Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 165


__ADS_3

Oh tuhan manisss sekali, ia memintaku menjadi matahari untuknya, aku tak menyangka jika akan semanis ini akhirnya,


Aditya padahal aku sangat ingin sekali memelukmu suamiku


Ehem...


Ana pun mengambil bunga yang di berikan Aditya dengan malu - malu , hatinya merasa berbunga - bunga mendengar sajak cinta yang di ucapkan oleh Aditya, meski ia seolah - olah tak terlalu menyukai bunga pemberian Aditya itu padahal didalam hatinya ia sudah sangat bahagia, jika sekarang ia berada di tengah lapangan ia sudah melompat - lompat, jungkir balik ,Karena kesenangan Di perlakukan Aditya seperti itu


" Aku tidak suka bunga ini "


Ana berpura - pura tidak menyukainya padahal cuma ia dan tuhan lah yang tau jika perasaannya sangatlah berbunga - bunga sama seperti bunga yang diberikan oleh Aditya saat ini,


Aditya masih duduk di bawah belum berdiri sama sekali " Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan aku "


Aditya menekankan suaranya


Ana melipat kedua tangannya


" Segampang itukah kau memohon, apa kau tau sudah berapa liter air mata yang aku keluarkan karena kau telah membuat aku menangis "


Aditya tak mampu menatap Ana yang terus saja mengoceh


*Panjang sekali ocehannya, haduh untung cantik


sekali lagi good looking membuat semua tampak sempurna wkwkww*


" Apapun akan aku lakukan jika aku harus membayar berapa banyak tetesan air mata yang tumpah dari pipi mu maka aku pun akan membayarnya "


Aditya kembali menggombal gembel


semoga saja hati Ana kembali porak poranda karena rayuan maut yang diberikan oleh Aditya


Semoga saja ia akan segera luluh, Ana please aku tak bisa terus - terusan kau buat begini, sakit rasanya sakit sekali


Ana sangat bahagia sekali diperlakukan begitu manis oleh Aditya


Ah Aditya kau sungguh manis sekali, aku bahkan sangat suka melihat kau


memohon kepadaku seperti itu , ayo teruslah memohon padaku Aditya, aku sungguh bahagia melihat kau seperti itu


" Cepat berdiri apa yang kau lakukan dengan duduk seperti itu, apa kau sengaja ingin mengintip isi dalam rokku " Kebetulan Ana sedang memakai daster khusus ibu hamil


Picik. sekali otakmu Ana dalam situasi seperti ini kau masih saja berpikiran negatif padaku, Memangnya kenapa jika aku mau melihat apapun dari tubuhmu, bukankah kau adalah milikku seutuhnya, apa kau sudah lupa kodratmu


" Eh Aditya apa yang kau lakukan, apa kau memang tak mau berdiri ha "


"Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkan aku " Aditya masih bersikeras


"Ya sudah kalau kau tak mau berdiri, kalau begitu percuma dong aku berdiri tapi tak tau harus berbicara dengan siapa , apa lagi kondisi perut ku yang besar ini sangat sulit untuk menunduk "


Ana berpura - pura berjalan masuk kedalam kamar


Cepat Aditya hentikan aku, cepat hentikan


kau lihat aku sudah mau masuk ini


" Ehem,,,,


Memberi kode agar Aditya segera berdiri dan menahannya untuk masuk


" Aku akan menutup pintu "


Ana bersuara keras dan memberi kode agar Aditya kembali menahannya, tapi sepertinya ia lupa jika Aditya adalah lelaki yang sama sekali tidak peka, ia akan sadar jika langsung di minta, benar - benar tidak sesuai harapan Ana


" Dit, apa kau dengar aku akan menutup pintu kamar ini " Ana membentak Aditya dengan sangat keras, untung saja Ana lagi hamil mungkin karena itu emosinya tak. stabil


Aditya bingung ia tak tau harus melakukan apa, jika. iya mengatakan jangan nanti Ana akan marah tetapi jika ia mengatakan masuklah nanti dia juga salah


