
Ana masih tak membalas jawaban dari Aditya
"Aku tak perduli dengan kau Aditya terserahhhh....
Lalu Ana keluar rumah untuk mencari udara segar, dia sengaja duduk diwarung kecil didepan rumahnya.
"Ayah masuk saja kedalam biar Ana yang menunggu toko ini.
"Hm.. kau kenapa nak, mukamu sangat aneh seperti itu.
"Ayah tak perlu tau ,
Ayahnya duduk ditoko dengan meminum secangkir teh , yang dibuatkan oleh ibunya tadi.
"Ana pernikahan itu tak sama dengan sebuah permainan,
banyak sekali yang harus kita pelajari
Saling mempercayai satu sama lain
menghilangkan segala jenis ego dan belajar memahami satu sama lain.
Kau tau tidak terkadang takdir sedang bermain dengan kita,
ia menguji berbagai macam cobaan untuk mereka yang baru menikah,.
Yah tentu saja kau sudah dewasa kan ?
Kau sering melihat di televisi , orang - orang bercerai,
Sama juga nak, disekeliling kita banyak yang terjadi seperti itu, mereka tidak terbiasa menghadapi ujian rumah tangga .
"Ayah harap kau mengerti,
Ayahnya meninggalkan ia seorang diri diwarung tersebut,
Ana kembali berpikir dengan kata - kata yang dilontarkan dari Ayahnya.
Menikah itu ternya tak seindah yang
orang - orang bayangkan,
Tetapi apa aku yang harus banyak berkorban ayah, kau bilang tentang perceraian
komitmen dan kepercayaan ,
Ntah apa yang akan terjadi jika suatu hari nanti komitmen ku dan Aditya akan berakhir.
Aditya mengirimkan pesan whatsApp keponsel Ana,
"Besok aku akan berangkat kehutan untuk survey lokasi,
Lalu ia mengirimkan gambar ia dan kedua anak Bima.
Ana sangat senang saat Aditya mengirimkan pesan dan gambar tersebut
"Ah lega, ternyata dia lagi dirumah kak Bima,
kapan aku bisa ketempat kak Bima.
aku akan membalas pesannya.
Aditya membuka ponselnya,
" Y "
"Hanya itu balasannya , hmm
susah sekali merayunya,.
Aditya merebahkan tubuhnya dikasur , dan tertidur sebentar bersama kedua anak kembar yang dari tadi selalu menempel padanya.
Bima yang keluar dari kamar lewat didepan kamar Aditya
Ia tersenyum melihat Aditya yang sedang tertidur pulas bersama kedua anaknya.
Anya memanggilnya
"Papa, Anastasya menelpon mu
Bima mendekati Anya, lalu mengambil ponsel dari tangan istrinya itu.
"Kenapa ?
__ADS_1
"Kak apa Aditya ada disana bersamamu.
Bima sepertinya tau jika adik perempuannya ini sedang mencurigai Aditya.
"Kau kan bisa menghubunginya langsung,
kenapa harus bertanya padaku.
"Ah, kau ini pelit sekali memberikan informasi padaku, aku kan hanya bertanya , lagian kau harusnya merasa terhormat karena aku menelponmu ,
"Apa istimewanya dengan kau menelponku,
kau saja tidak menanyakan kabarku, malah bertanya tentang orang lain.
Anya sengaja menempelkan telinganya diponsel Bima.
Mereka berdua paham jika Ana sedang cemburu .
Aditya yang melihat Anya dan Bimas sedang menelpon lewat didepan mereka,
Rupanya Bima tak kalah isengnya, ia mendloudspeaker pembicaraan Ana agar Aditya bisa mendengarnya.
"Kau ini apa - apaan sih kak,
apa dia benar sedang berada dirumahmu ?
"Kenapa kah bertanya seperti itu ,
apa aku ini asisten Aditya yang harus tau kemana saja dia pergi,.
Biasanya Asisten itu harus seorang perempuan yang cantik.
Ana terdiam tidak berbicara apapun,
Asisten ? seorang perempuan cantik,.
Kenapa aku sangat emosi mendengarnya
apa jangan - jangan.
"Ana apa kau masih ada disana ?
Haloo ?
"Iya aku masih disini kak,
Apa kau tau seperti apa wajah asistennya ?
