
" Hei kembali, mau kemana kau tengah malam begini " Perasaan Siska mulai sedikit khawatir melihat Arjuna yang ingin pergi keluar tengah malam begini
" Cepatlah masuk kedalam, ganti bajumu ini sudah malam " Arjuna terkesan sangat cuek sekali ia bersikap sangat ketus tak memperdulikan Siska yang sebenarnya sudah mulai melembek padanya
Mendengar teriak Arjuna seperti itu Siska mulai salah tingkah sendiri salah tingkah karena ia mulai perhatian, dan marah saat Arjuna bersikap angkuh padanya
Arjuna melajukan mobil dan melesat sangat cepat tepat di depan matanya
Siska bergumam kecil seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia ucapkan
" What ? Siska kau mengkhawatirkannya "
Siska mengusap wajahnya dan memegang bibirnya
" Seriuskah barusan aku "
Siska merasa sangat malu jika benar barusan ia mengkhawatirkan Arjuna
Ia berlari masuk dan memastikan tak ada yang mendengar saat ia bertanya kemana Arjuna akan pergi
" Semoga tak ada yang mendengarku , bisa jatuh harga diriku nanti " Siska melihat kekiri dan kekanan
"Untunglah tak ada siapapun yang melihatku "
Siska berjalan mengendap - ngendap dan sekali lagi ia melihat kekiri dan kekanan untuk memastikan jika memang tak ada orang yang melihatnya
"Syukurlah, aku aman "
Mengurut dadanya
Sungguh sayang sekali Siska jika ia tak menyadari bahwa maminya sedang senyum - senyum sendiri memandangnya dari balik jendela melihat kelakuan Siska yang seperti maling yang takut ketangkap
" Mami bersyukur nak, semoga akan ada keajaiban yang meluluhkan hatimu agar bisa menerima Arjuna sebagai suamimu "
Mami Siska tersenyum bahagia
"Mami selalu berdoa agar kehidupanmu bahagia bersama lelaki baik itu nak, mami yakin kau akan bahagia "
......
Malam semakin larut suasana pesta syukuran Di rumah Ana semakin ramai saja, para tamu masih sibuk mencicipi segala jenis hidangan yang tersedia , berbagai jenis hidangan lezat dan enak dari belahan dunia tersedia di setiap meja tentu saja dengan pengawalan yang masih sangat ketat di lengkapi dengan alat sensor untuk menyelidiki siapapun yang mencurigakan
Tampak Arya berjalan dengan wajah yang amat sedih karena barusan saja ia bertengkar dengan Siska , kisah cinta Arya yang tragis
Ia tak berniat menyakiti Siska, tapi jika ia menegaskan perasaannya dengan Siska tentu saja ia akan semakin bersalah karena telah menganggu rumah tangga orang lain
Dimas yang melihat Arya berjalan dengan sedih langsung datang dan mengajak Arya untuk duduk bersamanya Dimas sengaja bersikap sepert tak terjadi apapun ia menghampiri Arya dengan sebuah minuman di tangannya
" Ini untukmu minumlah "
Melihat Dimas datang menghampirinya
sebenarnya membuat Arya semakin sakit saja, tetapi apa mau di kata, Jika ia menjadi Dimas pun ia juga tak mau menyetujui Siska untuk menikah dengan lelaki seburuk dirinya
" Tidak usah aku tak haus " menolaknya karena minuman yang di berikan Dimas mengandung Alkohol, sedangkan Arya sudah berjanji untuk tidak menyentuh hal - hal yang berbau alkohol lagi
Dimas tertawa melihat Arya menolak minuman favoritnya itu
" Are you sure, brow " Dimas nampak terkejut saat Arya menolak minuman tersebut
Arya mengangguk tapi tak melihat kearah Dimas sama sekali karena sakitnya karena cinta tak segampang itu di hapuskan
" Hidup itu kan perlu perubahan kawan, jangan bergerak mundur tapi bergerak maju demi perubahan, apapun yang terjadi dalam hidup adalah perjalanan yang tak akan bisa kita ubah ya kan" Tersenyum kearah Dimas
