
"Sayang," panggil Rayyan kembali yang melihat Reska masih diam mematung di depan pintu kamar mandi.
"Oh.. i.. iya."
Reska perlahan berjalan dan naik ke ranjang. Rayyan tersenyum dan merangkulnya membiarkan gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu kekarnya.
"Kamu bahagia hari ini?" tanyanya seraya memegang lembut tangan Reska.
"Bahagia sekali," Reska tersenyum jantungnya semakin berdegup kencang.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi," Rayyan mencium kening Reska.
"Tidak akan pernah," jawabannya tanpa ragu.
Rayyan melepaskan rangkulannya dan menatap lembut gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Kamu gugup?"
Reska menundukan sedikit kepalanya, entah kenapa malam ini dia sangat merasa gugup berduaan dengan Rayyan.
"Sedikit," jawabannya malu malu.
Rayyan tersenyum dan memegang dagu Reska lalu mencium bibirnya lembut. Reska yang awalnya canggung perlahan mulai mengikuti permainan Rayyan yang terus ******* bibirnya. Perlahan Rayyan menjatuhkan tubuh Reska ke kasur, melepaskan ciumannya.
"Aku menginginkannya sekarang," bisik Rayyan seraya menciumi telinga gadis itu membuat Reska merasakan tubuhnya seperti bergetar merasakan sentuhan Rayyan yang perlahan menyusuri leher jenjangnya dan membuat tanda kepemilikan di sana.
Sampai tak lama handphonenya berdering, membuat Rayyan menghentikan aksinya.
"Siapa yang telepon?" Rayyan mengerutkan keningnya.
"Enggak tau," Reska mengambil handphonenya yang berada di meja samping ranjang tertulis nama "Pasil" di handphonenya.
"Siapa pasil? tanya Rayyan heran.
"Papa, papa usil maksudnya," jelas Reska.
"Dia memang usil, untuk apa video call?" keluh Rayyan
__ADS_1
Reska hendak mengangkatnya tapi Rayyan dengan cepat merampas handphonenya dan mematikannya lalu menaruh handphone tersebut di laci meja.
"Tidak usah di angkat," pintanya.
Reska mengangguk dan mengerti kalau malam ini Rayyan menginginkan dirinya. Rayyan kembali mencium bibir lembut itu yang seolah sudah menjadi candu untuknya.
Reska memejamkan matanya merasakan tangan Rayyan yang perlahan meraba gundukan sintalnya dadanya semakin berdesir merasakan sentuhan Rayyan yang perlahan mulai melucuti pakaiannya. Rayyan tertenggun melihat tubuh mulus Reska yang tampak polos. Reska refkek mengambil selimut dan menutupi tubuhnya.
"Kenapa di tutup?"
"Aku malu," wajah Reska merah merona.
Rayyan tersenyum."Hanya aku yang melihat, dan tubuh mu hanya untuk ku, jadi tidak usah malu, aku menyukainya." Rayyan menyingkirkan selimut tersebut dan menciumi setiap inci tubuh polos itu. Desahan kecil lepas dari bibir Reska membuat birahi Rayyan semakin naik.
Reska mengeliat merasakan sensasi yang di rasakannya saat ini.
"Sakit!!" pekik Reska saat Rayyan hendak melakukan penyatuannya.
"Tahan ya," bujuk Rayyan yang mencium bibir Reska dan menyatukan jemarinya pada tangan Reska untuk memberikan rasa nyaman , air mata perlahan jatuh di pipinya merasakan sakit itu.
"Makasih ya, aku benar-benar bahagia malam ini." bisiknya di telinga Reska.
Reska tersenyum dan tidur dalam pelukan suaminya malam itu.
***
Pagi hari Reska sudah mandi dan melihat Rayyan yang masih memejamkan matanya di ranjang.
"Sayang bagun," Reska menepuk pelan tubuh Rayyan.
Rayyan menarik tangannya sampai Reska jatuh di pelukannya.
"Kita sarapan dulu, papa sama orang tua kamu sudah menunggu di bawah," jelas Reska.
"Kita sarapan di sini. saja," tolak Rayyan.
"Tapi enggak enak sama mereka,"
__ADS_1
"Sudahlah, mereka pasti mengerti."
"Ya sudah aku pesan makanan dulu ya," Reska hendak melepaskan pelukan Rayyan tapi Rayyan menahannya.
"Aku mau bercinta lagi," pintanya sambil tersenyum.
"Lagi?"
Rayyan kembali mencium bibir Reska dan mengulangi candu barunya pagi itu.
Di restoran hotel tersebut tampak dua keluarga sedang berkumpul dalam satu meja.
"Kemana lagi tuh anak enggak pada sarapan apa?" ucap Kemal yang terlihat resah.
"Sarapan di kamar mungkin," sahut Rayyan santai.
"Gue telepon deh," Kemal hendak mengeluarkan handphonenya.
"Kalau loe telepon nanti gue batalin nih renov perkarangan belakang loe," ancam Rai yang lebih mengerti jika putranya saat ini pasti sedang tidak ingin di ganggu.
"Ancaman maennya loe," gerutu Kemal.
"Lagian loe kaya enggak ngerasain pengantin baru aja," cletuk Rai.
"Iya sayang, kamu jangan ganggu Reska terus," timpal Shanum sedang Dira hanya tersenyum simpul melihat wajah Kemal yang gelisah.
"Iya iya, siapa juga yang ganggu, walaupun pengaantin baru masa enggak bisa sarapan sama keluarga," Kemal mencari alasan dan mencoba mengerti kalau saat ini. putrinya bukan anak kecil lagi yang selalu harus di intainya.
Bonus foto pengantin baru.. yang jomblo harap tutup mata 😀😀😀
Votenya jangan macet dooonggg.. aku jadi enggak semangat nih.. 😧😧😧😧
__ADS_1