
" Jika kau tidak suka silahkan marah padaku
Aditya berdiri dan mendekatkan wajahnya kepada Ana dengan wajah nya yang memerah
Aditya sengaja berbuat sedikit kejam kepada Ana karena ia sangat sukar sekali diatur
Nyali Ana langsung ciut saat melihat wajah Aditya yang sangat marah itu
" Kau bebas , melakukan apapun kepadaku kamar ini dan diriku ini semua adalah milikmu asal kau senang
Ana bergeser kebelakang dan mengatakan hal itu dengan penuh ketakutan
" Ayo kita pergi dari sini
Dag dig dug
Detakan jantung Ana terasa berdetak sangat kencang dia sangat cemas apa lagi rencana Aditya selanjutnya ,
merasa bersalah ? tentu saja tidak semudah itu Aditya akan memaafkannya
" Ayah ,ibu kami pamit mau pulang dulu
" Hati - hati dijalan kalian ya ,
" Ana ingat pesan Ayah kau jaga kelakuanmu itu
Ana mengangguk
Kalian hanya bisa tersenyum melihatku pergi dengan Aditya terimakasih ayah ibu aku sangat bahagia !
" Kita akan pulang
" Sudah kau diam saja dibelakang jangan banyak mengoceh
Rintik - rintik air hujan mulai menetes , hujan turun dengan cepat
mereka pun memilih berhenti disebuah pondok papan di pinggir jalan yang terdapat sepasang kakek nenek juga berteduh menggunakan sepeda tua nya
" Dingin sekali
Ucap sang nenek kepada kakek tua itu dengan suara yang lirih
Kakek tersebut nampak mengeluarkan kertas koran dari tasnya lalu menutup nenek tua itu
Mereka berdua salinf tersenyum
Aditya dan Ana yang melihat seperti salah tingkah mereka melihat pemandangan sederhana yang penuh makna hanya dengan selembar kertas koran
" Apa kau juga dingin ,
Ana hanya menggeleng tetapi tubuh Ana memberi kode bahwa ia sedang menggigil
" Kemarilah
Ana masih tak mendekat , Aditya menarik Ana duduk disampingya terdapat bangku di kiri kanan pondok tersebut
__ADS_1
Posisi Ana sekarang berpelukan ditubuh Aditya yang atletis itu , Aditya memegang tangan Ana dengan erat mereka menatap hujan yang tak kunjung berhenti , sebenarnya Aditya bisa saja menelpon orang untuk menjemput mereka sepertinya ia sangat menikmati hujan ini bersama Ana
" Nenek lapar kek,
Suara nenek tua yang parau kembali memecahkan suasana ditengah hujan deras tersebut
Kakek tua itu kembali mengeluarkan pisang rebus dari tasnya untuk diberikan kepada nenek tua tersebut
Mereka rupanya menyadari jika Ana dan Aditya dari tadi memperhatikan mereka
" Neng mau pisang ini , tampak ia menyodorkan satu buah pisang rebus dari tas usang miliknya itu . Ana dan Aditya saling berpandangan mereka melihat pisang itu hanya ada dua tetapi kakek tua itu begitu baik menawarkannya pada mereka ,
Aditya mau menolaknya tetapi perut Ana berbunyi tanda ia kelaparan
" Terimakasih kek, istri saya lagi hamil muda
Aditya mengambilnya dari tangan kakek tua tersebut
lalu menyerahkannya pada Ana
" Neng lagi hamil lengket betul sama suaminy
Wajah Ana memerah ia masih tetap memeluk Aditya
" Nenek dulu juga begitu neng kakek dipeluk terus takut aja kalau lepas nanti ada yang lain meluknya
Kakek dan nenek tersebut tertawa membuat wajah Ana semakin merah
Kakek tua itu berdiri nan mengadahkan tangannya
" Hujannya sudah reda nek , ayo kita pergi lagi
"Kek masih gerimis nanti saja perginya
" Jangan atuh Nak , kakek dan nenek suka kalau berjalan hujan - hujan berdua biar mengenang masa muda dulu
Aditya menyelipkan beberapa lembar uang kedalam tas tua milik kakek itu
kebiasaan Aditya yang tidak diketahui Ana lelaki yang menjadi suaminya itu sangat gemar bersedekah dan menolong sesama
" hati - hati kek
" Mari neng
Ana mengangguk
" Hujannya awet ya , seperti cinta kakek nenek itu , Ana memancing obrolan berharap Aditya membalas seperti awetnya cinta kita ,
Aditya buka tipe lelaki pujangga yang peka dengan sebuah kode ucapan
" Apa kau mau mencobanya kita berdua berjalan dalam rintikan hujan seperti mereka
Kau yakin sekuat itu , bagaimana jika nanti kau akan langsung demam bersama anakku itu
Aditya mengusal rambut Ana
__ADS_1
" Sudahlah kau jangan terlalu banyak berkhayal porsi kebahagiaan setiap orang itu berbeda .