Aditya memutuskan untuk mengatakan


"Ya sayang terserah kau sajalah, apapun yang kau lakukan aku akan selalu menantimu di depan pintu kamarmu ini "


Ana langsung marah ia membalikkan badannya "Aditya kenapa. kau berkata seperti itu, kau ini sungguh payah sekali "


Ana menghentak - hentakkan kaki sepertinya anak kecil di lantai


" Sayang apa yang kau lakukan hentikan!!! "


Aditya tampak panik, tapi ia masih mempertahankan posisinya


" Biarkan saja kalau perlu biar anakmu aku lahirkan sekarang saja di depan matamu "


Ana semakin kesal


"Aku mohon sayang jangan, jangan sampai kau melahirkan di depanku sekarang, baiklah aku akan berdiri "


Aditya pun berdiri karena ia tak mau jika sampai Ana melahirkan di depannya


Dasar tolo* mana mungkin aku semudah itu bisa melahirkan didepan mu ,suamiku yang terlalu perhatian, kau pikir aku keturunan kucing yang bisa melahirkan di manapun aku mau

__ADS_1


" Sekarang apa " Ana berkacak pinggang kembali berharap Aditya kembali mengeluarkan kata - kata yang akan membuat ia kembali melayang - layang, pada dasarnya perempuan itu sangat suka di gombalin, makanya banyak yang terjebak rayuan maut mulut lelaki , kalau Aditya dalam posisi ini


ia memang bukan type lelaki yang jago ngegombal


Jadi apapun yang terucap dari mulutnya murni kata - kata tulus yang terpancar dari hati


" Apa bagaimana "


Aditya bertambah bingung


Ana mulai kembali emosi " Kau ini bagaimana sih apa tidak mengerti jika kau itu sudah melakukan kesalahan padaku "


" Iya aku tau, jadi apa yang kau inginkan agar aku bisa memaafkanku , apa kau ingin rumah baru, atau mobil baru aku bisa memberikan apapun untukmu "


Ana menggigit bibirnya " Aditya asal kau tau saja, uangmu bahkan seluruh kekayaan yang kau punya tak bisa membeli maafmu, kau pikir semua orang bisa kau beli dengan hartamu, kau pikir semua perempuan akan bertekuk lutut dengan seluruh hartamu,


Kau salah besar Aditya, itu tak berlaku padaku "


Ana semakin kesal


Aditya kembali menjadi salah tingkah ia tak bermaksud seperti itu, tapi ia melupakan satu hal perasaan ibu hamil itu memang sangat sensitif sekali , maklum lah ini pertama kali menghadapi istri yang sedang hamil jadi wajar saja jika ia tak memiliki pengalaman apapun


" Aku minta maaf, aku salah dan aku berjanji tak akan membiarkan siapapun merusak hubungan rumah tangga kita ,bagaimana mungkin aku lebih mempercayai orang lain, memang benar aku sempat meragukan tetapi posisi ku sedang kalut karena aku benar - benar tak bisa berpikir sama sekali"


Aditya memastikan dengan sangat jelas ,tatapan matanya tak bisa berbohong itu adalah perasaannya yang paling dalam


Ya ya aku tau kau tak mungkin berbohong aku tau sekali jika kau memang tak mungkin bisa jauh - jauh dariku, tak apa kan sayang sekali - kali aku menikmati saat kau memohon untukku


Ana tertawa geli didalam hati, ada rasa iba saat melihat Aditya yang sudah berbagai cara untuk memohon padanya


Sebaiknya kau hentikan saja Ana kasihan dia itu suamimu, bukan lah orang lain yang pantas kau permainkan, ayolah Ana sudahi ini semua kasihan Aditya, kau lihat tatapan matanya benar - benar tulus lagian dia bukan Arya sang penakluk wanita, yang bisa dengan mudah merayu setiap wanita


