Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Situasi darurat


__ADS_3

Malam itu Kemal bergegas ke kamar mandi. Setelah cukup lama Kemal ke luar dari kamar mandi dan melihat Shanum yang belum tidur dan masih bersandar di ranjang.


"Kamu belum tidur?" Kemal menghampiri Shanum di ranjang.


"Belum, kakak lama banget di kamar mandi?" tanya Shanum polos mengingat Shanum sudah menunggunya setengah jam lebih.


"Oh, aku sembelit." Kemal mencoba mencari alasan.


"Ya ampun, terus sekarang udah baikan?" tanya Shanum khawatir.


"Sudah kok." Kemal tersenyum dan mengelus lembut kepala Shanum.


"Sayang, kamu dari kapan datang bulannya?" sambung Kemal.


"Baru kemarin kak."


"Apa?? kemarin? berarti masih lama ya?" ucap Kemal ceplas ceplos.


"Ya mungkin 5 hari lagi, maaf ya kak." sesal Shanum.


"Enggak apa-apa kok, sudah yuk tidur." kemal mengecup kening Shanum.


Astaga.. harus extra sabar nih. batin Kemal nelangsa.


***


Pagi itu Dira sudah memulai aktivitas biasanyanya di rumah, sekarang sudah tidak ada lagi Shanum di rumahnya dia pun belum mencari penggantinya, membuat Dira sedikit merasa kerepotan.


"Sayang." Rai menghampiri dan memeluk tengkuk belakang Dira yang sedang memasak.


"Sayang, sudah bangun?" sahut Dira yang tetap fokus memasak.


"Sudah."


"Rayyan sudah bangun?"


"Belum."


Dira melepaskan pelukan Rai dan menghidangkan sarapan di meja.


"Kamu capek?" Rai mengusap keringat di kening Dira yang terlihat sangat lelah.


"Capek yank, udah bulannya juga, jadi cepet capek." keluh Dira seraya mengusap perutnya yang sudah membesar.


"Cari pengganti Shanum sekarang aja ya, sekalian cari asisten rumah tangga." bujuk Rai.


"Nanti aja yank habis lahiran, bentar lagi juga lahiran pasti di suruh tinggal di rumah mamah kamu atau mama aku dulu, udah kamu sarapan sayang, nanti keburu dingin nih." Dira menyiapkan alat makan untuk Rai.


"Aku mandi dulu deh."


"Kirain udah mandi?"


"Belum, hari libur juga." jawab Rai dengan cengiran kudanya.

__ADS_1


"Yaudah aku mau lihat Rayyan."


Mereka pun meninggalkan meja makan menuju kamar. Langkah Dira tiba-tiba terhenti saat di depan tangga rumah mereka.


Rai menoleh dan melihat Dira yang hanya diam mematung." Kenapa sayang?" tanyanya bingung.


"Sayang aku capek banget enggak kuat naik tangga, gendong." pinta Dira manja.


"Hah? gendong?" Rai terkejut.


"Capek yank.. " keluh Dira manja.


" Ya ampun, yaudah ayo."


Rai bergegas menganggkat tubuh Dira dengan kedua tangannya dan menaiki tangga setapak demi setapak.


"Astagfirullah!!! berat badan kamu berapa ini?" keluh Rai yang merasa sedang mengendong 3 orang sekaligus.


"Enggak tau, enggak pernah mau lihat angka timbangan kalo di timbang aku merem, takut syok lihatnya." sahut Dira.


"Astagfirullah! sumpah kamu berat banget!! " keluh Rai dengan langkah kaki yang mulai gontai.


Dira yang sedang di gendong memeluk erat leher Rai dan merasa langkah kaki Rai mulai tidak seimbang menaiki tangga.


" Ya ampun yank meluk leher aku jangan kenceng kenceng bisa patah leher aku." keluh Rai kembali.


"Aku takut jatuh."


Langkah kaki Rai mulai oleng.


"Sebentar lagi sampai atas." tolak Rai.


Langkah kaki Rai semakin oleng seperti perahu yang tarsapu ombak.


"Sayang turunin! nanti kamu jatuh, kalau jatuh nanti kamu koma lagi, aku enggak mau!! paksa Dira.


Rai akhirnya menurunkan Dira dari gendongan nya. nafasnya terengah engah dan duduk sebentar di anak tangga.


