
Setelah menunggu obat Rai dan Dira bergegas meninggalkan rumah sakit untuk pulang, mereka memasuki mobil menuju rumah, sepanjang perjalanan Rai hanya terdiam dengan wajah yang dingin. Sampai mereka di rumah, Rai memapah Dira berjalan karena kakinya masih terluka akibat tertimpa sepeda motor. Rai membawa nya ke kamar, masih tetap terdiam dan bersikap dingin pada Dira.
Rai membuka jas nya dan mengantung nya di lemari. Di sudut ranjang Dira memperhatikan Rai yang tampak dingin dan terlihat masih marah pada nya.
"Kamu enggak ke kantor lagi? sekarang kan masih jam satu siang? "
" Tidak, " jawab nya singkat tanpa menoleh ke arah Dira lalu mengganti kemeja nya dengan tshirt.
" Kamu masih marah sama aku? "
Rai terdiam dan meninggalkan Dira ke luar kamar. Dira menghela nafas merasa kecewa dengan sikap Rai padanya. Dira merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutupi nya dengan selimut.
Rai merebahkan tubuhnya di sofa untuk beberapa saat, mencoba meredam emosi nya akibat ulah Dira, sampai dia melirik jam dinding di sudut ruangan tersebut.
Pasti dia belum makan siang. gumam nya.
Rai mengambil handphone di sakunya dan memesan makanan online, tak lama kurir pun datang dan memberikan makanan tersebut. Rai bergegas membawa nya ke dapur dan menaruh nya di piring.
Rai masuk ke kamar, melihat Dira yang masih berbaring miring di ranjang.
" Makanlah, kamu pasti belum makan, " ucap Rai sambil menaruh makanan itu di meja.
Dira tidak menjawab, hanya terdengar pelan suara isak tangis darinya. Rai mengerutkan kening nya mencoba menghampiri nya. Rai berjongkok dan melihat wajah Dira yang tampak sembab.
" Kok malah nangis, udah cepat makan, " titah Rai.
Dira menggeleng dan menutup wajahnya dengan selimut.
Rai berdiri" Astaga.. apa sih mau kamu? " ucap Rai yang tampak kesal dan gemas dengan tingkah Dira.
Dira menyingkap selimut yang menutupi nya" Kamu yang kenapa? kenapa sih kamu enggak ngertiin aku, tapi malah marah? aku juga kan masih sakit, lagi hamil juga kadang ada keinginan yang tiba-tiba enggak bisa aku tahan, kenapa sih kamu enggak ngerti!! " sahut Dira dengan suara yang bergetar sambil menangis.
Rai terdiam, dan merasa mungkin ucapan Dira benar adanya. Rai mencoba duduk di samping Dira.
" Yaudah, aku minta maaf ya, " ucap nya sambil mengelus lembut rambut Dira.
Dira terdiam dan kembali merebahkan tubuhnya kemudian menutup seluruh tubuh nya dengan selimut. Rai menghela nafas dan beranjak keluar kamar.
Dira menyingkap selimut yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
Bukan nya di bujuk, malah pergi gitu aja. gumam Dira yang semakin merasa sedih.
Setelah cukup lama Rai kembali masuk ke kamar dan melihat Dira yang masih berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Rai mencoba menghampiri nya.
" Sayang, aku minta maaf ya, sekarang makan ya, " bujuk Rai sambil mencoba membuka selimut yang menutupi wajah Dira.
" Enggak mau, " ketus Dira.
" Yakin enggak mau? aku barusan beli ramen yang kamu mau lho, "
" Udah enggak mood, " sahut Dira
" Oh gitu, yaudah deh aku aja yang makan ramen nya, " ucap Rai yang langsung mengambil ramen yang di letakakan di meja dan langsung menyantap nya.
Dira terdiam, Dari balik srlimut Dira bisa menghirup aroma ramen yang begitu mengiurkan, Dira memegangi perutnya yang memang sangat lapar.
" Enak banget, ini ramen yang di dekat sekolah SMA kita dulu, sayang banget kamu enggak mau, " goda Rai sambil mengunyah ramen tersebut.
Dira membuka selimut yang menutupi nya dan melihat Rai yang sedang duduk di ranjang sambil menyantap ramen tersebut.
" Aku mau.. " ucap Dira yang tidak bisa menahan keinginan nya.
" Mau? tadi katanya enggak mau? udah habis lagi? " sahut Rai sambil memperlihatkan mangkok kosong pada Dira.
" Ya aku juga laper sih, tadi katanya enggak mau, yaudah besok aku beliin lagi, " ucap Rai yang langsung keluar dari kamar.
Ya ampun, Rai ngeselin banget!!!! umpat Dira yang langsung menutup kembali tubuhnya dengan selimut.
Tak lama Rai kembali ke kamar dan menghampiri Dira, membuka selimut yang menutupi wajahnya.
" Ayo makan, " ucap nya
" Apa sih tadi katanya habis, " gerutu Dira.
" Aku beli dua.. hehe.. ayo makan aku suapin, "
" Ya ampun, nyebelin banget sih, " ucap Dira yang langsung memukul tubuh Rai dengan bantal. Dira pun tersenyum dan mulai memakan ramen yang di inginkan nya dengan di suapi Rai.
" Enak? " tanya Rai sambil menatap Dira yang tampak senang.
__ADS_1
" Enak, " sahut nya sambil mengunyah makan nya.
" Maaf ya lama, kamu pasti laper ya tadi antri banget, "
" Enggak, apa apa kok, " Dira tersenyum.
" Maaf juga ya tadi aku marah marah, aku cuma takut terjadi hal yang buruk sama kamu dan janin kita, " jelas Rai.
" Iya, enggak apa apa, maaf aku juga enggak dengar kata kata kamu, "
" Jangan pergi sendiri lagi ya, kalau mau apa apa telepon aku aja, aku bisa menunda perkerjaan ku, "
" Iya, " Dira tersenyum.
Cup
Dira mencium gemas pipi pria di samping nya.
" Astaga.. nakal nya, pasti lagi pengen ya, " Goda Rai.
" iiisshh.. apaan sih orang mau cium aja, " sahut Dira dengan wajah yang memerah.
" Yaudah selesai makan aku minta jatah aku, ok, "
" iiisshh.. kamu tuh ujung ujungnya pasti ke situ, " ucap Dira yang memukul gemas lengan Rai, yang di respon kekehan geli dari Rai.
***
Siang itu Dimas sedang menyantap makan siangnya di cafe dekat kantor nya. Sampai suara handphone nya berbunyi Dimas bergegas mengangkat nya.
" Pak, saya sudah melakukan sesuai perintah bapak, " ucap seorang pria dari balik telepon.
" Oh begitu, baguslah, kamu yakin sudah bertemu dengan Hendra wijaya? "
" Sudah pak, saya sudah bertemu dan melakukan apa yang bapak perintah kan, "
" Oh baguslah, apa putra nya sedang ada di kantor juga? "
" Tidak pak, Rainan sedang tidak ada di kantor, "
__ADS_1
" Yasudah, terus jalankan secara perlahan, tidak usah terburu buru, sebelum aku instruksikan, " Ucap Dimas yang langsung menutup telepon nya.
Permainan di mulai. gumam nya sambil tersenyum tipis.