Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 113


__ADS_3

" Cepat turunkan aku !"


Ana meletakkan kakinya di bawah mau tidak mau Aditya menurunkan istrinya karena dia terus memberontak


" Kak Dimas tadi menelpon Amanda kan ?"


Dimas seketika terdiam mendengar pertanyaan dari Ana


" Iya aku ingin menceritakan sesuatu , tapi dengarkan dulu "


Belum sempat Dimas menjelaskan mami Dimas datang menghampirinya


" Dimas cepat Siska memanggilmu "


"Siska? " Ana terkejut dan ikut berlari mengikuti kemana Dimas pergi


" Siska kau kenapa ? "


Tampak kaki Siska di perban Arjuna berdiri di sampingnya


" Aku harus di rawat di sini karena kaki ku keinjak paku takutnya pakunya karatan bisa bikin tetanus " Wajah Siska tampak lesu


" Ana kau tak mengucapkan selamat kepada Siska atas pernikahannya dengan Arjuna "


Maminya tampak bahagia


Dengan cepat Dimas menarik mami Siska


Ana terheran - heran mendengar ucapan Siska


" Kau menikah , dengan siapa ha? kau tidak memberitahuku.


Aditya langsung menarik tangan Ana


" Sayang ayo ikut aku sebentar " Sepertinya Aditya sudah tau


Diluar ruangan Dimas memarahi maminya


." Mami , mami ini bagaimana kenapa memberi tahu pernikahan Siska seperti itu di depan Ana mami kan tau Siska belum bisa menerima pernikahan ini "


" Tapi malam tadi kan Siska dan Arjuna sudah tidur satu kamar "


Maminya membela


" Mami pikir semudah itu untuk Siska , Ah sudahlah aku malas berdebat dengan mami "


Dimas meninggalkan maminya


" Dit, kenapa kau menarikku lepaskan tanganku sakit " Ana merengek manja


Menyadari tangan istrinya kesakitan Aditya langsung melepaskan " Maafkan aku sayang, sini mana yang sakit "


Mengambil tangan Ana dan mengajaknya duduk di kursi rumah sakit


" Kamu kenapa sih dari tadi Dit sensitif terus, kamu nggak lihat apa perutku sudah agak besar jangan suka buru - buru berjalan "


Ana memajukan mulutnya tanda marah


Aku cemburu tau, CEMBURU, kamu manis sekali memanggil Dimas dengan KAK sedangkan aku hanya kau panggil Aditya.. Aditya aku juga ingin punya panggilan khusus darimu Ana


" Ada keluarga Tuan Arya ? "


Seorang dokter keluar dari ruangan operasi


" Iya saya " Aditya berdiri dan menghampiri dokter


" Operasi sudah selesai pak, karena tidak bius total pasien sadar dan sudah bisa di bawa keruangan "


" Baiklah dok , terimakasih "


Arya keluar dari ruangan operasi dengan melambaikan tangannya " Aku baik - baik saja jangan khawatir "


Aditya dan Ana tersenyum melihat Arya baik - baik saja


Suster mendorong Arya untuk di bawa segera kedalam ruangan


" Aku bisa sendiri tak usah di bantu "


Siska memajukan kursi roda yang ia duduki dengan menggunakan kedua tangannya karena yang sakit kakinya . ini kali pertama Siska menggunakan kursi roda


jadi ia belum tau benar cara menggunakannya ia tak sengaja menabrak tempat tidur yang di bawa oleh kedua suster yang berada di depan ruangannya


" Awas suster " Sisak berteriak


hingga membuat ia hampir terjungkal dari kursi roda , ternyata kedua suster tersebut merupakan suster yang membawa Arya menuju ruangannya. dengan sigap Arya menarik tangan Siska yang hendak terjatuh


" Aku menahanmu cepat duduklah "


Suara Arya tampak menahan kesakitan karena ia habis operasi


" Tuan jangan menahan menggunakan tangan kananmu luka bekas operasimu belum kering " Seorang suster melepaskan tangan Siska dari pegangan Arya


Dimas melihat jelas Arya menahan tangan Siska sedangkan tangannya sendiri sedang sakit lagi - lagi Dimas melihat cinta yang dalam antara Siska dan Arya


