Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 132


__ADS_3

Siska tampak sangat jijik melihat Alena yang benar - benar genit sekali


" Ingin sekali aku menamparnya agar ia berhenti bersikap seperti ulat nangka


" Sst hentikan Siska bukankah ia teman kecilmu, tak baik bersikap seperti itu lagian dia juga tidak tau masalahmu " Ana menenangkan Siska


" Bukan seperti itu masalahnya dia bersikap merendahkan harkat dan martabat perempuan kau lihat saja ada perempuan yang bersikap seperti itu pada lelaki apa dia kurang kerjaan atau memang keturunan perempuan tidak tahu malu " Siska berbisik ketus


Ana paham sekali sikap Siska jika ia sudah ngegas berbicara itu pertanda Ana tak boleh membantah sama sekali


" Oke baiklah nanti kita bahas "


Jam kuliah selesai mereka berhamburan keluar kelas karena hari hujan lebat


" Siska aku pulang bareng kamu aja ya "


Alena memeluk tangan Siska " Apaan sih "


Dengan cepat Siska melepaskan pegangan tangan Alena


Ana langsung meredakan amarah Siska


" Alena kau jangan salah paham Siska tak bermaksud begitu, biasalah ia kecapekaan "


" Oh tentu saja Ana aku tidak pernah mengambil hati dengan sikap siapapun kepadaku apa lagi Siska teman kecilku ini "


Siska berjalan kedepan dengan wajah yang masih kesal


ternyata di depan ada Arya dan Aditya yang masih berdiri menunggu Ana


" Sayang masih disini " Ana langsung berlari memeluk Aditya


Membuat Arya berbisik " Pikirin perasaan yang jomblo boss "


Ana dan Aditya tak memperdulikan Arya, Siska berjalan menerobos hujan ia sengaja karena kesal bercampur aduk menjadi satu


beberapa kali suara petir menyambar begitu besar


" Siska apa yang kau lakukan hujan lebat sekali " Ana berteriak kencang sekali


Siska tak memperdulika Arya langsung melepas jaketnya dan berlari kearah Siska


dari kejauhan Arjuna pun berlari dengan membawa payung untuk Siska


Taraaaaaaaa.....


Ditengah hujan deras tersebut ada Arya, Siska dan Arjuna


Ana dan Aditya yang melihat langsung merasa deg - degan menunggu kelanjutan apa yang akan terjadi pada mereka


Siska dan Arya basah terkena hujan sedangkan Arjuna menggunakan payung


Siska berteriak


" Cepat buka mobilnya " Arjuna membuka mobil lalu masuk kedalam mobil Arya masih berdiri di bawah derasnya hujan


Siska menangis kesal di dalam mobil Arjuna tak menyadarinya karena Siska basah kuyup


membuka kaca mobil dan melempar payung keluar mobil, maksud Siska adalah memberikan kepada Arya yang kehujanan


" Cepat pergi " Berteriak dan menutup kaca kembali


" Percuma kau melempar payung Siska kita berdua sudah basah kuyup "


Alena yang melihat Arya kehujanan langsung berlari ia melihat payung yang jatuh di depan Arya lalu membukanya " Hei kakak ganteng ayo cepat kesana nanti kamu bisa sakit " Menarik tangan Arya dan kembali mendekati Aditya dan Ana


Ehemm " Aditya berdehem

__ADS_1


" Ini payungnya aku pulang dulu ya ke kontrakan ku "


" Hari masih hujan Alena apa kau tak menunggu hujan reda "


Berlari di dalam hujan sambil tertawa


ia naik sepeda ontel ternyata " Sudah Ana ini sangat indah hujan ini anugrah aku sangat menikmati pulang dalam keadaan hujan "


Alena mengayuh sepedanya


" Kadang ia waras terkadang gila, berasal dari mana dia " Arya mengusap wajahnya lalu menggelengkan kepala nya melihat kelakuan Alena


" Ayo kita pulang " Ana menarik tangan Aditya


......


Plakkkkk


plakkk


Maminya terkejut saat pulang kerumah melihat pecahan gelas berserakan di lantai


" Aduh siapa yang memecahkan gelas sebanyak ini " Melihat sekeliling di penuhi pecahan gelas


" Mbokk... mbok " Memanggil pembantu didalam rumah


Tidak ada sahutan sama sekali


" Kenapa Mi " Dimas keluar dari dalam kamarnya


" Ini lihat siapa yang memecahkan gelas seperti ini " Maminya menunjuk lantai yang penuh pecahan gelas


" Aku yang memecahkan gelas - gelas ini "


Dimas berbicara datar


" Sayang kau kenapa " Maminya mendekati Dimas lalu memegang tangan Dimas


" Lepaskan tangan Dimas mi "


Menghentakkan tangan maminya


Maminya terkejut sekali karena ini kali pertama Dimas membentaknya dengan keras


Lalu menunjuk wajah maminya " Tadi mami kekampus Dimas kan !! Jawab Mi! "


wajah Dimas memerah ia terlihat sangat marah sekali


Maminya tak kalah kaget mendengar Dimas membentaknya kembali


" Jawab mi!! mami punya mulut kan "


