
Aditya pulang kerumah tentu saja dengan Ana di sampingnya
sebelumnya, saat mereka beramai - ramai berada di dalam kamar,
ayah dan ibu masuk kedalam rumah dan terkejut melihat Ana, Aditya dan Anya berada di dalam kamar Bima
" Kalian semua kenapa berada disini "
Ibu terkejut
Bima yang sedang minum tersedak karena ibu bertanya pada Ana ia sangat cemas jika Ana mengadukan perihal ia mengintip
Ana melirik kearah kakaknya dan bermaksud untuk menggoda bima ia menaikkan kedua alisnya
Bima langsung melipat kedua tangannya memohon
Ana langsung tertawa cekikian
Ayah dan ibunya langsung tampak bahagia karena melihat Ana yang sudah baikan sepertinya dengan Aditya
" Ya ampun ayah sepertinya mereka sudah baikan "
Ibunya pun menyenggol lengan menantunya itu
"Iya bu, ini semja berkat ibu mertua ku yang sangat cerdas dan awet muda ini "
Aditya tersenyum sambil menggoda ibu mertuanya
" Ah menantuku kau bisa saja memuji ku "
Ibu mertuanya tersipu malu
"Benar sekali nak Aditya, ibu mu ini memang tak pernah berubah, ia selalu sama saat ayah pertama kali bertemu dengannya "
" Aduh, kalian bisa saja membuatku menjadi malu " Memukul pundak suaminya dan Aditya
" Ehemmm
Ana bedehem, Anya langsung keluar dari kamar dan segera berlari kekamar mandi, karena ia gerah sekali
"Kakak ipar kau mau kemana " Ana menggoda
"Mau membasahi rambutmu ya "
Ana menjulurkan lidah kearah Bima, lalu masuk kedalam kamar mencium dua balita kembar yang sedang tertidur lelap itu
"Kalian lucu sekali keponakanku"
Ana berulang kali mencium keponakan kembarnya itu
Aditya melirik kearah Ana
" Tenang saja sebentar lagi kalian juga akan memiliki anak sama seperti kakak kalian "
Ibunya tertawa geli, ia sangat paham jika Aditya sudah tak sabar ingin menimang bayi juga
" Jadi bagaimana apa kalian mau tinggal disini atau langsung pulang? "
Ayah mertuanya sudah tak sabar menunggu jawaban dari Aditya ,karena setelah pulang kerumah mereka Juga masih akan menghadapi ceramah versi ke tiga dari orang tua Aditya dan oma Rita
Ana yang mendengar dari dalam langsung menyahut " Iya yah Ana ikut Aditya pulang kerumah "
" Nah itu baru istri yang baik, kemanapun suami pergi harus di ikuti jangan meninggalkan suami seorang diri karena duri akan dengan mudah masuk menyelinap kedalam kehidupan rumah tangga "
Ayahnya memberi wejangan
Aditya tersenyum lega, lalu Ana pun keluar kamar " Ayok Dit, kita pulang "
Menggandeng tangan Aditya seperti tidak terjadi masalah apapun, hmm itulah kelebihan Ana ia bukan tipe orang yang berlama - lama marah, jika sudah selesai
masalah maka semuanya sudah akan baik - baik saja.
" Baiklah Ayah, ibu Ana pamit "
mencium tangan orang tuanya dan juga kedua kakaknya
"Aditya pamit juga Ayah"
" Yah baik - baik kalian ya, "
" Dagh hati - hati, besok aku akan pulang kembali kekalimantan "
Bima melambaikan tangannya
Ana berbisik kecil " Awas saja kau aku beri juga pelajaran "
Bima tersenyum lega karena Ana tak membeberkan rahasianya,
Sebelum pergi Ana berbisik pada ibunya mengatakan sesuatu yang membuat mata ibunya membesar " Awas saja dia ya "
Ana tertawa terbahak - bahak saat melihat Bima cemas
"Kak Bima dagh, siap - siap ya "
" Aduh apa yang akan di lakukan ibu padaku "
Mata ibunya menatap kearah Bima.
.......
