
" Kau hanya ingin tau itu kan Kak Dimas, atau ada lagi ha, aku masih menunggu kau bertanya, ayo " Rima memaksa Dimas untuk berbicara, sialnya Dimas yang merasa cemas sendiri karena sikap Rima yang tak seperti biasanya
" Kenapa diam Kak , apa aku terlihat aneh, apa aku terlihat seperti psikopat ,jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan padaku, maka aku akan segera pergi, karena dosen akan segera masuk "
Rima meninggalkan Dimas seorang diri dengan wajah ketakutan dan sangat aneh sendiri
Dimas yang terkenal pendiam, cool dan tidak banyak gaya
Menepuk pipinya " Dimas kenapa kau hanya diam saja, padahal dia sudah membuka pertanyaan seluas -luasnya "
" Aku tak mengerti apa yang ia inginkan sebenarnya, Dimas lagi -lagi kau menambah daftar orang yang sakit hati padamu "
Arya yang mengintip dari kejauhan pun langsung berlari mendekat
" Brow apa yang terjadi , ha kenapa aku lihat kau hanya mematung saat dia marah -marah tadi, sudah kuduga dia memang mempunyai kepribadian ganda " Arya bergidik ngeri
" Arya aku jadi curiga bagaimana jika perkiraan kita salah mengenai dia, " Dimas menoleh kearah Arya
" Salah bagaimana, jelas -jelas dia menyembunyikan identitas bahwa ia adik Marisa, dan kenapa dia menaruh kamera cctv di kamar Ana, apa itu tidak cukup bukti yang kuat "
Arya tampak berapi -api sekali
" Iya benar, tapi apa Ana dan Siska pernah bertanya dengan Rima secara langsung mengenai Marisa, aku seakan terjebak dengan permainan ku sendiri sekarang Arya, bagaimana sekarang " Dimas tampak tak enak hati
" Nah itu kau tau tenang saja aku sangat yakin jika ia memang satu-satunya tersangka tunggal dalam kasus ini "
" Kau begitu yakin Arya, tadi aku bertanya padanya dan dia mengakui jika dia adik Marisa, dan aku seakan tak percaya jika ia pelakunya, atau jangan -jangan kita saja yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu tentangnya, aku tak percaya sungguh... "
Dimas langsung berjongkok sambil memegang rambutnya
" Aku tak percaya jika aku akan menjadi orang tak punya hati seperti ini... "
" Sudahlah kau santai saja tak ada yang perlu kau cemaskan, nah itu dia mengaku kan
kalau begitu aku sendiri yang akan bertanya langsung padanya, kau tunggu di sini "
pergi meninggalkan Dimas
Dimas pun memanggil Arya
" Arya.... Arya... tunggu dulu apa yang akan kau lakukan padanya, berpikir dulu baik -baik"
"Sudah kau serahkan saja padaku, Kak Ada yang Tak mungkin di dunia ini aku akan segera membereskan urusan ini, jangan khawatir percaya padaku "
Di dalam kelas
Rima masuk kedalam kelas ,Siska berpura -pura tidak melihat, ia sengaja menutup wajahnya dengan buku tulisnya,
Rima pun duduk di belakangnya
Siska merasa heran dengan sikap Rima yang acuh tak seperti biasanya,
Seseorang menepuk pundaknya dari belakang lalu memberikan buku catatan
" ini semua catatan dan tugasmu sudah selesai aku kerjakan, jangan khawatir aku sudah menulis dengan sangat rapi "
Siska merasa tak enak, lalu ia menyelipkan beberapa lembar uang kedalam kertas
" Ini ambil Siska tak apa, aku ikhlas "
Beberapa jam berlalu tugas dari dosen pun segera di kumpulkan, tak seperti biasa Rimaa keluar kelas tanpa meminta di temani oleh Siska , Siska pun berbisik seorang diri
__ADS_1
" Kenapa dia aneh sekali, tak. seperti
biasanya "
Arjuna pun memperlakukan Siska dengan perilaku yang sama tak terlalu memperdulikannya
Ia keluar kelas tanpa memperdulikan Siska
" Kenapa hari ini orang -orang menganggap ku tak ada, atau jangan -jangan aku tak terlihat "Siska merasa sangat kesal sekali hari ini karena terkesan di cuekin
Di luar ruangan
Arya dan Dimas sudah menunggu mereka sengaja mengintai Rima untuk keluar ruangan " Nah itu dia sekarang saatnya"
Dimas menahan Arya
" Apa lagi Brow, cepat lepaskan dia menuju perpustakaan sekarang ! "
" Jangan terlalu kejam pada perempuan, dia itu perempuan " Dimas memohon
" Kau ini kenapa Dimas, atau jangan - jangan kau sudah mulai terjebak. dengan permainan sendiri " Arya melirik Dimas dengan sinis
" Bukan begitu aku hanya iba, kau paham aku tak tega pada perempuan "
" Hei.. kau dengar Dimas rasa iba itu bisa berubah menjadi rasa suka berhati-hatilah dengan ucapanmu ,lagian dia perempuan berbulu domba, apa kau tau apa isi otaknya "
Siska yang keluar ruangan pun melihat dari kejauhan kelakuan Arya dan Dimas yang sedang bersembunyi sambil berbisik -bisik, dan ia melihat tujuan mata mereka
" Rima,? ternyata mereka membuntuti Rima, baiklah aku akan segera mengikuti mereka "
