
Dimas menimpali
" Tapi jika Siska marah bagaimana, dia tidak bisa mengendalikan emosinya " Ana sangat khawatir
" Ana,Rima sama sekali tidak membenci Siska itu yang harus kau tau, menurutku ia hanya ingin mencelakaimu "
"Belum tentu Arya, bagaimana mungkin kau bisa ia tak ingin menyakiti Siska,
bisa saja ia sudah menyiapkan rencana untuk Siska kita saja yang tak punya bukti, baiklah aku akan menelpon Siska "
Dimas mengeluarkan ponselnya
Wajah Arya berubah sangat gugup, terlebih malam tadi ia sudah membuat Siska tercebur dikolam, ntah apa yang akan Siska katakan pada saat bertemu Arya, yang jelas malam tadi ia melihat Siska begitu terluka,
tentu saja perasaan Arya sama seperti Dimas ia masih tak bisa melupakan Siska walaupun ada perempuan gila yang mengejar - ngejarnya saat ini yaitu Alena
" Jadi bagaimana sekarang "
Dimas kembali bertanya
" Ya sudah bawa saja Siska kemari "
Aditya menyuruh menelpon Siska
__ADS_1
" Iya ini ponselnya di rijek, aku coba telpon mami saja "
Arya tak bisa berkutik malam tadi tepat saat acara berlangsung ia membiarkan Siska jatuh kedalam kolam berenang dengan badan Siska yang basah kuyup
.....
kring
kring
Mengambil Ponsel
" Kak Dimas ? ngapain dia nelpon ih "
Mematikan ponselnya
tak lama ponsel maminya berbunyi
Dudd
dudd
" Halo sayang, ada apa nak "
Suara maminya terdengar lembut sekali meski hubungan Dimas dan maminya
tidak seharmonis dulu karena ia benar - benar tak menyukai maminya dekat dengan pak kumis
" Ada Siska "
Suara Dimas terdengar datar sekali saat berbicara dengan orang tua, setelah pertengkaran itu Dimas tak pernah lagi menelpon maminya, ini karena terpaksa saja demi keselamatan Siska juga
" Ada sayang ini di samping mami "
" Tolong berikan pada Siska ponselnya "
" Kak Dimas ya Mi "
Maminya mengangguk
" Sudah Mi matikan saja, Siska malas menjawab telponnya "
"Siska cepat jawab, dia itu kakakmu "
Maminya marah pada Siska meski suara maminya terdengar berbisik
" Kakak yang kejam "
Siska masih terlihat kesal karena maminya masih saja membela Dimas
__ADS_1