Suster buru - buru mendorong kembali Arya untuk kembali kedalam kamar


Siska merasa kebingungan dan heran melihat keadaan Arya


" Kak Arya kenapa ? "Siska memandang kearah Arya yang berlalu di depan matanya


" Ayo kita pulang " Dimas mendorong Siska di ikuti Arjuna di sampingnya


Dimas memandang iba ke arah Arjuna yang berdiri mematung di samping Siska


Maafkan aku Arjuna kau jadi ikut terseret karena keegoisanku aku tak yakin Siska bisa mencintaimu


Dimas menundukkan kepalanya

__ADS_1


Aku tau kau pasti ingin bertanya bagaimana keadaan Arya kan Siska ,matamu tak bisa di bohongi


" Arjuna kau bawa Siska pulang aku masih ingin di sini "


Dimas memberikan kursi Roda yang kepada Arjuna agar segera di dorong


Mami Siska datang dengan tergopoh - gopoh dengan jilbab nya yang sudah tak beraturan maklumlah maminya baru menggunakan jilbab selama ini ia terbiasa memakai baju yang terbuka " Mami dari mana saja? "


Siska bertanya kesal kepada maminya


" Mami membayar biaya pengobatanmu di kasir "


Masuk kedalam mobil


Arjuna mendorong Siska dan membantu Siska untuk masuk kedalam mobil " Aku bisa sendiri "


Dimas tau kaki Siska masih sangat sakit tetapi Siska seperti sengaja menyakiti dirinya sendiri ia menginjakkan kakinya yang di perban dengan berjalan santai tampak bulir - bulir air mata mengalir dari pipinya


Dimas, Arjuna melihat Siska yang kesakitan


" Ayo aku bantu " Arjuna memaksa memapah Siska


" Ya ampun Siska jangan memaksakan berjalan lihat kakimu itu semakin sakit nanti "


Maminya terasa ngilu melihat Siska memaksa berjalan


Sedangkan Dimas berbeda ia memandang air mata yang mengalir di pipi Siska bukan karena sakit kakinya tapi karena menahan sesak di dada Dimas tau Siska memikirkan Arya yang sedang terluka


Aku tau kau dari tadi menahan sesak di dada


menangislah Siska aku tau rasanya sakit sekali, kau bisa berbohong dengan mengatakan sakit kakimu tapi aku tau sakit kakimu itu bukanlah penyebab air mata yang mengalir deras di pipimu


lelaki yang menahan tanganmu tadi kan sedangkan tangannya sendiri sedang terluka


Maafkan aku Siska tapi percayalah pilihanku menikahkanmu dengan Arjuna itu juga pilihan terbaik ya semoga saja


Dimas menarik nafas dan melihat mobil mereka melaju dengan cepat


" Aku akan melihat Arya "


Dimas berlari mencari kamar Arya ia bertanya kepada suster " Suster pasien atas nama Arya tadi di rawat di ruangan apa "


"Sebentar tuan saya mengeceknya dulu "


Membuka layar komputer dan mengeceknya


" Kamar anggrek nomor 3 tuan , di ujung sana" Menunjuk sambil tersenyum


" Terimakasih sus "


Dimas buru - buru keruangan Arya


Ruangan anggrek di ujung merupakan ruangan super eksklusif


Dimas langsung membuka pintu kamar tampak Aditya dan Ana juga berada di dalam kamar tersebut


Wajah Dimas nampak kaku ia merasa tak enak karena ada Ana dan Aditya juga di dalam kamar tersebut


meski Arya sendiri tau bukan Cinta yang salah tapi kelakuannya yang membuat cinta salah mampir di hatinya dengan orang yang salah pula


"Arya kau baik - baik saja "


Dimas mendekati Arya


Aditya berdiri dan langsung membentak Dimas " Apa perdulimu pada Arya kau tau kau hampir membunuhnya, kau bekerja sama dengan Amanda kan? "


Ana berdiri memegang tangan Aditya yang tampak sangat emosi


"Kau diam - diam ingin memisahkan aku dengan Ana kan ayo mengakulah! "


Aditya tampak emosi


" Dit, biarkan Dimas menjelaskan dulu kita tidak boleh mengambil kesimpulan hanya dari satu sisi "


Lagi - lagi kata yang keluar dari mulut Arya menancap mengenai hati Dimas "


