Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 168


__ADS_3

Tiba - tiba suara Ana terdengar membentak Arya


" Apa kau bilang Rima pelakunya ha, apa kau sudah gila Arya, mana mungkin Rima bisa melakukan itu semua aku tak percaya , kau jangan coba - coba memfitnah Rima ya "


Ana berdiri dan memukul meja sangat kuat, ia terlihat sangat marah karena Arya menuduh Rima


Manajer restoran yang dari tadi memperhatikan tingkah Aditya dan Ana yang memukul meja menghampiri mereka


" Maaf tuan dan nona, saya melihat dari tadi anda memukul meja terus, itu dapat menganggu kenyamanan para tamu di sini"


Ana yang sedang emosi lansung memaki balik manajer tersebut ia lepas kendali


" Jadi kenapa memangnya jika aku memukul meja ini, apa kau tak suka "


" Sudah sayang sabar, tenang dulu, tahan emosimu "Aditya menenangkan Ana dan meminta maaf kepada manajernya Termasuk Arya


"Maaf pak dia lagi hamil, bapak tenang saja nanti teman saya ini akan mengganti mejanya, "wajah Arya tampak sangat malu karena kelakuan Ana


Aditya yang seharusnya tak bisa menahan emosi sekarang malah sebaliknya ia yang berusaha menenangkan Ana yang tak terkontrol lagi


"Sayang pikirkan anak kita jangan marah - marah lagi, ayo duduklah "


" Manajer itu memancing emosiku "


Ana kembali duduk


" Aduh Ana sebaiknya kau dengar dulu penjelasanku ,aku tak mungkin menuduh seseorang tanpa bukti, kau pikir aku ini orang gila "


Arya tampak kewalahan sekali menghadapi Ana ia baru pertama kali kena marah perempuan hamil, kalau kena damprat perempuan lain jangan di tanya itu sudah sangat sering secara kan ... hehehe wkwwkw


" Kau ini kalau mencari tau informasi jangan setengah - setengah kau tau siapa yang kau tuduh itu kan? "


Ana kembali emosi kali ini ia menunjuk - nunjuk wajah Arya


sekali lagi Arya dan Aditya melihat orang - orang sekeliling


" Maaf pak, bu"sambil menganggukkann kepala kepada orang - orang sekitar


"Arya kau dengar apa yang aku katakan padamu itu! "


Ana membentak Arya kembali,


" Dit cepat kau hentikan istrimu ini, bagaimana aku mau menjelaskannya "


Arya tampak kewalahan menghadapi Ana yang seperti banteng mengamuk


" Sayang sudahlah dengarkan saja dulu Arya "


Ana masih tampak marah sampai akhirnya Dimas yang dari tadi diam angkat suara


" Ana tolong tenangkan dirimu dirimu dulu "


Ia menatap Ana dengan tajam, tentu saja membuat Ana menjadi tidak enak, karena Dimas sama sekali tak pernah menyakitinya


Satu kalimat dari Dimas membungkam mulut Ana ia langsung diam tak bersuara


" Tenanglah , kau tak perlu khawatir Arya tak mungkin sembarangan menuduh orang "


Aditya tampak kesal karena Dimas berhasil membuat Ana terdiam


" Sudah sayang tenang "


Aditya mengelus kepala Ana dan melirik Dimas


Dia milikku, kau tau , Ana apa yang kau lakukan ha, kau langsung diam saat Dimas membujukmu, kau benar - benar keterlalu sekali ya, untung saja aku mencintaimu Anastasya


Tersenyum sinis padahal hatinya marah sekali


Dengan cepat Arya membuka laptop ia tak mau mengulur waktu mumpung Ana masih tenang ,jika ia kembali brutal jangan harap lagi bisa berbicara dengan tenang

__ADS_1


" Apa lagi ini ha membuka laptop, aku banting saja laptop ini ya "


Ana hendak mengambil laptop diatas meja


"Aduh sayang hentikanlah, dengarkan lah dulu Arya "


Untunglah Aditya memiliki cara jitu karena susah sekali untuk dibujuk akhirnya Aditya menggunakan cara kotor


ia meremas kedua buah dada Ana di depan Dimas dan Arya


" Plakkkkkk " Satu tamparan mendarat


" Awwww" Arya memegang pipinya, dan Dimas langsung menunduk.


Aku rasa Dimas baru menyadari jika Ana dan Siska bar - bar sekali


" Yah tak apalah, sekali - kali kalian harus olahraga otot "


Arya berhasil membuka laptop,ia lebih memilih pura - pura tidak melihat


Ana menutup kedua dadanya dengan tangan


Anastasya tak perlu kau tutupin dadamu itu bukan kah dadamu itu adalah milikku, yang kapanpun aku butuhkan aku bisa menggunakan hak ku


Ana tampak sangat marah pada Adit


"Bisa - bisanya kau melakukan ini padaku kau memang sangat memuakkan "


Ana melangkah hendak pergi


" Ana nanti dulu cepat kau lihat ini " Ana yang tadinya hendak pergi tak sengaja menoleh kearah laptop, benar saja ia melihat seseorang di layar laptop Arya, sepertinya gambar di ambil dari kamera Cctv


"Rima. ? "Ana seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya, ia kembali mengusal kedua matanya dan kembali duduk di samping Aditya


sedangkan Aditya ia tampak bersikap sombong menengok kearah Dimas, Arya tau apa yang ada di dalam otak Adit, pasti Adit sangat bangga bisa menyentuh Ana di depan Dimas, ia sengaja membuat Dimas gigit jari haduh, dasar Aditya


