
" Aku ingin melihat anak dan istriku " Aditya berusaha menerobos masuk tapi dengan cepar Arya menarik tangan Aditya
Plak
Bug
Sebuah hantaman mendarat di wajah Arya oleh Aditya yang sedang sangat emosi sekali
" Adit, apa yang kau lakukan pada Arya " Papanya balik membentak Aditya
" Sudah hentikan ,Sekarang pikirkan kondisi Ana bukan Malah bertengkar seperti ini "
Giliran oma Rita berteriak dengan mengetuk tongkatnya di lantai
"Aku juga sama sangat cemas bahkan aku sangat menyanyangi Ana " Oma Rita langsung menangis ia memegang wajahnya
Arya pun memegang pipinya yang sakit sekali
" Sakit juga pukulanmu Dit" Arya memegang wajahnya
__ADS_1
Aditya tampak kacau sekali bagaimana tidak istri dan anaknya yang sangat ia cintai dan nantikan sekarang keadaannya memburuk
" Tolong dokter segera lakukan apapun juga aku akan membayar semuanya " Aditya berteriak kencang sekali
Semua orang di ruang tunggu sudah menangis semua apa lagi Siska yang juga sudah sangat kacau sama seperti yang lainnya, ia pun sama mengirimkan pesan kesemua kontak di ponselnya ,
Tak berapa lama lima orang datang dengan cepat mereka lima orang bertubuh tinggi, besar dan sehat mengaku bergolongan darah AB " Dimana ruangan pengambilan darahnya "
Dengan sigap papa Aditya memanggil Suster untuk Segera mengambil darah kelima orang tersebut
" Tinggal lima lagi dimana kita akan mencarinya ,"
Arya mendekat dan mencoba menenangkan mereka meski pipinya mulai berdenyut " Untuk malam ini sudah cukup Om, nanti sisa empat kantong besok pagi aku akan mencarinya langsung "
Aditya tampak kacau sekali ,Ibu Ana yang bijaksana mendekatinya karena sangat iba melihat keadaan menantunya yang seperti itu
" Nak, tenang lah engkau, ibu tau kau sangat kacau jangan kau buat dirimu seperti lelaki tak punya iman, ibu tau kau sangat sedih, ibu tau betapa besar cintamu untuk Ana, kau lihat ibu dan Ayah apa kau tak melihat kami juga sangat khawatir sama sepertimu terlebih aku adalah orang yang mengandungnya "
Ibu Ana menangis sambil bercucuran air mata.
__ADS_1
Aditya tak tega jika sudah melihat air mata seorang ibu terjatuh ia pun langsung memeluk ibu Ana " Ibuu, Adit tidak sanggup jika kemungkinan buruk terjadi bu, Adit tidak kuat " Mereka berdua saling menangis
Siska tak kalah sedih ia menangis tersedu-sedu melihat Aditya dan ibu Ana yang sedang menangis ,Arya yang berada di samping Siska menggeser bokongnya agar semakin mendekati Siska, Arya mencoba menawarkan bahunya mumpung Dimas dan Arjuna sedang tidak ada " Jika kau butuh bahu, maka kau boleh meminjam bahuku "
Arya berbicara dengan cool ia tak menyadari jika Arjuna sedang berdiri di belakangnya
" Ehemm "
Arya menoleh kebelakang, lalu perlahan ia menggeser bokongnya dan berpura -pura sedang membaca puisi " Jika kau butuh bahu, maka kau boleh meminjam bahuku, jangan khawatir aku siap memberikan bahuku untuk tempatmu menangis "
Suara Arya yang kencang berhasil menghentikan tangisan di ruangan tersebut, termasuk Aditya
Beberapa orang suster tertawa cekikikan melihat tingkahnya, Arya yang menyadari semua orang sekarang sedang memandang heran dan marah kepadanya langsung cepat -cepat memutuskan berlari meninggalkan ruangan
" Aku mau keluar dulu mencari angin segar "
Arya langsung membuka pintu " Ah syukurlah aku punya alasan untuk kabur dari tempat itu "
Memegang dadanya
__ADS_1