Terjadilah pengintaian ala detektif, detektifan antara mereka secara berantai
" Cepat dia masuk kedalam perpustakaan " Arya pun ikut menyelinap masuk
Beberapa petugas perpustakaan pun nampak curiga melihat tingkah mereka untung saja Arya dan Dimas wajahnya sudah tidak asing lagi di kampus itu
Sama seperti Arya dan Dimas, Siska pun kehilangan jejak mereka semuanya
Sialnya Dimas dan Arya yang mengikuti Rimas justru mereka berdua yang kaget karena kemunculan Rima di belakang mereka
Pukkk
Rima menepuk Arya
" Dimas siapa yang menepuk ku "
Dimas dan Arya tampak cemas saat menoleh kebelakang
" Rima ! "
" Aku sudah tau kalian masih penasaran padaku, aku sengaja mengarahkan kalian keperpustakaan karena cuma tempat ini yang aman dan nyaman untuk bertemu "
Siska masih aman karena ia berhasil mengintip dari sebelah rak di samping mereka
Arya yang awalnya cemas langsung berbicara menantang " Oh jadi kau sudah tau, baguslah ayo kita duduk mengobrol disana "
Rima ,Arya dan Dimas sekarang sudah duduk bertiga
" Langsung saja Kak apa yang ingin kau katakan, aku tidak punya banyak waktu "
Rima berbicara perlahan, meski terlihat ia sedang menyimpan banyak luka di matanya
__ADS_1
" Oke baiklah, aku hanya ingin tau apa yang kau lakukan malam kejadian di rumah Ana. hingga menyebabkan nenek meninggal "
" Maksudnya, aku tak mengerti "
Arya menarik nafas dalam -dalam ia seperti sedang menahan amarah, tapi Dimas menahannya dengan menginjak kakinya
" Aduh sakitt !... " Mata Arya melotot kearah Dimas
Sedangkan Dimas sendiri tak tega memarahi Rima
" Tolong kau jaga sikapmu., dia perempuan "
Sekali lagi Dimas menekankan suaranya
Arya seolah tak ambil pusing karena ia berpikir Rima bisa saja mengancam nyawa Ana dan bayinya karena ia adik kandung Marisa yang juga kaki tangan Amanda
" Aku hanya ingin tau apa kau yang membunuh nenek ? "
Air mata Rima jatuh menetes ,membuat Arya dan Dimas tampak salah tingkah karena telah membuat perempuan menangis
" Sehina itukah diriku, sampai kalian bisa menuduhku serendah itu Kak,
Apa kalian pikir aku ini manusia tak tau terimakasih, atas dasar apa kalian bisa menuduhku membunuh nenek, apa kira -kira aku terlalu kaya untuk bisa menyusun rencana pembunuhan itu !"
Dimas menunduk saja, hatinya sudah tak karuan karena ia takut jika Rima memang tak bersalah
Arya tak mampu berkata apapun
Tapi ia berusaha meyakinkan diri , jika Rima adalah musuh yang berbahaya
" Jangan mengiba, aku sudah sangat paham tentang karaktermu itu , kau serigala berbulu domba, kau bilang kau tak mungkin melakukannya, sekarang aku tanya apa tujuanmu menaruh kamera di kamar Ana yang lagi koma jawab!!! "
Arya menepuk meja, hingga membuat orang -orang kaget, termasuk Siska
" Sial, seram juga kalau dia marah" Siska memegang jantungnya
" Oh jadi karena itu baiklah jika ingin tau,
Benar Marisa adalah kakak kandungku, kenapa aku menyembunyikan identitasku ,karena bagiku tidak lah penting, aku adalah anak yang terbuang, ibuku hanya mau mengurus Marisa saja, karena wajahku tak menarik tak sama dengan Marisa yang berwajah indo, ,
Malam itu ia memang berbisik kepadaku jika ia akan mencelakai Ana, tapi aku membantahnya, aku tak ingin sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ana, karena ia lebih dari sekedar teman, aku terkejut saat tenda roboh dan besi itu hampir menusuk dada Ana, Aku panik dan aku menelpon ibu, saat itu juga, ibuku hanya tertawa ia mengatakan hukum alam. sedang bermain, mungkin karena kakakku Marisa di temukan tewas bunuh diri, ia frustasi ibuku sampai mengintai Ana beberapa waktu hanya untuk membalaskan dendam Marisa, padahal dalam surat yang di tinggalkan Marisa, ia hanya ingin Ana dan Aditya memaafkannya dan ia mengatakan jika sampai detik itu rasa cintanya dengan Aditya masih sama dan tidak berubah sama sekali,
Menaruh kamera diam -diam ? aku hanya ketakutan jika sampai ibuku berulah macam -macam menyakiti Ana, aku bahkan sampai berpesan kepada semua perawat untuk menjaga Ana, semalaman aku tidak bisa tidur hanya karena ingin memantau keadaan Ana "
Rima berbicara dengan terbata -bata
Arya bukannya iba atau malah percaya, tapi ia malah semakin membentak Rima
" Omong kosong, kau pikir aku bisa di tipu "
Kring.. kring
Ponsel Arya berbunyi,
" Tepat sekali, kau lihat ini telpon dari kantor polisi, kau lihat apa yang akan mereka katakan tentang kasus ini "
.............
Duarrrrrr......
Penasarann kan.. hahahaahaha sama....
__ADS_1
tunggu yaa...