Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 163


__ADS_3

" Sudah cepat panggilkan saja Ana, aku sudah pusing melihat ia "


Melirik kearah ibunya


Ana yang mendengar Bima berbicara sekali lagi langsung melompat keatas kasur,


ia tampak cemas mendengar Bima menyebut untuk segera memanggilnya keluar kamar,


" Ah gawat "


dengan perutnya yang sudah membesar Ana berjalan dengan tergesa - gesa dan langsung duduk manis di atas kasur dengan memegang sebuah buku di tangannya


Bima yang usil sudah tak tahan ingin tertawa karena melihat wajah Aditya yang sudah tak seperti biasanya


Anya tampak berkomat - kamit kearah Bima


" Kau keterlaluan sekali lihat Aditya wajahnya benar - benar kasihan "


Bima memberi kode dengan berbicara kecil


" Jangan khawatir, kau tenang saja "


Bima pun melanjutkan pertanyaannya kepada Aditya


" Jadi bagaimana Aditya, apa kau yakin bisa meluluhkan hati istrimu itu "


Aditya masih menunduk ia masih tak yakin


" Bagaimana atau sebaiknya kau pulang sajalah, aku tak mau melihat kau berdiri sia - sia disini " Bima memancing Aditya kembali


Aditya yang sebenarnya ragu menjawab namun dengan tegas ia mengatakan dengan lantang " Tentu saja aku yakin ia akan memaafkanku "


" Bagus lah kalau begitu, ternyata kau memang lelak sejati"


Bima tersenyum licik " Tapi aku tak yakin kau bisa dengan mudah membujuknya, aku tau siapa adikku itu "


Kedua mertuanya tak mau berlama - lama berada di dekat Aditya, lagi pula mereka bukan type orang tua dan mertua yang hobi mencampuri urusan rumah tangga anaknya,


" Baiklah nak, ayah dan ibu tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga kalian, kalian sudah dewasa berusahalah menyelesaikannya sendiri "


Ayah dan ibu mertuanya langsung berjalan keluar rumah


" Ayo ayah kita ketoko saja "


Ibunya bejalan menggandeng tangan ayah mertuanya mereka berdua tampak begitu bahagia berjalan bergandengan


Sepertinya mereka akan benar - benar langsung menuju toko kecil di depan rumah mereka, karena semenjak di PHK dari perusahaan ayah Ana membuka usaha tokoh kelontong di depan rumahnya ,tentu saja dengan modal yang di berikan langsung


oleh Aditya, selain dapat menambah pemasukan sehari - hari juga dapat mengisi hari - hari untuk menikmati masa tua, karena Ana memutuskan untuk tinggal bersama Aditya


Sebelum pergi keluar rumah Ayah mertua Aditya memberi kode agar Bima juga segera pergi masuk kedalam kamar, dengan menggelengkan kepalanya


" Aku juga ingin tidur ,hoammm ternyata marah - marah bisa membuatkan aku mengeluarkan energi ekstra "


Menarik tangan Anya


"ayo sayang kita masuk kekamar, kau kan tau aku semalaman tidak bisa tidur memikirkan Ana, " Bima membesarkan volume suaranya ia sengaja menekankan suaranya agar Aditya semakin terpojok


Aditya tampak tertunduk kepalanya tak mampu berkata apa - apa lagi

__ADS_1


Ia lebih memilih diam ketimbang harus melawan Bima kakak iparnya


Bima dan Anya pun masuk kedalam kamar


" Cepat lama sekali kau berjalan "


Anya mendorong Bima yang masih saja menoleh kearah Aditya sesekali


Eitz tapi Aditya jangan senang dulu ,


karena kedua kakak iparnya itu mengintip melalui lobang kunci ,mereka berdua sudah siap memperhatikan tindakan apa yang akan di lakukan Aditya untuk meluluhkan hati Ana


" Kau mau taruhan sayang "


Anya melirik kearah Bima


" Taruhan untuk apa? "


" Taruhan jika Aditya berhasil meluluhkan hati Ana "


Masih mengintip di balik lobang kunci yang sudah doll, biasanya lobang kunci di kamar tersebut hanya di tutup dengan kertas saja


dan karena itu adalah kamar ayah dan ibu jadi memang sengaja tidak di perbaiki, apa lagi kamar di rumah mertua Aditya itu hanya dua saja , jadi untuk sementara ayah dan ibu tidur di ruangan televisi karena tak tega melihat cucu kembarnya tidur di kasur tipis