" Aku akan meninggalkan sesuatu yang buruk sedikit demi sedikit, waktu akan tetap berjalan kita tidak tau kapan giliran kita akan di panggil tuhan "
Arya menarik nafas panjang membuat Dimas semakin tertegun
Dimas meneguk minuman di tangannya
"Ternyata kau tak main - main kau memang sudah berubah "
Pandangan mata Dimas tepat sekali, Di depan mereka berdiri sepasang insan sempurna Ana dan Aditya , tentu saja tatapan Dimas tak bisa di bohongi ia sama seperti Arya hanya bisa memendam tanpa harus memilik , ia memandang Ana dan Aditya yang sedang berdiri tepat di depannya
mereka berdua begitu serasi tampak jelas mereka di kelilingi kebahagiaan
" Mencintai itu memang sakit sekali " Meneguk kembali minuman di tangannya Dimas seperti tak terima dengan apa yang di lihatnya
" Tetapi ada kalanya kita harus bergerak mundur untuk menyelamatkan sebuah hubungan, jika aku menuruti nafsuku mungkin aku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta Ana, tapi aku berpikir aku tak akan mau mengganggu cinta mereka "
Dimas sebenarnya bermaksud untuk menasehati Arya secara halus
Dengan spontan Arya langsung menyeletuk ucapan Dimas
" Ya tapi Ana memang tidak memiliki perasaan apapun padamu , tentu saja kau tak berhak menganggu hubungan mereka " Tersenyum dan menatap Dimas
Sekali - kali dia tak apa lah aku berikan pelajaran, jangan seenaknya saja dia terus - terusan memojokkan aku ,aku juga berhak mengeluarkan apa yang ingin aku sampaikan jangan dia saja yang bisa
__ADS_1
Dimas terbatuk - batuk mendengar ucapan yang keluar dari mulut Arya, pedas bukan ? .
Dengan santai giliran Arya memberikan minuman "Ini minumlah ,ternyata kau masih saja sulit untuk melepaskan ini "
Menunjuk minuman yang di pegang Dimas
Arya kembali menatap Ana dan Aditya
" Mereka berdua saling mencintai, terlalu jahat jika kau masuk kedalam kehidupan mereka untuk memisahkan dua insan yang saling mencintai itu sangat jahat brow " Arya melirik kearah Dimas dan meneguk minuman di tangannya , air mineral yang berada di sampingnya tentu saja Arya lebih memilih minum air putih saja
Dimas tampak tak berkutik mendengar kata - kata pedas dari mulut Arya , tampak ia sudah mulai berada dalam pengaruh alkohol
ia memilih diam saja tanpa berani menyanggah sedikitpun kata - kata yang dikeluarkan oleh Arya
" Kita tidak akan pernah bisa tau rasa kehilangan terdalam, jika tak pernah merasakan bahagianya saling mencintai,
ah aku lupa kau tak parnah merasakan saling mencintai "
Lagi - lagi Arya kembali menyindir Dimas secara halus , ia sambil tertawa menepuk - nepuk pundak Dimas agar tak terlalu nampak jika ia sedang menyindir Dimas
" Kita tidak bisa hanya berbicara saja tentang pengorbanan atau sebuah kejadian jika kita sendiri belum pernah merasakannya ,ibarat anggur ini " Menunjuk anggur yang di pegang oleh Dimas
"" Bagaimana mungkin kita bisa bercerita soal rasanya jika kita tidak pernah merasakan bagaimana rasanya , sama seperti sebuah pengorbanan yang kau ceritakan
memang betul berkorban untuk kebahagiaan orang lain itu memang sangat bagus, kalau orang tersebut memang bahagia. tetapi memisahkan kedua orang yang saling mencintai itu tak akan membuat hidup kita bahagia , bukan begitu brow "