Didalam mobil
Ana berbaring manja di pundak Aditya,
" Lain kali jangan pernah menghilang dariku "
Aditya memohon
" Aku tidak kabur, sayang kan aku tidak tau apa yang terjadi "
Ana semakin erat memeluk lengan Aditya
Sedang asik bermesraan ponsel Aditya bergetar
" Dit ponselmu berbunyi " menunjuk dengan bibir ponsel yang bergetar di kantung Aditya
" Ambil saja sayang, aku lagi menyetir "
Ana mengambil ponsel dan memasukkan tangannya kedalam kantung celana Aditya
" Awwww geli "
Tangan Ana tak sengaja menyentuh sesuatu yang berdiri
" Maaf sayang tak sengaja "
" Mmm jika kau sudah tak sabar maka tunggulah nanti ya, kita akan sampai dirumah"
Aditya menggoda Ana, ia tidak tau jika papa dan mamanya kembali lagi kerumah karena mereka belum puas memarahi Ana
__ADS_1
" Sayang aku buka ya ponselnya "
Ana selalu begitu, meski ponsel Aditya tak pernah di kunci tapi tetap saja ia menghargai dengan selalu meminta izin terlebih dahulu untuk membuka ponsel Aditya
" Ya cepat buka saja pesannya sayang, tidak usah meminta izin apapun "
Ana membuka ponsel Aditya
" Dari Arya sayang "
" Apa cepat kau bacakan saja "
Ana membuka pesan dari Arya yang
berbunyi :
" Dit, cepat bawa Ana kemari, ada yang harus kita bicrakan saat ini juga, aku bersama Dimas sekarang di tempat biasa ada sesuatu yang harus di luruskan secepatnya "
" Sudah hiraukan saja tidak penting "
Aditya menjawab dengan sangat ketus, karena ia tidak tau apa yang telah terjadi malam tadi antara Aditya dan Dimas
Aditya tampak tak mau bertemu Dimas ia masih sangat kesal apa lagi malam tadi ia sudah menghajar Dimas
"Ah apa lagi sih, yang mau di jelaskan menyusahkan saja "
Aditya memukul kemudi setir
Ana tampak heran, karena ia memang tidak tau apa yang terjadi " Sayang kamu kenapa, apa mereka membuat masalah lagi "
Jangan pura - pura bodoh Ana apa kau lupa sang pengirim poto, mengirimkan potomu dan Dimas, tentu saja siapa yang tidak marah
" Sebaiknya kita menemui mereka dulu Dit, mungkin Arya sudah tau siapa pelakunya "
Ana berusaha menenangkan Aditya karena ia tak mau persahabatan yang telah mereka bangun lama harus rusak gara - gara orang yang tidak suka dengan mereka, meski itu memang kesalahan Aditya awalnya
Aditya menoleh kearah Ana
" Baiklah ini semua karena permintaanmu saja "
Dengan cepat Aditya mengemudikan mobilnya memutar arah kerestoran tempat mereka biasa bertemu
......
Mereka berdua pun sampai di restoran tampaklah motor Dimas berada di parkiran bersebelahan dengan mobil miliknya yang dibawa oleh Arya
Wajah Aditya tampak sangat garang, bagaimana tidak ia melihat dengan jelas apa yang dilakukan Dimas pada istrinya yang sedang tertidur lelap di rumah sakit, dalam keadaan pingsan
Meski Aditya belum mengetahui keadaan nenek, keluarga sengaja menutupi sampai Ana sendiri yang bertanya
" Sayang "
Ana menahan tubuh Aditya yang hendak turun dari mobil ,wajahnya tampak memohon
Ana memeluk Aditya dengan sangat erat
"Apa lagi istriku, apa lagi yang kau inginkan, katakan saja , jika kau menginginkan isi dunia ini, aku akan memberikannya,
aku tak perduli apapun lagi didunia ini,
karena sebaik - baiknya perhiasan di dunia ini sudah aku miliki ,kau tau "
"Tentu saja aku tau kau begitu kaya sayang "
Ana menjawab datar ia tak sadar jika Aditya sedang berusaha menggombalinya
" Bukan itu sayang, kau itu lebih dari seluruh perhiasan di dunia ini "
Ana tersenyum manis
" Sayang , suamiku, kakandaku aku mohon berjanjilah padaku "
" Berjanji untuk apa sayang "
"Janji dulu " Memberikan kelingkingnya pada Aditya
"Oke janji apa itu "
Aditya pun mengaitkan kelingkingnya di tangan Ana
" Baik aku harap kau akan mengontrol emosi mu nanti di dalam, aku tak mau melihatmu marah - marah, kau lihat anakmu yang ada di dalam perutku ini nanti akan sangat malu jika melihat papanya berkelahi ,apa kau mau ?