Memiliki menantu kaya tak membuat orang tua Ana dan Bima menerima apa saja yang di berikan oleh mereka, dulu Bima sempat ingin merenovasi rumah tersebut, tetapi ayah dan ibu nya melarang karena mereka tak ingin


merubah kenangan di setiap sudut rumah ini


agar Bima dan Ana selalu mengingat dari mana mereka berasal


" Aku tidak yakin Ana akan membukakan pintu aku tau dia itu sangat keras kepala sekali, apa lagi jika ia sudah sakit hati, aku tak yakin Aditya akan berhasil hari ini "


Bima masih berbaring bersama si kembar yang kelihatannya sudah mulai mengantuk


perkiraanku memang tak pernah meleset sebentar lagi mereka juga akan berbaikan "


Aditya berjalan mendekati pintu kamar Ana, sebelumnya ia memastikan untuk melihat kekiri dan kekanan


" Untunglah mereka semua sudah tidak ada "


Mengelus dada


" Apa yang ia lakukan " Bima bergantian melihat lubang kunci karena penasaran melihat Aditya


" Bagaimana sayang, apa Ana sudah membuka pintu kamarnya "


Anya tampak antusias sekali


" kau lihat saja, seperti yang sudah kuduga sama sekali tak menunjukkan perkembangan"


Ana yang sudah lama menunggu di dalam kamar kembali tidak tenang " Kenapa lama sekali ia kemari , tadi kata kak Bima ia disuruh merayuku, tapi sampai sekarang tak ada yang mengetuk pintu kamarku "


Membuat Ana semakin sebal saja karena lama menunggu, padahal seorang perempuan itu paling tidak suka dengan kata - kata menunggu .


" Atau jangan - jangan dia sudah pulang"


Ana tampak khawatir karena khayalannya tidak sesuai dengan ekspetasi


Ana pun langsung berdiri dan berjalan kearah pintu lalu ia mencabut kunci kamarnya dan mengintip kembali di lobang kunci tersebut, berbeda dengan lobang kunci kamar Bima lubang kunci kamar Ana berukuran lumayan besar

__ADS_1


Diluar kamar Aditya masih tak bergerak sama sekali, ia pun memiliki pemikiran yang sama dengan Ana . Aditya pun melakukan hal yang sama di luar kamar, karena rasa takutnya kepada Ana ia juga memutuskan untuk mengintip dahulu melalui lubang kunci kamar Ana,untuk melihat situasi didalam apa sudah kondusif atau belum


Apa ini yang di sebut cinta, atau ini adalah kebodohan yang hakiki yang di lakukan mereka berdua


Bima dan Anya yang masih mengintip langsung berargumen kembali " Kau lihat kelakuan Aditya itu benar - benar konyol sekali "


" Maksudmu apa, minggir coba aku lihat "


Anya memaksa Bima untuk minggir


" Bodoh sekali dia ,apa yang sedang ia lakukan, oh ntahlah aku merasa tak yakin kali ini, bahkan aku rasa dia sudah hampir menghabiskan waktu satu jam di depan pintu itu, tapi belum menghasilkan apapun juga "


Anya menggelengkan kepalanya


Bima dan Anya masih memantau pergerakan Aditya di dalam kamar


sudah seperti dua orang detektif yang sedang memantau target


....


Aditya pun mengintip dan Ana juga mengintip mata mereka berdua bersamaan mengintip di lubang kunci yang sama


" Apa itu "


Ana dan Aditya sama - sama terpental mundur karena ketakutan melihat mata masing - masing yang berjarak begitu dekat


seperti itu


Kedua mata mereka saling beradu menatap dengan jarak yang sangat dekat, benar - benar konyol sekali


Anya dan Bima menepuk dahi mereka


" Kelakuan Aditya benar - benar memalukan aku sangat malau sebagai lelaki melihat kelakuannya "


Anya pun berdiri " Cinta terkadang membuat sesuatu yang konyol menjadi nyata "


Anya memandang Bima


Bima tampak salah tingkah karena dulu wanita yang berdiri di hadapannya ini adalah wanita yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi istrinya


Tetapi seiring berjalannya waktu lambat laun rasa cinta itu berangsur tumbuh dan semakin bersemi sepanjang hari


Bima mendekati Anya lalu mengecup kening istrinya itu " Aku bersyukur memiliki pendamping seistimewa dirimu "


" Meski awalnya kau tak mencintaiku bukan "


Anya tersenyum karena itu memang benar


Untunglah Bima jago ngegombal


" Tetapi cinta akan selalu menemukan jalannya, kau adalah kekasih halalku. tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencintaimu "


" Ah kau memang jago sekali merayuku "


Anya tersipu malu


Tak berapa lama mereka langsung tersadar dan langsung kembali mengintip


" Kita melupakan sesuatu "

__ADS_1


Dengan cepat berdua mereka kembali mengintip lagi secara bergantian


" Bagaimana apa ada perkembangan ? "


__ADS_2