Aditya memegang tangan Ana menatap kedua bola mata Ana
" Kita akan menua bersama seperti mereka "
Duarrrrr
jantung Ana terasa seperti terbang melayang keudara , nano rasanya asam manis menjadi satu. entah itu gombalan atau jujur dari hati Aditya tapi membuat Ana merasa terbang melayang keudara , jantung hati nafas langsung bergerak tak beraturan
Ana membalasa menatap Aditya dengan dalam seakan tak perduli dengan seluruh ancaman yang akan menganggu hubungan mereka
Aditya mengusap lembut punggung tangan Ana sembari menunggu tetesan hujan berhenti dari atas langit , Ana pernah mendengan salah satu ceramah agama doa yang mustajab dikabulkan ada beberapa waktu salah satunya adalah saat hujan turun
Ia memejamkan matanya lalu mulutnya berkomat - kamit
Aditya memperhatikan gerak bibir Ana yang berbicara secara lambat ,
betapa manisnya wajah Ana saat seperti itu , belum lagi bentuk bibirnya yang mungil berwarna merah dengan belahan ditengahnya membuat Ana kelihatan semakin menarik pantas saja Dimas menggilai istrinya itu
Ana membuka matanya ia melihat Aditya sedang memperhatikannya dengan cepat ia menjauhkan tubuhnya dari Aditya ibarat kucing yang sedang ketahuan belangnya
" Kau sedang apa komat - kamit seperti itu , sedang mencoba membaca mantra untuk menggodaku kah.
Aditya tersenyum nakal
" Kalau iy bagaimana kau tak mungkin bisa menolakku kan , Ana kembali menggoda .
" Berani sekali kau menantangku ya , rubah kecil ini sudah berubah menjadi macan seksi ternyata
" Hujannya sudah berhenti , teriak Ana
ia melihat jam masih menunjukkan pukul 11 siang di rumah ibu nya tadi mereka tidak sempat untuk makan
" Ayo kita melanjutkan perjalanan hari ini ,
Ana segera duduk diatas motor Aditya lalu menarik tangan Ana kedepan hingga membuat mereka semakin erat ,lalu ia melajukan motornya kesebuah tempat perbelanjaan
Ana tampak sangat bahagia siang ini sekejap rasa was - was akan kehadiran orang ketiga menghilang , Aditya sibuk mengajak Ana berbelanja tetapi Ana lebih tertarik untuk menonton film keluaran terbaru kesukaannya
" Aku ingin menonton film ,
" Atau kita mencari makan dulu bagaimana
Aditya sebenarnya tidak mau menonton ia agak truma jika harus menonton berdua Ana karena istrinya itu suka genre film horor yang menyeramkan bisa - bisa ia kehilangan harga dirinya sebagai lelaki jika berteriak didepan Ana.
" Tapi aku belum lapar,
" Aku sangat lapar Ana
Aditya tidak menyadari kalau meningkatnya nafsu makannya akhir - akhir ini disebabkan kehamilan Ana , yang anehnya ia malah merasakan segalanya mulai dari mual dan ingin makan yang aneh - aneh
" Baiklah aku akan menemanimu mencari makan,
Setelah itu kau harus menemaniku menonton ya,
__ADS_1
Ana sengaja mengajak menonton ia juga ingin membuat Aditya merasa bahwa menonton film dibioskop berduaan dengannya juga sangat asyik melebihi Amanda
Dia masih sangat tidak bisa melupakan kejadian didepan matanya saat berada dibioskop . melihat dengan jelas adegan demi adegan yang dilakukan Amanda bersama Aditya.