Bersuara lebih keras lagi


"Sayang iya memang tadi mami kekampus ada urusan tadi, memangnya ada apa "


Maminya masih berbicara dengan lembut


." Cepat buka pintunya "


Arjuna turun dan membuka pintu mobil dengan baju Siska yang masih basah kuyup


"Cepatlah kau ganti bajumu nanti masuk angin "Arjuna terlihat begitu perduli


"Biarkan saja aku masuk angin apa pedulimu menjawab sangat ketus


Siska melangkah menuju masuk kedalam rumah ia mendengar suara Dimas berteriak begitu keras membuat Siska bergegas untuk segera masuk kedalam rumah

__ADS_1


Siska yang mendengar teriakan Dimas dari luar langsung berlari masuk , ia terkejut melihat pecahan beling berserakan di lantai


" Apa yang terjadi " Siska hampir saja terpijak lecahan beling untung saja ia memakai sepatu


" Kak Dimas apa yang kau lakukan dengan mami ha bisa tidak kau berbicara pelan padanya " Menunjuk wajah Dimas dengan jarinya


" mami baik - baik saja kan "


memegang pundak maminya


" Diamlah kau, jika tak tau cerita sebaiknya diam saja " Mengejek Siska


" Kau tau kan dia ini siapa ha, dia yang telah mengandungmu dia ibumu " membentak balik Dimas


" Diam kau !! anak kecil tau apa "


Dimas membentak Siska kembali dihadapan Arjuna yang juga berada di sana, kali ini Dimas kembali memecahkan satu buah guci di depannya


" Kalian jangan bertengkar , sudahlah Siska jangan begitu nak dia itu kakakmu " menenangkan Siska


" Dimas apa yang terjadi sebenarnya mami tidak mengerti "


Maminya berbicara perlahan


" Mami tidak mengerti nak apa maksudmu "


dengan wajah heran


: Aku hanya bertanya apa yang mami lakukan tadi di kampus ha, bagimana rasanya berpegangan tangan dengan pelayan di kampus ku tadi, mami tau kelakuan mami tadi lihat oleh teman - temanku, apa mami tau mami itu bukan anak muda lagi yang bisa memadu kasih di depan orang banyak, jaga kelakuan mami "


Dimas berteriak memarahi maminya dengan nafas tak beraturan


"Apa itu benar mami " Siska bertanya dengan lembut


" Benar sayang, tapi mami bisa jelaskan "


" Apa yang mami bisa jelaskan diam - diam pergi berdua dengan lelaki di belakang ku buat malu saja, seharusnya mami malu dengan umur "


Siska yang iba melihat maminya terpojok oleh kemarahan Dimas langsung bersuara.


" Memang kalau mami pergi dengan lelaki lain apa masalahmu kak Dimas, lagian mami single dan aku tau mami juga tak menggoda suami orang lain ia hanya bersama lelaki yang juga single, terus masalahnya dimana "


" Ah kamu hanya anak kecil jangan ikut campur " Dimas kembali membentak Siska


" Heh apa ? anak kecil kamu bilang, kau memang lebih tua dariku cuma kau tak pernah bisa bersikap dewasa, kau egois sekali kak Dimas selalu berpikir sepihak tanpa kompromi mengenai perasaan orang lain, kau selalu mengambil keputusan sesuai egomu,


coba kau lihat mami beberapa bulan ini apa kau tak melihat perubahan mami dari pakaiannya semua pergaulannya mami berubah menjadi lebih baik itu karena apa


karena mami punya cinta di hatinya, heh"


Siska menarik nafas panjang " Kau bilang aku ini siapa aku ini anak perempuannya dan aku yang lebih lama tinggal dengan mami, kau itu egois kak Dimas semua orang harus mengikuti caramu ,cukup aku saja yang jadi korban keegoisanmu jangan mami, mami juga berhak bahagia apa nanti kau sanggup mengurus mami sampai tua , apa kau yakin mami tak butuh teman hidup kau lihat di mata mami ia masih punya cinta


kau lihat mami kak, dia sudah sangat berubah " Menunjuk kearah maminya


"Oh iya aku lupa , kau tidak punya cinta, pantas saja kau seperti ini tak punya hati sama sekali "


Maminya tampak merasa bersalah bulir air mata jatuh dari matanya " Ayo mami masuk saja kedalam kamar jangan pikirkan manusia tak punya hati itu "


Maminya menuruti Siska dan masuk kedalam kamar, Arjuna pergi kebelakang untuk membantu pelayan membersihkan pecahan beling yang berserakan


Dimas terdiam dengan ucapan yang di lontarkan Siska " Manusia tak punya hati "


Dimas memukul dinding kamarnya " Iya kau benar Siska aku tak punya hati "


Menangis menyesali perbuatannya


"Tapi aku tidak sudi jika mami harus menikah dengan laki - laki itu " Dimas menangis

__ADS_1


"


__ADS_2