"Sayang capek ya?" tanya Dira mengelus punggung Rai.


"Enggak capek cuma rasa habis manggul beras aja." cletuk Rai.


"Maaf, yuk mandi."


Mereka pun akhirnya ke kamar dan Rai bergegas mandi. Sedangkan Dira membereskan tempat tidur. Tiba tiba Dira merasa perutnya seperti melilit.


"Aduh kok sakit ya." keluhnya yang langsung duduk di ranjang dan memeganggi perutnya.


Tak lama Rayyan terbangun dari box bayinya dan menangis. ingin rasanya Dira mengendong Rayyan tapi rasa sakit di perutnya semakin sakit tak tertahan.


"Sayang, Rayyan nangis kok di diemin aja?" tanya Rai heran yang baru keluar dari kamar mandi dan mengendong Rayyan.


"Sayang, sakit perut aku sakit." rintih Dira.

__ADS_1


Rai menoleh dan melihat wajah Dira yang sudah memucat.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rai panik.


"Sakit perut ku sakit sekali, sepertinya aku mau melahirkan." rintih Dira kembali yang terlibat semakin kesakitan.


"Apa melahirkan??!" Rai kaget bukan kepalang mendengar ucapan Dira.


"Iya sayang, cepat bawa aku ke rumah sakit." pinta Dira yang semakin merintih.


Rai menurunkan Rayyan dari gendongannya dan bergegas memapah Dira keluar kamar " Ayo sayang, tahan ya." ucapnya panik sambil terus memapah Dira menuruni tangga.


"Pap... pap" ucap Rayyan yang menangis kencang.


Rai menoleh dan melihat Rayyan yang menangis di dekat tangga.


"Astaga, Rayyan, aku lupa." Rai menepuk jidat karena melupakan  anaknya saking paniknya dengan Dira.


"Kamu gimana sih, kok Rayyan di tinggal." omel Dira yang terus memeganggi perutnya.


Rai bergegas menghampiri Rayyan dan mengendongnya lalu kembali memapah Dira untuk keluar dari rumah dan bergegas memasuki mobil menuju rumah sakii.


"Sakit Rai." rintih Dira sambil menangis di perjalanan mereka.


"Tahan sayang." Rai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan rasa cemas yang menembus langit ke tujuh di iringi rintihan Dira dan tangisan Rayyan di pangkuannya.


Tak lama Rai sampai di rumah sakit dan Dira segera di bawa ke ruang bersalin.


"Sakit Rai, sakit." Dira memegang tangan Dira sambil menangis.


Sedangkan Rayyan tetap menangis semakin kencang dan ingin keluar dari ruangan tersebut.


"Pak sebaiknya tunggu di luar saja, anaknya juga sepertinya tidak nyaman di sini, biar istri bapak kami yang menangani." ucap seorang dokter yang melihat Rayyan menangis semakin kencang.


"Sayang aku bawa Rayyan ke luar dulu ya." Rai mencium kening Dira dan keluar dari ruang bersalin.


Di luar ruangan Rayyan tetap saja menangis meski Rai sudah berusaha menenangkannya sedang di dalam ruangan terdengar samar rintihan Dira.


"Ya ampun, repot banget nih!! gue telepon mama aja lah! " Rai bergegas mengeluarkan handphonenya dan mencoba menghubungi mamanya.


"Halo Rai, ada apa?" terdengar suara mama dari balik telepon.


"Mah, Dira mau lahiran sekarang Rai udah di rumah sakit." sahut Rai yang terdengar panik.


"Apa lahiran??" mama Rai tampak terkejut mendengarnya.


"Iya, mama ke sini ya." pinta Rai.


"Iya papa sama mama ke rumah sakit sekarang , kamu kasih tau alamat rumah sakitnya."


"Iya, cepet ya mah Dira udah jerat jerit tuh di dalam, di luar juga Rayyan jerat jerit sambil nangis." keluh Rai yang tampak bingung.


"Yasudah, mama ke sana sekarang." mama Rai bergegas menutup teleponnya dan menuju rumah sakit.

__ADS_1


Hayooo penasaran ya??!! vote dulu atuh cinta.. biar aku semangat nulisnya.. 🤗🤗❤️❤️❤️


__ADS_2