Lelaki Angkuh Itu Jodohku

Lelaki Angkuh Itu Jodohku
Part 151


__ADS_3

Siska menjawab dengan sangat jutek


" Dia pergi dari tadi dengan mama "


wajahnya tampak sangat kesal ia melirik Arya yang berdiri sejajar dengannya


Siska masih kesal sekali karena tadi melihat Arya bersama Alena didalam kamar


memang tak sepantasnya ia cemburu, karena ia sekarang adalah istri sah Arjuna, bukankah tidak baik seorang istri menyimpan perasaan untuk lelaki lain


" Atau jangan - jangan kau memang sengaja tak mau mengajaknya " Rima kembali mengompori Siska, Siska yang hatinya masih tak karuan tak memperdulika ocehan Rima di sampingnya, betul kata orang jika sudah menikah jangan sesekali bersilaturahmi dengan mantan, itu akan membangkitkan banyak kenangan, meski Arya dan Siska tak berpacaran tetap saja mereka sempat memiliki beberapa kenangan indah


Tak lama terlihat Ana menuruni anak tangga semua mata tertuju pada Ana ia sudah seperti seorang putri indonesia saja


menggunakan gaun berwarna gold, dengan belahan paha dan dada yang agak terbuka, perutnya yang mulai membesar justru membuat ia semakin cantik saja


" Ya itu dia nyonya Anastasya Aditya, bukan main ia sangat cantik sekali "


Mc tersebut memuji kecantikan Ana


aemua hadirin bertepuk tangan kearah Ana


" Itu menantu mama pa, " Mama Aditya memuji kecantikan Ana


" Memang Ana sangat cantik mirip sekali dengan ku waktu muda dahulu "


Oma Rita dan sepupunya yang sudah tua itu tersenyum geli memuji Ana, atau mereka sedang menghayal berada di posisi Ana


Aditya tampak sangat panas mendengar MC tersebut memuji Ana


ya bukan Aditya namanya jika ia tak cemburu jika istrinya menjadi pusat perhatian, ada beberapa lelaki yang dengan bangga memamerkan kecantikan istrinya, tetapi tidak dengan Aditya ia terlihat sangat marah saat semua mata tertuju pada Ana


Dengan sigap Arya menarik tangan Aditya


" Kau mau kemana Dit "


" Aku akan menghajar pembawa acara itu, apa kau dengar dia barusan memuji istriku "


Aditya tampak marah sekali


" Hei dia itu cuma memujinya saja kau santai saja lah ,dia kan hanya pembawa acara saja wajar saja dia melakukan itu , kau lihat ia memang menawan wajar saja semua memujinya "


Arya masih memegangi tangan Aditya


" Kau juga barusan memuji Ana ku bukan "


lagi - lagi Arya menjadi sasaran kecemburuan aditya


" Aduh santailah, aku hanya memujinya, itu normal kawan "


Aditya langsung melihat sekelilingnya Dan memperhatikan, benar ternyata semua orang sedang memandanginya


Ia masih tak menyadari jika genggaman tangannya dan Arya masih bergandengan benar - benar tak terlepas satu sama lain, memegang sangat erat,


membuat Dimas yang melihat


trsenyum - senyum kecil


" Hei aku sangat iri sekali melihat kemesraan kalian berdua "


Dimas menggoda Arya dan Aditya


Aditya dan Arya saling berpandangan " Hentikan menatapku seperti itu Arya atau aku akan memukulmu dengan tanganku "


" Kau pikir aku tak jijik " Melepaskan genggaman tangan mereka dan mengelapnya


Dimas tampak memperhatikan Ana dengan tatapan penuh cinta, tentu saja yang namanya cinta tak segampang itu melupakannya, itu adalah rasa manusiwi seorang manusia, jika jatuh cinta


Aditya yang sudah tersulut dan terbakar api cemburu langsung dengan emosinya berdiri di depan Dimas menghadang pandangan Dimasa agar tak bisa melihat Ana secara leluasa


rasakan kau Dimas enak saja kau memandangi istriku, jangan sampai kau berpikir yang tidak - tidak tentang istriku


awas saja aku bisa mengacaukan khayalanmu itu


Arya ternyata menyadarinya , ia melihat tatapan Aditya kepada Dimas sudah tidak wajar lagi , lalu ia sengaja berbisik di telinga Aditya


" Hei bung semua orang punya mata tentu saja ia bebas memandang siapa saja yang ja suka, jika kau tak mau istrimu di pandang orang kau kurung saja dia di kamar, kalau aku nanti begitu jika punya istri tak ada satupun yang boleh memandangnya "