" Baiklah aku memaafkanmu " Ana berusaha tegas , Tanpa Aditya begitu lega saat mendengar kata maaf dari bibir istri cantiknya itu,


" Uh akhirnya " Aditya mengurut dadanya


" Eh tapi aku masih ada satu syarat lagi "


" Aduh ternyata masih banyak " Aditya mengeluh


" Jadi kau tak suka, tak mau kalau begitu ya sudah aku tarik lagi kata - kata maafku "


Ana melipat kedua tangannya dan memalingkan wajahnya, sudah seperti membujuk anak kecil saja


" Iya apapun itu akan aku lakukan, asal syaratnya jangan buat aku menjauh darimu "


Ciyee gombal lagi


" Iya aku belum mau pulang kerumah, apa kau setuju "


Ana berusaha mengontrol emosinya ,karena ia kembali sebal dengan tingkah Aditya yang dari tadi serba mau buru - buru saja


Aditya masih diam saja tak menjawab


Ana langsung kembali membentak Aditya


" Kau mau atau tidak ! "


Kelakuan orang hamil memang sensitif sekali Ana kontrol emosimu


"Iya sayang tentu saja, Oke baiklah apapun akan aku lakukan untukmu, kalau begitu aku akan menyuruh Arya membawakan beberapa baju ganti untukku "


Aditya mengeluarkan ponsel dari sakunya hendak menelpon Arya,


" Maksudnya bagaimana ?" Ana tak paham


"Ya tentu saja aku juga akan menginap di sini bersamamu sayang, tak mungkin aku membiarkanmu tidur sendirian di kamar itu "


Aditya tampak serius


"Tapi kamar itu hanya muat untukku saja, kau tidak lihat perutku ini sudah besar sekali "


Ana menunjuk perutnya


" Biar aku tidur di bawah saja "


" Tapi tak ada kasur terus kau mau tidur pakai apa? "


" Aku bisa tidur di lantai tak masalah, asal kau bisa tidur dengan nyaman di atas, atau jika kau mau aku akan menyuruh orang membuat kamarmu menjadi besar dalam waktu setengah hari "


" Tidakkkk.... " Ana langsung berteriak


" Kenapa tak masalah bagilku kau adalah istriku, tentu saja apa yang tidak bisa kulakukan agar kau bisa nyaman berada di tempat tidur "


Ana melihat kearah jagoan Aditya, lalu dengan cepat ia membuang muka sebelum Aditya menyadarinya


" Kenapa kau diam, jika diam berarti tanda setuju "


" Eh kau jangan sembarangan ini rumah ibu, kau tak bisa seenaknya merubah apapun di rumah ini, mereka akan marah besar jika ada satu saja sudut dirumah ini yang di rubah "

__ADS_1


" Itu tak mungkin aku tak akan bisa,. "


" Tenanglah aku akan membayar rumah ini, aku yakin ibu dan ayah mau menjualnya padaku ,aku akan membayar berapapun yang mereka minta "


"Hentikan Aditya kau ini tidak mengerti sekali ,jika kau terus memaksa maka aku akan marah lagi padamu "


Aditya gelagapan " Oh tidak sayang maksudku bukan begitu, aku hanya ingin membuatmu nyaman saja "


" Nyamanku tidak harus merubah apapun dari harta orang tuaku, jika kau mau merubah apapun itu sebaiknya kau permak saja rumah kita, kau tak akan mengerti arti sebuah perjuangan kami orang miskin,


Kenangan bagi kami itu adalah sesuatu yang sangat berharga terlebih untuk kami yang tak punya apa - apa ini,


kau mungkin gampang saja membeli apapun yang kau mau, karena kau tak tau seribu rupiah saja sangat berharga untuk kami.


