
Sore itu Dira kembali ke ruang ICU di mana Rai masih terbaring lemah di sana, tak ada hal yang ingin Dira lakukan selain selalu di samping suaminya, kalau pun dia keluar dari ruangan tersebut hanyalah untuk menemui Rayyan. Langkah kakinya kembali menghampiri Rai dan duduk di samping tempat tidurnya. Tampak wajah Rai yang masih terlihat sangat pucat.
"Sayang, kamu tau, hari ini Nanda bertunangan? bukankah kamu bilang kamu ingin cepat cepat melihat Nanda dan teman mu yang lain bahagia? cepat bangun ya, setelah bangun pasti Nanda akan memperlihatkan foto foto bahagianya." ucap Dira yang menghapus air matanya yang mulai terjatuh.
"Sayang, kamu lihat perut aku semakin membesar, ini yang kamu inginkan kan? kamu akan jadi papa yang terbaik, kamu mau pegang? " Dira berdiri dan meletakkan tangan Rai pada perutnya yang sudah membuncit.
"Cepat bangun, aku merindukanmu suami tampan ku." ucapnya yang berusaha tersenyum dan mencium kening Rai.
Di luar ruangan ada Shanum yang memperhatikan Dira dan menghapus air matanya yang mulai terjatuh. Tak lama Arya dan Kemal datang dan menunggu di luar ruangan bersama keluarga Rai dan Dira. Lalu Kemal keluar untuk membeli minum di taman rumah sakit matanya terfokus pada Shanum yang tengah duduk sendirian di taman.
"Shanum?" ucap Kemal yang menghampiri Shanum dan duduk di sebelahnya.
"Pak Kemal." sahutnya yang langsung menghapus air matanya.
"Enggak usah panggil bapak, panggil Kemal aja, umur aku enggak beda jauh kok sama kamu." Kemal berusaha menghibur gadis di hadapannya yang terlihat sedih.
__ADS_1
Shanum pun sedikit tersenyum.
"Kenapa sendirian saja di sini?"
Shanum menggeleng "Tidak apa-apa, hanya ingin sendirian saja." ucapnya dengan nada bergetar dan air mata yang perlahan jatuh di pipinya.
"Cerita saja, itu bisa membuatmu lebih lega." bujuk Kemal yang merasa gadis itu memendam kesedihannya.
"Ini semua karena aku." ucapnya lirih.
"Pagi itu seharusnya aku tidak lalai menjaga Rayyan, sampai Rayyan hendak turun tangga dan pak Rainan berusaha mengendongnya, tapi pak Rainan terjatuh, semuanya terjadi begitu cepat, aku tidak melakukan apa pun aku benar-benar menyesal, ini semua salah aku." ucap Shanum dengan air matanya yang semakin membasahi pipinya.
Kemal pun tersentak dengan ucapan Shanum karena dia juga belum mengetahui kronologi pastinya karena Dira pun sampai saat ini tak mau bicara banyak. Kemal mencoba menghapus air mata Shanum dengan tissu yang di bawanya.
"Ini bukan salah kamu, memang sudah takdirnya seperti ini, berhentilah menyalahi diri mu sendiri."
__ADS_1
Gadis itu terdiam dan terlihat menghela nafas.
"Aku benar-benar merasa bersalah sama mbak Dira." sesal Shanum.
"Dira dan Rai itu orang yang baik, percaya sama aku, mereka enggak akan pernah menyalahkan kamu." sahut Kemal seraya tersenyum yang di balas senyum simpul dari Shanum yang masih terlihat sangat sedih.
Kemal dan Shanum pun kembali ke depan ruang ICU, tampak Dira yang keluar dari ruangan tersebut dan menemui Rayyan yang sedang di gendong mama Rai.
Kemal dan Arya pun memilih masuk ke ruangan tersebut untuk melihat Rai. Tampak Rai yang masih memejamkan matanya dengan berbagai alat medis di tubuhnya. Kemal dan Arya hanya terdiam melihat Rai yang tampak berbeda, bukan lagi Rai yang enerjik dan selalu tersenyum jahil pada teman temannya.
"Kita berteman dari SMA, ini pertama kali gue liat loe lemah, benar benar seperti pecundang." ucap Kemal sambil tersenyum lirih.
"Kalau loe masih terus tidur kaya gini loe bener bener pecundang Rai." sahut Arya yang tak tau lagi harus berkata apa, melihat teman yang menemaninya sedari dulu kini hanya terbaring lemah. Kemal dan Arya hanya saling terdiam dan mengingat masa masa dulu mereka ber empat selalu tertawa bersama.
Ada yang pernah kehilangan sahabat ? atau melihat sahabat kalian sekarat ? aku pernah, sangat menyakitkan rasanya. bersyukurlah kalian yang mempunyai sahabat yang baik, karena rezeki bukan hanya tentang uang , sahabat yang baik pun itu sebuah rezeki yang harus di syukuri ❤️❤️❤️
__ADS_1