Melirik kearah Siska diam - diam dan berharap suatu saat keajaiban terjadi , tapi tetap saja Arya memegang prinsip , bahwa ia tak mau jadi pebinor, menganggu pernikahan orang lain , jika memang ada jodoh cukup lah waktu dan takdir yang mengaturnya jika tidak maka jodohnya telah di siapkan di tempat lain, walaupun rasa cinta Arya begitu besar tapi rasa cinta tuhan lebih tau apa yang harusnya terjadi,


memang benar Arya masih sangat mencintai Siska


Saat Dimas menoleh kearahnya dengan cepar Arya langsung membuang muka karena takut ketahuan oleh Dimas jika ia sedang memandang Siska yang berdiri tepat di samping Dimas


Aditya masih sangat marah karena semua orang memandang kearah Ana , sedangkan Ana tampak tersenyum ia tak mengetahuu jika suaminya dari tadi tensinya naik turun ia melambaikan tangannya kepada orang - orang yang melihatnya dengan perut yang sudah nampak membesar Ana tampak agak. kesulitan berjalan


" Siapa yang menyuruhnya melambai - lambaikan tangan seperti itu, lihat dia genit sekali ,tersenyum - senyum kepada semua orang " Melirik kearah Dimas yang masih memandang Ana


Aditya langsung menegur Dimas secara spontan " Dimas kau melihat apa ?"


" Kau ini kenapa tentu saja aku melihat kedepan, tak mungkin aku melihat kebelakang , bukankah yang di belakang tak harus di ingat, sekarang pikirkan saja apa yang ada di depanmu "

__ADS_1


Dimas sebenarnya bermaksud menyindir Arya yang dari tadi sibuk menoleh Siska yang berada di sampingnya , tetapi Malah salah sasaran, justru Aditya menangkap kata - kata Dimas


"Jangan menoleh kebelakang dan menatap kedepan , yang berada di depannya adalah Ana


Membuat Aditya semakin panas, buru - buru ia mendekati Ana hingga membuat ia tersandung kabel yang melintang hingga terkena kaki Ana, Ana hampir saja terguling. lara hadirin berteriak histeris


" Awwwwwww


"Cepattt tahan dia


" Aduhh


Suara - suara hadirin terdengar begitu ribut


"Hadirin harap tenang "


Oembawa acara menenangkan tamu undangan yang terlihat begitu panik


untunglah dengan sigap Dimas dan Arya berlari untuk menangkap tubuh Ana


Brakk


brukk


Arya berada di posisi bawah sekali sedangkan Dimas menghimpit tubuh Arya, bokong Ana yang besar langsung menimpa wajah Arya yang tepat berada di atasnya


Arya tampak susah sekali bernafas ia mengangkat tangannya tinggi - tinggi dan memberi kode minta tolong


Aditya yang melihat Ana menduduki wajah Arya langsung berteriak " Aryaaa kau apakan bokong istriku , kau lihat "


Aditya yang seharusnya berterimakasih malah asik cemburu tak berujung


Arya langsung berdiri dan mengatur nafas nya, tampak. ia terengah - engah mengatur nafasnya


"Kau jangan terlalu berlebihan padaku, Dit bokong besar istrimu hampis saja menghilangkan nyawaku " Arya langsung berlari mengambil minuman


" Cepat berikan aku air " Mengambil paksa air yang dibawa oleh pelayan


"Piuhhhh "membuang air dari dalam mulutnya


" Hei air apa ini asin sekali "Wajah Arya tampak sangat kecut


Pelayan tersebut langsung menjelaskan


" Anda tidak bertanya lagi tuan, anda langsung memaksaku berhenti "


Menunjuk kearah oma Rita, nenek dahlia, dan tuan chang


Arya langsung memuntahkan segala isi didalam perutnya belum lagi ia melihat Oma Rita sedang memegang gigi palsunya


" Kenapa kau menggunakan gelas sebagus ini "


Melihat cangkir emas berwarna kuning


" Itu memang permintaan mereka bertiga agar tak di ketahui orang, baiklah tuan saya permisi "


Arya langsung berlari ke toilet


.......


Para hadirin dan tamu undangan langsung bernafas lega melihat Ana yang tak kenapa - kenapa


Ibu Ana langsung mengurut dada


"Astaga hampir saja putriku kenapa - kenapa


jni pertanda dari mimpiku malam tadi, ya ampun hampir saja " Ibu Ana tampak lega


Aditya masih tampak sangat cemburu kepada Dimas, melihat cara Dimas berlari dengan sigap saat Ana terjatuh membuatnya menjadi super hero di mata Ana


."Sudah Dimas sebaiknya kau kembali kesana saja " Aditya berusaha mengusir secara halus


Ana yang mendengar ucapan dari mulut Aditya merasa tidak enak dengan sikap Aditya yang seperti itu


" Terimakasih kak Dimas kalian telah menyelamatkan ku "


Wajah Aditya tampak sangat marah, karena Ana berterimakasih kepada Dimas


" Kau ini selau saja seperti anak kecil , apa kau tak melihat jika tidak ada mereka berdua apa aku bisa selamat, kau terlalu ceroboh sekali "