"Asas praduga tak bersalah, sayang "


Keluar kata - kata dari mahasiswa hukum Ana mengeluarkan suaranya


Dimas berdiri dan menunduk " Aku tau aku salah tapi kalian harus tau aku melakukan ini untuk melindungi Ana "


Dimas mulai bercerita Aditya mendengar Dimas mengatakan untuk melindungi Ana langsung tersulut emosinya


" Apa kau bilang melindungi Ana , aku ini suaminya kau anggap aku ini apa ha ! "


Aditya langsung kembali berapi - api


" Dit, berhentilah bersikap seperti itu dengarkan Dimas dulu " Ana membentak Aditya


" Dia selalu saja begitu " Membuat Arya yang sedang terbaring menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa


" Aww sakit " Arya mengaduh


Ana menghampiri Arya " Kau tidak apa - apa kak Arya "


" Eh Anastasya kau itu istriku " Aditya kembali berulah karena rasa cemburunya yang berlebihan sehingga membutakan segalanya


" Cepatlah kesana Ana , aku tidak apa - apa


lihatlah wajah suamimu itu dia sedang terbakar api cemburu " Arya menahan senyum di bibirnya meski tangannya masih sangat sakit sekali


"Baiklah " Ana berjalan dan menarik tangan Aditya agar berbicara sambil duduk


" Ayo kita duduk dulu "


Menuruti Ana dan kembali merangkulnya

__ADS_1


" Ayo kak Dimas lanjutkan ceritamu "


Dimas masih berdiri


" Duduk lah dulu " Arya menyuruhnya untuk duduk


" Duduk di sana saja di sini tidak muat "


Aditya menyeletuk ia langsung berbaring dan menelentangkan tubuhnya di atas kursi di hadapannya


" Aditya kau ini kenapa " Ana menggelengkan kepalanya lalu menepuk keningnya


" Tidak apa - apa aku bisa berdiri "


Dimas menarik nafas panjang


" Aku akan bercerita dari awal , aku tak mau terjadi kesalah pahaman hingga kalian menuduhku bekerja sama dengan Amanda untuk menyakiti kalian semua "


" Sudah cepat ceritakan ! "


Aditya kembali ketus masih dengan posisi berbaring di kursi


" Adit, sudah! " Ana mengerlingkan matanya


" Baik, Amanda datang kepadaku ia mengatakan jika aku juga sakit hati kan kepadamu Dit , karena telah merebut cinta Ana dariku "


Aditya berdiri " Maksudmu apa Dimas "


" Aditya tolong biarkan Dimas bicara dulu "


Arya berusaha duduk sambil memegang tangannya


"Tolonglah kau tahan emosimu, agar masalah ini cepat selesai, ingat kita berteman sudah sangat lama jangan gara - gara ini jadi berantakan "


Aditya duduk " Oke aku duduk tapi ini semua karena aku menghargai Arya "


Ana memeluk Aditya karena sepertinya cuma hal ini yang bisa membuat Aditya tidak jadi marah " Hei jangan terlalu erat "


Aditya melirik kearah Ana payudara Ana menyentuh punggung Aditya sehingga emosinya yang memuncak kembali normal


Sial kau meredamkan emosiku tapi malah membangunkan sesuatu yang lain


" Kau tidak bisa menyalahkanku Dit mencintai Ana , kau yang tidak jujur soal pernikahnmu kepada ku, kau yang memberikan kesempatan untuk orang lain mencintai istrimu, bukankah kau dan Ana membuat perjanjian agar kalian tak saling menganggu hubungan masing - masing, hingga Amanda pun masih berharap padamu ternyata kau terjebak sendiri dengan permainanmu kau jatuh cinta pada Ana "


Aditya terdiam karena apa yang di katakan Dimas itu memang benar ,ia memandang wajah Ana yang menunduk " Maafkan aku Ana"


" Aku tak bermaksud merebut Ana darimu tapi dari Awal aku melihat Ana pertama kali aku sudah langsung jatuh hati padanya, karena aku tak yakin kau bisa melupakan Amanda bukankah kita bertiga tau jika kau dari dulu tak pernah lagi berhubungan dengan gadis manapun setelah putus dari Amanda apalagi semenjak Amanda memutuskan untuk kuliah di kanada " Menarik napas dalam - dalam


" Aku mencintai Ana dengan caraku dan kau pun tau bagaimana rasanya memiliki cinta kepada seseorang , Aku berpura - pura bekerja sama dengan Amanda agar aku tau apa saja yang ia rencanakan untuk Ana, kalian kan tau bagaimana gilanya Amanda ia bisa melakukan segala cara untuk mencelakai orang lain .


