
Arya bergegas mengantar Chika pulang dan memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Chika.
"Sudah malam, masuklah." ucap Arya.
"Terima kasih ya." sahut Chika pelan dan terlihat masih sedih serta syok atas apa yang baru saja terjadi padanya.
Arya tersenyum dan Chika bergegas keluar dari mobilnya lalu masuk ke rumahnya. Arya menghela nafas, rasa marah masih berusaha di tahannya atas perbuatan Ricko pada Chika ingin sekali rasanya dia bilang pada Chika kalau dia mencintainya tapi sepertinya waktunya tidaklah tepat melihat Chika yang masih terlihat sangat sedih.
***
Di tempat berbeda.
"Aku lelah kak." ucap Sabrina pelan saat untuk kesekian kalinya melakukan aktifitas ranjangnya dengan Nanda malam itu.
Nanda beranjak dari tubuh Sabrina setelah mencapai klimaksnya untuk ke sekian kalinya.
"Maaf ya." Nanda mencium kening istrinya.
"Yaudah kita tidur ya." sahut Sabrina.
"Iya." Nanda tersenyum dan memeluk tubuh istrinya.
Malam itu Nanda terbangun setelah mendengar gemericik air dari kamar mandi di dalam kamarnya. Nanda melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 02.30 dini hari.
"Siapa yang mandi tengah malam begini?" gumamnya seraya melirik Sabrina yang sudah tidak ada di sampingnya.
Tak lama Sabrina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.
"Sayang kok kamu mandi tengah malam begini?" tanya Nanda heran.
Sabrina menghampiri Nanda di ranjang dan duduk di sebelahnya.
"Aku habis mandi hadast, aku mau sahur kak." ucap gadis itu.
Nanda mengerutkan keningnya "Sahur? memangnya sudah bulan ramadhan?" tanya Nanda sambil mengingat kalender yang sepertinya masih menunjukkan bulan Februari.
"Aku puasa sunah kak, puasa senin kamis." jelas Sabrina sambil tersenyum.
"Masya allah, istri ku benar benar bidadari surga." puji Nanda sambil mengelus lembut kepala istrinya.
"Iya, aku mau masak dulu, kakak mau puasa juga?"
Nanda terdiam dan cukup terkejut dengan pertanyaan menohok Sabrina. Nanda bingung karena seingatnya terakhir dia puasa saat dirinya masih sekolah dasar. Entahlah dia sudah lupa rasanya puasa dan tidak tau apakah dia mampu berpuasa kembali.
__ADS_1
"Kak kok diam aja? mau puasa juga kan?" tanya Sabrina yang melihat Nanda melamun.
"Oh yaudah, aku ikut puasa." sahutnya walaupun sebenarnya dirinya masih ragu.
"Yaudah, aku masak untuk sahur dulu ya." Sabrina tersenyum sumringah.
Sabrina segera memasak tak lama dia dan Nanda pun sahur bersama. selesai sahur mereka menunggu waktu sholat subuh untuk sholat, selesai sholat Nanda memilih tidur sebentar sampai jam 7 pagi Nanda bergegas pergi ke kantor.
Nanda melakukan perkerjaannya seperti biasa sampai waktunya jam makan siang tiba dia merasa tubuhnya sangat lemas, dan tenggorokannya sangat kering seperti di padang pasir.
"Nan, makan yuk." ajak teman kantornya yang menghampiri meja kerja Nanda.
"Enggak, loe aja." tolak Nanda.
"Kenapa?! tumben?" temannya memasang wajah heran mengingat Nanda biasanya tak pernah melewatkan jam makan siang.
"Gue lagi puasa." jawabnya.
Sontak saja temannya terkekeh geli mendengar jawaban Nanda.
"Enggak panas kok, normal padahal." ledek temannya seraya memegang kening Nanda.
"Iya lah gue masih normal, loe kira gue stres." umpat Nanda.
"Udah loe mending pergi sono, kalo ngeliat muka loe yang ngeselin puasa gue bisa batal." usir Nanda.
"Iya, iya gue pergi, assalamualaikum pak ustad." temannya bergegas pergi sambil terus tertawa.