"Apa yang sedang ia lakukan di sana ,Ana memperhatikan layar laptop dengan sangat dekat sekali "


Arya langsung tersenyum puas saat melihat


perubahan wajah Ana dari yang beringas, langsung lemas tak berdaya


" Bagaimana apa bukti ini sudah cukup untuk kalian berdua "


Arya duduk dan melihat wajah Ana yang masih syok


"Tapi tunggu dulu Arya, Rima pasti punya alasan melakukan ini, ini pasti tak seperti yang terlihat "


Ana masih saja berpikiran positif, sungguh tak mudah sekali membuatnya percaya


" Hmm kau itu sangat mudah sekali tertipu Ana ,sekarang aku kembali Bertanya padamu sejak kapan kau akrab dengannya "


Arya bertanya serius dengan Ana


"Tentu saja sejak awal masuk kuliah "


Ana menjawab polos


"Dan apa kau pernah duduk langsung bercerita dengan kedua orang tuanya tentang dari mana ia berasal "


Arya melipat kedua tangannya


Ana terdiam dan tak bersuara


" Baiklah ini adalah pelajaran berharga untuk kita semua, rambut boleh sama hitam. tapi hati siapa yang tau, Jangan terlalu percaya dengan orang yang baru kita kenal terlebih Ana kau terlalu baik pada siapapun, bukan aku mengajarimu untuk selalu berprasangka buruk pada orang lain, tidak hanya itu saja seharusnya sebelum kita tau asal usulnya sebaiknya jangan mempercayai siapapun, saudara sendiri saja terkadang bisa menjebak kita apa lagi orang lain yang baru kita kenal "


Ehem


Dimas berdehem kata - kata Arya tadi agak menyindir dirinya

__ADS_1


" Yang harus kau tau tentang Rima ia adalah adik kandung Marisa "


" Adik kandung Marisa "


Aditya dan Ana terkejut sekali mendengar fakta tersebut


" Kenapa kaget, itulah kenyataanya "


" Bagaimana jalannya sedangkan ia saja berpenampilan seadanya, kuliah saja ia dapat bea siswa "


" Benar Arya kali ini aku setuju dengan Ana Apa kau sedang mengada - mengada "


" Tolong kalian berikan aku waktu untuk bicara dulu, bagaimana aku akan menjelaskan jika dari tadi kalian sibuk memotong pembicaraanku "


Arya menjadi emosi


" Iya... iya baiklah lanjutjan Arya, maafkan aku "


Ana meminta maaf


" Kan enak di dengar " Arya membetulkan kerah bajunya


" Jadi karena ia lahir wajahnya tak secantik Marisa dan tidak seperti ayahnya yang berwajah indo, akhirnya ibunya menitipkan ia kepada pembantu rumah tangganya untuk di asuh, mungkin ibunya malu, apa lagi keluarga Marisa tidak ada yang seperti Rima, meski ia dititipkan dengan pembantunya tetapi ibunya selalu memberikan uang setiap bulannya,


dan sebenarnya Rima tak lulus bea siswa, aku telah mengecek di kampus, pihak kampus bermain dengan ibu Marisa agar mengizinkan Rima kuliah di kampus kita"


" Tunggu dulu tapi aku sendiri yang mengecek jika ia menerima bea siswa dari ku, aku mengirim uang kerekening pihak kampus"


"Ia menyalahgunakan wewenang, ia mengambil uang dari ibu Marisa dan masuk kekantungya, dan tetap mencantumkan Rima menjadi salah satu penerima bea siswa "


" Sialan, apa sudah kau pecat orang itu "


" Tidak akan aku pecat aku masih ingin tau seberapa jauh permainan mereka "


" Terus Arya lanjutkan lagi, apa lagi info yang kau dapatkan "


" Karena ibunya adalah seorang publik figur yang terkenal, belum lagi ayah Marisa menginginkan anak keduanya laki - laki,


aku rasa karena alasan itu ia membuang Rima, tetapi ujung - ujungya mereka bercerai juga,


Rima sangat menyayangi Marisa, dan yang kalian tidak tahu satu hal lagi


Marisa sudah meninggal setelah kejadian bersama Amanda kala itu, ia mengalami depresi karena akan di hukum karena perbuatannya, Rima tau Marisa juga tak kalah hebat mencintai Aditya ,


Tapi itu baru hasil tebakan ku saja, aku masih berencana menyelidiki motifnya dengan jelas, ternyata Rima bukan dari kalangan biasa ya "


Ana menarik nafas panjang, " Aku tak habis pikir jika Rima setega itu padaku, padahal aku sama sekali tak pernah menyakitinya "


Ana meneteskan air mata, perasaan Ana sangat lah lembut jadi wajar saja ia sangat mudah tersentuh dengan sesuatu hal yang mengenai hatinya


" Sudahlah sayang kau tak boleh menangis, air matamu hanya sia - sia saja "


" Tapi dia temanku sayang"


"Iya aku tau tapi seorang teman baik tak akan menikam di belakang "


"Benar kata Aditya, Ana kau tak pantas menangis karena hal tak berguna itu,


betul teman yang baik tak akan menikam teman yang lainnya, bukan begitu "


Arya tersenyum manis kearah Dimas


lagi - lagi Dimas kembali menjadi tidak enak ia hanya menggaruk kepalanya. sepertinya Arya sangat menaruh dendam padanya


" Betul itu Arya aku setuju, teman yang baik itu pun tak akan pernah menaruh dendam pada temannya "


Mak jleb Arya menelan air ludah


." Kita satu sama Arya "

__ADS_1


Dimas tersenyum sinis


__ADS_2