Dimas hanya mengangguk dan tersenyum kecut, ntah apa yang di rasakan Dimas kali ini, Arya tak pernah sama sekali mengungkapkan perasaannya tetapi ia terpaksa memberikan komentar pedas karena Dimas memulai nya duluan,
Maaf kawan kau sudah mulai tak terkontrol kan, aku tak bermaksud menyakitimu, tapi benar kau tidak pernah tau bagaimana sakitnya saling mencintai tapi tak bisa bersatu
Mereka tak menyadari jika tiang penyangga panggung ada yang terlepas dan mulai merenggang
Para tamu yang tampak begitu menikmati alunan musik, dan tampak beberapa orang sedang asyik mengobrol
Dalam beberapa menit sebuah insiden kecil terjadi, Ana yang sedang berjalan untuk turun tergelincir dari atas panggung, dan terjepit di antara sela - sela tiang
Karena gaunnya yang panjang terlilit
semua hadirin tampak panik karena tubuh Ana yang besar terjepit
Dimas langsung berlari di ikuti Arya dan yang lainnya
Aditya pun terlihat berteriak ia semakin panik, ibu dan Ayah Ana saling berpelukan
terlebih ibu Ana ia langsung memegang dadanya
" Jangan berpikiran yang macam - macam bu"
Mencoba menenangkan istrinya
" Cepat keluarkan aku dari sini " Suara Ana terdengar sangat panik
Ana berteriak sangat keras sekali karena ia tersangkut di antara tiang , ia tampak kesakitan
Aditya tak kalah cemas ia sangat panik sekali ,beberapa orang langsung berlarian mencari cara untuk mengeluarkan Ana dari situ
" Cepat lakukan apapun untuk istriku , bagaimana ini, mana EO nya kalian tidak profesional sekali ,apa kalian tak melihat jika celah kecil seperti ini dapat membahayakan nyawa orang lain "
Aditya berdiri dan marah sekali ia memaki - maki Eo acara tersebut
Para tamu tampak ikut tegang karena melihat Aditya yang sangat marah sekali
Oma Rita, tuan chang, dan nenek mendekat
" Sudahlah Adit berhenti menyalahkan siapapun, kau tenangkan dirimu Ana akan baik - baik saja "
Mendekati Ana yang tampak cemas bagaimana tidak ia seperti seekor gajah yang terjatuh di lubang
" Bersabarlah sayang orang - orang akan segera mengeluarkanmu dari sini "
Oma Rita mengelus kepala Ana
" Nenek juga ada di sini sayang, kau jangan khawatir cucu ku " Kedua wanita tua itu sungguh menenangkan Ana ia tampak tak berteriak lagi
semua orang bergegas untuk menolong Ana
hingga pembawa acara terpaksa membubarkan acara sebelum waktunya
Dimas berlari dan memegang tangan Ana
" Bersabarlah, kau tenang saja "
" Tolong cepatt keluarkan aku dari sini "
Ana tiba - tiba kembali berteriak
" Cepat keluarkan aku dari sini pinggang ku terasa mau patah "
__ADS_1
Suara Ana terdengar kesakitan
Aditya yang melihat Dimas memegang tangan Ana ,emosi Aditya langsung memuncak
" Kau sedang mencari kesempatan untuk memegang tangan istriku ya !!! "
Langsung berdiri " Hei Dimas apa yang kau lakukan " kembali berteriak karena Dimas tak menggubrisnya
Arya yang tadinya masih kesal berada tepat di belakang Aditya langsung menahan Aditya
sebenarnya Dimas salah apa maksudnya coba langsung memegang tangan Ana ,untung saja ini situasi yang mendesak jadi ia bisa mencari alasan agar Aditya dapat menahan emosinya
" Hai kawan berhentilah bersikap bodoh begitu, kau lihat situasinya kali ini berbeda "
Ana menahan amarahnya karena kesal melihat Aditya di situasi seperti ini bisa - bisanya ia mengajak Dimas untuk bertegangan urat
Bisa - bisanya ia mempermasalahkan hal yang sangat tidak penting begini, aku ingin sekali menendangnya minggir dari hadapanku kalian semua, kak Dimas juga berhentilah memegang tanganku, tak sepantasnya tau !