Kau tak tau bagaimana ayah harus menjadi buruh bekerja subuh dan pulang tengah malam, kau tak tau ntah berapa ratusan kali tangan ibu berdarah terkena tusukan jarum "


Ana tertunduk tampak di ujung matanya air mata hendak tumpah


" Rumah ini adalah satu - satunya bukti jerih payah ayah dan ibu, setiap sudut ruangan punya cerita masing - masing, agar kelak anak - anak kita, tau jika ibunya bukanlah berasal dari orang kaya tak sama seperti Ayahnya


belajar dari kehidupan, agar tidak lupa dari mana kita berasal, tetap merunduk meski telah memiliki segalanya " Ana mencoba tersenyum


Aditya terhenyak mendengar semua kata - kata yang keluar dari bibir merah Anastasya meski ia telah berdiri lama ia tak menyangka jika dihadapannya ini sedang berdiri perempuan istimewa, ia benar - benar menikahi bidadari tak bersayap, ia tak menyangka jika Ana seistimewa ini


Tampak Mata Ana kembali berkaca - kaca meski ia tengah berusaha tersenyum pada Aditya


" Kau itu istimewa, aku bisa apa, aku tak mungkin bisa menolak apapun keinginan tuan putri Ana "


.....


Di luar rumah ayah dan ibunya mengobrol


" Bagaimana bu, apa mereka sudah baikan "


" Sudahlah Ayah ,ibu yakin mereka akan segera bailan jangan khawatir "


Ibunya melanjutkan menulis anggaran belanja toko yang mulai tampak kosong


" Tapi ayah tak yakin jika Ana akan dengan sangat mudah memaafkan nak Aditya, apa ibu tak melihat tadi wajahnya pulang dari rumah mereka ia tampak menangis tersedu - sedu "


" Sudahlah ayah tenang saja "


Menaruh pulpen dan buku di atas meja


" Ayah lupa dulu bagaimana kita bertengkar sungguh hebatnya sampai Bima harus memilih mau ikut siapa, sedangkan Ana saat itu masih bayi "


" Ayah lupa bu, bukankah kita sudah tak terhitung lagi sering bertengkar"


"Ya tentu saja itu ayah tau, bahkan kita selalu


bertengkar hanya gara - gara sesuatu yang kecil, sendok saja bisa membuat kita bertengkar hebat "


Ayah dan ibunya tertawa " Iya itu karena kita menikah sangat muda


"Hahaha dan bahkan ibu selalu memulai pertengkaran, dan ayah sangat sulit merayu ibu, cuma gara - gara masalah sendok saja "


" Sudahlah ayah , ibu sangat malu membayangkannya, bahkan para tetangga kita di kontrakkan sudah menghitung jadwal pertengkaran kita "


Mereka tertawa cekikikan didalam toko


Bima dan Anya yang masih bertarung ,segera berhenti sejenak mendengar suara cekikikan kedua orang tua Mereka


"Sayaang apa kau dengar suara itu "


Anya mulai cemas ia melihat kearah jendela


"Iya sudah biarkan saja Ayah dan ibu mereka selalu begitu "


"Apa kau yakin mereka tak melihat kita "


Kembali melihat jendela yang tepat berada menghadap kearah toko


" Tenang saja mereka tidak akan mungkin mau mengintip kita "


Masih memompa dengan keringat yang masih bercucuran, sedangkan Anya ia tak bisa menikmati permainan ini, karena perasaannya sudah deg - deggan karena posisi pagi hari dan jendela terbuka lebar, belum lagi pintu kamar yang tak ada kuncinya sama sekali


" Ayolah sayang kau kaku sekali "


Bima memaksa Anya yang tak lagi bergairah


" Aduh bagaimana mungkin aku bisa bersikap santai sayang "


Bima mengusal - ngusal rambut Anya yang keriting hingga membuatnya menjadi gumpalan besar tampak semakin kribo saja


" Sayang cepatlah ... "


Anya tampak benar - benar ingin menyudahi permainan ini


"Aduh kau ini tanggung sedikit lagi, sabarlah "

__ADS_1


Wkkwkwkwk jangan terlalu di hayati yah adegan ini.


__ADS_2