"Kau ini kenapa , jadi aneh seperti ini
Aku lagi banyak kerjaan , kau hubungi langsung suami mu itu, aku takut nanti asistennya itu menggodanya.
Ana terlihat sangat kesal.
"Baiklahhhh kau sangat pelit.
tutt... tutt...tu..
telepon sudah diputus oleh Ana.
Bima tertawa kecil
"Kau lihat Aditya pasti sekarang ia sangat marah denganku,
Aditya tersenyum khawatir,
Kenapa kau membuatnya semakin marah Bima , asal kau tau saja , dia itu sangat susah untuk dirayu,
padahal tadi ia sudah mau membalas pesanku meski hanya dengan satu huruf
aduh bagaimana ini,
"Apa kalian sedang bertengkar,
Kau tidak usah khawatir, kau lihat saja dia sepertinya sangat mencurigaimu,
aku rasa dia sangat menyukaim Aditya.
Aditya tersenyum malu , dia tidak tau jika Bima terkenal dengan cap playboy di sekolahnya dulu , tentu saja dia tau berbagai
macam sifat perempuan, dia bukan Arya playboy kaleng - kaleng wkwkwk
"Duduk lah disini dulu , mobil jemputan mu nanti jam 8 malam baru datang,
__ADS_1
"Iya kak, aku sengaja berangkat malam biar besok urusan survey cepat selesai jadi aku bisa segera cepat pulang kejakarta
"Kau biarkanlah , Anastasya itu jangan kau balas pesannya percayalah dengan ucapanku
Apa yang sedang kau katakan Bima , jika aku tak mengangkat telpon darinya, ia semakin
menjadi - jadi marah padaku nanti.
Nanti dia bisa membalasku ditambah lagi ada seorang lelaki yang masih saja mengejar cintanya , meski ia tau Ana sudah menikah,
ya menikah karena dijodohkan dengan terpaksa.
Bima seolah dapat membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Aditya.
"Disana nanti tidak ada signal, kau ikuti saja rencanaku
tenanglah, aku lebih tau bagaimana Anastasya itu sebelum kau mengenalnya .
*******
Ana sangat kesal Bima mengatakan tentang Asisten, ia sudah membayangkan seorang asisten perempuan seperti disinetron dan film yang sering ia tonton,
Seorang asisten pribadi yang cantik dan seksi
yang selalu menggunakan rok mini.
Bagaimana mungkin aku bisa tenang jika Aditya bersama asisten seperti itu,
aku sangat benci dengan kak Bima , ia benar - benar tak bisa membantuku,.huhh...
Ana langsung meninggalkan warung dan berlari masuk kedalam rumah,
Ayah dan ibunya merasa terheran - heran
"Ana seperti sedang depresi ya yah,
"Ah apa kau sudah lupa , dulu kau lebih aneh lagi dari Ana.
" Ayah jangan macam - macam Ayah lupa dulu ayah hampir mau terjun ke kali,
waktu ibu menolak ayah pertama kali.
Mereka berdua terlibat pertengkaran kecil,
membuat Ana terganggu,
"Ayah ! Ibu !
Bisakah kalian berhenti berdebat , itu akan membuat kepalaku semakin pusing.
"Kenapa dia sangat marah sekali sepertinya yah,
"Sudah biarkan saja, tadi Aditya menelpon ayah dia akan mempercepat kepulangannya besok pagi
Dia mengatakan jangan memberi tahu Anastasya perihal kepulangannya besok pagi.
" Baik lah kita akan membiarkannya seperti itu.
ayah dan ibunya tersenyum kecil dan meninggalkan Ana seorang diri dikamarnya.
"Ayah dan ibu juga menganggu saja, mereka berdebat suaranya besar sekali,
tamba membuat kepalaku pusing..
Ana terus memandangi ponselnya,
*Apa aku menghubunginya saja ?
tidakk jangann Ana. jangan..
bagaimana nanti jika yang mengangkat telponnya itu seorang perempuan.
apa yang harus aku lakukan,
atau dia mengangkat telponku dan membiarkan aku mendengar desahan mereka..
Syiitttttty Ana,,,,, please
berhentilah berpikir yang tidak - tidak.
ini semua karena kak Bima menakuti ku
Awas saja !" Aku benci kalian semua* !".
__ADS_1