Menikahi Gadis Culun

Menikahi Gadis Culun
S2 Tamasya


__ADS_3

Dua hari kemudian Shanum pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan berkerja di rumah Dira dan mendapat kabar kalau Rai sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit . Pagi pagi sekali Shanum sudah mempacking baju baju yang akan di bawahnya untuk pulang bersama Kemal.


"Sudah siap semua nak?" tanya ibu Shanum yang menghampiri Shanum di kamarnya.


"Iya sudah bu."


"Yasudah hati hati ya." pesan ibu Shanum yang terlihat sedih.


Shanum tersenyum dan memeluk ibunya.


"Nak, apa pria itu teman dekat kamu?"


Shanum mengerutkan keningnya" Kak Kemal? dia itu temannya pak Rainan, tapi semua teman pak Rainan baik bu sama aku." jelas gadis itu dengan senyum polosnya.


"Shanum, lebih baik kamu fokus berkerja ya di sana." ucap ibu Shanum dengan wajah yang gelisah.


"Ibu kenapa? kok ngomongnya gitu?" tanyanya bingung.


"Kamu suka dengan pria itu?"


Shanum tersentak dengan pertanyaan ibunya, wajahnya sedikit tersipu malu.


"Ibu tau tidak ada yang salah kalau kita menyukai seseorang pria, tapi Shanum kamu itu harus ingat kita itu siapa, kita hanya orang desa, mereka itu orang kota mereka punya kehidupan yang jauh lebih baik dari pada kita, kalaupun pria itu menyukai kamu, belum tentu orang tuanya merestui hubungan kalian, kita harus sadar diri Shanum, ibu cuma tidak mau suatu saat kamu kecewa." ucap Ibu Shanum seraya mengelus lembut bahu putrinya.


Gadis itu pun terdiam, mencoba nencerna kata kata ibunya yang mungkin memang benar adanya.


"Iya bu, Shanum akan selalu ingat pesan ibu.. Shanum pergi dulu ya." Shanum berusaha tersenyum dan memeluk ibunya.


Tak lama Shanum dan Kemal bergegas untuk kembali ke rumah Dira. Setelah menempatkan perjalanan cukup jauh akhirnya mereka sampai di rumah Dira.


"Assalamualaikum." ucap mereka seraya mengetuk pintu.


"Walaikumsalam." Dira bergegas membuka pintu.


Matanya tampak terkejut melihat Shanum yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


"Shanum." pekik Dira yang langsung memeluk gadis itu.


"Shanum, aku senang banget kamu kembali lagi." sambung Dira dengan senyum yang masih merekah di bibirnya.


"Maafin Shanum ya, kalau Shanum pergi gitu aja dari rumah." sesal gadis itu.


"Enggak apa-apa yang penting kan sekarang kamu sudah kembali."


"Ada Shanum?" ucap Rai yang menghampiri mereka sambil mengendong Rayyan.

__ADS_1


"Pak Rainan, sudah sehat?" tanya Shanum.


"Sudah, lihat sendiri kan aku masih bernafas." sahut Rai sambil tersenyum.


"Shanum kamu tuh enggak usah khawatir sama si Rai dia mati juga paling banyak yang tepuk tangan." ledek Kemal yang seakan lupa bahwa dia pun sempat menahan tangis saat Rai sedang koma.


"Sialan loe." umpat Rai.


Mereka pun tertawa dan Shanum kembali berkerja seperti biasa hari itu.


***


Malam hari Rai sedang memeluk tubuh belakang Dira seraya mengobrol dengannya.


"Sayang, besok kan hari minggu bagaimana kalau kita jalan sama Rayyan?" ajak Rai yang merasa dia jarang memiliki waktu bersama keluarganya


Dira menoleh "Serius? memangnya kamu sudah enggak sakit?" tanya Dira yang khawatir mengingat Rai baru beberapa hari pulang dari rumah sakit.


"Enggak, mau kan jalan jalan?"


Dira membalikkan tubuhnya menghadap Rai dan tersenyum " Mauuuuu banget." jawabnya yang tampak gembira.


"tapi jalan jalan kemana sayang?" sambung Dira.