Aku berada di sana waktu kau datang Dit, Amanda memintaku dan aku juga yang memotretmu agar terlihat kau seperi memeluk Amanda "


Aditya naik pitam, cuma ia tak bisa berdiri karena Ana memeluk pinggangnya dengan erat " Sudah sayang dengarkan saja dulu "


Ana berusaha menenangkan Aditya


" Tak munafik karena rasa cintaku yang besar aku juga menginginkan kau berpisah dari Ana karena saat itu aku mengira Ana juga tak mencintaimu, tapi aku salah . setelah aku tau Ana sedang hamil dan mengandung anakmu aku berusaha menahan semua rasaku karena aku tak yakin bisa memisahkan kau dengan Ana tak mungkin hanya kau saja yang mencintai Ana " Dimas memandang Ana


" Cinta memang membuat orang waras menjadi tidak waras aku berusaha mengendalikan perasaanku sebulan aku sengaja menjauhkan diriku dari kalian sekaligus memantau apa saja yang akan di lakukan Amanda pada Ana, ternyata aku baru tau Amanda tak hanya fokus untuk menyakiti Ana saja dia juga mengincar teman - teman Ana hingga ia hampir membunuh Siska


Amanda tidak tau jika Siska adalah adikku .


Dimas mendekati Arya


" Aku minta maaf Arya kau hampir saja celaka karena Amanda aku tidak tau lagi rencana mereka , terakhir Marisa menghubungiku karena ia merasa sangat terancam Amanda memaksanya ikut dalam semua rencananya "


Aditya meredakan amarahnya karena tau dia lah yang salah sehingga semua orang salah paham , Aditya berdiri dan berpelukan dengan Dimas " Maafkan aku "


" Pertanyaan terakhir , Kau masih mencintai Ana? "Aditya tampak masih saja bertanya pertanyaan bodoh


" Kau ingin aku berbohong atau tidak? "


Dimas tersenyum - senyum


" Jawabannya kau bisa menjawab sendiri, apa kau bisa berhenti makan nasi ? "


Dimas tersenyum dan melirik Ana


" Semua orang butuh proses untuk tidak makan nasi tetapi yang harus kau tau satu hal untuk melupakan mungkin agak sulit tapi mengubah porsi makan dan mengendalikan untuk mengkonsumsi nasi menjadi sedikit pasti bisa "


Ucap Dimas


" Hmm ya, baiklah tapi kau jangan sering - sering memandangnya dia itu milikku "


Aditya kembali memeluk Ana


" Aku pulang dulu , besok aku akan kembali kesini menjengukmu Arya "


Dimas berpamitan untuk pulang


Arya berbisik kecil " Aku tidak bisa kalau tidak bisa makan nasi Dit, dan aku tidak akan mengubah makananku dari nasi ke roti biarkan sajalah takdir bertarung di atas langit"


"Bersabarlah " Aditya menenangkan Arya


"Astaga aku lupa menanyakan perihal pernikahan Siska dengan kak Dimas? "


Ana membuka pintu untuk mengejar Dimas


" Hei Anastasya apa yang kau lakukan , kau mau kemana? "


Berhenti di depan pintu


" Mengejar kak Dimas lah aku ingin bertanya tentang Siska? "


" Apa kau tak dengar apa yang di katakan Dimas tadi? "Aditya berkacak pinggang


"Iya aku dengar kalian membahas tentang nasi kan? , terus letak masalahnya di mana? "

__ADS_1


Ana terlihat kebingungan Ana memang cerdas dan pintar tetapi untuk masalah kiasan, majas nilai pelajaran bahasa indonesianya selalu di bawah nilai lain apalagi jika masalah cinta dan hati ia memang tak punya pengalaman sama sekali.


Arya tertawa cekikikan mendengar jawaban dari Ana.


__ADS_2