"Walaikumsalam, bener emang kalo lagi puasa banyak setan yang mendekat." gerutu Nanda yang semakin lemas dan menyandarkan kepalanya di meja kerja seperti raga tanpa nyawa siang itu.
"Aduh bidadari gue lagi ngapain ya?"
Nanda bergegas mengambil handphonenya dan mencoba video call dengan Sabrina siang itu.
"Assalamualaikum kak." terlihat wajah cantik sang istri yang sedang duduk di sofa siang itu.
"Walaikumsalam sayang." Nanda tersenyum dan merasa matanya sangat sejuk melihat bidadarinya di telepon.
"Kak udah istirahat?" tanya Sabrina yang melihat Nanda tampak lemas siang itu.
"Iya nih baru istirahat."
"Sudah juhur, sudah sholat belum?" Sabrina mengingatkan.
__ADS_1
Nanda mengeleng.
"Sholat dulu ya, nanti waktu istirahatnya keburu habis." ucap Sabrina lembut.
"Yaudah aku sholat dulu."
Sabrina tersenyum "Aku sayang kamu." ucapnya dengan sedikit malu.
Mata Nanda yang tadinya sayu langsung terlihat segar mendengar ucapan cinta dari sang istri karena Sabrina jarang mengucapkan hal itu padanya.
"Aku juga sayang kamu, assalamualaikum." balas Nanda.
"Walaikumsalam." sahut Sabrina yang menutup teleponnya dan Nanda bergegas untuk sholat.
Sore hari Nanda bergegas pulang ke rumahnya, di perjalanan dia senyum senyum sendiri yang merasa puasanya hari ini berjalan lancar setelah sekian tahun dia tidak pernah berpuasa lagi. Sampai di rumah Sabrina sudah menantinya dengan senyum manisnya.
Sampai saatnya magrib tiba mereka berbuka bersama. Sabrina sangat senang melihat Nanda yang berubah semakin baik di matanya.
Pagi hari Sabrina tampak memegang sebuah tespek di tangannya dia sudah telat 5 hari dan tentu dia sangat berharap akan segera hamil saat ini. Sabrina mencelupkan tespek tersebut pada urinenya pagi itu, dia memejamkan matanya dan berdoa semoga harapannya terkabul tapi wajah gadis itu tampak murung saat membuka matanya dan melihat garis satu di tespek tersebut.
"Sudah bangun sayang?" tanya Nanda yang baru bangun dan melihat Sabrina yang baru keluar dari kamar mandi.
"Sudah kak." Sabrina duduk di samping Nanda.
"Kamu kenapa?" tanya Nanda yang melihat wajah gadis itu tampak murung.
"Aku baru tespek dan ternyata hasilnya negatif, padahal aku ingin sekali cepat cepat punya anak." ucap lirih Sabrina yang sedikit meneteskan air matanya.
Nanda mengusap air mata Sabrina dengan jarinya.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke dokter kita program hamil?" bujuk Nanda.
Sabrina mengeleng, dia takut memeriksakan dirinya dan Nanda ke dokter takut dokter menyatakan salah satu dari mereka tidak bisa memiliki anak. fikiran buruk terus menghantuinya.
"Kak, kalau suatu saat aku enggak bisa kasih kakak anak, kakak enggak akan meninggalkan aku kan?" tanyanya lirih.
"Kamu ini bicara apa? aku enggak akan pernah meninggalkan mu, enggak akan pernah! mengerti?" tegas Nanda yang langsung memeluk Sabrina.
Tak lama Nanda melepaskan perlukannya.
"Sayang, lagi pula kita ini belum terlalu lama menikah, bahkan banyak di luar sana banyak pasangan yang harus menunggu bertahun tahun baru bisa mendapatkan anak, jadi jangan terlalu cepat berfikir buruk, sabar ya.. aku yakin kamu pasti akan hamil." ucap Nanda seraya mengelus lembut rambut sang istri.
Sabrina mengangguk dan tersenyum, Nanda pun mencium kening istri yang di cintainya itu.
__ADS_1
Guys, jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan vote yak 🤗🤗❤️❤️