Beberapa petugas damkar berusaha mengeluarkan Ana dari posisi tejepit tersebut
Fi ikuti beberapa petugas keamanan
" Pelan - pelan pak jangan sampai melukai menantuku "
Mama Aditya tampak sangat khawatir
Semua orang tampak sangat khawatir apa lagi tiba - tiba Rima berteriak
"" Kak Dimas ada darah di tanganmu! "
Aditya berteriak histeris begitu juga para tamu undangan, semua nya nampak panik
Bima kakak Ana berinisiatif untuk segera membubarkan acara karena suasana sudah tidak kondusif didalam. rumah ini
" Cepat telpon Ambulance, aku tak mau terjadi apapun dengan istriku "
"" Dit,, kau tenanglah aku baik - baik saja jangan khawatir "
Aditya menggenggam tangan Ana , Ana tampak tersenyum menguatkan Aditya
"" Apa kau kesakitan sayang " Aditya meneteskan air mata seolah merasakan apa yang di rasakan Ana,
Aditya langsung berdiri lalu berteriak "Aku akan menuntut EO Acara ini. kalian tidak profesional mengancam keselamatn istri dan bayi ku "
" Sudahlah sayang, jangan khawatir ini akan segera berakhir jangan cemas, kita tak bisa mengelak takdir "
Seorang teknisi berusaha memperbaiki tiang yang hendak rubuh wajahnya tampak pucat bukannya membuat panggung tersebut bisa mengeluarkan tubuh Ana justru malah membuat beberapa besi dari atas terlepas
"" Tuan bisakah kau mencari bantuan lagi tiang ini akan rubuh aku sangat takut beberapa besi penyangga akan menimpa tubuh istri anda "Bibirnya bergetar
Aditya, Dimas, dan Arya langsung panik mereka langsung menyuruh orang untuk menahan tiang tersebut agar tidak rubuh
""Sepertinya akan terlambat ,Dit aku mencintaimu " Ana memejamkan matanya saat sebuah besi jatuh tepat di atas perutnya
Sebuah besi jatuh dan langsung menancap di tubuh nenek sepupu oma Rita,
ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Ana, tubuh Ana terlepas dan jatuh kebawah
Semua orang kaget melihat apa yang terjadi didepan mata saat ini
""Awasssssss !! "
Oma Rita berjalan tergopoh - gopoh mendekati tubuh renta yang menyelamatkan Ana
""Sepupu kau telah mengorbankan jiwamu untuk cucuku ,sepupu kau seharusnya tak perlu melakukan ini pada ku "
Suara tangisan oma Rita pecah, paman dan bibi anak angkat nenek terdengar berteriak dari kejauhan
" Ibuuuuuuuuuuuuuu "
Mereka berlari - lari kecil dengan air mata yang sudah berurai, tubuh Ana di penuhi darah nenek sepupu
Ambulance pun datang nenek dan Ana langsung di evakuasi masuk kedalam mobil.
suasana yang seharusnya menjadi bahagia harus tragis seperti ini
Ibu dan Ayah Ana berpelukan " Firasat ibu benar yah, sesuatu yang buruk terjadi "
Mereka semua menangis dan bergegas untuk segera pergi kerumah sakit untuk melihat Ana dan nenek
Oma Rita masuk kedalam ambulance, beserta paman dan bibi memegang erat tangan nenek sepupu, ia masih bisa berbicara meski besi telah menancap di punggungnya , darah segar tak berhenti keluar dari dalam tubuhnya
" Rita kau jangan khawatir aku baik - baik saja, setidaknya jika aku harus pergi duluan. aku dudah memberikan kesan yang baik pada kalian semua, kau tau bukan aku sangat menyayangi Ana, benar katamu anak itu sungguh istimewa dari pertama aku melihatnya aku langsung menyayanginya "
Shara shrine dua ambulance terdengar memecahkan jalanan di kawal aparat keamanan kedua ambulance tersebut akhirnya sampai di rumah sakit keluarga bratawijaya
Memang kuasa tuhan di atas segalanya nenek sepupu masih sadar meski ia banyak mengeluarkan darah, berbeda dengan Ana ia sudah tak sadarkan diri meski ternyata punggungnya terluka sedikit, mungkin karena jatuh tadi, semoga saja Ana baik - baik saja.
__ADS_1