Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 pertemuan tak terduga


__ADS_3

Minggu sore di rumahnya Nanda masih dengan kesibukan nya yang itu itu saja, menikmati masa masa jomblo nya dengan bermain playstation dan berguling guling tak jelas di kasur. Sesekali dia membalas chat dari para gadis yang kerap menghabiskan waktu malam bersama nya,  para gadis yang biasa menemani nya di klub malam dan hanya untuk sekedar menemani nya mengusir kepenatan yang di rasakan nya.


Tok, Tok, Tok.


Terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya.


" Masuk." ucap nya sambil tetap bermaksud playstation.


" Nanda, apa kamu sedang sibuk? " terdengar suara serak papa nya seraya menghampiri nya.


Nanda menoleh dan melihat papa nya yang sudah berdiri di dekat nya" Enggak juga sih, kenapa memang nya? " tanya nya dengan ekspresi bingung.


" Papa mau minta tolong, bisa kamu antarkan barang ini? "


Nanda bangkit dari duduk nya dan melirik papa nya sedang memegang kardus besar di tangan nya" Apa itu? "


" Ini ada beberapa mukena dan sajadah, papa mau menyumbang kan ini untuk musolah musolah di sekitar sini, tapi papa ada keperluan mendadak, kamu bisa tolong antarkan? " jelas papa.


Nanda terdiam sejenak mengingat papa nya memang termasuk orang yang religius dan kerap mberikan sumbangan sumbangan pada musolah dan masjid masjid di sekitar daerah nya, kadang dirinya berfikir kenapa sifat sang papa tidak di wariskan pada nya? yang justru lebih suka suasana di klub malam.


" Oh gitu, yaudah sini Nanda anterin,"


Papa pun segera memberikan alamat musolah tersebut, Nanda bergegas menganti pakaian nya dan segera melajukan mobil nya ke alamat tersebut. Tak lama Nanda sampai di musolah itu, kaki nya perlahan mulai memasuki musolah tersebut, terdengar suara anak anak yang seperti sedang mengaji.


" Assalamualaikum," ucap nya sambil melihat keadaan sekeliling musolah yang tampak sepi.


" Walaikumsalam," terdengar suara pria menjawab salam nya.


Pria paru baya yang mengenakan baju koko, peci dan sarung itu perlahan menghampiri nya.

__ADS_1


" Permisi pak, ini sayq mau memberikan sedikit sumbangan untuk musolah ini, dari pak Wahyu," jelas Nanda seraya memberikan kardus besar yang di pegang nya.


" Oh pak bayu, Masya allah, beliau itu memang rajin sekali memberi sumbangan pada musolah ini," senyum mengembang dari bibir pria itu seraya menerima sumbangan Nanda.


Nanda tersenyum simpul mendengar pria itu memuji papa nya.


" Makasih ya, kalau boleh tau, ade ini siapa nya pak wahyu? " tanya pria tersebut yang memperhatikan wajah Nada cukup mirip dengan pak Wahyu.


" Saya Nanda, putranya pak wahyu," Nanda tersenyum dan memberi salam pada pria tersebut.


" Jadi ade putranya nya pak Wahyu? pantas saja dari tadi bapak berfikir wajah ade cukup mirip dengan pak Wahyu," Seru pria itu sambil tersenyum ramah.


" Tunggu sebentar ya, kebetulan saya baru saja pulang umrah jadi saya ingin memberikan sedikit oleh oleh untuk pak Wahyu," sambung pria tersebut.


" Enggak usah repot repot pak," jawab Nanda yang merasa sungkan.


" Enggak apa-apa, tunggu sebentar saya panggil kan putri saya ya.. Sabrina," Seru pria tersebut memanggil nama putrinya.


" Sabrina? " seru Nanda saat yakin gadis itu adalah adik kelasnya saat di SMA yang sempat di sukai nya dulu.


Gadis itu pun menoleh, pandangan mereka sesaat bertemu.


" Kak Nanda? " seru Sabrina yang juga tampak terkejut.


" Loh kalian sudah saling mengenal? " tanya pria paru baya tersebut yang merupakan ayah dari Sabrina.


" Iya abi, ini kakak kelas Sabri waktu di SMA dulu." jelas gadis cantik tersebut sambil tersenyum.


" Oh begitu, dia ini putra pak Wahyu, yang sering memberikan sumbangan untuk musolah ini,"

__ADS_1


" Oh jadi kak Nanda putra pak Wahyu? " sabrina tampak terkejut.


" Iya." Nanda tersenyum.


" Nak ambilkan oleh oleh untuk pak Wahyu yang papa bawa saat umrah," sambung ayah sabrina.


" Oleh oleh? oleh oleh yang tadi untuk anak anak di musolah sudah habis bie, ada sisanya di rumah," jelas sabrina.


" Sudah pak, enggak usah repot repot," sahut Nanda yang semakin merasa sungkan.


" Tidak apa-apa, bapak ingin sekali memberikan oleh oleh untuk pak Wahyu, kalau tidak keberatan, tunggu sebentar ya bapak ambil di rumah dulu, ayo nak kita ambil di rumah dulu," ajak ayah sabrina pada putri nya.


" Iya bie, bentar ya Sabri suruh anak anak pulang dulu,"


" Anak anak? " tanya Nanda heran.


" Iya putri saya ini sepulang kuliah kadang mengajar mengaji di sini," jelas ayah sabrina.


Masya allah.. benar-benar bidadari surga ternyata. batin Nanda yang semakin kagum pada gadis tersebut.


Sabrina pun tersenyum dan meninggalkan Nanda dan ayah nya sebentar untuk menyudahi mengajar mengaji pada anak anak di musolah sore itu. Tak lama sabrina kembali dan menghampiri ayah nya dan Nanda.


" Bie memang nya mau pulang di sekarang? sebentar lagi kan magrib? " ucap Sabri dengan wajah bingung.


Ayah sabri pun melirik jam dinding di musolah tersebut yang memang menunjukkan bahwa waktu maghrib akan segera tiba.


." Oia sebentar lagi magrib, bagaimana kalau kita sholat dulu, Nak Nanda mau kan sholat di sini dulu? " ajak ayah sabri dengan wajah ramah nya.


Nanda terdiam sejenak dengan wajah yang tampak bingung.

__ADS_1


****** gue, gue kan enggak bisa wudhu apal agi sholat. batin nya mengingat dia tidak pernah melakukan sholat sampai saat ini.


Guys, jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen dan vote nya yak ❤️❤️*


__ADS_2