dan konon katanya jika istri sedang hamil dan kau begitu membenci seseorang maka anakmu nanti lahir wajahnya akan mirip orang yang kau benci "
Aditya terdiam lalu membayangkan sesuatu
Tidakkkkkkkk aku tidak mau, aku tidak akan membiarkan wajah anakku mirip seperti Dimas, tidak akan aku biarkan, aku akan mencari dokter yang bisa melihat dengan jelas wajah anakku nanti
" Sayang apa yang kau pikirkan "
Ana mengguncang tubuh Aditya
Aditya mengecup kening Ana lalu menarik nafas dalam - dalam meski ia sangat emosi "Jangan khawatir sayang
aku akan mengontrol emosiku "
Meski ia sebenarnya berbohong pada Ana
ia tak mungkin bisa menahan emosinya yang tak terbendung lagi malam tadi
Mereka berdua pun berjalan memasuki restoran dengan tangan Ana menggandeng lengan Aditya
" Itu mereka " Arya menengok kearah Aditya dan Ana
Tampak Arya melambaikan tangannya sedangkan Dimas menundukkan kepalanya
" Dia pasti masih sangat marah padaku Arya "
Dimas merasa tidak enak pada Aditya atas kelakuannya malam tadi
"Sudah kau tenang saja, nanti kita akan jelaskan semua kesalahpahaman ini "
Arya mmenenangkan Dimas yang masih merasa bersalah
" Adit cepat lah kemari"
" Kecilkan suaramu, lihat orang - orang melihatmu"
Dengan cepat Arya menutup mulutnya
Aditya duduk sambil memandang Dimas dengan tatapan sangat jijik sekali
Dengan sigap Arya membuka obrolan
" Aku mohon tolong dengarkan aku tidak ada yang boleh memotong Pembicaraan ku sampai selesai, setuju tidak setuju aku lah yang memegang keputusan saat ini "
Arya memberi ultimatum " Aku hanya butuh kalian mendengarkan saja, jika ingin masalah ini cepat selesai "
"Sudah cepat katakan saja, lama sekali "
__ADS_1
Aditya tampak. emosi ia melihat Dimas dengan sangat jijik, hanya melirik saja tapi duduk dengan posisi membuang muka
" Sudah sayang " Ana berusaha menenangkan Aditya ia juga tidak enak dengan Dimas karena Ana tau Dimas tak mungkin serendah itu pasti ada alasannya sehingga ia menjadi tak terkontrol sama sekali
Dimas hanya menunduk saja ia tampak. pasrah, hmm memang cinta bisa merubah segalanya persahabatan yang dulunya erat bak saudara kita berantakan hanya karena masalah cinta
"Baiklah, " Arya menarik nafas dalam - dalam
"Langsung saja untuk mempersingkat waktu , Dit kau harus tau malam tadi Dimas duduk bersamaku "
" Hhhhhhh "
Suara Aditya menghembuskan nafasnya
" Dan ia meneguk beberapa gelas minuman beralkohol,lalu ia juga tak menyadari apa yang sudah ia lakukan di rumah sakit, Dimas sama sekali tak tau apa yang ia lakukan pada Ana, semua yang ada di rekaman itu adalah sesuatu yang tak ia sadari "
Aditya ingin menyanggahi kata - kata Arya
cuma dengan cepat tangan Ana menarik wajahnya "Sudah ,dengarkan saja dulu "
Aditya kembali tenang ibarat seekor hewan ia sekarang berada dengan pawangnya
"Lanjutkan Arya "
Ana berbicara lembut sambil memegang tangan Aditya
" Dan kalian tau, jika Dimas tak mungkin melakukan hal seburuk itu, sedangkan ia tau ia tak mau menganggu hubungan mu dan Ana, meski memang benar ia sangat mencintai Ana "
" Ya.. ya.. ya "
Aditya kembali bersuara lalu kembali emosi, kali ini ia menggigit giginya