Ana dan Aditya tampak bertengkar di depan para undangan membuat kedua orang tua mereka harus naik keatas dan melerai pertengkaran mereka, yang di akibatkan kecemburuan Aditya yang tak beralasan


" Dit sudah kalian berdua sebaiknya jangan bertengkar lagi, kalian lihat semua orang sedang menonton kalian semua banyak tamu orang penting, hentikan cepat pertengkaran kalian " Mama dan papa Aditya tampak tersenyum menampakkan gigi sambil berbicara berbisik


Papa mama Aditya membungkukkan badannya untuk meminta maaf karena malu oleh ulah Aditya


untung saja Dimas memiliki inisiatif


sekali lagi Dimas bertindak sebagai pahlawan


Ia mengambil mik dan bertepuk tangan

__ADS_1


" Terimakasih untuk para hadirin sekalian, dan kalian jangan terkejut ini adalah bagian dari kejutan pasangan ini, agar memberikan nuansa berbeda di pesta ini, ini semua hanya akting saja semoga kalian semua terhibur "


Semua hadirin pun langsung bertepuk tangan dengan meriah


Ana kembali flash back terkenang saat kemah di pantai


saat Marisa mengatakan hal buruk padanya


Dimas datang untuk membelanya malam. itu


Terimakasih kak Dimas, sekali lagi kau menyelamatkan kehormatan keluarga ini lagi


kau memang orang baik


Pembawa acara pun langsung bertepuk tangan


Aditya melirik kearah Ana. yang sekarang kembali menatap Dimas


Ia melihat Ana dan melihat Dimas


Aditya yang cemburu buta bahkan tak perduli jika orang melihat mereka


Ia berbisik ke telinga Ana " Coba saja jika kau berani memikirkan lelaki lain selain aku di otakmu, maka akan aku pastikan di otakmu hanya ada namaku " Aditya berdehem


Arya langsung kembali mendekati Aditya


yang tampak masih sangat emosi


"Kau jangan khawatir anakmu nanti tetap akan memiliki wajahmu aku pastikan wajah Dimas tak akan mampir haha " Arya meledek Aditya


"Hentikan ocehanmu atau kau akan aku lempar kedalam. kolam berenang "


Arya langsung memberikan kode dua jarinya yang berarti " Peace " Damai


Terdengar suara pembawa acara berbicara kembali


" Baiklah hadirin sekalian selanjutnya kita akan memasuki detik - detik menegangkan


Nyonya Anastasya Aditya bratawijaya akan mengetahui apa jenis kelamin anaknya ,silahkan nyonya masuk kedalam ruangan yang sudah di sediakan "


menunjuk ruangan yang berada di sebelah kiri


Ana pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih,


Dari kejauhan Bima melihat wajah Aditya yang masih sangat kesal,


Bima yang lebih senior dalam segala hal


tentu saja sangat paham, jika adik Iparnya


itu terkena cemburu akut tingkat tinggi


Aditya berjalan melewati Bima, dengan sigap Bima menarik tangannya


Awalnya Aditya ingin marah sekali, siapa yang dengan sengaja beraninya menarik tangannya


"Lepaskan aku "


Saat ia menoleh yang menarik tangannya adalah Bima kakak iparnya ia langsung menurunkan emosinya, bisa - bisa ia kena marah Bima, bila. ketahuan bersikap begitu posesif kepada adiknya


" Kak Bima " Aditya berhenti tetapi matanya masih memandangi Ana yang masuk kedalam ruangan tersebut


Sedang apa dia didalam tempat itu, apa dokter yang Memeriksany lelaki, apa dia hanya berdua saja di dalam itu


Pikiran Aditya sudah tak karuan, ia seperti sudah tak perduli dengan jenis kelamin bayinya


" Kau ini kenapa Dit, santai saja lah sebentar lagi kau akan tau jenis kelamin anakmu, tunggulah di sini "


Kembang api mulai di hidupkan, layar besar sudah menyala didepan hadirin


Siaka dan Rima saling berbisik " Ternyata acara syukuran tujuh bulanan orang kaya seperti ini, berbeda sekali di kampungku "


Rima berbisik ketelinga Siska


" Memang di kampungmu seperti apa "


" Dikampungku di bacakan doa dan membelah kelapa" Rima tampak terheran - heran


" Apa kalian sudah siap untuk melihat hasilnya " Pembawa acara tampak berapi - api


sudah seperti pak soekarno yang membacakan teks proklamasi kemerdekaan saja


Aditya yang berdiri disamping Bima tampak lebih mengkhawatirkan istrinya bukan Anak bayi di dalam perutnya


tiga


.


dua


satu

__ADS_1


" Layar besar di hidupkan tampak wajah bayi dengan hidung yang mancung terlihat jelas


__ADS_2