"Bagaimana kalau ke kebun binatang, Rayyan pasti senang." usul Rai.


"Iya, yaudah sekarang kamu tidur ya, besok pagi pagi kita berangkat." ucap Rai seraya mencium kening Dira.


Dira pun tersenyum dan tidur dalam pelukan Rai malam itu. Keesokan harinya Dira sudah bersiap siap untuk pergi bersama keluarga kecilnya.


"Shanum." panggil Dira seraya mengetuk pintu kamar Shanum.


Shanum bergegas membuka pintu " Iya, kenapa mbak?"


"Shanum aku sama suami aku mau pergi ke kebun binatang sama Rayyan, kamu enggak apa-apa kan sendirian?" tanya Dira khawatir.


"Enggak apa apa kok mbak." Shanum tersenyum.


"Yaudah kalau kamu mau pergi jangan lupa kunci pintu ya, ini untuk kamu uang jajan kalau kamu mau pergi." Dira memberikan sejumlah uang pada Shanum.


Shanum sedikit terkejut " Enggak usah mbak." tolaknya yang merasa tidak enak.


"Udah enggak apa-apa, aku pergi dulu ya." Dira bergegas meninggalkan Shanum yang masih diam mematung.


Tak lama Dira dan Rai segera melajukan mobilnya ke kebun binatang. Setelah menempuh perjalanan cukup lama mereka sampai di tempat tersebut.

__ADS_1


Tampak pengunjung yang ramai karena memang sedang hari minggu, Rayyan pun tampak senang dan berlarian dengan ceria. Dira duduk di sebuah kursi kosong karena kelelahan mengikuti Rai dan Rayyan yang berlarian tak kenal lelah.


Kalau ikutin mereka terus yang ada aku bisa melahirkan sekarang. gumam Dira seraya menggelengkan kepalanya.


Sampai matanya tertuju pada pedagang es kelapa muda yang ada di sekitar situ, tenggorokannya terasa sangat kering siang itu.


Haus banget, beli aja kali ya. gumamnya.


Dira bergegas memesan es kelapa dan menunggunya di sebuah kursi kosong.


"Ini mbak es kelapanya." ucap pedagang tersebut sambil memberikan segelas es kelapa pada Dira.


"Makasih ya pak, nih uangnya." Dira memberikan sejumlah uang pada pedagang tersebut.


"Udah di bayar mbak."


Dira mengerutkan keningnya" Siapa yang bayar? " tanyanya bingung.


"Aku yang bayarin." ucap seorang pria muda padanya.


Dira mengerutkan keningnya pada pria yang bahkan tidak di kenalnya.


"Boleh kenalan enggak? " pria itu mengulurkan tangannya pada Dira.


"Sayang." panggil Rai yang langsung bergegas menghampiri Rai.


"Sedang apa kamu di sini, kalau sedang hamil tidak boleh pergi jauh jauh." Rai menekan suaranya seraya menatap tajam pria muda di hadapannya.


"Ayo pergi." Rai menarik tangan Dira sambil mengendong Rayyan meninggalkan tempat tersebut.


"Sayang pelan pelan tariknya." seru Dira yang merasa Rai menarik tangannya terlalu erat.


"Centil banget kamu, pakai kenalan sama brondong seperti itu." tuduh Rai.


"Kenalan? aku enggak kenalan kok? dia yang mendekati aku." jelas Dira.


"Seneng ya di goda seperti itu?" tuduh Rai kembali.


"Kamu tuh ngomong apa sih?" Dira mulai terpancing emosi dengan sikap Rai.


"Terserahlah." Rai mempercepat langkahnya meninggalkan Dira.


Dira dengan setengah beelari mengejar Rai persis seperti di film film india.


"Sayang, kamu tuh kenapa sih? mau punya anak dua tapi masih cemburuan aja? " ucap Dira yang merasa cemburu Rai yang berlebihan tidak pernah berubah dari dahulu.

__ADS_1


"Aku capek kita pulang saja lah."


Dira menghela nafas panjang mencoba lebih sabar menghadapi suaminya yang terkadang selalu bersikap layaknya abg muda yang mudah marah.


__ADS_2