
Dira menghampiri Rainan yang tengah sibuk di ruang kerjanya rumahnya malam itu.
"Sayang," panggilnya sambil menghampiri Rai.
Rai menoleh dan menarik Dira untuk duduk di pangkuannya."
"Kenapa?" tanyanya sambil sebelah tangannya memeluk pinggang Dira dengan mata yang fokus menatap layar laptopnya.
"Rayyan bilang dia ingin melanjutkan kuliahnya lagi,"
"Oh baguslah, kapan dia mau berangkat?"
"Secepatnya,"
"Baguslah, aku mendukungnya." Rai merasa lega akhirnya putranya lebih memilih untuk melanjutkan kuliahnya lagi.
"Emm.. apa kamu tidak berniat menemui Kemal?"
Rai terdiam dan menghentikan aktifitas mengetiknya saat mendengar pertanyaan Dira.
"Tidak usah di temui lagi," jawabannya dengan nada dingin.
"Kamu marah sama Kemal?"
Rai menghela nafas dan menyandarkan dagunya di bahu Dira.
"Tidak marah, hanya sedikit merasa kecewa."
"Aku pun merasa kecewa," lirih Dira.
"Sudahlah, kita harus menghargai keputusan mereka, tidak usah di fikirkan lagi."
Dira tersenyum dan mencoba menuriti perkataan suaminya." Iya, kamu memang baik." pujinya.
"Kamu lebih baik." balas Rai seraya mencium pipi Dira.
***
Dua tahun kemudian, Australia.
Saat ini Rayyan tengah melanjutkan studinya di salah satu universitas di sana. Waktu perlahan berlalu, dan Rayyan berusaha melanjutkan hidupnya seperti biasanya. Malam itu Rayyan kembali ke apartemennya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Rayyan terdiam dan pandangan kosongnya menatap langit langit kamarnya untuk sesaat. Lalu Rayyan beranjak dari ranjangnya menuju laci di meja dan mengambil sesuatu di sana.
"Harus berapa lama aku bisa melupakanmu." gumamya seraya memandangi cincin yang pernah di berikan pada Reska dahulu.
Keesokan harinya Rayyan mengikuti kuliahnya seperti biasa sampai jam kuliah itu telah usai dan Rayyan hendak beranjak keluar dari kelasnya.
"Rayyan." panggil Sony salah satu teman kuliah Rayyan yang juga warga indonesia di sana.
Rayyan menoleh melihat Sony yang berjalan menghampirinya." Kenapa?" tanyanya.
"Loe mau pulang?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Buru buru banget belum juga sore, mending ikut gue yuk," ajaknya.
Rayyan mengerutkan keningnya." Kemana?"
__ADS_1
"Jemput adik cewek gue, kampusnya enggak jauh dari sini, lumayan lah cuci mata banyak cewek bening di sana." goda Sony sambil mengangkat sebelah alisnya.
Rayyan terdiam.
"Mau enggak? ayolah dari pada lecek terus muka loe." cibir Sony pada temannya itu.
"Oke deh."
"Gitu dong."
Mereka pun keluar kelas, menuju mobil masing masing lalu menuju kampus tersebut. Tak lama mereka sampai dan menunggu adik Sony di depan kampus.
"Mana adik loe?" tanya Rayyan sambil memperhatikan suasana sekitar dan beberapa wanita yang memandangnya.
"Bentar lagi juga keluar,"
"Tuh adik gue." Sony menunjuk beberapa wanita yang sedang berjalan beriringan sambil bersanda gurau.
Rayyan memicingkan matanya dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang melihat sosok wanita yang tak asing untuknya.
"Reska?" gumamya pada wanita yang berjalan meninggalkan adik Sony menuju parkiran.
"Kak," ucap adik Sony sambil menghampiri kakaknya.
"Lama banget, oia yan kenalin ini adik gue Friska." Sony memperkenalkan adik cantiknya pada Rayyan.
Gadis itu tersenyum melihat melihat paras Rayyan. " Friska." ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Rayyan.
"Rayyan." balas Rayyan sambil tersenyum.
Friska mengangguk.
"Fris, aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya apa kak?" Friska mengerutkan keningnya.
"Cewek yang tadi pakai blouse hitam itu mahasiswa dari Indonesia juga?"
Friska terdiam dan mencoba mengingat ingat siapa temannya yang tadi memakai blouse hitam.
"Oh.. yang rambut sebahu itu?" Friska mencoba bertanya lebih detail.
"Iya,"
"Oh iya dia teman aku, Reska mahasiswa dari Indonesia juga," gadis itu tersenyum.
"Reska?" Rayyan tampak terkejut mendengar nama itu.
