
" Ana aku taa.... taa "
Ana menarik tangan Rima
" Ya sudah kak Dimas aku titip Rima dulu ya "
Ana mengedipkan matanya
Dimas langsung menarik tangan Rima,
Oh surprise sekali Ana Dan Aditya pun ikutan terkejut karena tak menyangka jika Dimas akan bersikap seprofesioanal itu
Rima mendadak kaku wajahnya memerah, badannya tak bisa ia gerakkan hingga Dimas menyentakkan tangannya, Ana tau jika Rima menyukai Dimas sejak pertama kali masuk kuliah
" Ayo pulang "
Arya yang dari tadi berada di ruang pantau langsung keluar karena melihat Dimas bersikap seperti itu " Astaga Dimas aku tak menyangka kau bisa senekad itu kawan, mm sebaiknya kau hati - hati menjaga hatimu "
Arya menggelengkan kepalanya " Kau lihatlah Dit, dia sangat menikmati permainan ini "
" Apa kau berpikiran sama denganku " Aditya dan Arya saling berpandangan
" Tenang saja Dimas itu tak mudah di taklukkan karena di hatinya masih ada satu nama "
" Maksudmu "Aditya menoleh kearah Arya
" Ehem " Ana berdehem
" Aku lelah sekali sayang ingin segera istirahat di kamar "
Arya langsung paham jika Ana memberinya kode agar menghentikan pembicaraan tersebut
__ADS_1
" Dit apa kau tak ingin beristirahat juga, "
" Ya aku rasa aku juga butuh istirahat , sebaiknya kau urus saja semuanya "Aditya berjalan menaiki anak tangga untuk segera menyusul Ana
" Selamat bersenang -senang kawan "
" Oke baiklah Arya sekarang kau harus segera melanjutkan tugasmu "
Kembali keruang monitor untuk memantau apa yang akan terjadi selanjutnya karena ia sudah menyuruh orang untuk membuntuti Rima
" Oke atur posisi, ya bagus... "
Rima duduk berboncengan diatas motor berdua dengan Dimas ,dengan tersenyum Rima tampak malu -malu sekali duduk di atas motor tersebut
" Lihat wajahnya munafik sekali " Arya mengoceh di ruangan pantau sedangkan beberapa petugas sibuk dengan tugasnya masing -masing
Tak lama Dimas menarik tangan Rima agar segera memeluknya
" Kak Dimas " Rima menarik tangannya dari pinggang Dimas
Membuka helm dan menghadap kebelakang ia menatap wajah Rima dengan dalam sekali
membuat Arya yang memantau menjadi deg-deggan sendiri
" Dimas aku sangat cemas sekali jika kau malah terjebak permainan sendiri kawan, aku tidak menyuruhmu melakukan seperti itu, aduh Dimas, Sebaiknya kau berhati- hatilah dengan perasaanmu itu aku tak akan sanggup melihatmu patah hati untuk kedua kalinya " Arya menutup wajahnya
" Kak Dimas kenapa? "
Rima ketakutan tapi disisi lain ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang bahagia, bagaimana tidak Dimas adalah kakak senior yang sangat ia sukai di kampus, dan sekarang jarak antara dia dan Dimas hanya sejengkal saja
Dimas memegang tangan Rima yang sudah mulai panas dingin " Rima.... "
__ADS_1
Rima menelan air ludah, wajahnya yang putih berubah merah kembali, meski ia tak secantik Ana tapi ia cukup manis untuk di pandang mata
" Iya kak Dimas " Rima menunduk
" Kau lihat aku " Masih memegang tangan Rima
" Apa kau menyukaiku "
jreng... jreng...
" Dimass kau... !" Arya terlihat panik
"Aku tidak menanggung resiko permainan mu ini Dimas ,ini menyangkut hati "
Rima yang berada di depan Dimas tak kalah panik dengan Arya ia tak bisa menjawab apapun
" Kenapa kau diam, apa aku sudah tak menarik hatimu "
" Bukan begitu Kak " Rima memberanikan diri bicara
" Jadi apa .... jika kau tak menyukaiku lagi tak masalah "
Dimas memasang helmnya dan kembali pada posisi semula bersiap untuk jalan kembali
Rima menepuk pundak Dimas " Kak Dimas tunggu dulu "
" Apa lagi " Membuka helm kembali dan menoleh kebelakang
" I.. iya aku menyukaimu " Rima menunduk malu
" Oahh Dasar gadis bodoh! mudah sekali ternyata membuat nya percaya " Arya kembali berteriak kencang
__ADS_1
" Baiklah jika begitu mulai sekarang kau adalah kekasihku "
Dimas berbicara tegas, membuat Rima semakin tak bisa berbicara lagi ia menampar pipinya berkali -kali meyakinkan jika ini bukan mimpi