Ana memberikan kode lalu berbisik
" Ingat tadi kau sudah berjanji padaku "
Aditya mengangguk perlahan tanpa bersuara sama sekali
" Dimas dan aku tadi menemui orang tuamu, dia sudah bersumpah dihadapan kedua orang tuamu dan juga oma Rita, dia pun sudah menemui orang tua Ana "
"Hahh? kapan "
Ana dan Aditya berbicara bersamaan
" Tadi pagi "
Dimas menjawab
" Mau aku lanjutkan atau tidak "
Arya tampak sedikit emosi
" ya sudah lanjutkan saja Arya " ucap Ana
" Dimas juga menemui Bima kakakmu,
dia sudah meminta maaf dan bersumpah tak pernah melakukan apapun terhadap Ana semua yang di lihat di rumah sakit itu semua ia tak menyadarinya "
hmm pantas saja tadi Bima mengatakan Masih banyak di luaran sana yang mencintai Ana ternyata ia mengatakan Bima, hhh
tetap saja aku lebih tampan dan kaya dari Dimas
Aditya menaikkan dagunya
Meski Aditya tampak terkejut karena nyali Dimas begitu berani mendatangi keluarganya dan keluarga Ana, cuma ia tak mau menampakkan dan mengakui kepada Dimas, karena masih kesal
"Dan Aditya apa kau tau siapa pengirimnya. ? Tentu saja di luar dugaan "
Arya kembali membuat penasara
Mereka semua menunggu jawaban Arya
" Siapa "
Ana bertanya dengan tidak sabar
"Cepatlah aku juga sudah tidak sabar lagi ingin mengetahuinya ,jangan membuat aku menunggu lama "
" Sabar dulu aku haus "
Arya meminum minuman di depannya
" Apa kalian mau minum juga, biar aku pesankan"
" Sudah lah Arya seharusnya dari tadi kau pesankan minuman untuk kami "
Aditya tampak kesal dengan kelakuan Arya
"Baiklah sabar, kalian jangan terkejut tolong lebarkan kedua daun telinga kalian pelakunya seorang perempuan, teman dekat Ana "
" Siapa sih "
Ana sangat heran
" Tentu saja bukan Siska "Arya tertawa licik
" Maksudmu Rima "
" Ya benar Rima pelakunya, gadis itu yang mengirimkan video ini "
Semua terkejut seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar terlebih mereka tau bagaimana latar belakang keluarga Rima
dan Rima benar - benar sangat baik dan polos
" Rima yang mana Arya, "
Aditya bertanya " Masa kau lupa yang pergi bersama kita liburan kerumah nenek, apa kau lupa yang selalu bersama Siska "
"Ehem "
Dimas berdehem karena Arya sangat bersemngat dari tadi menyebut nama adiknya Siska
Arya melirik kearah Dimas, sedangkan Ana seperti sedang menahan sesuatu ia tampak seperti tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar jika pelakunya adalah teman dekatnya yaitu Rima
Aditya menepuk meja " Brakkkk "
Semua orang melihat kearah mereka
"Dit, kontrol emosimu "
"Tidak bisa ia harus kita basmi, hampir saja ia membuatku kehilangan Ana "
Dimas hanya diam saja tak berani lagi menyanggah apapun karena ia tau Aditya terlihat begitu emosi
"Sudah tenang saja, Dit kau lihat Ana ia sepertinya sedang menahan sesuatu "
Aditya menoleh kearah Ana yang sedang memegang dadanya " Sayang kau tidak apa - apa ,tenang saja sayang kita pasti akan membalasnya"
"Iya Ana kau jangan khawatir, aku juga akan segera memasukkan ia kedalam penjara, ia akan membusuk di penjara "
__ADS_1
Ana masih terdiam, sepertinya ia sudah tidak tahan lagi ingin mengatakan sesuatu
Aditya dan Arya saling berpandangan