"Iya, namanya Areska, katanya sih dia juga pindahan dari universitas di Indonesia, kenapa memangnya kak?" Friska tampak aneh melihat wajah Rayyan yang terlihat terkejut.
"Tau aja loe yang bening," goda Sony.
"Enggak, dia mirip teman gue." kelit Rayyan.
"Yaudah gue pulang dulu ya," pamit Sony dan Friska yang kemudian masuk ke dalam mobil.
Begitu pula dengan Rayyan yang masuk ke mobilnya. "Ternyata benar itu, kamu." gumamya yang tidak tau harus merasa senang atau sedih melihat Reska kembali.
__ADS_1
***
Keesokan harinya Rayyan mencoba mendatangi kampus itu lagi. Rayyan menunggu beberapa saat di dalam mobilnya sampai tak lama Reska keluar bersama teman-temannya dan masuk ke mobilnya. Rayyan pun mengikuti mobil itu melaju sampai mobil itu berhenti di sebuah apartemen di sana.
"Jadi di sini dia tinggal?" gumam Rayyan sambil memperhatikan apartemen yang di tempati Reska.
"Assalamualaikum," salam Reska saat membuka pintu apartemennya.
"Walaikumsalam," sahut Shanum sambil tersenyum yang melihat putrinya itu baru pulang.
"Sayang, ganti baju lalu makan ya, oia sayang bagaimana kalau habis ini kita jalan jalan sambil belanja," ajak sang ibu.
"Res capek mah. Reska mau istirahat aja ya." tolak Reska sambil berusaha tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya.
"Sayang, sampai kapan kamu terus seperti itu." Lirih Shanum.
Sudah dua tahun ini Reska tinggal bersama Shanum di Australia, sesekali Kemal menjenguknya saat sedang tidak ada perkerjaan. Reska melanjutkan kuliahnya dengan baik di sana, tapi gadis itu tidak seperti dulu. Dia tampak lebih tertutup dan murung dan jarang menunjukan senyum cerianya seperti dulu.
***
"Yan, ikut gue lagi yuk." ajak Sony kembali saat Rayyan merapihkan bukunya setelah mata kuliah selesai.
"Kemana?"
"Makan makan sama teman temannya adik gue, banyak cewek kece bro."
Rayyan terdiam sejenak mendengar ajakan Sony." Oh, boleh." Rayyan langsung mengiyakan ajakan Sony.
Mereka pun melajukan mobilnya ke sebuah cafe di sana sore itu.
"Fris," panggil Sony pada adiknya itu sambil berjalan menuju meja adiknya dan tampak berapa teman wanitanya yang juga duduk di sana.
"Kakak," seru Friska.
Mereka semua menoleh ke arah mata Friska tertentu termasuk Reska yang ada di sana. Reska membulatkan matanya melihat sosok pria yang tak asing dan sudah lama tidak di temuinya. Jantungnya berdegup kencang dan tangannya sedikit gemetar melihat Rayyan yang perlahan menghampiri mejanya.
"Teman teman kenalin ini Sony kakak aku dan ini kak Rayyan temannya." Friska memperkenalkan dua pria itu pada teman temannya.
Rayyan pun menyalami wanita wanita tersebut sampai matanya saling bertemu pada Reska.
"Rayyan." Rayyan mengulurkan tangannya.
Reska terdiam, dan bertanya dalam hatinya kenapa Rayyan mengulurkan tangannya seolah tak mengenali dirinya.
"Reska." balas Reska sambil mencoba tersenyum.
Rayyan pun duduk di hadapannya dan menikmati makanannya di sana. Tapi Rayyan tidak sama sekali mengobrol dengan Reska dia terlihat seperti tidak kenal dengan Reska. Sampai mereka pun pulang satu persatu.
"Res, aku pulang dulu ya." pamit Friska yang pulang bersama kakaknya sore itu.
Reska mengangguk dan hanya ada Rayyan di hadapannya saat itu. Tak lama Rayyan beranjak dari kursinya dan keluar dari cafe tersebut tanpa mengatakan apa pun pada Reska .
Reska hanya terdiam memandangi Rayyan dari kejauhan yang perlahan masuk dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
"Kenapa seperti ini? apa Rayyan sudah sangat membenci ku? sampai harus bersikap seperti itu?" gumam Reska yang langsung menghapus air matanya yang sedikit terjatuh.
Hayy guys.. aku umumkan pemenang gif tempo hari ya.. pemenangnya akun Nans Tk.. Selamat ❤️❤️❤️ untuk akun Nans Tk tolong folow aku ya nanti aku folback dan chat pribadi. untuk yang lainnya terima kasih sudah membaca sejauh ini.. Love you all, semoga selalu sukak ceritanya ❤️❤️❤️
__ADS_1